Kamis, 03 Maret 2022

Di Atas Iman, Ada Ilmu. Di Atas Ilmu, ada Dzauq. (Misykatul Anwar).

Dalam Misykatul Anwar Imam Al-Ghozali menerangkan agar seseorang tidak berhenti di alam akal dan menganggap bahwa akal adalah kemampuan tertinggi pada manusia. Sebab, Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa di atas kemampuan akal masih ada tingkatan kemampuan yang lain. Tingkatan yang di dalamnya menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan akal. Tingkatan yang di situ ada kemampuan yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh akal. 

Imam Al-Ghozali menganalogikan tingkatan itu dengan intuisi bermusik yang ada pada seseorang. Bagi orang-orang yang tidak memiliki intuisi musik, tidak akan bisa membedakan antara ritme, Rima dari suara-suara. Sederhananya, orang-orang yang tidak memiliki intuisi mencipta musik atau lagu, akan kesulitan membedakan mana nada minor atau mayor, misalnya. 

Imam Al-Ghozali mengajak kita untuk melihat bagaimana kekuatan intuisi bermusik yang ada pada seseorang. Bagaimana ia bisa membuat lagu, irama, nada, ritme dan orkestra yang beraneka rupa. Ada lagu yang bernada sedih dan membuat orang menjadi sedih, ada lagi gembira, ada lagu penganyar tidur, ada lagu yang bisa membuat tertawa, bahkan ada lagu yang bisa membuat orang gila hingga mati, pun ada lagu yang membuat pingsan. Semuanya itu kembali pada satu hal, yaitu intuisi. 

Sementara orang-orang yang tidak mempunyai intuisi bermusik itu ,misalnya, hanya akan mengikuti dan mendengar suara belaka. Ia tidak sampai menikmati alunan suara musik, sebab lemahnya intuisi bermusik dalam dirinya. Sederhananya, orang yang tidak punya kemampuan intuisi bermusik akan tidak bisa membedakan suara-suara. Tidak bisa menghayati indahnya suara-suara dalam musik dan nada tersebut. 

Nah, kemampuan intuisi bermusik yang ada dan tidak ada pada seseorang adalah analogi untuk para nabi dan manusia biasa. Para nabi seperti mereka yang punya intuisi tersebut. Sementara akal adalah seperti orang-orang yang tidak punya intuisi tersebut. 

Meski seseorang tidak bisa menjadi nabi, karena nabi terakhir adalah Nabi Muhammad, tapi Imam Al-Ghozali menyarankan agar setiap orang berusaha untuk menjadi ahli intuisi (ahlu dzauq) tersebut. Yakni, berusaha melatih dan berupaya agar mencapai ruh kelima, yaitu ruh nabi yang suci (الروح القدسي النبوي). 

Kalaupun tidak sampai ke ruh tersebut, setidaknya kita berusaha memahami bahwa ada ruh yang bisa sampai ke sana. Pun memahami bahwa ada ruh di atas ruh akal. 

Al-Ghozali mengemukakan hal tersebut sebagai penyangkalan atas pendapat beberapa orang yang menganggap bahwa kemampuan tertinggi manusia adalah akal. Sehingga, mereka mengingkari adanya kemampuan para nabi. Dalam sejarah Islam, banyak diceritakan tentang orang-orang ini bukan? Orang-orang yang mengingkari kemampuan para nabi yang di atas serta melampaui kemampuan akal.

Kemudian Al-Ghozali menerangkan bahwa tidak hanya para nabi, tapi sebagian para wali Allah pun memiliki kemampuan tersebut alias ruh al-qudsi an-nabawi. Karenanya Al-Ghozali menekankan sekali lagi, meski kebanyakan orang tidak sampai pada level kemampuan para nabi dan sebagian para wali, Setidaknya mereka tahu (punya ilmunya) bahwa ada level kemampuan para nabi dan wali tersebut. 

Kalaupun tidak tahu dan tidak punya ilmunya, Al-Ghozali, menegaskan, setidaknya punya keimanan akan hal tersebut. Hal ini seperti firman Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 11: 

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Al-Ghozali menegaskan bahwa tingkatan ilmu berada di atas iman. Dan tingkatan di atas ilmu adalah tingkatan dzauq.

Ya, Dzauq adalah intuisi. Sementara ilmu adalah analogi, penyimpulan, qiyas dan pengetahuan (العلم قياس و عرفان). Dan iman adalah penerimaan yang bersifat mengikuti (الإيمان قبول مجرد التقليد). 

Sederhananya, Dzauq itu seperti "roso". Misalnya orang-orang yang telah menguasai ilmu dan pengetahuan tentang kaidah berbahasa. Ketika ia sudah sampai pada level Dzauq, biasanya ia justeru akan keluar dari kaidah tersebut. Tapi, meski begitu, apapun yang ia tulis dan ucap terkait berbahasa akan tetap benar. Lebih jauh lagi, kaidah-kaidah berbahasa tersebut telah menyatu dalam dirinya. 

Karena itu pula, Al-Ghozali menegaskan agar setiap orang berbaik sangka kepada para ahli intuisi (Ahlu Dzauq) dan ahli pengetahuan atau ilmu (Ahlu 'Irfan). Pun menegaskan bahwa lima ruh yang ada pada manusia adalah cahaya-cahaya yang membuat jelas segala sesuatu yang ada.

Kemudian Imam Al-Ghozali menerangkan sekali lagi tentang ruh indera (ruh al-hissi) dan ruh memori (ruh al-khoyali). Meski kedua ruh ini ada pada binatang, bukan berarti manusia yang mengikuti hewan, tapi sebaliknya. Hewan berada di bawah manusia. Sebab pada manusia ada bentuk yang lebih mulia dan lebih tinggi, karena manusia diciptakan untuk tujuan yang lebih utama dan luhur. Sementara, hewan tidak diciptakan untuk tujuan tersebut. 

Ruh al-hissi dan ruh al-khoyali pada binatang hanya sebagai alat untuk memenuhi nutrisi (makan), seperti insting untuk sekadar bertahan hidup dan berkembang biak. Ya, bisa dibilang semua binatang diciptakan untuk manusia. 

Sementara, Imam Al-Ghazali menerangkan, bahwa kedua ruh pada manusia tersebut seperti jaring untuk menangkap kaidah-kaidah pengetahuan agama yang mulia (شبكة يقتنس بها مبادىء المعارف الدينية الشريفة)

Jadi, dengan ruh hissi, manusia bisa mengetahui objek tertentu kemudian Ruh akalnya bisa menyimpulkan tentang abstraksi atau makna-makna umum (معنا عاما مطلقا). 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 03032022








Selasa, 01 Maret 2022

Tingkatan Ruh pada Manusia yang Bersifat Cahaya untuk Mengetahui Sesuatu. (Misyaktul Anwar)

Imam Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar menerangkan bahwa ada lima tingkatan ruh yang bersifat cahaya pada diri manusia. Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya, kebodohan itu bisa dibilang sebagai kegelapan. Nah, sebaliknya, kemampuan manusia mengetahui sesuatu bisa disebut dengan cahaya. Cahaya tersebut adalah cahaya yang bersifat Ruhani, disebut juga mata batin, jiwa, dll. Semua pengetahuan (cahaya) itu, kata Imam Al-Ghazali bersumber dan berasal dari alam malakut. Yang ujung-ujungnya bersumber dari Allah.

Tingkat pertama menurut Imam Al-Ghazali adalah ruh inderawi (الروح الحساس). Ruh ini adalah ruh yang berkaitan dengan eksplorasi indera yang lima akan sesuatu. 

Ruh ini pun bisa dibilang ruh yang bersifat kehewanan atau kebinatangan. Karena ruh ini pun ada pada setiap binatang. Sementara untuk manusia, ruh ini terjadi dan berlaku untuk anak-anak bayi yang masih menyusu. Sederhananya, ruh ini bisa dibilang sebagai insting kehewananan yang paling dasar, yaitu bertahan hidup dengan butuh akan makanan. Seperti bayi yang baru lahir butuh asupan makanan lewat ASI. 

Tingkat kedua adalah ruh yang bersifat memori (الروح الخيالى). Ruh khoyali ini adalah kemampuan makhluk untuk menyimpan di dalam dirinya apa-apa yang telah dieksplorasi oleh inderanya. 

Ruh khoyali ini mulai ada pada anak-anak yang mulai tumbuh. Di dalam dirinya mulai muncul keinginan dan hasrat yang kuat untuk mengetahui dan mengambil sesuatu. 

Contohnya, ketika anak-anak yang masih menyusu tadi ketika mengindera sesuatu, melihat sesuatu misalnya, sesuatu yang dilihat tersebut tidak ada lagi di matanya, ia akan lupa sesuatu tersebut. Tapi ketika anak itu mulai tumbuh, dan mulai tidak menyusu lagi, di dalam dirinya mulai muncul ingatan akan sesuatu yang diinderanya. Ketika sesuatu tersebut tidak ada di mata atau di indera lainnya, ia mulai menangis meminta sesuatu tersebut. Misalnya, ketika lapar, ia akan meminta asupan makanan. Ketika ingin perhatian, ia mulai menangis. Dan sebagainya. Kenapa seperti itu, karena sesuatu tersebut mulai tersimpan dalam memorinya (ruh khoyalinya). 

Ruh ini pun bisa ditemukan dan ada pada sebagian hewan. Al-Ghozali memberi contoh laron dan anjing. Ruh khoyali ini tidak ada pada laron, sementara anjing memilikinya. Kenapa? Sebab gerombolan laron pada malam hari biasanya akan terbang berhamburan menuju api (lampu atau sesuatu yang bercahaya) karena laron-laron tersebut sangat menyukai dengan terangnya cahaya siang. 

Laron-laron tersebut menyangka bahwa lampu (cahaya) seperti lubang yang terbuka bagi mereka. Hinga laron-laron ini bisa dibilang menjatuhkan dan menyerahkan dirinya (nyawanya) pada api (yang sebenarnya panas). Laron-laron tersebut seakan menyakiti diri sendiri. Dan mereka akan tetap mendekati api, walaupun hal tersebut menyakiti bahkan bisa membuatnya mati. Hal ini terjadi, karena laron-laron tersebut tidak memiliki ruh al-khoyali yang bisa menyimpan memori atau pengetahuan akan hal yang bisa menyebabkan sakit dan kematian tersebut. 

Sementara anjing, ketika misalnya dipukul sekali dengan kayu atau ranting. Di lain waktu, ketika anjing itu melihat kayu atau ranting atau sesuatu yang mirip dengan sesuatu yang bisa menyakitinya, ia akan lari. Karena menurut Al-Ghazali, anjing punya ruh al-khoyali. 

Tingkat ketiga adalah ruh yang bersifat akal (الروح العقلي). Ruh 'aqli ini adalah ruh yang bisa mengetahui dan menangkap makna-makna yang keluar dari ruh hissi dan khoyali. Maksudnya, ruh hissi hanya bisa mengindera. Kemudian ruh khoyali hanya menyimpan memori dari yang diindera oleh ruh hissi. Ruh 'aqli ini kemampuannya lebih jauh lagi. 

Bisa dibilang ruh 'aqli ini adalah substansi yang khusus untuk manusia الجوهر الإنس) الخاص). Ruh ini tidak ada pada hewan dan anak-anak. Objek-objek pengetahuan ruh 'aqli adalah pengetahuan-pengetahuan yang bersifat general dan bersifat dhoruri (المعارف الكلية الضرورية). 

Pengetahuan al-kuliyyatu adalah pengetahuan yang bersifat umum. Misalnya, pengetahuan tentang binatang. Bahwa anjing, kucing, ayam, burung, dan macam, adalah binatang, misalnya. Pun misalnya pengetahuan umum tentang manusia. Bahwa Umar, Usman, Ali, Ahmad, Paijo, Parjo, Burjo, dan Patmo adalah manusia. 

Sementara pengetahuan dhoruri adalah pengetahuan yang bisa diketahui tanpa harus belajar terlebih dahulu. Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas. Ketika tidak makan dan minum, akan lapar dan haus. Dan sebagainya. 

Pengetahuan al-kuliyyatu ad-dhoruriyatu inilah yang kemudian akan menghasilkan konsep-konsep pengetahuan dan teori-teori pengetahuan akan sesuatu. 

Tingkat keempat adalah ruh yang bersifat berfikir (الروح الفكرى). Ruh ini adalah ruh yang mengambil pengetahuan-pengetahuan yang bersifat akal yang murni (المعارف العقلية المحضة). Maksudnya, pengetahuan-pengetahuan yang bersifat akal, mental, dan intelektual. 

Ruh al-fikri ini bekerja dengan menggabungkan dan mengkombinasikan dua hal atau lebih dari pengetahuan akal yang murni. Ini seperti silogisme. Misalnya; Manusia adalah hewan yang bisa berpikir (ini pengetahuan akal yang murni yang pertama). Kemudian, Umar adalah manusia (ini pengetahuan akan yang murni yang kedua). Nah, ruh al-fikri berkemampuan untuk menggabungkan keduanya hingga bisa mendapat satu kesimpulan (menyimpulkan). Kesimpulan yang kata Imam al-Ghazali adalah kesimpulan yang darinya lahir pengetahuan-pengetahuan yang mulia (معارف شريفة). 

Kemudian, ruh al-fikri ini pun bisa menyimpulkan dari dua kesimpulan. kesimpulan yang satu digabung kembali dengan kesimpulan yang lain, hingga melahirkan kesimpulan yang baru. Dan kesimpulan-kesimpulan itu tak terbatas, akan terus bertambah. 

Mengenai hal ini, dalam ilmu manthiq ada dua konsep dasar yang penting. Yakni apa yang disebut dengan tashowwur (تصور) dan tashdiq (تصديق). Tashowwur adalah pengetahuan yang bersifat tunggal. Nah, tashdiq menyusun dua tashowwur tersebut dalam satu hal atau dalam satu kalimat. Sekali lagi Ini seperti silogisme. Ada premis mayor dan ada premis minor. Dalam ilmu manthiq, premis ini disebut dengan qodhiyyah (قضية).

Kemudian tingkat kelima ruh manusia yang bersifat cahaya adalah apa yang disebut Imam Al-Ghozali dengan ruh suci yang bersifat kenabian (الروح القدسى النبوى). 

Ruh ini dikhususkan hanya kepada para nabi dan sebagian dari para wali. Pada ruh Qudsi an-nabawi ini kilatan-kilatan alam gaib, hukum-hukum akhirat, pengetahuan-pengetahuan yang ada di alam malakut, di  langit dan di bumi, serta pengetahuan-pengetahuan yang bersifat ketuhanan akan jelas. Semua pengetahuan itu akan tempak dengan jelas dan terang di ruh Qudsi an-nabawi. Sementara semua pengetahuan tersebut tidak akan sanggup untuk dijangkau oleh ruh 'aqli dan ruh al-fikri. 

Dan hal tersebut telah diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur'an. Yaitu ayat yang berbunyi: 

وكذالك أوحينا اليك روحا من امرنا ماكنت تدرى ما الكتاب ولا الإيمان و لكن جعلناه نورا نهدي به من نشاء من عبادنا و إنك لتهدى إلى صراط مستقيم

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 02032022

Tiga Pengalaman Rohani dan Penglihatan Mata Batin Manusia akan Makna-Makna. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa makna atas sesuatu, itu lebih cepat ditangkap dan dilihat pertama kali oleh mata batin. Karenanya mata batin para nabi sangat kuat sehingga bisa melihat makna-makna (hakikat) dari segala hal dengan cepat. Berbeda dengan manusia biasa, yang mata batinnya terhalang oleh pandangan duniawi (alam lahir), sehingga mata batin manusia akan tajam ketika tidur. Sebab, di saat tidurlah manusia terlepas dari kekuasaan inderawi, duniawi, atau alam lahir. 

Saya jadi "iseng" mengaitkan hal ini dengan anjuran agar setiap orang berdoa sebelum tidur. Malah ada beberapa ulama yang menyarankan agar berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Doa yang simpel sebelum tidur adalah "bismika Allahumma ahya wa bismika amuut." Dengan Nama-Mu Ya Allah, aku tidur. Dan dengan Nama-Mu Ya Allah aku mati.

Saya jadi teringat dengan hadits: "annasu niyamun faidza maatuu, intabahu." Manusia itu (hakikatnya) tengah tidur, ketika mereka wafat, maka sadarlah mereka. Saya kira hadits ini pun sepertinya terkait dengan keadaan saat manusia tengah tidur.

Ya, saat tidur, fisik dan jasad manusia seperti tidak sadar, tapi sebaliknya ruh dan mata batin manusia justeru tetap terjaga dan sadar. Karenanya, di saat tidur, bisa jadi mata batin manusia menguat. Dan doa sebelum tidur pun, komunikasi yang terjadi langsung menyebut dan mengarah pada "Engkau" atau "Kamu" (Allah). Entahlah. 

Kembali ke Misykatul Anwar. Makna-makna yang dilihat dan ditangkap oleh mata batin itu, kata Al-Ghozali, kemudian bercahaya dan menyinari ruh khoyali yang ada pada manusia. Lalu tercetaklah gambaran-gambaran yang sesuai yang meniru makna-makna tersebut.

Bentuk (cetakan yang sesuai dan yang meniru dari makna-makna) tersebut bagi para nabi bisa dibilang bagian dari Wahyu yang diterima saat para nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur). Dan hal ini perlu dan membutuhkan kepada ta'wil. Sementara makna-makna (Wahyu) yang diterima saat tidur membutuhkan ta'bir. Nah, sementara untuk manusia, sederhananya, bisa dibilang, makna-makna yang datang dari Allah tersebut perlu dan butuh kepada ta'wil dan ta'bir. 

Makna-makna (Wahyu yang diterima) yang terjadi saat tidur, hubungannya dengan kekhususan yang bersifat para nabi itu seperti satu berbading empat puluh enam. 

Sementara makna (Wahyu) yang terjadi saat para nabi terjaga (tidak tidur) Imam Al-Ghazali menerangkan itu lebih besar dari makna (Wahyu) yang diterima saat tidur. Al-Ghozali menyebut perbandingannya satu banding tiga. 

Sederhananya, makna yang diterima para nabi saat tidur itu seperti 1/46 (satu per empat puluh enam). Sementara makna (Wahyu) yang diterima saat terjaga seperti 1/3 (satu pertiga). 

Al-Ghozali menegaskan semua makna khusus yang bersifat kenabian tersebut, jika tersingkap (inkasyafa) pada diri manusia, sederhananya, bisa dibilang adalah pengalaman batin atau pengalaman rohani. Dan Al-Ghozali menegaskan setidaknya, pengalaman rohani, ketersingkapan makna-makna, penglihatan mata batin manusia akan makna-makna, itu ada tiga. Pertama, terjadi saat tidur. Kedua, terjadi saat melek atau terjaga. Ketiga, terjadi dengan proses belajar, yang imam Al-Ghozali menyebutnya dengan ilmu hushuli.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 02032022