Minggu, 30 Januari 2022

Tingkatan dan Sumber Cahaya (Misykatul Anwar)

Di abad ke-16, tepatnya di kisaran tahun 1572 hingga 1640, hidup seorang ulama yang filosof bergelar Sadr al-Din Mohammad Shirazi. Ia lahir di Shirza atau Shiraz, Persia Selatan dan diberi nama Muhammad Ibn Ibrahim al-Qawami. Belakangan ia lebih dikenal dengan Mulla Sadra. 

Di antara pandangannya yang masyhur adalah tentang al-hikmah al-muta'aliyah (الحكمة المتعالية). Hikmah yang utama yang merujuk pada tiga hal, yaitu: wahdah al-wujud, tasykik al-wujud, dan asholah al-wujud. Ulama yang filosof dan banyak merujuk (belajar) pada karya Ibnu Sina ini merumuskan teosofi dari landasan intelektualitas, rasionalitas, dan syariat.

Di antara pandangannya dalam isykak al-wujud atau al-wujud al-musyakkak adalah tentang perbedaan derajat dan gradasi kualitas. Ya, sederhananya Mulla Sadra menyatakan bahwa segala sesuatu (ciptaan, makhluk) itu berderajat. Meskipun sesuatu itu terlihat sama (sama-sama manusia, misalnya) tetap saja derajatnya beda-beda. Tetap saja ada perbedaan kualitas. 

Jauh sebelum itu di abad ke-11, Imam Al-Ghazali pun telah menyatakan hal yang mirip dengan pendapat Mulla Sadra ketika menjelaskan tentang Cahaya dalam kitab Misykatul Anwar.

Al-Ghozali menjelaskan bahwa cahaya-cahaya bumi bersumber dari cahaya-cahaya "langit". Al-Ghozali menganalogikannya dengan misal seperti ini: saat malam hari (tentu saja diandaikan belum ada listrik), cahaya bulan menyeruak masuk ke dalam rumah lewat lubang (bisa lubang angin, atau lubang di atap). Cahaya itu kemudian terkena cermin. Dari cermin cahaya tersebut memantul ke tembok. Dari tembok cahaya tersebut lalu terpantul ke lantai (tanah).

Dengan analogi dan misal tersebut, Al-Ghozali menegaskan bahwa cahaya pun memiliki tingkatan-tingkatan yang terkait derajat dan kualitas terangnya. Semakin jauh dari sumber, cahaya semakin redup. Sebaliknya, semakin dekat dengan sumber, cahaya itu akan semakin terang. Begitu juga dengan derajat "cahaya" pada manusia: akan berbeda-beda. 

Bagi orang-orang yang telah terbuka mata batinnya dan bisa mi'roj ke alam malakut, maka akan terkuak dan terbuka pula baginya cahaya-cahaya kemalaikatan (الانوار الملكوتية) yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat pula. Al-Ghazali menegaskan derajat (cahaya) malaikat Israfil tentu berbeda dengan malaikat Jibril. Semakin dekat dengan "Sumber Cahaya" maka cahaya para malaikat pun akan semakin terang dan cerlang. Ini seperti yang tertera dalam Al-Quran: 
و إنالنحن الصافون و إنا لنحن المسبحون

Seperti catatan saya sebelumnya, bahwa Allah memiliki malaikat yang selalu bertasbih. 

Al-Ghozali kemudian menegaskan, meskipun cahaya bertingkat-tingkat, bergradasi, dan berbeda-beda yang tak terbatas, tapi itu untuk aliran cahaya ke bawah. Tapi, jika cahaya itu ditelusuri ke atas, ke sumbernya, maka akan berhenti pada sumber yang dikatakan Al-Ghazali dengan: Cahaya yang bercahaya karena Dzatnya Sendiri dan Dengan Dzatnya Sendiri (النور لذاته و بذاته). Dan inilah sumbernya sumber cahaya. 

Al-Ghazali sebagaimana diketahui mempelajari karya-karya dan pandangan Ibnu Sina, setidaknya terpengaruh juga dalam pemakaian istilah Filsafat Ibnu Sina. Ya, النور لذاته و بذاته, adalah istilah yang kerap dipakai dalam filsafat ala Ibnu Sina. 

Ya, النور لذاته و بذاته, tegas Imam Al-Ghazali adalah yang paling layak dan paling relevan untuk disebut sebagai cahaya. Yaitu cahaya yang paling tinggi dan paling atas (النور الأقصى الأعلى) yang tidak ada lagi cahaya di atasnya. Serta darinya turun cahaya-cahaya hingga sampai ke tingkat paling bawah. 

Dari sinilah, Al-Ghazali mengajak untuk merenung (melihat dan memperhatikan) manakah yang lebih layak disebut cahaya; apakah yang cahaya yang menjadi sumber (Cahaya yang bercahaya karena Dzatnya Sendiri dan Dengan Dzatnya Sendiri, النور لذاته و بذاته) atau cahaya yang diterangi serta meminjam cahaya dari sumber cahaya? 

Sederhananya, Al-Ghozali menyatakan bahwa cahaya malaikat pun berbeda-beda. ada yang redup ada yang sangat terang. semakin dekat dengan sumber cahaya, akan semakin terang. begitu juga dengan manusia. cahayanya berbeda-beda. ada yang redup, ada yang sangat redup, hingga ada yang sangat terang. 

perbedaan cahaya pada manusia tersebut, di antaranya karena perbedaan ilmu dan pengetahuannya. semua orang yang punya ilmu itu bercahaya. Ilmu apapun yang dimiliki, itulah cahaya dirinya. Di atas ilmu ada pengetahuan (المعرفة), siapapun yang memiliki, maka cahayanya akan lebih terang.  

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 31012022

Lampu yang bercahaya (sirojan muniron), Api, dan Cahaya Di Atas Cahaya (Misykatul Anwar)

Seperti yang telah tertulis di catatan-catatan saya sebelumnya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada mata yang bisa melihat dirinya sendiri dan bisa melihat yang lain, dan ini lebih layak dan pantas disebut cahaya. 

Pun ada mata, selain bisa melihat dirinya sendiri dan bisa melihat yang lain, bisa juga membuat yang lain bisa melihat dirinya dan melihat yang lain. Ini pun lebih layak dan pantas lagi untuk disebut cahaya. 

Sederhananya, kira-kira begini: ada sesuatu. Ia bercahaya; mencahayai dirinya dirinya sendiri pun bisa mencahayai yang lain hingga yang lain tersebut bisa bercahaya dan mencahayai yang lain lagi. 

Al-Ghazali menyebut mereka yang begitu (bercahaya, bisa mencahayai dirinya dan mencahayai orang lain lalu membuat orang lain bercahaya dan bisa mencahayai dirinya dan orang lain) dengan sirojan muniron (سراج منيرا). 

Sirojan muniron, bisa diartikan dengan lampu yang terang yang bisa menyinari sekitarnya. Tentu saja, yang perlu dipahami bahwa ini perlambang. Semacam simbol dan metafor. Sebab, perlambang ini (sirojan muniron) seperti memancarkan cahayanya kepada yang lain. 

Mereka yang sirojan muniron ini adalah orang-orang istimewa. Dan mereka, kata al-Ghazali), yang memiliki ruh (jiwa) yang suci yang bersifat nabi (للروح القدس النبوى). Ya, mereka adalah Nabi. Sebab darinya terpancar cahaya-cahaya pengetahuan (المعرفة) kepada para makhluk (manusia). 

Dan di sinilah Al-Ghozali memberi pemahaman bahwa makna dibalik pemberian nama oleh Allah kepada Nabi Muhammad dengan Sirojan Muniron

Pun dengan nabi-nabi yang lain. Begitu juga dengan para 'ulama. Tapi, tentu saja terdapat perbedaan yang tak terhingga di antara Nabi Muhammad dan nabi yang lain, dan dengan masing-masing ulama. 

Ya, mata batin para nabi kira-kira seperti itu: bercahaya, bisa melihat dirinya, bisa melihat yang lain, bisa membuat yang lain bercahaya dan bisa membuat mereka melihat diri sendiri dan melihat yang lain. 

(Saya tertarik dengan Al-Ghazali yang menyebut bahwa yang menjadi Sirojan Muniron adalah nabi Muhammad, sementara nabi-nabi yang lain hanya sirojan saja. Termasuk para ulama sebagai pewaris para nabi pun disebut Al-Ghozali dengan sirojan.)

Perlu saya catat juga, bahwa ulama bukan hanya mereka yang identik dengan agama. Tapi, ulama juga bisa disandarkan pada mereka yang berpengetahuan. Misalnya, ketika saya tidak tahu tentang digital marketing, bisa disebut saya sedang di fase kegelapan. Tak ada cahaya. Tapi, ketika saya belajar kemudian mendapat pengetahuan tentang digital marketing. Di fase ini bisa dibilang saya sudah bercahaya. Nah, ketika pengetahuan yang saya miliki bisa membuat orang lain memiliki pengetahuan juga, maka saya bisa disebut sebagai "ulama ('alim) dalam digital marketing".  Pun dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain. 

Begitu juga setiap orang, bisa dibilang dalam keadaan gelap ketika dirinya masih di tahap tidak (belum) tahu akan sesuatu. Dirinya akan menjadi terang ketika sudah memiliki pengetahuan akan sesuatu. Di fase ini, orang tersebut bisa disebut telah bercahaya. Nah, ketika cahayanya bisa menyinari yang lain alias membuat orang lain ikut bercahaya, maka di titik inilah ia bisa disebut ulama. 

Sekilas, seperti teori manfaat. Seperti kata Kanjeng Nabi sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat kepada orang lain. Sepertinya, di titik inilah,setidaknya, setiap orang bisa menjadikan dirinya "bercahaya", yaitu dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Saya jadi ingat dengan kisah-kisah Walisongo. Pada hakikatnya mereka memberikan cahaya pada daerah yang bisa dibilang gelap. Kehadiran para wali menjadikan orang-orang (termasuk) daerah yang didatangi menjadi terang dengan cahaya hikmah dan pengetahuan.

Pun seperti: Syaikh Hasyim Asy'ari ketika datang ke Tebuireng, Mbah manab Abdul Karim di Lirboyo, dan ulama-ulama yang lain. Hakikatnya, kedatangan mereka adalah memberi cahaya pada daerah dan orang-orang yang didatangi. Hingga daerah dan orang-orang di situ pun ikut bercahaya.

Kembali ke sirojan muniron. Bahasa sederhananya bisa diartikan dengan lampu yang terang dan bisa menerangi. 

Terangnya lampu ini tentu saja ada sumbernya. Nah, perlambang yang disebut Imam Al-Ghozali untuk sumber terangnya lampu ini adalah api. 

"Lampu-lampu" (cahaya) yang ada di bumi, itu semua berasal dari "lampu-lampu" yang bersifat "tinggi", yakni "lampu-lampu" yang dimiliki oleh ruh (jiwa) yang suci yang bersifat kenabian (للروح القدس النبوى).

Di zaman dulu, ada lampu templok. Lampu templok ini perlu minyak. Begitu juga dengan perlambang "Lampu" dalam Jiwa yang suci yang bersifat kenabian ini, pun ada minyaknya. 

Minyaknya itu disebut minyak zaitun. Nah, minyak zaitun ini sendiri adalah minyak yang paling bagus. Minyak ini tanpa tersentuh api pun sudah bercahaya. Sudah terang. Dan ketika minyak yang sudah bercahaya ini tersentuh api, jadilah ia cahaya di atas cahaya. 

والروح القدس النبوي يكاد زيتها يضىء ولو لم تمسسه نار. ولكن إنما يصير نورا على نور إذا مسته النار

Kira-kira perlambang atau metafornya seperti ini. Ada sebuah lampu minyak. Lampu ini menjadi sumber cahaya bagi sekitar. Sementara sumber cahaya lampu ini sendiri adalah api.

Lampu ini ada minyaknya. Minyaknya ini sendiri sudah bercahaya walau belum tersentuh api. Nah, ketika minyak yang bercahaya ini tersentuh oleh api yang bercahaya, inilah yang disebut "cahaya di atas cahaya".

Lampu Minyak adalah perlambang dari para nabi. Lampu minyak yang menerangi (Sirojan Muniron) adalah perlambang untuk Nabi Muhammad. Dan api sebagi sumber dari lampu tersebut adalah Allah. 

Kemudian Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang jiwa (ruh) yang ada di bumi. Bahwa ruh-ruh (jiwa-jiwa) manusia yang ada di bumi ini pun, semuanya bersumber dari ruh yang bersifat ketuhanan yang bersifat tinggi (الروح الإلهية العلوية).

Ini seperti yang dikatakan Ali Bin Abi Thalib dan Imam Ibnu 'Abas bahwa: Allah memiliki malaikat. Setiap malaikat punya 70.000 kepala. Setiap kepala punya 70.000 wajah. Setiap wajah punya 70.000 mulut. Setiap mulut punya 70.000 lisan yang masing-masing selalu bertasbih (memaha-sucikan Allah) dan tidak ada kata (bahasa) lain yang keluar dari lisannya selain tasbih.

Sekali lagi, perlu dipahami, bahwa kepala, wajah, mulut, dan lisan itu perlambang. Sebab, malaikat itu murni ruh. Tidak ada jasad atau tubuh. Semua kata yang identik dengan tubuh tersebut adalah perlambang seperti manusia.

Nah, malaikat yang bertasbih tersebut adalah mereka yang akan ikut berbaris dalam satu barisan dengan ruh yang disebut pada ayat Al-Qur'an: 
"يوم يقوم الروح والملائمة صفا"

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 30012022
 



Sabtu, 29 Januari 2022

Melihat Hakikat Sesuatu (Misykatul Anwar)

Dalam kitab Misykatul Anwar, diterangkan bahwa Nabi Muhammad bersabda: 

إن الله خلق الخلق في ظلمة ثم أفاض عليهم من نوره

Artinya kira-kira: sungguh, Allah menciptakan makhluk (manusia) bersifat gelap. Kemudian Allah berikan secuil cahaya-Nya bagi mereka.

Ya, secuil. Sebab, diksi من (min) pada hadits tersebut adalah min tadh'if (من تضعيف), yang bisa diartikan dengan dari (bagian) yang sedikit, sangat sedikit.

Kenapa Allah hanya memberikan secuil cahaya-Nya kepada semua makhluk ciptaan-Nya?

Jawab sederhananya, karena sebagian besar makhluk tidak akan mampu dan kuat menerima cahaya Allah dalam jumlah yang banyak. 

Bahkan, sekelas nabi Musa pun, konon diceritakan sampai pingsan, ketika Allah baru menampakkan Cahaya-Nya. Gimana dengan kita yang bukan nabi? 

Malah dalam contoh sederhana, tak jarang saya dengar cerita ada seseorang yang gila, "miring", bahkan tak waras, karena kebanyakan "ngelmu." Ibarat wadah dan air: kapasitasnya gelas, tapi air yang diterimanya seember. Ini baru di tingkat ilmu. Gimana dengan pengetahuan, yang tingkatnya lebih tinggi daripada ilmu? Lalu, gimana dengan Cahaya Allah? 

Karenanya, di hadits tersebut, nabi Muhammad men gaskan bahwa Allah hanya memberi secuil cahaya-Nya. Tapi, perlu dipahami, secuil bagi Allah tentu berbeda dengan secuil bagi manusia. Bisa jadi, secuil bagi Allah, sangat amat banyak dan tak terhingga bagi manusia. 

Pasalnya, ada seseorang yang dkenal dan disebut dengan jadzab. Orang ini, seringkali berkelakuan aneh dan gak waras di mata kebanyakan orang. Malah, sering dicap gila. 

Padahal, orang tersebut adalah orang yang menerima cahaya Allah dalam jumlah yang tak sedikit. Hingga dirinya secara jasad dan lahir tidak kuat menampung dan menerima limpahan ilmu, pengetahuan, dan cahaya dari Allah, karena saking banyaknya. 

Kesadarannya akan dunia yang tampak (عالم الشهادة) ini pun lepas dari pandangan dan dirinya secara lahir. Karenanya sikap dan perilakunya sering dianggap gila. 

Kemudian, Nabi Muhammad pun bersabda: 

إن لله ملائكة، هم اعلم بأعمال العباد منهم

Kira-kira arti sederhananya: sesungguhnya Allah memiliki banyak malaikat. Para malaikat ini lebih tahu apapun terkait pekerjaan manusia.

Hadits ini terkait dengan tingkatan yang ada (مراتب الوجود): benda, tumbuhan, hewan, manusia dan malaikat. Karena malaikat tingkatnya (maqomnya) di atas, maka mereka tahu segala hal yang ada di bawah tingkat mereka. Di bawah mereka adalah manusia. 

Contoh sederhananya kira-kira seperti ini. Ketika saya berdiri di halaman rumah, yang bisa saya lihat hanya apa yang tampak di hadapan saja. Tapi, ketika saya naik ke lantai tiga atau ke atas genting, saya bisa melihat rumah-rumah tetangga yang tadi tidak terlihat ketika saya berdiri di bawah. Bahkan mungkin, saya bisa melihat bahwa ada tong sampah di samping rumah, yang tadi tidak terlihat ketika saya di depan rumah. Kira-kira seperti itu.

Kemudian Imam Al-Ghazali menegaskan tentang para nabi ketika mi'roj. Mereka sampai pada tingkat atas (alam malakut). Mereka bisa melihat alam bawah (alam syahadah). Mereka melihat dari atas ke bawah. Bahkan, mereka pun bisa melihat (isi) hati manusia. Dan hal ini tentu saja sangat lengket dengan ilmu gaib yang yang ada pada alam Malakut.

Begitu juga dengan manusia yang mi'roj. Ketika sampai pada alam Malakut, mereka pun bisa melihat alam yang di bawahnya. Karenanya, jangan heran jika ada orang yang bisa tahu hati seseorang. Bahkan bisa tahu apa yang dikerjakan seseorang walau orang tersebut sedang tidak berada di hadapannya.

Ada cerita, konon, syaikhona Kholil Bangkalan sangat tahu tentang santri-santrinya, karenanya sikap beliau terhadap mereka berbeda-beda. Pun cerita tentang Gusdur yang memberi sejumlah uang pada seseorang yang tidak dikenal. Setelah ditelusuri, ternyata orang tersebut memang sedang sangat butuh sejumlah uang yang dikasih Gusdur. 

Semua hal itu bagi sebagian orang, mungkin akan tidak logis, tapi kira-kira begitulah ketika seseorang sudah mi'roj dan naik ke alam Malakut.

Kalau di alam syahadah, di alam nyata, di bumi ini, kira-kira analoginya seperti ini: seorang anak kecil melihat sikat dan pasta gigi. Ia hanya melihat saja, belum tahu bagaimana menggunakan dan buat apa. Tapi setelah ia belajar, "maqomnya", tingkatnya mulai naik. Perlahan ia bisa menggunakan sikat dan pasta gigi tersebut. Kemudian tahu apa fungsi dan kapan dipakainya. Dan seterusnya. 

Begitu juga seharusnya dengan mereka yang secara lahir tengah berada di atas. Misalnya: seorang guru, mestinya mereka "tahu" bagaimana muridnya. Seorang Kiayi, mestinya "paham" bagaimana santrinya. Seorang bos atau pimpinan, Mestinya "ngerti" bagaimana bawahannya. Sebab mereka berada di atas yang harusnya bisa "melihat" ke bawah. 

Tahu, faham, dan mengerti ini dimulai dari belajar dan mencari informasi Sebanyak-banyaknya hingga mendapat ilmu (العلم). Kemudian ilmu itu direnungi dan dihayati hingga nongol pengetahuan, pemahaman, dan pengertian (المعرفة). Nah, di sinilah kemudian lahir perspektif.

Perspektif bisa diartikan dengan sudut pandang, bagaimana dan cara seseorang melihat sesuatu. Nah, perspektif ini tidak akan ada kalau seseorang tidak mi'roj atau menaikkan tingkat penglihatannya. Karenanya, ada yang bilang: siapapun yang punya perspektif (pengetahuan, dan pemahaman, dan pengertian), hidupnya akan tenang. Ini misal di alam syahadah. 

Sementara orang-orang yang mi'roj dan sampai ke alam malakut, tak heran bisa melihat segala yang ada di alam bawah termasuk mengetahui hal-hal gaib di dalamnya, seperti hati seseorang, karena hakikatnya ia telah berada "di samping" Allah. كان عند الله عز وجل, tulis Imam Al-Ghazali di kitab Misykatul Anwar.

Dan Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah adalah pemilik kunci-kunci alam dan hal gaib. Jadi, kenapa mereka yang sudah berhasil dan sampai ke alam malakut, bisa mengetahui apapun yang ada di alam manusia, karena Imam Al-Ghazali pun bilang dengan tegas bahwa segala yang ada di dunia ini, di alam syahadah ini, disebabkan karena adanya alam malakut. Ya, menurut Imam Al-Ghazali, alam syahadah adalah jejak (آثر) dari alam malakut. Seperti bayangan dari suatu benda. 

Dalam filsafat  neo-platonism diterangkan bahwa "alam atas" itu hakiki, sementara alam di bumi ini hanya tiruan saja. Apapun yang ada di bumi adalah cerminan dari alam ide. Ini seperti yang dikatakan Al-Ghozali: 

من كان في عالم الملكوت كان عند الله عز وجل. {و عنده مفاتيح الغيب} و من عنده تنزيل اسباب الموجودات في عالم الشهادة. و عالم الشهادة آثر من آثار ذالك العالم يجرى منه مجرى الظل بالإضافة الشخص، و مجرى الثمرة بالإضافة إلى المثمرة، والمسبب بالإضافة إلى السبب، و مفاتيح معرفة المسببات لا توجد إلا من الأسباب. ولذالك كان عالم الشهادة مثالا لعالم الملكوت

Sederhananya kira-kira seperti ini: alam syahadah adalah bayang-bayang (bayangan) dari alam malakut. Analoginya seperti sebuah rumah. 

Rumah yang tampak dan bisa dilihat oleh mata kalau dilihat lebih dalam, hakikatnya itu dibentuk oleh banyak material. Termasuk banyak orang yang terlibat dalam prosesnya. 

Kalau dilihat lebih jauh dan dalam lagi, rumah tersebut hakikatnya bermula dari ide dan desain seorang arsitektur. Jadi, bisa dibilang rumah yang (sekalipun) tampak dan bisa dilihat oleh mata, itu bermula (bayangan) dari ide dan dan desain arsitektur. 

Ide itu tak bisa dilihat. Ia bagian dari hal gaib. Karenanya, bisa dibilang rumah itu adalah bayangan, jejak, representasi dari sesuatu yang gaib bernama ide.

Begitu juga dengan dunia ini, di dunia yang tampak ini. Di balik apa yang dilihat dan tampak oleh mata, Al-Ghazali menjelaskan ada "sesuatu yang sangat amat dan teramat dalam" (غور عميق). Seperti contoh rumah tadi. Karenanya, alam syahadah ini sekadar menjadi bayang-bayang, representasi, manifestasi, jejak, hingga tiruan dari alam malakut. 

sesuatu yang terlihat sederhana, receh, dan biasa saja di mata, ternyata menyimpan sesuatu yang tak terkira banyak dalam penciptaannya. 

Dan sepertinya, ketika seseorang menggunakan "pandangan" ini untuk melihat apapun yang ada di alam syahadah, akan lebih menyukuri segala yang ada. Bahkan mungkin, tidak akan lagi meremehkan dan merendahkan makhluk yang lain.

Al-Ghozali pun bilang; siapapun yang "melihat" segala sesuatu, secara hakikat memiliki ghourun 'amiqun (غور عميق), akan terkuak dan terbuka baginya hakikat-hakikat perlambang (امثلة) dalam Al-Quran dengan mudah. 

و من اطلع على كنه عميق حقيقته، انكشف له حقائق امثلة القرآن على يسر, tulis Al-Ghozali.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 29012022



Jumat, 28 Januari 2022

Langkah Pertama Untuk Naik ke Alam Malakut (Misykatul Anwar)

Hujjatu al-Islam, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada dua jenis mata, yaitu mata lahir dan mata batin. Mata lahir terkait dengan alam indera (penginderaan) dan segala yang tampak secara lahiriah. Sementara mata batin terkait dengan alam malaikat ('alamu al-malakut). 

Hal-hal batin ini, bisa dibilang menjadi ciri atau karakteristik orang-orang yang beriman. Sebab, salah satu dari rukun Islam adalah percaya pada hal gaib. Ini berarti orang-orang yang beriman mesti percaya dengan dua lapis alam: alam lahir dan alam batin. Termasuk dengan mata: ada mata lahir dan mata batin. 

Setiap mata, kata al-Ghazali, memiliki mataharinya masing-masing yang bisa menjadikan penglihatan menjadi sempurna atau lebih jelas. Mataharinya mata lahir adalah matahari yang tampak di sebelah timur saat terbit dan di sebelah barat kala terbenam. Sementara mataharinya mata batin adalah Al-Quran. Termasuk kitab-kitab yang Allah turunkan sebagai wahyu sebelum Al-Quran. 

Ketika tersibak dan terbuka (rahasia) mata batin ini, kata Imam Al-Ghazali, maka telah terbuka juga pintu pertama dari sekian pintu alam malakut. 

Lalu, Imam Al-Ghazali menegaskan, siapapun yang tidak menggunakan akalnya (mata batinnya) untuk berjalan menuju alam malakut bisa dibilang bukan manusia, tapi hewan. Kok bisa?

Al-Ghazali menulis dalam kitab Misykatul Anwar: 

وإن من لم يسافر إلى هذا العالم، وقعد به القصور في حضيض عالم الشهادة فهو بهيمة بعد

Ada  diksi بعد di akhir kalimat tersebut. Ini adalah diksi yang sering dipakai dalam tradisi filsafat Islam yang artinya untuk menekankan bahwa hal tersebut adalah benar-benar, jelas-jelas. 

Kata ini pun sering dipakai para Khotib, penceramah, atau siapapun yang berbicara di muka umum. Setelah salam, biasanya akan membuka dengan kalimat Alhamdulillah, lalu sholawat kepada nabi Muhammad dan kemudian ditutup dengan kata "amma ba'du" (أما بعد). 

Al-Ghozali pun memakai diksi ini untuk menegaskan bahwa siapapun yang tidak menggunakan akal (mata batinnya) untuk menuju (berjalan: سالك) kepada alam malaikat dan hanya diam saja di alam lahir ('alam al-hissi wa al-syahadah) adalah binatang. 

Sebab, binatang itu terjebak dan akan terus berada di alam lahir. Sementara manusia punya potensi (القوة) untuk naik ke alam malakut dengan bekal yang diberi oleh Allah, berupa akal, mata batin, atau jiwa. 

Dan di antara fitrah manusia adalah diberi keistimewaan (kekhususan) berupa akal, mata batin, atau jiwa ini, sementara binatang tidak. Nah, di sinilah menurut Imam Al-Ghazali apa yang dimaksud pada ayat: 

الئك كالأنعام بل هم أضل

Ya, manusia bisa tergelincir menjadi binatang ketika tidak menggunakan akal, mata batin atau jiwanya untuk menuju alam malakut. 

Sekali lagi, ciri manusia adalah memiliki akal, mata batin, atau jiwa (an-nafs). Dan ini berarti setiap orang punya potensi bisa melihat dan mengetahui alam malakut. Caranya, ya dengan menggunakan akal, mata batin, atau jiwa yang ada dalam diri setiap orang untuk naik atau menuju ke alam malakut. Ketika seseorang tidak mau melakukannya, sama saja ia mengingkari kemanusiaannya sendiri.

Perlu diketahui, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hubungan antara alam syahadah (alam lahir) dengan alam batin itu seperti kulit, dengan biji, isi,atau inti. Kulit itu alam lahir, dan isi adalah alam batin. 

Pun seperti bentuk badan manusia dengan ruh. Badan manusia itu alam lahir, ruh adalah alam batin. Begitu juga seperti kegelapan dengan cahaya. Kegelapan itu alam lahir, sementara cahaya adalah alam batin. 

Ah, saya jadi ingat dengan shohibu Al-hikam: Imam Ibnu 'Athoillah As-Sakandari yang bilang dalam kitabnya, Al-Hikam: 

الكون كله ظلمة. وانما اناره ظهور الحق فيه

"Segala sesuatu, apapun yang ada di dunia (alam lahir) ini, semuanya adalah kegelapan. Dan semua itu akan menjadi terang ketika tampak kebenaran (Al-Hikmah, cahaya hikmah) di dalamnya," kira-kira seperti itu artinya.

Ini seperti seseorang di malam hari masuk ke sebuah kamar yang gelap (alam lahir). Semuanya tak tampak, tak bisa dilihat sebab tidak ada cahaya. Bisa jadi, ia akan menabrak meja, menginjak kucing atau apapun yang ada di kamar tersebut karena matanya tidak bisa melihat apapun. Tapi, semua itu akan tampak ketika lampu (cahaya hikmah, cahaya kebenaran; Al-Haq) dinyalakan. 

Karena landasan itu semua, alam lahir bisa juda disebut dengan alam rendah, alam jasmani, dan alam kegelapan (zhulmani). Dan di baliknya ada alam malakut yang sering juga dinamakan dengan alam atas, alam ruhani, dan alam nurani.

Ah, lagi-lagi saya tertarik dengan diksi: alam nurani. Sepertinya kata ini adalah kata seraoan dari bahasa Arab yang sangat berkaitan dan amat erat dengan nur atau cahaya, karenanya diksi ini sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ada "di dalam" diri manusia yang bersifat cahaya.

Termasuk dengan alam atas. Saya jadi ingat dalam mitologi Yunani alam atas itu disebut dengan alam para dewa. Pun dalam dunia pewayangan pun ada alam atas yang dikenal dengan kahyangan.

Eit, tapi jangan pernah membayangkan alam atas itu dengan langit yang dilihat oleh indera mata kita. Bukan. Bukan itu. Bukan langit yang ada awan atau burung terbang di atas sana yang bisa dilihat oleh indera mata, tapi alam yang kedudukannya di atas alam lahir. 

Meski terkesan sangat rendah dan berada di bawah, bukan berarti kita menyepelakan bahkan meremehkan alam syahadah atau alam lahir ini. Alam lahir ini pun penting, sebab setiap orang dilahirkan di alam ini, dan alam lahir ini pun menjadi pijakan awal untuk setiap manusia naik ke alam malakut. Sederhananya, siapapun, orang yang ingin naik ke alam malakut, mesti melewati alam lahir ini terlebih dahulu. 

Kemudian Imam Al-Ghazali menerangkan seseorang tidak bisa naik kedudukannya setara dengan malaikat (ملكوتيا) pun tidak bisa menuju ke alam malakut sebelum ia mengganti pandangannya (penglihatannya, pengetahuannya) dari alam lahir ke alam malakut (تبدل الأرض غير الارض و السماوات).

Maksudnya, ketika hijab (tabir penutup) antara alam lahir dan alam malakut dibuka untuk seseorang menggunakan akal, mata batin, atau jiwanya untuk melihat sesuatu, maka yang tampak bukan bumi atau langit yang seperti ia lihat selama ini dengan indera matanya. Semuanya akan berubah total.

Sederhananya, persepsi seseorang akan sesuatu yang selama ini dilihatnya dengan indera mata akan berubah. Contoh sederhananya kira-kira seperti ini: ketika seseorang belum mempelajari suatu ilmu (matematika, sosiologi, psikologi, fisika, filsafat, dan ilmu-ilmu yang lain) segala sesuatu yang tampak dan ditampakkan padanya akan biasa saja. Malah mungkin terlihat receh dan remeh. Dan sering terlewat begitu saja. Tapi, setelah ia belajar suatu ilmu tersebut, apa yang dilihatnya akan berbeda. 

Misalnya, ketika seseorang melihat bintang. Sebelum ia belajar tentang astronomi atau ilmu perbintangan, bintang gemintang itu akan terlihat biasa saja, kalau pun tak biasa, paling banter akan kagum dengan keindahannya. Nah, pandangan ini akan berbeda ketika orang tersebut sudah mempelajari tentang ilmu bintang dan perbintangan. 

Contoh yang lain. Ketika dua orang melihat sepeda motor. Orang pertama, adalah orang yang tidak pernah belajar dan tidak tahu tentang ilmu mesin dan mekanik. Sementara orang yang kedua adalah yang mempelajarinya. Ketika mereka berdua melihat sepeda motor, akan terjadi perbedaan pandangan. Keduanya akan berbeda ketika melihat motor. Yang satu, ya biasa saja melihatnya. Sementara yang satu lagi akan lebih jauh melihatnya, misalnya mesin motornya tidak bekerja optimal karena ada komponen yang perlu diganti, dan seterusnya. 

Ya, kira-kira seperti perspektif seseorang terhadap sesuatu. Sudut pandang seseorang saat melihat sesuatu. Begitu pun dengan orang-orang yang menggunakan akal, mata batin, atau jiwanya ketika melihat sesuatu. Terlebih ketika ia sudah berhasil masuk ke alam malakut. 

Ah, saya jadi terbayang dengan siapapun yang menjadi "Waliyullah". Mereka adalah orang-orang yang sepertinya sudah berhasil masuk ke alam malakut. Sekilas, sepertinya sulit dan berat untuk mencapai kedudukan ini. 

Tapi, jika melihat kenyataan, bahwa setiap orang punya "al-quwwah" berupa akal, mata batin, atau jiwa, ini berarti siapapun bisa menjadi "Wali"; siapapun bisa naik ke alam malakut dan bersifat malaikat (ملكوتية). Termasuk Anda, termasuk saya, punya potensi yang sama. Potensi untuk naik dari bumi (علم الحس والخيال) ke alam malakut.

Ketika seseorang, siapapun (termasuk Anda, termasuk saya) menggunakan mata batin, akal, atau jiwanya untuk melihat sesuatu dan naik ke alam malakut, maka inilah yang disebut mi'roj pertama bagi para salik. Dan ini membuat dirinya semakin dekat dengan Allah. Ya, inilah mi'roj pertama. 

Saya hanya ingin memberi gambaran lebih sederhana, agar mi'roj pertama yang berpotensi bisa dilakukanboleh semua orang ini tidak disamakan dengan mir'roj Nabi Muhammad. Tentu saja berbeda. Jelas berbeda. 

Begini contoh sederhana. Mi'roj pertama itu bisa dilakukan dengan menggunakan akal, mata batin, atau jiwa untuk mendapat pengetahuan. Ya pengetahuan.

Perlu dipahami antara ilmu dan pengetahuan. Ilmu bisa didapatkan dari mana saja, kapan saja, dan di mana saja. Sementara pengetahuan, sederhananya, di antaranya bisa didapatkan dengan pemahaman, perenungan dan penghayatan. 

Pemahaman, perenungan dan penghayatan ini tentu saja dilakukan dengan mata batin, akal, atau jiwa. Bukan dengan otak atau khoyal saja.

Nah, saya jadi ingat dengan para ulama Islam yang filosof yang mengatakan: kebahagiaan hakiki adalah ketika memperoleh pengetahuan. Ya, sumber kebahagiaan adalah pengetahuan. 

Nah, mereka yang berupaya mendapat dan memperoleh pengetahuan, bisa dibilang seperti mereka yang mi'roj pertama. Karena ilmu itu banyak, sangat banyak, maka mi'roj antar orang-orang pun akan beda-beda. Tapi tujuannya satu yaitu mendapat pengetahuan (المعرفة).

Lebih sederhananya lagi, orang-orang yang belajar hakikatnya adalah tengah melatih mata batinnya untuk mi'roj. Ini berarti belajar, mencari ilmu, ngaji, merenung, memahami sesuatu adalah langkah pertama memi'rojkan mata batin menuju alam malakut. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 28012022


Rabu, 26 Januari 2022

Akal, Cahaya Hikmah, Cahaya Allah, dan Al-Quran (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali menyatakan ada ilmu yang disebut dengan ilmu dhoruri (العلم الضرورى), yakni ilmu pada diri manusia yang secara naluri (atau fitrah) selalu ada dalam diri manusia. Sudah ada dan nempel di akalnya. Pun ada ilmu yang disebut dengan ilmu iktisab (العلم الإكتساب) yakni ilmu yang perlu usaha terlebih dahulu. Perlu diupayakan.

Contoh ilmu dhoruri: saya tidak akan bilang bahwa gelas kopi itu besar dan kecil dalam satu waktu. Kalau saya bilang gelas kopi kecil, maka tidak mungkin saya bilang besar saat itu juga. Pun ketika saya bilang ada gelas kopi di atas meja saat saya membuat catatan ini, tidak mungkin saya bilang tidak ada di saat yang bersamaan. 

Pun misalnya, ketika saya bilang seseorang itu cantik, maka ini berarti saya tidak bilang hak yang sebaliknya. Tidak mungkin saya bilang dia itu cantik dan kelak dalam satu waktu. 

Terkait hal ini, saya jadi ingat cerita tentang nabi Muhammad dan Abu Jahal. Nama nabi: Muhammad, sederhananya berarti orang yang terpuji. Nah, Abu Jahal tahu akan hal ini, karenanya dia tidak mau memanggil nabi dengan nama, tapi dengan "al-madzmum" yang artinya orang tercela. 

Tapi, inilah di antara kekuatan dan keistimewaan dari nama (dan penamaan) nabi dengan Muhammad. Bagaimanapun orang-orang kafir membenci dan tidak suka pada Nabi, akan tetap menyebut nabi sebagai orang yang terpuji, karena nama Nabi. 

Misalnya, abu Jahal bertanya atau bilang ke orang-orang: "mana itu si al-madzmum?" Kemudia orang yang ditanya akan balas: "al-madzmum itu siapa?" Mau tak mau Abu Jahal akan menyebut nama Nabi. Walaupun dia tidak menyebut nama nabi, misalnya dengan menyebut dengan anaknya Aminah, orang-orang yang diajaknya bicara, mau tak mau akan menyebut nama Muhammad. 

Ya, dari penyebutan, nama, dan penamaan saja, siapapun akan bilang (mau tidak mau, sadar tidak sadar) bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang terpuji, karena dari arti nama memang demikian. 

Walaupun Shakespeare bilang, apalah arti sebuah nama, tapi sepertinya nama (pemberian nama) itu penting. Terlebih jika itu dikaitlan dengan doa dan harapan. Orang tua terhadap anak, misalnya.

Kembali ke Ilmu Dhoruri, Imam Al-Ghazali melanjutkan penjelasannya dengan memberi keterangan bahwa jika ada sesuatu yang khusus, maka ada yang umum. Misalnya, ada warna hitam (khusus), maka berarti ada yang umum yaitu warna. 

Namun, ketika ada sesuatu yang (bersifat) umum, maka yang khusus belum tentu seperti itu adanya. Misalnya; ada warna (umum), nah, yang khusus belum tentu adanya seperti itu. Misalnya belum tentu ada warna hitam, sebab bisa jadi warnanya biru, hijau, merah, dan lain-lain. 

Hal-hal yang demikian itu ditegaskan al-Ghazali sebagai al-khodoya al-dhoruriyat (القضايا الضروريات). Ya, saya ingat dalam ilmu manthiq ada beberapa istilah, diantaranya: qodhiyyah (قضية), kulliyyah (كلية) dan muujabah (موجبة). Dari ketiga hal ini nantinya akan lahir yang namanya natiijah (نتيجة) atau kesimpulan. 

Nah, Qodhiyah (القضية) ini adalah istilah yang artinya kalau dalam bahasa inggris: term atau statement. 

Term-term dalam ilmu dhoruri Dijelaskan imam Al-Ghazali ada tiga, yaitu al-wajibaat (الواجبات), al-jaaizaat (الجائزات), dan al-mustahiilat (المستحيلات). 

Jika melihat akal sebagai hal khusus (bersifat khusus) dan manusia bersifat umum, maka bisa dipastikan bahwa semua manusia punya akal. Dan ini berarti, bahwa setiap orang punya bisa dipastikan punya ilmu dhoruri.

Sementara untuk ilmu iktisab (العلم الإكتساب), Imam Al-Ghazali menganalogikannya dengan zaman dulu sebelum ada korek api. Ya, dengan batu yang digesek-gesek agar menjadi api. Kira-kira seperti itu ilmu iktisab ini. Perlu ada upaya untuknya. 

Tentu saja, upaya tiap orang berbeda-beda. Seperti batu api tadi. Ada yang hanya perlu sekali gesekan langsung menimbulkan api, ada yang perlu upaya keras dan berkali-kali hingga timbul api.

Upaya gesekan batu agar lahir api itu pun seperti  yang terjadi pada akal manusia. Selain ilmu yang sudah nempel di dirinya seperti bawaan orok (ilmu dhoruri), akal manusia dalam melihat segala sesuatu pun perlu upaya dan usaha agar terwujud sesuatu yang disebut ilmu iktisab. 

Contoh sederhananya ilmu iktisab; kita misalnya tahu bahwa satu ditambah satu sama dengan dua, tapi akal kita akan bekerja dan berupaya lebih ketika menemukan seribu dua ratus delapan pulun tujuh dikali seratus tiga puluh delapan ribu tujuh ratus tujuh puluh tujuh (1.287 X 138.777) itu berapa jumlahnya.

Nah upaya atau usaha tersebut, termasuk apapun yang terkait dengan kemampuan akal dalam melihat sesuatu bisa ingatkan atau disentuh oleh apa yang disebut Imam Al-Ghazali dengan kalaamu Al-Hikmah (كلام الحكمة).

Cahaya hikmah ini akan terus menyinari akal setiap manusia. Kenapa? Sebab, setiap manusia punya potensi (القوة). Lebih jauh, dalam kitab Al-munqidz min Al-dholal, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada satu hal dalam diri manusia yang bernama dzauq. Bahasa Indonesianya intuisi. Dzauq inilah yang bisa menangkap cahaya hikmah, lintasan-lintasan ide (Khowathir), yang selalu menyinari akal manusia. 

Nah, namanya potensi (القوة) walau kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kekuatan, tetap saja itu masih potensi. Belum terwujud menjadi nyata. Misalnya, saya tahu gelas itu bisa menampung air termasuk menampung kopi. Tapi, gelas itu tidak akan bisa berisi kopi, jika tidak diwujudkan dengan mengisinya dengan kopi. Nah, gelas sebagai penampung kopi inilah yang dimaksud dengan potensi atau al-quwwah tadi.

Lalu bagaimana agar itu menjadi nyata? Imam Al-Ghazali menggunakan diksi الفعل untuk membuat potensi itu terbentuk lalu terwujud menjadi nyata. Ya, kata kerja. Bisa dibilang, potensi apapun akan tetap menjadi potensi jika tidak ada aksi untuknya. 

Termasuk dengan akal yang ada pada diri setiap manusia. Akal hanya akan menjadi potensi jika tidak ada aksi. Atau akal hanya akan jadi potensibjika tidak digunakan bekerja; untuk melihat dan memahami sesuatu, misalnya. 

Sekali lagi, cahaya hikmah itu akan selalu ada dan menyinari setiap akal manusia. Karena cahaya hikmah itu adalah cahaya dari Allah. Hikmah dan cahaya Allah itu sangat amat banyak jenisnya. Termasuk segala informasi yang kita lihat, semua itu adalah hikmah. Tapi, cahaya hikmah terbesar, paling besar, teragung, paling agung kata Imam Al-Ghazali adalah kalaamullah (كلام الله) alias Al-Quran.

Al-Ghazali dalam kitab Misyakatul Anwar ini, menegaskan bahwa Al-Quran itu ibarat cahaya matahari kepada mata: membuat penglihatan lebih jelas ketika melihat sesuatu. Karenanya, Al-Quran pun bisa disebut dan dinamai dengan cahaya. 

Ah, saya jadi terbayang dengan keadaan manusia sebelum Al-Quran turun. Saat itu, bisa dipastikan manusia sudah punya akal, tapi penglihatannya samar, bahkan mungkin buram. Karenanya mungkin ini pula yang menyebabkan ketika dulu saya belajar "muhadoroh" (belajar latihan pidato), akan selalu ada kalimat dari alam kegelapan ke alam terang benderang (من الظلمات إلى النور). Entahlah.

Imam Al-Ghazali kemudian menegaskan, bahwa akal (mata batin) bisa memahami hal-hal yang masuk akal, melihat hakikat-hakikat yang bersifat batiniah, itu dengan Al-Quran yang di dalamnya ada hikmah. Ada cahaya Allah. Inilah makna yang diungkap al-Ghazali dari kedua ayat: 

فآمنوا بالله و رسوله و النور الذى أنزلنا (الآية) 

قد جاءكم برهان من ربكم وانزلنا إليكم نورا مبينا (الآية)

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 27012022

Selasa, 25 Januari 2022

Logical Fallacy dan Kebenaran (Misykatul Anwar)

Mata (fisik) ini tidak bisa melihat sesuatu yang tak terbatas. Meskipun mata bisa melihat sifat-sifat kebendaan yang materi (fisik), tapi semua benda tersebut, sekali lagi, punya batasan. Sementara akal bisa melihat (memahami) pengetahuan-pengetahuan yang tidak terbatas. 

Walau (andaikan) ada yang bilang bahwa pengetahuan tertentu atau ilmu spesifik (al-'ulum al-mufasholah), seperti matematika, fisika, psikologi perkembangan, psikologi anak, dan ilmu-ilmu yang lain itu terbatas, tapi, kata Imam Al-Ghazali, potensi memahami (quwwatu al-idrok) itu tak terbatas.

Saya tertarik dengan diksi quwwatu al-idrok yang dipakai imam Al-Ghazali di sini. Kata quwwatun dipahami dengan potensi. Kekuatan adalah potensi. Kalau potensi, maka bisa dibilang belum menjadi nyata. 

Misalnya; saya berpotensi (memiliki quwwatun) untuk bahagia. Karena masih berada di tingkat potensi, maka bisa dibilang bahwa saya belum bahagia secara nyata. Pun dengan perihal; bahwa saya berpotensi menjadi apapun yang saya mau.

Nah, menariknya, Imam Al-Ghozali, menjelaskan bahwa potensi itu akan menjadi nyata jika sudah berubah menjadi al-fi'lu. Ya, ketika sudah betubah menjadi suatu pekerjaan. Bisa dibilang, siapapun bisa mewujudkan apapun yang diinginkannya, karena setiap orang punya potensi alias kekuatan dalam dirinya (al-quwwatu), asal potensi (kekuatan) itu diubah menjadi kata kerja alias dikerjakan. 

Pun seperti quwwatu al-idrok (potensi memahami, melihat, dan mengetahui sesuatu) dalam kitab Misykatul Anwar karya Imam Al-Ghazali yang dijelaskan ada dan nyantel pada diri setiap orang. 

Al-Ghazali menyontohkan dengan angka dua dan tiga. Mata (fisik) bisa melihat angka tersebut. Tapi ketika angka tersebut diberi kelipatan-kelipatan (pangkat, tambah, dan seterusnya), maka mata ini akan tidak bisa melihat angka-angka yang tak terbatas. Sementara akal, bisa melihatnya. 

Seperti tingkatan "tahu-nya" seseorang: misalnya saya tahu kamu tidak suka saya. Kemudian saya tahu bahwa saya tahu kamu tidak suka saya. Terus, saya tahu bahwa saya tahu bahwa saya tahu kamu tidak suka saya. Dan seterusnya. 

Itu disebabkan karena akal bisa mengetahui ilmu atas sesuatu. Pun bisa mengetahui ilmunya ilmu atas sesuatu itu. Dan bisa mengetahui ilmunya ilmunya ilmu atas sesuatu tersebut, dan seterusnya.

Itu adalah kelemahan keenam dari mata. Sementara kelemahan ketujuh sangat terkait dengan optical illusion. Tertipunya mata. 

Ya, mata kita seringkali melihat sesuatu itu besar padahal kecil. Pun sebaliknya, melihat kecil padahal besar. 

Imam Al-Ghazali menyontohkan dengan bintang gemintang. Bintang terlihat kecil. Ukurannya seperti duit logam. Padahal, bintang memiliki ukuran yang besar. 

Selain terkait ukuran, mata kita pun sering tertipu dengan gerak. Kita melihat sesuatu bergerak padahal diam. Pun sebaliknya, melihat sesuatu itu sepertinya diam padahal bergerak. 

Imam Al-Ghazali menyontohkan dengan anak kecil. Mata kita melihatnya seakan anak itu tidak tumbuh dan tidak berkembang, padahal setiap saat anak tersebut terus gerak (tumbuh dan berkembang). Begitu juga dengan bintang gemintang yang seakan-akan terlihat diam dan tak bergerak, padahal bintang itu terus bergerak. 

Terkait hal ini, Imam Al-Ghazali merujuk pada hadits nabi yang berbunyi:

كما قال صلى الله عليه وسلم لجبريل عليه السلام: أزالت الشمس؟ فقال لا، نعم! فقال عليه السلام: كيف؟ "منذ قلت (لا) إلى أن قلت، (نعم): قد تحركت مسيرة خمسمائة سنة.

Hadits ini menarik. Selain menegaskan bahwa bintang bergerak, pun menunjukkan bahwa nabi Muhammad mengetahui pergerakan cahaya. Nabi bilang, dalam sekian detik (cahaya) matahari bergerak lima ratus tahun kecepatan cahaya. 

Selain itu, hadits ini pun seakan ingin menegaskan bahwa Nabi Muhammad itu Cerdas dan lebih pintar dari malaikat Jibril. Lebih-lebih kecepatan cahaya, matahari dan bintang ini pun terkait ilmu fisika, astronomi, dan lain-lain. jadi, nabi Muhammad bisa dibilang menguasai ilmu-ilmu tersebut. 

Ya, itulah tujuh kelemahan mata. Malah Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa mata sebenarnya memiliki banyak kekeliruan. Sementara akal, lepas serta bebas dari itu semua. Akal tidak memiliki kekurangan, kata Imam Al-Ghazali. 

Meskipun ada yang bilang bahwa orang-orang yang berakal pun bisa keliru dalam pandangannya, tapi Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa itu bukan kekeliruan akal. Ini terkait dengan teori kognisi atau teori al-idrok.

Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa dalam diri manusia ada khoyal, wahm, dan kepercayaan yang seringkali memberi asumsi dan sangkaan. Nah, kebanyakan orang justeru mengira semua asumsi dan sangkaan (Zhon) tersebut adalah kerja akal. Padahal bukan. Sangkaan itu adalah kerjaan khoyal dan wahm dalam diri manusia. Imam Al-Ghazali membahas hal ini pada kitab "mi'yaru al-'ilmi" dan "muhikku an-nazhori". 

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kekeliruan orang-orang yang berakal adalah karena adanya selubung khoyal dan wahm (ghisyawatu al-wahmi wa al-khoyali). Kalau tidak ada selubung tersebut, akal bisa dipastikan benar-benar melihat sesuatu benar adanya. 

Dan Al-Ghazali bilang, menhindar dari selubung khoyal dan wahm ini berat dan sulit dilakukan. Karenanya Al-Ghozali pun bilang: seseorang bisa mengetahui (melihat dan memahami) kebenaran yang benar-benar benar akan sesuatu justeru setelah ia meninggal dunia (wafat). 

Ini seperti Firman Allah dalam Al-Qur'an: 

فكشفنا عنك غطائك فبصرك اليوم حديد.

Ah, saya jadi ingat dengan logical fallacy. Ya, kekeliruan logika, kekeliruan nalar. Jika, al-Ghazali bilang hakekat benar dan kebenaran, atau sesuatu itu benar-benar benar hanya bisa diketahui setelah mati, maka bisa dibilang bahwa kebenaran yang ada di dunia ini bagi seseorang masih berpotensi keliru. Seperti ungkapan Imam Syafi'i: "pendapatku bisa benar, pun bisa salah."

Pun saya teringat dengan hadits nabi: 

والناس نيام، إذا مات فانتبهوا

Manusia (di dunia ini) hakekatnya sedang tidur. Dan ketika mereka mati, barulah sadar.  Terkait hadits nabi ini saya pernah menuliskannya di tulisan saya pada blog yang lain.

Orang-orang akan menyadari kekeliruan khoyal dan wahm dalam dirinya setelah mati. Ya, kita akan sadar dan "ngeh" dengan kekeliruan dan kesalahan yang kita anggap benar saat hidup di dunia. Imam Al-Ghazali merujuk pada ayat Al-Qur'an yang berbunyi: 

ربنا ابصرنا وسمعنا فارجعنا نعمل صالحا (الآية)

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 26012022







Anak Buahnya Akal, Lahir dan Batin. (Misykatul Anwar)

Dalam filsafat ada ilmu yang dikenal dengan ontologi, yakni ilmu tentang "ada" akan sesuatu. Dalam filsafat Islam, "ada" ini dikenal dengan al-maujudat. 

Imam Al-Ghazali menegaskan semua yang terkait dengan al-maujudat adalah tanahnya akal. Semua itu, adalah tempat beredarnya akal (majaalu al-'aqli).

Di dalam diri manusia ada otak. Bahasa Inggrisnya: brain. Otak ini adalah organ. Kalau dimisalkan ke komputer, otak adalah CPU. Perangkat keras. Sementara akal, bahasa Inggrisnya main. Kalau dalam komputer, ini perangkat lunaknya, OS atau operating system-nya. 

Otak atau perangkat keras tak akan bisa bekerja tanpa ada sistem yang mengoperasikannya, yaitu akal. Sederhananya, otak tidak akan bekerja jika tidak ada akal. 

Kalau otak tidak bekerja, bisa dibilang, manusia sama dengan binatang. Karenanya, dalam filsafat Islam manusia, ada yang menyebutnya  al-hayawan al-nathiqoh, alias hewan yang bisa berpikir, berakal, bernalar. 

Pun ada juga yang menyebut bahwa manusia dengan al-nafsu al-nathiqoh, yakni jiwa yang bisa menalar. Imam Al-Ghazali menyebut ruh, nafs al-insaniy, dan akal dalam perspektif yang sama. Yakni hal yang terkait dengan "penglihatan" dalam diri manusia secara batin. 

Akal manusia, menurut Imam Al-Ghazali bisa membuat segala rahasia yang tak tampak (bersifat batin) menjadi jelas. Pun bisa mengungkap makna-makna yang tersembunyi dari segala yang ada (al-maujudat). 

Sementara mata manusia (secara lahir dan fisik) tidak bisa melakukannya. Sebab, mata (lahir dan fisik) bisa dikatakan adalah sesuatu yang gelap karena ketergantungannya dengan benda lain yang memiliki cahaya. 

Imam Al-Ghazali malah menegaskan, bahwa mata (fisik) adalah salah satu mata-mata (jaasuus) dari sekian banyak anak buah yang dimiliki akal. Tugasnya mata (fisik) ini ibarat lemari dan gudang yang menyimpan warna dan bentuk saja dari yang dilihatnya. 

Ibarat Intel, mata (fisik) hanya melaporkan warna dan bentuk dari yang dilihatnya kepada akal. Dan akal-lah yang akan memberikan pendapat secara tajam dan hukum (hikmah, pelajaran) yang pasti. 

Termasuk dengan panca indera. Semua itu, kata Imam Al-Ghazali adalah "anak buahnya" akal secara lahir dan zohir. Ya, panca indera pada manusia adalah "Intel" dari akal. Akal adalah komandan bahkan jendralnya. 

Selain lahir dan zohir, akal pun punya "anak buah" secara batin. Imam Al-Ghazali menyebut, setidaknya, ada lima. Yaitu: khoyal, wahmun, fikrun, dzikrun, dan hifzhun. 

Khoyal adalah kemampuan dalam diri manusia yang tugasnya menyimpan apapun yang ditangkap dan didapati oleh panca indera. Ini seperti memori. Misalnya, kita masih bisa melihat hal-hal di masa lalu, walau hal itu sudah tidak terjadi. 

Atau misal yang lain, mata kita melihat orang yang kita sayang. Ketika dia yang kita sayang tidak ada di hadapan, kita masih bisa melihatnya di dalam dan dengan khoyal ini. Bisa dibilang khoyal ini menyimpan informasi. 

Setelah sesuatu yang "ada" atau informasi itu masuk ke khoyal, kemudian ada sesuatu dalam diri kita (anak buahnya akal) yang mengolah informasi tersebut menjadi sebuah data. Tapi, data yang belum lengkap. Sebab, masih dalam tingkatan sangkaan (zhon). Ini seperti asumsi.  Nah, yang mengolah informasi ini disebut dengan Wahmun. 

Informasi dan data yang belum lengkap tersebut, kemudian dilengkapi dengan informasi dan data-data lain yang menguatkan "sangkaan dan asumsi" di wahmun, hingga menjadi sebuah pemikiran (fikrun). Ini terkait dengan salah satu kemampuan akal yaitu isthinbat alias menginduksi sesuatu. 

Pikiran atau pemikiran (fikrun) tersebut kemudian diolah kembali sedemikian rupa hingga menjadi ingatan (dzikrun). Sayangnya,  dzikrun ini bisa dibilang ingatan yang masih lemah. Perlu terus menerus dilakukan agar menjadi hifzhun yang berarti ingatan yang kuat. 

Ah, saya jadi tertarik dengan dzikrulloh dan hifzhulloh. Dzikrun selain berarti ingat, kata ini pun bisa diartikan dengan menyebut. Karenanya orang-orang yang menyebut nama-nama Allah dibilang sedang dzikir atau dzikrulloh. 

Hal ini sepertinya terkait dengan keadaan iman seseorang yang naik turun. Karenanya perlu terus menerus menyebut dan mengingat nama-nama Allah agar keimanan terus stabil. 

Dan ujungnya, ketika nama-nama Allah terus disebut dan dingat, akan membuat nama-nama Allah terjaga (hifzhulloh) dalam dirinya. Karena selain hafal (ingatan yang kuat), kata hifz pun bisa diartikan dengan menjaga, jika ditambah harfu jar berupa "'an". Entahlah.

Kelima anak buah akal yang disebut Imam Al-Ghazali tersebut membuat saya ingat akan teori kognisi. Teori bagaimana sebuah pengetahuan terbentuk. Teori bagaimana mengetahui tentang sesuatu. 

Pun dalam filsafat Islam, ada yang dikenal dengan teori "al-idrok" yang isinya ilmun, dzonnun, syakkun, wahmun, dan khothoun.

Sederhananya kira-kira seperti ini. Misalnya ada seseorang yang punya keinginan ingin punya mobil. Masalahnya, uangnya tidak cukup alias masih kurang. Nah, kalau menggunakan pendekatan teori kognisi atau al-idrok, maka yang dilakukan pertama adalah mencari segala informasi yang bisa membuat ia bisa membeli mobil. Misalnya, pemasukan keuangannya, penghasilannya, dan seterusnya. Termasuk mencari informasi tentang kendala-kendala yang menghambat ia bisa beli mobil. 

Semua informasi itu kemudian diolah menjadi sebuah asumsi, Zhon, atau sangkaan. Karena datanya belum lengkap, ia pun mencari informasi lain yang bisa menjadi jawaban dari hal-hal yang membuatnya bisa beli mobil, pun hal-hal yang menghambatnya bisa beli mobil. 

Informasi-informasi penguat tersebut menjadi data valid (fikrun). Nah dalam tingkatan ini, dia bisa mendapat hukum, hikmah, dan pelajaran yang membuatnya bisa membeli mobil. 

Tapi, perlu diingat juga hal tersebut mesti dilakukan berulang-ulang (dzikir) agar bisa benar-benar (hifz) menjadi ilmu yaqini yang benar-benar benar. 

Yang dimaksud Imam Al-Ghazali dari "anak buah" akal tersebut tentu saja bukan bagaimana bisa membeli mobil, tapi terkait dengan hakikat cahaya: bahwa akal punya anak buah berupa panca indera lahiriah dan batiniah. 

Dan semua anak buah tersebut, dibahas Al-Ghazali di kitab yang lain, yaitu Ihya Ulumuddin pada bagian "kitab 'ajaibu al-qolbi."

Dan inilah kelebihan akal yang kelima dibanding mata fisik. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 25012022

Senin, 24 Januari 2022

Tanpa Akal, Manusia adalah Ciptaan (makhluk) Paling Rendah. (Misykatul Anwar)

Sekuat apapun fisik dan badan manusia, pasti ada batas dan punya sisi lemahnya. Termasuk mata. 

Al-Ghazali menjelaskan kelemahan ketiga dari mata (secara lahir dan fisik) manusia adalah tidak bisa melihat segala sesuatu di balik hijab, sesuatu yang ditutupi atau tertutup. 

Berbeda dengan akal yang bisa disebut juga dengan mata (secara batiniah) bisa Melihat hal-hal yang tak tampak (tertutup) tersebut.

Malah, al-Ghazali bilang bahwa akal bisa menelusuri (melihat) 'arys, kursi (Allah), dan segala sesuatu dibalik tabir-tabir yang ada di langit. Seperti, alam malakut yang luhur. Semua yang tertutup alias hal-hal batiniah tersebut tidak berlaku bagi akal. Asal akal tetap terbuka. 

Saya seperti melihat payung. Payung itu akan bekerja, melindungi seseorang dari basahnya air hujan jika payung tersebut terbuka dan mengembang. Pun seperti parasut yang dipakai para atlit terjun payung atau mereka yang ingin merasakan sensasi adrenali terjun dari ketinggian. Parasut akan bekerja jika ia terbuka dan mengembang. 

Semua tabir yang menutup penglihatan inderawi secara lahiriah, tidak berlaku untuk penglihatan mata manusia yang bernama akal. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa yang bisa menutup akal adalah akal itu sendiri. 

Sama seperti sesuatu yang menutupi mata (lahiriah) saat terpejam, atau ada sesuatu yang menutupinya. Nah, akal hanya bisa tertutup oleh dirinya sendiri, yaitu tidak mau "melihat" alias tidak mau belajar. 

Kemudian, kelemahan keempat dari mata secara fisik adalah hanya bisa melihat segala sesuatu secara zohir, lahiriahnya saja, permukaannya saja, bentuk luarnya saja, dan gambar luarannya saja. 

Sementara akal bisa tajam menghujam ke dalam ranah batin dan rahasia-rahasia dari segala sesuatu. Hingga akal bisa mengetahui hakekat dan ruh segala sesuatu tersebut. 

Mata manusia yang berupa akal ini bisa menginduksi (membuat kesimpulan) tentang sebab musabab, landasan-landasan, tujuan-tujuan, dan hikmah dari sesuatu tersebut: dari apa diciptakan, bagaimana diciptakan, hingga kenapa diciptakan.

Misalnya, ketika saya tahu saya sedang sedih. Akal ini bisa melihat apa saja yang menyebabkan saya sedih. Kenapa saya bisa sedih. Bagaimana dan buat apa saya sedih. Dan hal-hal lain yang bisa dilihat dari sedih. Setelah melihat, mengetahui, dan memahami semua hal tersebut, saya bisa membuat kesimpulan dan induksi (istinbath) dari sesuatu yang bernama sedih. Kemudian saya bisa memilih sikap apa yang diperlukan untuk sedih ini.

Ah, saya ingat dalam filsafat Islam ada teori istinbath dan istidlal. Istinbath serupa dengan induksi. Yaitu, mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menemukan hukum (saya menyebutnya hikmah, atau pelajaran). Contohnya seperti sedih tadi. Akal digunakan untuk melihat apa saja penyebab sedih, bagaimana semua itu membentuk sedih, lalu kenapa mesti ada sedih, dan seterusnya.

Sementara istidlal seperti deduksi, yang bisa dibilang menarik kesimpulan dari keadaan-keadaan umum yang terjadi. Misalnya, ada seseorang yang bilang dadanya sesak, hatinya sakit, kemudian dia menangis. Nah, bisa dideduksikan bahwa ia tengah sedih. Dan seterusnya. 

Al-Ghazali menyebut bahwa akal bisa membuat istinbath karena akal bisa mengumpulkan makna (artiz hikmah, pelajaran) dari segala sesuatu lalu menyusunnya menjadi suatu pengetahuan dan hikmah. Pun bisa menghubungkannya dengan ilmu ontologis. Ya, ilmu yang terkait dengan ada dan keberadaan. (wujud dan maujud).

Dalam filsafat Islam ada sesuatu yang disebut dengan martabat ada dan keberadaan (martabat al-wujud). Teori ini terkait dengan hirarki atau tingkatan segala sesuatu. 

Kalau terkait makhluk (ciptaan), martabat tertinggi adalah segala sesuatu yang murni ruh. Contohnya malaikat. Kemudian di bawahnya, ada makhluk yang punya ruh tapi punya akal dan punya nafsu. Contohnya manusia. Di bawah manusia ada hewan. Yaitu makhluk yang punya ruh, punya nafsu, tapi tidak punya akal. Di bawahnya lagi, ada makhluk yang yang hidup, tapi tidak punya akal dan tidak punya nafsu. Contohnya tumbuhan. Dan tingkatan paling bawah adalah segala sesuatu yang tidak hidup sama sekali. Contohnya adalah benda-benda seperti meja, bangku, batu, dan lain sebagainya. 

Akal pada manusia bisa melihat lalu menentukan segala sesuatu yang ada masuk pada tingkatan alias martabat yang mana. Mata secara fisik, tentu tidak bisa melakukan hal ini, bukan?

Hal kelima yang bisa dilakukan akal dan tidak bisa dilakukan mata secara fisik adalah segala sesuatu yang terkait dengan al-mahsusat dan al-ma'quulat. Keduanya adalah bagian dari al-maujudat.

 Al-mahsusat adalah segala sesuatu yang bisa "dinderai". Dan ini lengeket dengan segala sesuatu yang lahiriah, yang zohir. Dan al-ma'quulat terkait dengan segala sesuatu yang tidak bisa "diinderai" dan hanya bisa dinalar. 

Contohnya: suara. Walau indera pendengaran bisa mendengarnya, tapi Indera mata tidak bisa melihat suara. Sementara akal bisa melihatnya. Misalnya, saya bisa tahu suara gitar yang dimainkan seseorang, menggunakan arpegio, minor, mayor, atau nada-nada lain dalam irama musik. 

Misal yang lain, saya bisa tahu bahwa ini suara Gusmus, suara Gusdur, dan suara yang lain, walau mata fisik saya tidak bisa melihatnya. Ya, saya bisa melihat bahwa yang berbicara adalah Umi atau orang yang saya sayang walau mata fisik saya tak melihat wujudnya, tak melihat mereka tengah bicara. 

Selain suara, akal pun bisa melihat bebauan, rasa, panas, dingin, dan lain sebagainya. Termasuk bisa melihat kekuatan dari inder penglihatan, indera pendengaran, pencecap, peraba, hingga indera perasa, dan lain sebagainya.


Selain itu, akal pun bisa melihat hal-hal batin dalam jiwa manusia, seperti kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan, kesedihan, keterpurukan, sakit, kesakitan, kelezatan, kenikmatan, syahwat, keinginan, kemampuan, kehendak, dan lain sebagainya yang tidak bisa dihitung. 

Mata manusia secara fisik, sungguh, memiliki ruang dan keleluasaan yang terbatas dan sempit. Mata fisik, hakekatnya bisa melihat segala sesuatu hanya pada warna dan bentuk saja. Dan menurut Imam Al-Ghazali, hal ini adalah bentuk paling rendah dari al-maujudat atau segala sesuatu yang ada. 

Pun dengan badan dan jasmani yang merupakan bagian dari al-maujudat. Hingga tak salah, jika badan dan fisik manusia, sekuat-kuatnya, sehebat-hebatnya, tetap saja berada di tingkat paling bawah dan rendah. Jadi, bisa dibilang sesuatu yang bisa membuat manusia bisa berada di tingkat paling tinggi adalah akal. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 24012022


Minggu, 23 Januari 2022

Akal dan Cahaya Allah. (Misykatul Anwar)

Mata lahir punya kelemahan dan kekurangan. Al-Ghazali menyebut: pertama, mata lahiriah bisa melihat (sesuatu) yang lain tapi tidak bisa melihat dirinya sendiri. Kedua, tidak bisa melihat apapun yang (terlalu) jauh. Ketiga, pun tidak bisa melihat yang terlalu dekat. Keempat, tidak bisa melihat apapun dibalik hijab (apapun yang tertutup). Kelima, tidak bisa melihat yang batiniah, hanya bisa melihat segala sesuatu yang bersifat lahiriah saja. Keenam, hanya bisa melihat sebagian tidak secara keseluruhan. Dan terakhir, penglihatannya terbatas. 

Bahkan, seringkali mata (lahiriah) ini keliru dalam melihat sesuatu. Sesuatu yang besar terlihat kecil, yang jauh terlihat dekat, yang diam terlihat bergerak, yang bergerak terlihat diam. 

Dari semua kelemahan itu, apakah sesuatu yang berkaitan dengan indera pengelihatan (mata) secara fisik masih pantas, layak, dan relevan disebut cahaya yang benar-benar cahaya? Jika tidak, ini berarti ada mata yang lebih dari mata lahiriah. Apa itu?

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa di "dalam" diri manusia ada mata yang sifatnya sempurna. Kadang, mata ini dikenal dan disebut dengan akal, kadang ruh, kadang jiwa manusia (an-nafsu al-insaniy). Al-Ghazali sendiri menyebutnya dengan "akal" (al-'aqlu). Karena inilah yang membedakan antara seseorang (al-'aaqilu) dengan anak yang masih menyusui, dengan binatang, dan dengan orang gila. 

Akal adalah mata (cahaya) yang lebih utama karena tidak memiliki kekurangan dan kelemahan mata lahiriah yang tujuh. 

Pertama, mata lahir tidak bisa melihat dirinya sendiri, sementara akal bisa melihat yang lain pun bisa memahami dan mengetahui dirinya sendiri. 

Selain itu, akal pun bisa mengetahui sifat-sifatnya sendiri. Misalnya, ketika seseorang tahu bahwa ia berilmu dan mampu melakukan sesuatu, maka akal akan tahu dan bisa paham bahwa ia tahu, ia tahu. Dan seterusnya. 

Sederhananya, tingkat pertama: saya tahu. Tingkat kedua, saya tahu bahwa saya tahu. Tingkat ketiga, saya tahu bahwa saya tahu, saya tahu. Dan terus sampai tingkat yang tak terbatas. 

Saya contohkan dengan kemampuan seseorang dalam membuat kue. Di tingkat pertama, dia akan bilang: "saya tahu bahwa saya bisa bikin kue." Di tingkat kedua, dia akan bilang: "saya tahu bahwa saya tahu bahwa saya bisa bikin kue." Dan seterusny. 

Semua jenis pengetahuan dan pemahaman tersebut, tentu saja todak bisa dilakukan oleh perangkat tubuh (alatu al-ajsam). Bukan?

Ah, saya jadi ingat dalam filsafat ada sesuatu yang disebut dengan "self revlective", "self recognition", hingga "meta cognition". Semua itu sangat nempel dengan kesadaran. Siapapun yang menggunakan "akal" untuk melihat sesuatu bisa dibilang bahwa ia sadar, menyadari sesuatu. 

Setiap orang, memiliki potensi besar ini. Potensi kesadaran. Potensi melihat sesuatu dengan akalnya. Potensi memahami sesuatu dengan mata batinnya. Potensi mengetahui sesuatu dengan jiwanya. Tentu saja kemampuan seseorang akan berbeda-beda. Tapi, yang pasti setiap orang berpotensi untuk itu.

Kedua, mata lahir tidak bisa melihat sesuatu yang terlalu jauh dan yang terlalu dekat. Sementara akal bisa melakukannya. Bahkan, akal, kata imam Al-Ghazali bisa naik ke langit paling jauh dalam sekejap. Pun bisa turun ke bagian bumi paling dalam. 

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa akal adalah model, bentuk, prototipe, gambaran dari cahaya Allah ta'ala (anmuzaj min nurillah). Dan ini seperti hadits nabi Muhammad yang mengatakan bahwa manusia diciptakan atas gambaran Allah. 

إن الله خلق آدم على صورته

Jika akal adalah gambaran cahaya Allah, maka semua manusia yang berakal dan menggunakan akalnya, bisa dibilang representasi Allah. Karena tak sedikit ulama yang bilang: jangan pernah menyakiti, meremehkan, mencaci, dan hal buruk lain kepada manusia. Selama dia masih manusia dan berakal, selama itu pula ada cahaya Allah dalam dirinya. 

Karenanya, ketika menyakiti seseorang, sama saja menyakiti Allah. Ketika mencaci seseorang, sama saja mencaci Allah. Pun sebaliknya, ketika berbuat baik kepada manusia, sama halnya dengan berbuat baik kepada Allah. 

Ah, saya jadi ingat dengan maqoshidu al-syari'ah. Salah satu hal yang mesti dijaga dalam hidup dan kehidupan adalah hifzhu al-'aqlu. Menjaga akal. Karena akal ini bisa dibilang hal yang langsung terhubung ke Allah. Karena akal adalah pancaran dari cahaya Allah (Nurullah).

Allahu a'lam bisshowab.

Sawangan Baru, 23012022


Jumat, 21 Januari 2022

Cahaya dalam pandangan Al-khowash (Misykatul Anwar)

Ketika rahasia, makna, dan inti cahaya terletak pada ketertampakan (penampakan) dan penginderaan (mata), maka penginderaan mesti butuh pada dua hal, yaitu, adanya cahaya dan adanya mata yang bisa melihat. Berarti bisa dibilang, cahaya itu adalah sesuatu yang tampak dan menampakkan. 

Sayangnya, jika cahaya diartikan seperti itu, maka hal tersebut sepertinya tidak berlaku bagi mereka, para penyandang disabilitas berupa tuna netra. Sebab tidak ada apapun yang tampak dan menampakkan di indera mata meraka.

Karenanya, ada pendapat yang menyatakan bahwa (aktifitas) melihat itu sama dengan memahami. Ya, memahami, sama dengan melihat sesuatu. Kata al-idrooku yang digunakan dalam Misykatul Anwar diartikan tidak sebatas aktifitas inderawi berupa melihat saja, tapi diartikan juga dengan memahami. 

Kegiatan memahami ini, sangat lekat dengan mata yang tak tampak. Bukan mata lahir, tapi mata batin. Al-Ghazali menyebutnya dengan ar-ruh al-bashiroh. Jiwa yang bisa melihat (untuk memahami). Bahasa sederhananya adalah mata batin. 

Ini berarti, jika kegiatan melihat yang dilakukan indera mata (mata lahir) dengan kegiatan melihat yang dilakukan Mata batin, maka keduanya bisa dibilang memiliki kesamaan. Setidaknya dari segi kegiatan melihatnya. 

Hanya saja, mata batin tidak sekadar melihat sesuatu secara lahir (tampak) saja, tapi bisa melihat hal yang tak tampak. Misalnya, mata lahir bisa melihat orang tua saat mereka masih hidup dan bersama kita. Tapi ketika mereka sudah meninggal, maka mata lahir ini tidak bisa lagi melihatnya. Tapi, mata batin tetap bisa melihatnya. Bahkan, Meskipun orang tua kita telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Tidak hanya melihat hal yang tak tampak, mata batin pun bisa digunakan untuk memahami sesuatu. Misalnya, mata lahir kita bisa melihat tulisan 1+1=2. Tapi, ketika tulisan itu dihapus, mata lahir ini tidak bisa lagi melihatnya. Nah, di sinilah mata batin bekerja. Ia tetap bisa melihat dan lebih jauh memahami bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. 

Misalnya lagi, dengan mata lahir kita bisa melihat seseorang yang menangis. Tapi, dengan mata batin kita bisa melihat hal-hal yang membuat seseorang tersebut menangis. Apakah karena sedih atau terlalu bahagia. Dan seterusnya. Melihat kesedihan atau kebahagiaan sebagai penyebab ini, hanya bisa dilakukan oleh mata batin. Sebab ini terkait memahami sesuatu. 

Imam Al-Ghazali menulis: 

و أما النور فليس بمدرك ولا به الإدراك، بل عنده الإدراك فإنه مدرك به لا مدرك، فهو مفعول لا فاعل، فكان اسم النور بالروح /بالنور الباصر أحق منه بالنور المبصر عنده

Makanya, mata batin (ar-ruh al-bashiroh) ini lebih pantas untuk hal yang relatif (Amrun idhofiyyun) terkait mata (kegiatan melihat) dan segala sesuatu yang tampak dan menampakkan, alias cahaya ini.

Di samping itu, mata lahir memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan. Al-Ghozali menyontohkan dengan menyebut mata kelelawar, mata manusia yang mengalami kerabunan, termasuk para tuna netra. 

Nah, kalau cahaya hanya dilekatkan dan hanya bisa dilihat dengan mata lahir, maka mereka yang kekurangan (dari segi lahiriah) tersebut, akan kesulitan menikmati dan mendapat nikmat dan Rahmat Allah berupa cahaya ini. Karenanya, Al-Ghozali menyatakan bahwa segala yang tampak dan menampakkan (cahaya) ini masih bisa dilihat dengan mata batin.

Imam Al-Ghazali lebih jauh menjelaskan (bahkan mensupport), meski telah hilang cahaya penglihatan bagi para tuna netra, alias gelap. Tapi, dibalik kegelapan (lahir) itu tersimpan hikmah ketuhanan (Al-Hikmah al-ilahiyyah).

Al-Ghozali melambangkan hilangnya pengelihatan tersebut dengan warna hitam. Bukankah gelap biasa diidentikkan dengan warna hitam?

Nah, warna hitam tersebut, justeru kata Imam Al-Ghazali, memiliki kemampuan untuk mengumpulkan cahaya-cahaya penglihatan dan menguatkannya. Saya jadi ingat mereka yang bilang agar jangan pakai baju warna hitam di bawah terik matahari, karena katanya akan bikin badan semakin panas, sebab warna hitam menyimpan lebih banyak panas matahari.

Al-Ghozali menyebut (untuk memberi contoh) tentang pupil pada mata manusia yang berwarna hitam (al-ajfan). Sesuatu yang hitam ini (pupil) dikelilingi bagian mata yang berwarna putih, untuk memperkuat kinerja mata (untuk melihat).

Sementara, warna putih (bagian putih pada mata), justeru malah melemahkan fungsi mata, melemahkan cahaya-cahaya yang tampak dan menampakkan diri pada mata. 

Analoginya kira-kira seperti ini: saat berkendara, di malam hari, saat ada sinar lampu kendaraan dari arah depan, biasanya mata akan menangkap cahaya putih. Dan itu menyilaukan. Karena silau, justeru kemampuan melihat kita semakin berkurang. 

Ah, saya jadi ingat juga tentang nasihat; ketika ingin melihat sesuatu secara jernih, maka pejamkan mata. Meski secaravlahir semua akan tampak gelap dan Hitam, hakekatnya justeru banyak cahaya dan gambar yang tampak serta menampakkan diri pada kita saat terpejam. 

Ya, kita tidak bisa melihat apapun jika yang tampak dan menampakkan tersebut silau. Apapun yang menyilaukan, sepertinya memang akan melemahkan penglihatan (pemahaman) kita, bukan?

Nah, Ar-ruh al-bashori,  mata batin, jiwa yang bisa melihat (memahami) hal-hal yang tampak dan menampakkan (cahaya) ini adalah pandangan dari mereka, yang disebut Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar dengan Al-khowash.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan tertentu. Bisa ilmuan, saintis, ustadz, atau siapapun yang bukan awam. Ya, menurut pandangan orang-orang Al-khowash, melihat adalah memahami. 

Allahu a'lam bisshowab.

Sawangan Baru, 22012022

Kamis, 20 Januari 2022

Cahaya Menurut Pandangan Awam (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar, menyatakan bahwa cahaya menurut pandangan orang awam Seringkali dikaitkan dengan penampakan atau ketertampakan. 

Segala sesuatu yang tampak (bagi manusia) sangat erat dengan indera penglihatan, yaitu mata. Nah, segala penampakan, apapun itu, yang terkait mata manusia, al-Ghazali membaginya kepada tiga bentuk. 

Pertama, benda-benda yang tidak punya cahaya (al-ajsam al-muzhlimah). Apapun yang masuk kategori ini, al-Ghazali menyebutnya dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat (oleh mata). 

Jika digambarkan dalam bentu Piramida, maka benda-benda tak bercahaya ini ada di tingkat terbawah. Ini berarti benda-benda tersebut bisa dibilang paling banyak. 

Malah, bisa jadi hakekat makhluk (semua ciptaan) yang ada di bumi ini masuk kategori ini. Karena pada dasarnya, benda-benda tersebut tidak bisa dilihat jika tidak ada cahaya yang membuatnya bisa terlihat. 

Termasuk, diri kita. Bentuk lahiriah badan kita. Jika tidak ada cahaya,  maka badan dan fisik kita ini tidak bisa terlihat, bukan? Karenanya, sepertinya perlu ada upaya untuk membuat diri memiliki cahaya dan bisa terlihat. 

Seperti bentuk kedua dari pengertian cahaya menurut awam dalam pandangan al-Ghazali. Yaitu segala sesuatu yang memiliki cahaya hingga bisa terlihat dan dilihat. hanya saja, cahaya pada sesuatu tersebut tidak bisa membuat sesuatu yang lain bisa terlihat. 

Al-Ghazali menyebutnya dengan al-ajsam al-mudhiah. Contohnya adalah bara api. Arang yang panjang memanggang. Dan bintang gemintang di langit. 

Jika dianalogikan benda atau sesuatu itu adalah manusia, maka bisa dibilang mereka ini yang memiliki cahaya. Bisa berupa ilmu, keterampilan, kelebihan, dan lain sebagainya, tapi semua itu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak bisa memberikan cahaya atau manfaat untuk orang lain. 

Karenanya, Al-Ghazali menjelaskan lebih lanjut tentang cahaya dalam pandangan awam, yaitu sesuatu yang memiliki cahaya hingga bisa dilihat dan terlihat. Tapi, bisa menerangi yang lain hingga bisa dilihat dan terlihat juga. Contohnya adalah matahari dan lampu. 

Analoginya seperti asas kebermanfaatan. Ya, cahaya (kelebihan, keterampilan, ilmu, dsb) yang ada pada sesuatu atau manusia, selain bermanfaat untuk dirinya, semua hal tersebut pun bisa bermanfaat untuk semua hal di sekitarnya. 

Ketiga bentuk tersebut adalah pandangan kebanyakan orang (awam) tentang pengertian cahaya yang dikemukakan Imam Al-Ghazali dalam Misykatul Anwar. 

Semua pandangan (awam) tersebut masih sangat berkaitan dengan benda-benda yang kasar atau kasat(al-ajsam al-katsifah), dan erat banget dengan aktifitas indera penglihatan, yaitu mata. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, Januari 2022


Rabu, 19 Januari 2022

Cerita Unik tentang Nabi Idris, Malaikat Pencabut Nyawa, Penjaga Neraka, dan Penjaga Surga

Ada cerita yang beredar tentang nabi Idris 'alaihissalam yang konon tinggal di surga setelah sandalnya ketinggalan di sana. Ceritanya bermula saat Nabi Idris memohon kepada Allah agar meringankan tugas malaikat yang "ngurusin" matahari. 

Allah mengabulkan. Hingga malaikat tersebut merasa lebih entang tugasnya. Malaikat pun bertanya kepada Allah perihal nikmat tersebut. Allah pun mengatakan bahwa ada kekasihnya (nabi Allah) yang berdoa agar meringankan tugas malaikat tersebut.

Malaikat itu menangis, lalu meminta kepada Allah agar mengangkat derajat kekasih Allah tersebut (nabi Idris) ke tingkat tinggi, hingga bisa masuk ke alam malakut. 

Singkat cerita, ketika nabi Idris tiba di surga dan hendak kembali ke dunia, nabi Idris bilang bahwa sandalnya tertinggal dan terus mencari sandalnya. Alasan tersebut membuat nabi Idris hingga saat ini tinggal di surga. 

Cerita ini, kemudian diperbaiki dan dikoreksi oleh Gus Baha alias Kiayi Bahauddin Nursalim yang merunutkan cerita ini.

Gus Baha, cerita bahwa Nabi Idris memang berdoa dan meminta kepada Allah agar meringankan tugas dan kerja malaikat yang "ngurusi" matahari. Permintaan tersebut, Allah kabulkan. 

Malaikat yang didoakan, mendoakan balik agar nabi Idris mendapat kedudukan paling tinggi. Allah kabulkan. Nabi Idris pun bisa naik ke alam malakut. 

Nabi Idris menemui malaikat Izroil, dan bilang ingin merasakan bagaimana rasanya mati. Malaikat Izroil pun menyetujui permintaan nabi Idris. Setelah itu, nabi Idris minta diantar dan dipertemukan dengan malaikat Malik, sang penjaga pintu neraka. 

Kepada malaikat Malik, Nabi Idris meminta ingin melihat-lihat neraka. Malaikat Malik pun menemani nabi Idris hingga melewati neraka. Tentu saja sambil melihat-lihat bagaimana neraka. Sampailah mereka ke pintu surga. Bertemulah Nabi Idris dengan malaikat Ridwan. 

Kepada malaikat Ridwan, nabi Idris meminta melihat bagaimana surga. Malaikat Ridwan pun akhirnya mempersilakan nabi Idris masuk ke surga dan melihat bagaimana di dalamnya. 

Malaikat Izroil, Malik, dan Ridwan menunggu lama, tapi nabi Idris tidak keluar-keluar dari surga. Hingga mereka memanggil nabi Idris, hendak mengajak kembali ke dunia. Nabi Idris menolak dan ingin menetap di surga. Mereka pun berdebat. 

Pada akhirnya, Allah memutuskan Nabi Idris untuk tetap tinggal di surga. Apa penyebabnya?

Nabi Idris bilang kepada ketiga malaikat ini bahwa semua syarat agar bisa tinggal di surga sudah dipenuhi. 

Pertama, nabi Idris adalah kekasih Allah. Nabi Allah. Kedua, ia telah mengalami kematian karena telah merasakan bagaimana nyawanya dicabut oleh malaikat Izrail. Ketiga, nabi Idris pun telah melewati neraka. Sebab, siapapun yang masuk surga mesti melewati neraka. Ada yang cepat ada yang lama untuk melewatinya. 

Kisah ini memang tidak masyhur. Terlebih di kalangan para pendakwah. Sebab, bisa dibilang, ini kisah yang berlaku dan bisa dilakukan pada kalangan tertentu saja, yaitu di kalangan mereka yang masuk dalam kategori kekasih Allah (kholilulloh). 

Tapi, ada hal yang menarik dari kisah ini. Pertama, meski tidak bisa menjadi nabi dan memang tidak akan pernah bisa jadi nabi sebab nabi terakhir adalah Nabi Muhammad, tapi setiap orang bisa berupaya menjadi kekasih Allah.
 
Setidaknya, disenangi dan disukai Allah. Lebih-lebih bisa dicintai oleh Allah. Soal, caranya, kembali kepada masing-masing orang. Banyak cara yang disediakan dan diajarkan dalam Islam, bukan? Terlebih, tugas kita, tidak sekadar menjadi hamba Tapi berupaya menjadi hamba yang dekat, disukai, dan dicintai Allah, roodhiyatan mardhiyyatan, bukan? 

Soal Allah berkehendak dan mau dekat, suka, senang, sayang, dan cinta kepada kita, itu urusan Allah. Hak Allah sepenuhnya. Ya tugas kita hanya terus "pedekate". Dan sepertinya Allah tidak akan nolak kalau didekati. Bahkan, Allah akan mengampuni semua dosa, khilaf, dan salah kita, selain musyrik, bukan?

Ah, saya jadi ingat perdebatan dan diskusi soal penendangan sesajen beberapa waktu yang lalu. Ada yang bilang itu perbuatan musyrik, ada yang bilang itu bentuk tradisi penghormatan kepada alam, dan lain sebagainya. 

Saya hanya ingin bahas sedikit saja. Dalam Mu'jam kalimat Al-Quran al-Karim, Muhammad Zaki Muhammad Khadr menyebutkan kata syirik dan derivasinya berjumlah 168 kata dengan 63 kata yang berbeda. 

Menariknya, tidak semua kata tersebut berkaitan dengan syirik kepada Allah. Ini menurut Al-Raghib al-Asfahânî dalam kitab Mufradat Alfadz al-Qurʽan, yang bilang hanya 11 ayat yang berkaitan dengan syirik kepada Allah. 

Al-Asfahani kemudian membaginya menjadi dua bagian:  Pertama, ayat-ayat yang menjelaskan syirik besar (al-syirk al-adhim), seperti pada surat Al-Nisa ayat 48 dan 116, Al-Maidah ayat 72, Al-Mumtahanah ayat 12, dan Al-Anʽam ayat 148. 

Kedua, ayat-ayat yang menjelaskan syirik kecil. Ini bisa ditemui pada surat Al-A’raf ayat 190, Yusuf ayat 106, Al-Kahfi ayat 110, Al-Taubah ayat 5 dan 30, dan Al-Ḥaj ayat 17. 

Dari 11 ayat tentang syirik menurut Al-Asfahani tersebut menunjukkan bahwa syirik dalam Al-Qur’an selalu berkaitan dengan empat hal.  

Pertama, kafir. Yakni tidak menyembah Allah. Tidak beragama Islam, melainkan beragama Yahudi, Nasrani dan agama-agama lain di luar Islam. Ini bisa dilihay pada surat Al-Hajj ayat 17, al-Taubah ayat 5, al-Anʽam ayat 48, dan al-Maidah ayat 172. 

Perlu diingat, kategori pertama ini tidak bisa serta merta diperangi, kecuali kafir yang memerangi muslim terlebih dahulu.  

Kedua, menyekutukan Allah. Atau menyembah, meminta dan menghamba kepada hal lain selain Allah. Ini bisa dilihat pada surat Al-Nisa ayat 48 dan 116, dan Al-Mumtahanah ayat 12.  

Ketiga, riya dalam beribadah. Yakni beribadah tidak semata-mata diniatkan karena Allah. melainkan karena orang lain. Syirik ini disebut oleh Rasul sebagai syirik kecil, yakni syirik yang bisa terjadi ke semua muslim. Ini bisa dilihat di surat Al-Kahfi ayat 110. 

Keempat, terlena dengan nikmat yang diberikan oleh Allah dan lupa bersyukur. Saya jadi ingat cerita tentang kisah Nabi Adam dan Hawa yang memiliki putra namun lupa bersyukur, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat 190. Selain itu, lupa kepada Allah saat bahagia, dan baru ingat kepada Allah saat sengsara, sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf ayat 106.

Nah, soal sesajen, kalau itu bentuk penghormatan kepada alam, bukan bentuk permintaan dan permohonan, sepertinya bukan kategori musyrik. Apalagi, kalau sesajen itu tidak dianggap sebagai bentuk ibadah. Justeru yang perlu dikhawatirkan adalah segala perbuatan kita yang rentan dengan syirik kecil. 

Lebih jauh, Imam Al-Ghazali menyebut mereka yang suka nuduh dan bilang orang lain musyrik adalah mereka yang ikut campur urusan Allah. Sebab soal keyakinan terlebih keimanan seseorang hanya Allah yang Maha Tahu. 

Bagaimana kita bisa tahu apa yang ada di hati seseorang. Terlebih kita hanya melihat tindakan dan laku lahiriah seseorang yang menyimpan banyak kemungkinan.

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menerangkan salah satu hal yang jangan sampai dilakukan oleh lisan adalah melaknati atau mendoakan (orang dan makhluk lain) agar dijauhkan hal-hal baik. Apakah laknat itu ditunjukkan pada manusia, hewan, atau bahkan makanan, pun makhluk-makhluk Allah yang lain. Semua selain Allah, adalah makhluk, bukan?

Bahkan, dalam Syarah Bidayatul Hidayah, Imam Nawawi menerangkan larangan melaknati manusia memasukkan juga selain orang muslim seperti orang Yahudi. Bukankah tidak menutup kemungkinan siapapun, di kemudian hari bisa masuk Islam dan meninggal dalam keadaan diridhai Allah?

Selain itu, dalam Maroqiyul Ubudiyah, Imam Nawawi juga memperingatkan untuk tidak melaknati seseorang atas dasar sekedar tuduhan yang diungkapkan oleh keterangan catatan sejarah. 

Ini seperti kabar yang menyatakan bahwa yang membunuh atau memberi perintah membunuh cucu nabi; Sayyid Husain adalah Yazid bin Mu’awiyah. Padahal kabar tersebut masih simpang siur. Maka jangan sampai meyakini bahwa itu merupakan fakta, terlebih sampai membuat kita melaknati Yazid bin Mu’awiyah. Ini berbeda dengan kasus pembunuhan Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib oleh Ibn Muljam yang sudah fakta.

Ya, dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menulis:

وَلَا تَقْطَعْ بِشَهَادَتِكَ عَلٰى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِشِرْكٍ أَوْ كُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ؛ فَإِنَّ الْمُطَلِّعَ عَلٰى السَّرَائِرِ هُوَ اللهُ تَعَالٰى، فَلَا تَدْخُلْ بَيْنَ الْعِبَادِ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالٰى

Jangan engkau memantapkan kesaksianmu pada salah seorang ahli kiblat, tentang kemusyrikan, kafir atau munafik. Yang mampu melihat apa yang ada dalam hati adalah Allah ta’ala. Maka jangan ikut campur urusan antara para hamba dan Allah ta’ala.

Lalu dalam kitab Al-Kifayah Syarah Bidayatul Hidayah Imam Al-Fakihi berkomentar, tidak hanya menuduh orang lain musyrik, kafir atau munafik secara meyakinkan yang diharamkan, tapi juga menuduh berdasar sangkaan semata. Hal ini berdasar hadis larangan menuduh orang lain kafir.

Imam Al-Ghazali seakan mengingatkan manusia agar tahu diri dengan batas-batas pengetahuannya. Bahwa perilaku lahiriyah yang menyiratkan kemusyrikan, kekufuran atau kemunafikan tidak bisa lantas serta merta bisa menjadi pijakan bahwa si pelaku memang benar musyrik, kufur atau munafik. Bisa saja prilaku tersebut tidak disertai keyakinan musyrik, kufur atau munafik.

Sebab, sekali lagi, keyakinan adalah hal yang ada dalam batin manusia. Tidak ada yang lebih mengetahui persoalan batin manusia kecuali Allah. Maka persoalan keyakinan adalah persoalan pribadi antara seorang hamba dengan Allah yang maha mengetahui apa yang dalam hati manusia. Menebak-nebak atau mengklaim tahu akan keyakinan seseorang sama saja mencampuri urusan Allah dengan hamba-Nya.

Kembali ke kisah nabi Idris. Pelajaran selanjutnya adalah ketika kita mendoakan (orang atau makhluk) yang lain hakekatnya kembali kepada diri kita sendiri. Malah, yang kembali ke kita, seringkali lebih berkali-kali lipat dari apa yang kita doakan untuk orang lain. 

Termasuk dengan kata-kata kita kepada yang lain. Kata-kata yang kita ucapkan tentang orang lain, itu akan kembali ke diri kita. Pun dengan prasangka kita kepada Allah. Ya, sepertinya apapun yang keluar dari diri kita, terutama kata-kata, pikiran, prasangka, dan lain-lain, hakekatnya akan kembali pada diri kita sendiri. 

Pun dengan pemberian dan penghormatan dalam bentuk sesajen tadi. Jika itu sebagai bentuk terimakasih dan cara kita mendoakan alam dan makhluk-makhluk selain manusia, sepertinya itu pun bisa kembali untuk diri kita sendiri. 

Kemudia hal ketiga yang saya dapat dari cerita Nabi Idris adalah tentang kecerdasan dan pengetahuan manusia. Nabi Idris sangat tahu apa saja yang bisa membuat seseorang masuk ke surga. Di antaranya bahwa untuk masuk ke surga, setiap orang pasti dan mesti melewati neraka. Karena tahu, maka Nabi Idris menemui malaikat Malik terlebih dahulu.  Padahal bisa saja nabi Idris langsung menemui malaikat Ridwan 

Nah, pengetahuan ini lagi-lagi terkait dengan hal wajib yang dilakukan setiap orang, yaitu belajar. Bagaimana bisa tahu akan suatu hal kalau tidak belajar dan mempelajarinya, bukan?

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, Januari 2022

strategi menulis Ala Imam Al-Ghazali

Sangat pantas jika Imam Al-Ghazali dijuluki Hujjatu Al-Islam alias ulama yang menjadi landasan dan alasan dalam ilmu-ilmu agama Islam. Karya beliau begitu banyak, teramat banyak. Bukan sekadar karya biasa, tapi sangat berisi. Setiap kalimat dalam karya-karya beliau mengandung landasan-landasan yang logis, runut dan sistematis. 

Saat menjelaskan sesuatu, beliau tidak hanya menerangkan dengan makna lahiriahnya (tafsir) saja, tetapi menerangkan makna batiniahnya (ta'wil) pula. Hal jelimet dan mbulet menjadi mudah dicerna oleh siapapun. Ini bisa dilihat dari semua karya-karya beliau.

Kemudahan para pembaca dalam mencerna kitab-kitab karya beliau, di antaranya karena teknik dan cara menulis beliau yang runut dan sistematis. 

Biasanya, beliau akan memulai dengan pembukaan. Pembukaannya pun tidak asal. Kata-kata yang digunakan adalah hal yang mengantarkan pembaca pada hal yang akan dibahas. Misalnya dalam kitab Misykatul Anwar. 

Pada pembukaannya, Ulama kelahiran Thus, khurosan ini menulis: 

الحمد لله فائض الانوار و فاتح الأبصار و كاشف الاسرار و رافع الأستار

Kata yang beliau gunakan tak lepas dari Al-Anwar (cahaya), al-abshor (penglihatan), al-asror (rahasia), dan al-astar. Semua kata tersebut sangat terkait dengan apa yang akan dibahas dalam kitab Misykatul Anwar ini.

Dalam kalimat pembuka tersebut, Imam Al-Ghazali menggunakan kaidah baro'atu al-istihlal dalam ilmu Balaghoh. Yakni, permulaan atau pembukaan yang mengantarkan pembaca ke pembahasan utama. Dan ini bagian dari muhaasanatu al-lafzhiyyah. 

Setelah pembukaan, Imam Al-Ghazali akan memulai pembahasannya dengan pandangan-pandangan umum yang berlaku di masyarakat. Misalnya tentang "cahaya" dalam pandangan orang-orang awam. Imam Al-Ghazali menulis: 

"أما الوضع الاول عند العامى: فانور يشير إلى الظهور و الظهور أمر اضافى, إذ يظهر الشيء لا محالة لإنسان، و يبطن عن غيره، فيكون ظاهرا بالإضافة، وباطنا بالإضافة، وإضافة ظهوره إلى الإدراكات لا محالة و اقوى الإدراكات واجلاها عند العوام: الحواس، منها "حاسة البصر

Kalau diartikan, kira-kira begini: "pandangan pertama menurut awam adalah bahwa cahaya dikaitkan dengan segala sesuatu yang tampak (ketertampakan). Ketertampakan ini (menurut Imam Al-Ghazali) adalah urusan dan hal yang relatif (Amrun idhofiyyun). Jika tampak segala segala sesuatu maka itu hanya untuk manusia. Tidak untuk yang lain.  Karenanya sesuatu yang tampak itu bergantung kepada hal lain. Kebergantungan tersebut yaitu terkait dengan kemampuan mengetahui. Dan kemampuan mengetahui (cahaya) ini bagi kebanyakan orang (awam) adalah panca indera. Yaitu: indera penglihatan."

Di sini, Imam Al-Ghazali memberi landasan serta alasan bagi mereka yang berpendapat bahwa cahaya terkait dengan segala sesuatu yang tampak adalah hal relatif. 

Relatif, berasal dari bahasa Inggris; relate. Artinya terkait, terhubung. Sesuatu yang tidak bisa berdiri sendiri alias perlu terhubung dengan hal lain, disebut relatif. Misalnya cahaya menurut pendapat awam tadi. Kalau cahaya diartikan dengan sesuatu yang tampak, maka yang tampak itu perlu hal lain (orang) untuk melihatnya. Kalau tidak ada hal lain (manusia) yang melihatnya maka cahaya itu bisa dibilang tidak ada. 

Nah, cahaya yang diartikan sebagai sesuatu yang tampak (ketertampakan) itu tentu saja terkait dengan kemampuan mengetahui dalam diri manusia. Dan kemampuan tersebut tentu terkait dengan indera, terutama indera penglihatan.

Tidak berhenti di argumen "sesuatu yang relatif" dan indera penglihatan, Imam Al-Ghazali pun menambah argumen lainnya. Yaitu, membagi hal-hal relatif yang terkait dengan indera penglihatan manusia kepada tiga bagian: pertama, segala sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan sendirinya. Contohnya benda-benda yang gelap, yang tidak punya cahaya. Kedua, segala sesuatu yang yang bisa dilihat (bercahaya) dengan sendirinya, akan tetapi cahaya dalam dirinya tidak bisa membuat hal lain terlihat. Contohnya bintang gemintang, bara api, dan lainnya. Ketiga, sesuatu yang bisa dilihat (ada cahaya) dengan sendirinya dan bisa membuat hal lain pun bisa dilihat. Contohnya, matahari, lampu, dan lain sebagainya. 

Pembagian Imam Al-Ghazali ini menarik jika ditarik analogi kepada tipe manusia. Pertama, mereka yang gelap dan tidak bisa membuat dirinya terlihat. Kedua, manusia yang bercahaya, tapi cahayanya lemah, hingga tidak bisa menerangi yang lain. Ketiga, manusia yang bercahaya dan bisa menerangi orang lain. 

Setelah hal relatif, indera penglihatan, dan membagi karakteristik suatu hal dengan indera penglihatan, al-Ghazali, menyetujui bahwa cahaya itu mestinya seperti kelompok ketiga yang disebut. Tapi, ternyata itu pun tidak cukup. Sebab, hal tersebut tidak menyentuh kepada hakikat arti dan makna cahaya.

Sebab, menurut Imam Al-Ghazali, cahaya yang terkait dengan ketertampakan (penampakan) itu akan condong dan terkait pula dengan sesuatu (benda-benda) yang kasat mata (al-ajsam al-katsifah). Al-Ghazali memberi contoh bumi; menjadi tampak (bercahaya, terlihat dan Tampa) karena ada sinar matahari. Pun dengan tembok, pakaian, lantai di rumah yang tampak karena ada cahaya lampu yang menyinari. 

Dari semua argumen tersebutlah, kemudian Al-Ghazali menyimpulkan bahwa yang demikian itulah pandangan awam tentang cahaya, yaitu: diibaratkan dengan sesuatu yang dirinya bisa dilihat (memiliki cahaya) dan bisa menerangi yang lain (membuat yang lain bisa dilihat), seperti matahari. 

Begitulah strategi menulis Imam Al-Ghazali; membuka sesuatu dengan indah yang bisa menghantarkan pembaca pada hal yang akan dibahas. Kemudian membeberkan pandangan-pandangan umum yang ada. Pandangan-pandangan tersebut didetailkan dengan contoh. Ditambah dengan argumen yang konkrit. Lalu ditutup dengan kesimpulan. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, Januari 2022





Minggu, 16 Januari 2022

Penyakit Mulut ke-17 menurut Imam Al-Ghazali

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menceritakan tentang Ibnu Mas'ud yang mengatakan agar siapapun menjauhi imma'ah. Yakni orang-orang yang berwajah ganda. Alias, seseorang yang menemui dua orang (yang tengah berkonflik) dengan dua wajah kemunafikan. Ya, imma'ah bagian dari kemunafikan. 

Al-Ghozali cerita tentang nabi Muhammad yang cerita tentang rahasia besar terkait siapa saja yang munafik di kala itu. Dan hal itu hanya nabi ceritakan kepada sahabat bernama Hudzaifah ibn Yaman. Dikarenakan banyak di antara mereka yang punya penyakit mulut yang ke-17, yang Imam Al-Ghazali menyebut dengan dzu lisaanain.  Orang yang punya dua lidah. 

Al-Ghazali menyebut mereka yang punya dzu lisanain ini lebih parah dari namimah (adu domba). Karena, mereka yang punya dua mulut ini ibarat mereka yang bermain di air keruh. Misalnya, ada dua orang yang bertikai atau berkonflik. Nah, orang dengan dua lidah ini masuk ke keduanya, lalu memperkeruh konflik.