Saya jadi "iseng" mengaitkan hal ini dengan anjuran agar setiap orang berdoa sebelum tidur. Malah ada beberapa ulama yang menyarankan agar berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Doa yang simpel sebelum tidur adalah "bismika Allahumma ahya wa bismika amuut." Dengan Nama-Mu Ya Allah, aku tidur. Dan dengan Nama-Mu Ya Allah aku mati.
Saya jadi teringat dengan hadits: "annasu niyamun faidza maatuu, intabahu." Manusia itu (hakikatnya) tengah tidur, ketika mereka wafat, maka sadarlah mereka. Saya kira hadits ini pun sepertinya terkait dengan keadaan saat manusia tengah tidur.
Ya, saat tidur, fisik dan jasad manusia seperti tidak sadar, tapi sebaliknya ruh dan mata batin manusia justeru tetap terjaga dan sadar. Karenanya, di saat tidur, bisa jadi mata batin manusia menguat. Dan doa sebelum tidur pun, komunikasi yang terjadi langsung menyebut dan mengarah pada "Engkau" atau "Kamu" (Allah). Entahlah.
Kembali ke Misykatul Anwar. Makna-makna yang dilihat dan ditangkap oleh mata batin itu, kata Al-Ghozali, kemudian bercahaya dan menyinari ruh khoyali yang ada pada manusia. Lalu tercetaklah gambaran-gambaran yang sesuai yang meniru makna-makna tersebut.
Bentuk (cetakan yang sesuai dan yang meniru dari makna-makna) tersebut bagi para nabi bisa dibilang bagian dari Wahyu yang diterima saat para nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur). Dan hal ini perlu dan membutuhkan kepada ta'wil. Sementara makna-makna (Wahyu) yang diterima saat tidur membutuhkan ta'bir. Nah, sementara untuk manusia, sederhananya, bisa dibilang, makna-makna yang datang dari Allah tersebut perlu dan butuh kepada ta'wil dan ta'bir.
Makna-makna (Wahyu yang diterima) yang terjadi saat tidur, hubungannya dengan kekhususan yang bersifat para nabi itu seperti satu berbading empat puluh enam.
Sementara makna (Wahyu) yang terjadi saat para nabi terjaga (tidak tidur) Imam Al-Ghazali menerangkan itu lebih besar dari makna (Wahyu) yang diterima saat tidur. Al-Ghozali menyebut perbandingannya satu banding tiga.
Sederhananya, makna yang diterima para nabi saat tidur itu seperti 1/46 (satu per empat puluh enam). Sementara makna (Wahyu) yang diterima saat terjaga seperti 1/3 (satu pertiga).
Al-Ghozali menegaskan semua makna khusus yang bersifat kenabian tersebut, jika tersingkap (inkasyafa) pada diri manusia, sederhananya, bisa dibilang adalah pengalaman batin atau pengalaman rohani. Dan Al-Ghozali menegaskan setidaknya, pengalaman rohani, ketersingkapan makna-makna, penglihatan mata batin manusia akan makna-makna, itu ada tiga. Pertama, terjadi saat tidur. Kedua, terjadi saat melek atau terjaga. Ketiga, terjadi dengan proses belajar, yang imam Al-Ghozali menyebutnya dengan ilmu hushuli.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 02032022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar