Minggu, 23 Januari 2022

Akal dan Cahaya Allah. (Misykatul Anwar)

Mata lahir punya kelemahan dan kekurangan. Al-Ghazali menyebut: pertama, mata lahiriah bisa melihat (sesuatu) yang lain tapi tidak bisa melihat dirinya sendiri. Kedua, tidak bisa melihat apapun yang (terlalu) jauh. Ketiga, pun tidak bisa melihat yang terlalu dekat. Keempat, tidak bisa melihat apapun dibalik hijab (apapun yang tertutup). Kelima, tidak bisa melihat yang batiniah, hanya bisa melihat segala sesuatu yang bersifat lahiriah saja. Keenam, hanya bisa melihat sebagian tidak secara keseluruhan. Dan terakhir, penglihatannya terbatas. 

Bahkan, seringkali mata (lahiriah) ini keliru dalam melihat sesuatu. Sesuatu yang besar terlihat kecil, yang jauh terlihat dekat, yang diam terlihat bergerak, yang bergerak terlihat diam. 

Dari semua kelemahan itu, apakah sesuatu yang berkaitan dengan indera pengelihatan (mata) secara fisik masih pantas, layak, dan relevan disebut cahaya yang benar-benar cahaya? Jika tidak, ini berarti ada mata yang lebih dari mata lahiriah. Apa itu?

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa di "dalam" diri manusia ada mata yang sifatnya sempurna. Kadang, mata ini dikenal dan disebut dengan akal, kadang ruh, kadang jiwa manusia (an-nafsu al-insaniy). Al-Ghazali sendiri menyebutnya dengan "akal" (al-'aqlu). Karena inilah yang membedakan antara seseorang (al-'aaqilu) dengan anak yang masih menyusui, dengan binatang, dan dengan orang gila. 

Akal adalah mata (cahaya) yang lebih utama karena tidak memiliki kekurangan dan kelemahan mata lahiriah yang tujuh. 

Pertama, mata lahir tidak bisa melihat dirinya sendiri, sementara akal bisa melihat yang lain pun bisa memahami dan mengetahui dirinya sendiri. 

Selain itu, akal pun bisa mengetahui sifat-sifatnya sendiri. Misalnya, ketika seseorang tahu bahwa ia berilmu dan mampu melakukan sesuatu, maka akal akan tahu dan bisa paham bahwa ia tahu, ia tahu. Dan seterusnya. 

Sederhananya, tingkat pertama: saya tahu. Tingkat kedua, saya tahu bahwa saya tahu. Tingkat ketiga, saya tahu bahwa saya tahu, saya tahu. Dan terus sampai tingkat yang tak terbatas. 

Saya contohkan dengan kemampuan seseorang dalam membuat kue. Di tingkat pertama, dia akan bilang: "saya tahu bahwa saya bisa bikin kue." Di tingkat kedua, dia akan bilang: "saya tahu bahwa saya tahu bahwa saya bisa bikin kue." Dan seterusny. 

Semua jenis pengetahuan dan pemahaman tersebut, tentu saja todak bisa dilakukan oleh perangkat tubuh (alatu al-ajsam). Bukan?

Ah, saya jadi ingat dalam filsafat ada sesuatu yang disebut dengan "self revlective", "self recognition", hingga "meta cognition". Semua itu sangat nempel dengan kesadaran. Siapapun yang menggunakan "akal" untuk melihat sesuatu bisa dibilang bahwa ia sadar, menyadari sesuatu. 

Setiap orang, memiliki potensi besar ini. Potensi kesadaran. Potensi melihat sesuatu dengan akalnya. Potensi memahami sesuatu dengan mata batinnya. Potensi mengetahui sesuatu dengan jiwanya. Tentu saja kemampuan seseorang akan berbeda-beda. Tapi, yang pasti setiap orang berpotensi untuk itu.

Kedua, mata lahir tidak bisa melihat sesuatu yang terlalu jauh dan yang terlalu dekat. Sementara akal bisa melakukannya. Bahkan, akal, kata imam Al-Ghazali bisa naik ke langit paling jauh dalam sekejap. Pun bisa turun ke bagian bumi paling dalam. 

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa akal adalah model, bentuk, prototipe, gambaran dari cahaya Allah ta'ala (anmuzaj min nurillah). Dan ini seperti hadits nabi Muhammad yang mengatakan bahwa manusia diciptakan atas gambaran Allah. 

إن الله خلق آدم على صورته

Jika akal adalah gambaran cahaya Allah, maka semua manusia yang berakal dan menggunakan akalnya, bisa dibilang representasi Allah. Karena tak sedikit ulama yang bilang: jangan pernah menyakiti, meremehkan, mencaci, dan hal buruk lain kepada manusia. Selama dia masih manusia dan berakal, selama itu pula ada cahaya Allah dalam dirinya. 

Karenanya, ketika menyakiti seseorang, sama saja menyakiti Allah. Ketika mencaci seseorang, sama saja mencaci Allah. Pun sebaliknya, ketika berbuat baik kepada manusia, sama halnya dengan berbuat baik kepada Allah. 

Ah, saya jadi ingat dengan maqoshidu al-syari'ah. Salah satu hal yang mesti dijaga dalam hidup dan kehidupan adalah hifzhu al-'aqlu. Menjaga akal. Karena akal ini bisa dibilang hal yang langsung terhubung ke Allah. Karena akal adalah pancaran dari cahaya Allah (Nurullah).

Allahu a'lam bisshowab.

Sawangan Baru, 23012022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar