رايت عبدالرحمن بن عوف يدخل الجنة حبوا
Mengenai hal ini, Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar menegaskan agar jangan pernah ada perkiraan dan sangkaan bahwa nabi Muhammad melihat hal tersebut hanya dengan mata batin. Tapi, Nabi Muhammad melihat hal tersebut saat sadar alias melek seperti melihatnya orang-orang yang tidur. Dan saat melihat hal tersebut, Abdurrahman bin Auf sendiri tengah tidur di rumahnya.
Al-Ghozali kemudian menerangkan bahwa ketika seseorang tidur, penglihatan batinnya terlepas dari kekuasaan fisiknya. Artinya, ketika seseorang tidur, mata batinnya justeru menguat karena terlepas dari kekuasaan inderawinya (سلطان الحواس).
Indera atau fisik seseorang, kata Imam al-Ghazali, adalah hal yang menyibukkan dan menarik seseorang pada alam inderawi semata. Kemudian indera atau fisik manusia justeru yang memalingkan perhatian, arah (wajah) seseorang dari alam gaib dan alam malakut.
Sementara cahaya-cahaya (penglihatan) para nabi lebih berkuasa, lebih kuat dibanding kuasa alam fisik, alam lahiriah, dan alam inderawi. Karenanya penglihatan (batin) para nabi saat melek (terjaga) sama seperti penglihatan (batin) manusia saat tidur.
Ketika penglihatan (batin) para nabi mencapai kesempurnaan, maka penglihatannya tersebut tidak terbatas saat mengetahui dan melihat pada esensi dan substansi gambar (Shuroh) yang dilihat.
Penglihatan para nabi melampaui dari bentuk atau gambar secara fisik dan lahiriah, hingga tembus dan sampai pada rahasia (السر) dan makna batin. Lalu tersingkaplah bahwa iman (keimanan) akan menarik (seseorang) kepada alam yang diungkapkan dengan surga tadi. Dan itu adalah alam yang lebih tinggi dari alam lahirah. Sederhananya, keimanan yang ada pada diri seseorang, hakikatnya akan menarik dirinya untuk menuju dan naik pada alam yang lebih tinggi, yaitu alam gaib atau alam malakut.
Sementara, Al-Ghozali menegaskan bahwa kekayaan dan kepemilikan (harta dan duniawi) justeru menarik seseorang pada kehidupan yang ada alias alam yang rendah atau alam lahiriah ini. Dan ketika kekuatan duniawi lebih kuat dibanding kekuatan alam malakut, maka hal tersebutlah yang menghalangi seseorang berjalan menuju surga.
Sederhananya, dalam diri manusia seperti ada dua kutub yang saling tarik menarik. Kutub pertama adalah kutub dunia dan alam lahir ini. Kutub kedua, adalah keimanan atau alam malakut. Ketika kutub dunia lebih kuat, maka seseorang akan lebih tertarik pada kehidupan dunia lahir. Sementara ketika kutub alam malakut (alam gaib) lebih kuat, maka seseorang bisa naik ke alam malakut dan penglihatan mata batinnya akan semakin jelas, terang, dan kuat.
Jadi, ketika seseorang beriman atau imannya kuat tapi ia masih kesulitan dan lambat dalam perjalanannya (menuju dan naik ke alam malakut karena sebab tarikan duniawi dan alam lahir) maka, Al-Ghozali menyebut perlambang dari hal tersebut dengan "merangkak" (الحبو).
Dari penjelasan tersebut, Al-Ghozali kemudian menegaskan, bahwa semakin terang dan jelas pula bahwa cahaya-cahaya rahasia (alam malakut, alam gaib) di balik kaca al-khoyal (زجاجة الخيال) pada diri seseorang.
Karena itu pula, hadits yang menerangkan bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak, bisa dibilang adalah perlambang atau metafora bagi orang-orang yang keimanannya kuat tapi pandangan duniawinya (alam lahirnya) pun kuat. Karena saling tarik menarik itu, maka seseorang yang hendak masuk surga (naik ke alam malakut) jadi merangkak.
Dan karena penjelasan itu pula, Àl-Ghozali menegaskan bahwa penglihatan para nabi tidak terbatas ketika melihat sesuatu. Penglihatan mata batin nabi melampaui sesuatu yang dilihatnya. Dan penglihatan tersebut dilakukan saat nabi dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidak tidur. Beda dengan manusia, yang penglihatan mata batinnya akan kuat ketika tidur. Sebab ketika tidur, seseo ang terlepas dan terbebas dari penglihatan inderawi dan terbebas dari kuasa alam fisik ini.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 01032022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar