Rabu, 19 Januari 2022

Cerita Unik tentang Nabi Idris, Malaikat Pencabut Nyawa, Penjaga Neraka, dan Penjaga Surga

Ada cerita yang beredar tentang nabi Idris 'alaihissalam yang konon tinggal di surga setelah sandalnya ketinggalan di sana. Ceritanya bermula saat Nabi Idris memohon kepada Allah agar meringankan tugas malaikat yang "ngurusin" matahari. 

Allah mengabulkan. Hingga malaikat tersebut merasa lebih entang tugasnya. Malaikat pun bertanya kepada Allah perihal nikmat tersebut. Allah pun mengatakan bahwa ada kekasihnya (nabi Allah) yang berdoa agar meringankan tugas malaikat tersebut.

Malaikat itu menangis, lalu meminta kepada Allah agar mengangkat derajat kekasih Allah tersebut (nabi Idris) ke tingkat tinggi, hingga bisa masuk ke alam malakut. 

Singkat cerita, ketika nabi Idris tiba di surga dan hendak kembali ke dunia, nabi Idris bilang bahwa sandalnya tertinggal dan terus mencari sandalnya. Alasan tersebut membuat nabi Idris hingga saat ini tinggal di surga. 

Cerita ini, kemudian diperbaiki dan dikoreksi oleh Gus Baha alias Kiayi Bahauddin Nursalim yang merunutkan cerita ini.

Gus Baha, cerita bahwa Nabi Idris memang berdoa dan meminta kepada Allah agar meringankan tugas dan kerja malaikat yang "ngurusi" matahari. Permintaan tersebut, Allah kabulkan. 

Malaikat yang didoakan, mendoakan balik agar nabi Idris mendapat kedudukan paling tinggi. Allah kabulkan. Nabi Idris pun bisa naik ke alam malakut. 

Nabi Idris menemui malaikat Izroil, dan bilang ingin merasakan bagaimana rasanya mati. Malaikat Izroil pun menyetujui permintaan nabi Idris. Setelah itu, nabi Idris minta diantar dan dipertemukan dengan malaikat Malik, sang penjaga pintu neraka. 

Kepada malaikat Malik, Nabi Idris meminta ingin melihat-lihat neraka. Malaikat Malik pun menemani nabi Idris hingga melewati neraka. Tentu saja sambil melihat-lihat bagaimana neraka. Sampailah mereka ke pintu surga. Bertemulah Nabi Idris dengan malaikat Ridwan. 

Kepada malaikat Ridwan, nabi Idris meminta melihat bagaimana surga. Malaikat Ridwan pun akhirnya mempersilakan nabi Idris masuk ke surga dan melihat bagaimana di dalamnya. 

Malaikat Izroil, Malik, dan Ridwan menunggu lama, tapi nabi Idris tidak keluar-keluar dari surga. Hingga mereka memanggil nabi Idris, hendak mengajak kembali ke dunia. Nabi Idris menolak dan ingin menetap di surga. Mereka pun berdebat. 

Pada akhirnya, Allah memutuskan Nabi Idris untuk tetap tinggal di surga. Apa penyebabnya?

Nabi Idris bilang kepada ketiga malaikat ini bahwa semua syarat agar bisa tinggal di surga sudah dipenuhi. 

Pertama, nabi Idris adalah kekasih Allah. Nabi Allah. Kedua, ia telah mengalami kematian karena telah merasakan bagaimana nyawanya dicabut oleh malaikat Izrail. Ketiga, nabi Idris pun telah melewati neraka. Sebab, siapapun yang masuk surga mesti melewati neraka. Ada yang cepat ada yang lama untuk melewatinya. 

Kisah ini memang tidak masyhur. Terlebih di kalangan para pendakwah. Sebab, bisa dibilang, ini kisah yang berlaku dan bisa dilakukan pada kalangan tertentu saja, yaitu di kalangan mereka yang masuk dalam kategori kekasih Allah (kholilulloh). 

Tapi, ada hal yang menarik dari kisah ini. Pertama, meski tidak bisa menjadi nabi dan memang tidak akan pernah bisa jadi nabi sebab nabi terakhir adalah Nabi Muhammad, tapi setiap orang bisa berupaya menjadi kekasih Allah.
 
Setidaknya, disenangi dan disukai Allah. Lebih-lebih bisa dicintai oleh Allah. Soal, caranya, kembali kepada masing-masing orang. Banyak cara yang disediakan dan diajarkan dalam Islam, bukan? Terlebih, tugas kita, tidak sekadar menjadi hamba Tapi berupaya menjadi hamba yang dekat, disukai, dan dicintai Allah, roodhiyatan mardhiyyatan, bukan? 

Soal Allah berkehendak dan mau dekat, suka, senang, sayang, dan cinta kepada kita, itu urusan Allah. Hak Allah sepenuhnya. Ya tugas kita hanya terus "pedekate". Dan sepertinya Allah tidak akan nolak kalau didekati. Bahkan, Allah akan mengampuni semua dosa, khilaf, dan salah kita, selain musyrik, bukan?

Ah, saya jadi ingat perdebatan dan diskusi soal penendangan sesajen beberapa waktu yang lalu. Ada yang bilang itu perbuatan musyrik, ada yang bilang itu bentuk tradisi penghormatan kepada alam, dan lain sebagainya. 

Saya hanya ingin bahas sedikit saja. Dalam Mu'jam kalimat Al-Quran al-Karim, Muhammad Zaki Muhammad Khadr menyebutkan kata syirik dan derivasinya berjumlah 168 kata dengan 63 kata yang berbeda. 

Menariknya, tidak semua kata tersebut berkaitan dengan syirik kepada Allah. Ini menurut Al-Raghib al-Asfahânî dalam kitab Mufradat Alfadz al-Qurʽan, yang bilang hanya 11 ayat yang berkaitan dengan syirik kepada Allah. 

Al-Asfahani kemudian membaginya menjadi dua bagian:  Pertama, ayat-ayat yang menjelaskan syirik besar (al-syirk al-adhim), seperti pada surat Al-Nisa ayat 48 dan 116, Al-Maidah ayat 72, Al-Mumtahanah ayat 12, dan Al-Anʽam ayat 148. 

Kedua, ayat-ayat yang menjelaskan syirik kecil. Ini bisa ditemui pada surat Al-A’raf ayat 190, Yusuf ayat 106, Al-Kahfi ayat 110, Al-Taubah ayat 5 dan 30, dan Al-Ḥaj ayat 17. 

Dari 11 ayat tentang syirik menurut Al-Asfahani tersebut menunjukkan bahwa syirik dalam Al-Qur’an selalu berkaitan dengan empat hal.  

Pertama, kafir. Yakni tidak menyembah Allah. Tidak beragama Islam, melainkan beragama Yahudi, Nasrani dan agama-agama lain di luar Islam. Ini bisa dilihay pada surat Al-Hajj ayat 17, al-Taubah ayat 5, al-Anʽam ayat 48, dan al-Maidah ayat 172. 

Perlu diingat, kategori pertama ini tidak bisa serta merta diperangi, kecuali kafir yang memerangi muslim terlebih dahulu.  

Kedua, menyekutukan Allah. Atau menyembah, meminta dan menghamba kepada hal lain selain Allah. Ini bisa dilihat pada surat Al-Nisa ayat 48 dan 116, dan Al-Mumtahanah ayat 12.  

Ketiga, riya dalam beribadah. Yakni beribadah tidak semata-mata diniatkan karena Allah. melainkan karena orang lain. Syirik ini disebut oleh Rasul sebagai syirik kecil, yakni syirik yang bisa terjadi ke semua muslim. Ini bisa dilihat di surat Al-Kahfi ayat 110. 

Keempat, terlena dengan nikmat yang diberikan oleh Allah dan lupa bersyukur. Saya jadi ingat cerita tentang kisah Nabi Adam dan Hawa yang memiliki putra namun lupa bersyukur, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat 190. Selain itu, lupa kepada Allah saat bahagia, dan baru ingat kepada Allah saat sengsara, sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf ayat 106.

Nah, soal sesajen, kalau itu bentuk penghormatan kepada alam, bukan bentuk permintaan dan permohonan, sepertinya bukan kategori musyrik. Apalagi, kalau sesajen itu tidak dianggap sebagai bentuk ibadah. Justeru yang perlu dikhawatirkan adalah segala perbuatan kita yang rentan dengan syirik kecil. 

Lebih jauh, Imam Al-Ghazali menyebut mereka yang suka nuduh dan bilang orang lain musyrik adalah mereka yang ikut campur urusan Allah. Sebab soal keyakinan terlebih keimanan seseorang hanya Allah yang Maha Tahu. 

Bagaimana kita bisa tahu apa yang ada di hati seseorang. Terlebih kita hanya melihat tindakan dan laku lahiriah seseorang yang menyimpan banyak kemungkinan.

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menerangkan salah satu hal yang jangan sampai dilakukan oleh lisan adalah melaknati atau mendoakan (orang dan makhluk lain) agar dijauhkan hal-hal baik. Apakah laknat itu ditunjukkan pada manusia, hewan, atau bahkan makanan, pun makhluk-makhluk Allah yang lain. Semua selain Allah, adalah makhluk, bukan?

Bahkan, dalam Syarah Bidayatul Hidayah, Imam Nawawi menerangkan larangan melaknati manusia memasukkan juga selain orang muslim seperti orang Yahudi. Bukankah tidak menutup kemungkinan siapapun, di kemudian hari bisa masuk Islam dan meninggal dalam keadaan diridhai Allah?

Selain itu, dalam Maroqiyul Ubudiyah, Imam Nawawi juga memperingatkan untuk tidak melaknati seseorang atas dasar sekedar tuduhan yang diungkapkan oleh keterangan catatan sejarah. 

Ini seperti kabar yang menyatakan bahwa yang membunuh atau memberi perintah membunuh cucu nabi; Sayyid Husain adalah Yazid bin Mu’awiyah. Padahal kabar tersebut masih simpang siur. Maka jangan sampai meyakini bahwa itu merupakan fakta, terlebih sampai membuat kita melaknati Yazid bin Mu’awiyah. Ini berbeda dengan kasus pembunuhan Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib oleh Ibn Muljam yang sudah fakta.

Ya, dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menulis:

وَلَا تَقْطَعْ بِشَهَادَتِكَ عَلٰى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِشِرْكٍ أَوْ كُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ؛ فَإِنَّ الْمُطَلِّعَ عَلٰى السَّرَائِرِ هُوَ اللهُ تَعَالٰى، فَلَا تَدْخُلْ بَيْنَ الْعِبَادِ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالٰى

Jangan engkau memantapkan kesaksianmu pada salah seorang ahli kiblat, tentang kemusyrikan, kafir atau munafik. Yang mampu melihat apa yang ada dalam hati adalah Allah ta’ala. Maka jangan ikut campur urusan antara para hamba dan Allah ta’ala.

Lalu dalam kitab Al-Kifayah Syarah Bidayatul Hidayah Imam Al-Fakihi berkomentar, tidak hanya menuduh orang lain musyrik, kafir atau munafik secara meyakinkan yang diharamkan, tapi juga menuduh berdasar sangkaan semata. Hal ini berdasar hadis larangan menuduh orang lain kafir.

Imam Al-Ghazali seakan mengingatkan manusia agar tahu diri dengan batas-batas pengetahuannya. Bahwa perilaku lahiriyah yang menyiratkan kemusyrikan, kekufuran atau kemunafikan tidak bisa lantas serta merta bisa menjadi pijakan bahwa si pelaku memang benar musyrik, kufur atau munafik. Bisa saja prilaku tersebut tidak disertai keyakinan musyrik, kufur atau munafik.

Sebab, sekali lagi, keyakinan adalah hal yang ada dalam batin manusia. Tidak ada yang lebih mengetahui persoalan batin manusia kecuali Allah. Maka persoalan keyakinan adalah persoalan pribadi antara seorang hamba dengan Allah yang maha mengetahui apa yang dalam hati manusia. Menebak-nebak atau mengklaim tahu akan keyakinan seseorang sama saja mencampuri urusan Allah dengan hamba-Nya.

Kembali ke kisah nabi Idris. Pelajaran selanjutnya adalah ketika kita mendoakan (orang atau makhluk) yang lain hakekatnya kembali kepada diri kita sendiri. Malah, yang kembali ke kita, seringkali lebih berkali-kali lipat dari apa yang kita doakan untuk orang lain. 

Termasuk dengan kata-kata kita kepada yang lain. Kata-kata yang kita ucapkan tentang orang lain, itu akan kembali ke diri kita. Pun dengan prasangka kita kepada Allah. Ya, sepertinya apapun yang keluar dari diri kita, terutama kata-kata, pikiran, prasangka, dan lain-lain, hakekatnya akan kembali pada diri kita sendiri. 

Pun dengan pemberian dan penghormatan dalam bentuk sesajen tadi. Jika itu sebagai bentuk terimakasih dan cara kita mendoakan alam dan makhluk-makhluk selain manusia, sepertinya itu pun bisa kembali untuk diri kita sendiri. 

Kemudia hal ketiga yang saya dapat dari cerita Nabi Idris adalah tentang kecerdasan dan pengetahuan manusia. Nabi Idris sangat tahu apa saja yang bisa membuat seseorang masuk ke surga. Di antaranya bahwa untuk masuk ke surga, setiap orang pasti dan mesti melewati neraka. Karena tahu, maka Nabi Idris menemui malaikat Malik terlebih dahulu.  Padahal bisa saja nabi Idris langsung menemui malaikat Ridwan 

Nah, pengetahuan ini lagi-lagi terkait dengan hal wajib yang dilakukan setiap orang, yaitu belajar. Bagaimana bisa tahu akan suatu hal kalau tidak belajar dan mempelajarinya, bukan?

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, Januari 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar