Jumat, 28 Januari 2022

Langkah Pertama Untuk Naik ke Alam Malakut (Misykatul Anwar)

Hujjatu al-Islam, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada dua jenis mata, yaitu mata lahir dan mata batin. Mata lahir terkait dengan alam indera (penginderaan) dan segala yang tampak secara lahiriah. Sementara mata batin terkait dengan alam malaikat ('alamu al-malakut). 

Hal-hal batin ini, bisa dibilang menjadi ciri atau karakteristik orang-orang yang beriman. Sebab, salah satu dari rukun Islam adalah percaya pada hal gaib. Ini berarti orang-orang yang beriman mesti percaya dengan dua lapis alam: alam lahir dan alam batin. Termasuk dengan mata: ada mata lahir dan mata batin. 

Setiap mata, kata al-Ghazali, memiliki mataharinya masing-masing yang bisa menjadikan penglihatan menjadi sempurna atau lebih jelas. Mataharinya mata lahir adalah matahari yang tampak di sebelah timur saat terbit dan di sebelah barat kala terbenam. Sementara mataharinya mata batin adalah Al-Quran. Termasuk kitab-kitab yang Allah turunkan sebagai wahyu sebelum Al-Quran. 

Ketika tersibak dan terbuka (rahasia) mata batin ini, kata Imam Al-Ghazali, maka telah terbuka juga pintu pertama dari sekian pintu alam malakut. 

Lalu, Imam Al-Ghazali menegaskan, siapapun yang tidak menggunakan akalnya (mata batinnya) untuk berjalan menuju alam malakut bisa dibilang bukan manusia, tapi hewan. Kok bisa?

Al-Ghazali menulis dalam kitab Misykatul Anwar: 

وإن من لم يسافر إلى هذا العالم، وقعد به القصور في حضيض عالم الشهادة فهو بهيمة بعد

Ada  diksi بعد di akhir kalimat tersebut. Ini adalah diksi yang sering dipakai dalam tradisi filsafat Islam yang artinya untuk menekankan bahwa hal tersebut adalah benar-benar, jelas-jelas. 

Kata ini pun sering dipakai para Khotib, penceramah, atau siapapun yang berbicara di muka umum. Setelah salam, biasanya akan membuka dengan kalimat Alhamdulillah, lalu sholawat kepada nabi Muhammad dan kemudian ditutup dengan kata "amma ba'du" (أما بعد). 

Al-Ghozali pun memakai diksi ini untuk menegaskan bahwa siapapun yang tidak menggunakan akal (mata batinnya) untuk menuju (berjalan: سالك) kepada alam malaikat dan hanya diam saja di alam lahir ('alam al-hissi wa al-syahadah) adalah binatang. 

Sebab, binatang itu terjebak dan akan terus berada di alam lahir. Sementara manusia punya potensi (القوة) untuk naik ke alam malakut dengan bekal yang diberi oleh Allah, berupa akal, mata batin, atau jiwa. 

Dan di antara fitrah manusia adalah diberi keistimewaan (kekhususan) berupa akal, mata batin, atau jiwa ini, sementara binatang tidak. Nah, di sinilah menurut Imam Al-Ghazali apa yang dimaksud pada ayat: 

الئك كالأنعام بل هم أضل

Ya, manusia bisa tergelincir menjadi binatang ketika tidak menggunakan akal, mata batin atau jiwanya untuk menuju alam malakut. 

Sekali lagi, ciri manusia adalah memiliki akal, mata batin, atau jiwa (an-nafs). Dan ini berarti setiap orang punya potensi bisa melihat dan mengetahui alam malakut. Caranya, ya dengan menggunakan akal, mata batin, atau jiwa yang ada dalam diri setiap orang untuk naik atau menuju ke alam malakut. Ketika seseorang tidak mau melakukannya, sama saja ia mengingkari kemanusiaannya sendiri.

Perlu diketahui, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hubungan antara alam syahadah (alam lahir) dengan alam batin itu seperti kulit, dengan biji, isi,atau inti. Kulit itu alam lahir, dan isi adalah alam batin. 

Pun seperti bentuk badan manusia dengan ruh. Badan manusia itu alam lahir, ruh adalah alam batin. Begitu juga seperti kegelapan dengan cahaya. Kegelapan itu alam lahir, sementara cahaya adalah alam batin. 

Ah, saya jadi ingat dengan shohibu Al-hikam: Imam Ibnu 'Athoillah As-Sakandari yang bilang dalam kitabnya, Al-Hikam: 

الكون كله ظلمة. وانما اناره ظهور الحق فيه

"Segala sesuatu, apapun yang ada di dunia (alam lahir) ini, semuanya adalah kegelapan. Dan semua itu akan menjadi terang ketika tampak kebenaran (Al-Hikmah, cahaya hikmah) di dalamnya," kira-kira seperti itu artinya.

Ini seperti seseorang di malam hari masuk ke sebuah kamar yang gelap (alam lahir). Semuanya tak tampak, tak bisa dilihat sebab tidak ada cahaya. Bisa jadi, ia akan menabrak meja, menginjak kucing atau apapun yang ada di kamar tersebut karena matanya tidak bisa melihat apapun. Tapi, semua itu akan tampak ketika lampu (cahaya hikmah, cahaya kebenaran; Al-Haq) dinyalakan. 

Karena landasan itu semua, alam lahir bisa juda disebut dengan alam rendah, alam jasmani, dan alam kegelapan (zhulmani). Dan di baliknya ada alam malakut yang sering juga dinamakan dengan alam atas, alam ruhani, dan alam nurani.

Ah, lagi-lagi saya tertarik dengan diksi: alam nurani. Sepertinya kata ini adalah kata seraoan dari bahasa Arab yang sangat berkaitan dan amat erat dengan nur atau cahaya, karenanya diksi ini sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ada "di dalam" diri manusia yang bersifat cahaya.

Termasuk dengan alam atas. Saya jadi ingat dalam mitologi Yunani alam atas itu disebut dengan alam para dewa. Pun dalam dunia pewayangan pun ada alam atas yang dikenal dengan kahyangan.

Eit, tapi jangan pernah membayangkan alam atas itu dengan langit yang dilihat oleh indera mata kita. Bukan. Bukan itu. Bukan langit yang ada awan atau burung terbang di atas sana yang bisa dilihat oleh indera mata, tapi alam yang kedudukannya di atas alam lahir. 

Meski terkesan sangat rendah dan berada di bawah, bukan berarti kita menyepelakan bahkan meremehkan alam syahadah atau alam lahir ini. Alam lahir ini pun penting, sebab setiap orang dilahirkan di alam ini, dan alam lahir ini pun menjadi pijakan awal untuk setiap manusia naik ke alam malakut. Sederhananya, siapapun, orang yang ingin naik ke alam malakut, mesti melewati alam lahir ini terlebih dahulu. 

Kemudian Imam Al-Ghazali menerangkan seseorang tidak bisa naik kedudukannya setara dengan malaikat (ملكوتيا) pun tidak bisa menuju ke alam malakut sebelum ia mengganti pandangannya (penglihatannya, pengetahuannya) dari alam lahir ke alam malakut (تبدل الأرض غير الارض و السماوات).

Maksudnya, ketika hijab (tabir penutup) antara alam lahir dan alam malakut dibuka untuk seseorang menggunakan akal, mata batin, atau jiwanya untuk melihat sesuatu, maka yang tampak bukan bumi atau langit yang seperti ia lihat selama ini dengan indera matanya. Semuanya akan berubah total.

Sederhananya, persepsi seseorang akan sesuatu yang selama ini dilihatnya dengan indera mata akan berubah. Contoh sederhananya kira-kira seperti ini: ketika seseorang belum mempelajari suatu ilmu (matematika, sosiologi, psikologi, fisika, filsafat, dan ilmu-ilmu yang lain) segala sesuatu yang tampak dan ditampakkan padanya akan biasa saja. Malah mungkin terlihat receh dan remeh. Dan sering terlewat begitu saja. Tapi, setelah ia belajar suatu ilmu tersebut, apa yang dilihatnya akan berbeda. 

Misalnya, ketika seseorang melihat bintang. Sebelum ia belajar tentang astronomi atau ilmu perbintangan, bintang gemintang itu akan terlihat biasa saja, kalau pun tak biasa, paling banter akan kagum dengan keindahannya. Nah, pandangan ini akan berbeda ketika orang tersebut sudah mempelajari tentang ilmu bintang dan perbintangan. 

Contoh yang lain. Ketika dua orang melihat sepeda motor. Orang pertama, adalah orang yang tidak pernah belajar dan tidak tahu tentang ilmu mesin dan mekanik. Sementara orang yang kedua adalah yang mempelajarinya. Ketika mereka berdua melihat sepeda motor, akan terjadi perbedaan pandangan. Keduanya akan berbeda ketika melihat motor. Yang satu, ya biasa saja melihatnya. Sementara yang satu lagi akan lebih jauh melihatnya, misalnya mesin motornya tidak bekerja optimal karena ada komponen yang perlu diganti, dan seterusnya. 

Ya, kira-kira seperti perspektif seseorang terhadap sesuatu. Sudut pandang seseorang saat melihat sesuatu. Begitu pun dengan orang-orang yang menggunakan akal, mata batin, atau jiwanya ketika melihat sesuatu. Terlebih ketika ia sudah berhasil masuk ke alam malakut. 

Ah, saya jadi terbayang dengan siapapun yang menjadi "Waliyullah". Mereka adalah orang-orang yang sepertinya sudah berhasil masuk ke alam malakut. Sekilas, sepertinya sulit dan berat untuk mencapai kedudukan ini. 

Tapi, jika melihat kenyataan, bahwa setiap orang punya "al-quwwah" berupa akal, mata batin, atau jiwa, ini berarti siapapun bisa menjadi "Wali"; siapapun bisa naik ke alam malakut dan bersifat malaikat (ملكوتية). Termasuk Anda, termasuk saya, punya potensi yang sama. Potensi untuk naik dari bumi (علم الحس والخيال) ke alam malakut.

Ketika seseorang, siapapun (termasuk Anda, termasuk saya) menggunakan mata batin, akal, atau jiwanya untuk melihat sesuatu dan naik ke alam malakut, maka inilah yang disebut mi'roj pertama bagi para salik. Dan ini membuat dirinya semakin dekat dengan Allah. Ya, inilah mi'roj pertama. 

Saya hanya ingin memberi gambaran lebih sederhana, agar mi'roj pertama yang berpotensi bisa dilakukanboleh semua orang ini tidak disamakan dengan mir'roj Nabi Muhammad. Tentu saja berbeda. Jelas berbeda. 

Begini contoh sederhana. Mi'roj pertama itu bisa dilakukan dengan menggunakan akal, mata batin, atau jiwa untuk mendapat pengetahuan. Ya pengetahuan.

Perlu dipahami antara ilmu dan pengetahuan. Ilmu bisa didapatkan dari mana saja, kapan saja, dan di mana saja. Sementara pengetahuan, sederhananya, di antaranya bisa didapatkan dengan pemahaman, perenungan dan penghayatan. 

Pemahaman, perenungan dan penghayatan ini tentu saja dilakukan dengan mata batin, akal, atau jiwa. Bukan dengan otak atau khoyal saja.

Nah, saya jadi ingat dengan para ulama Islam yang filosof yang mengatakan: kebahagiaan hakiki adalah ketika memperoleh pengetahuan. Ya, sumber kebahagiaan adalah pengetahuan. 

Nah, mereka yang berupaya mendapat dan memperoleh pengetahuan, bisa dibilang seperti mereka yang mi'roj pertama. Karena ilmu itu banyak, sangat banyak, maka mi'roj antar orang-orang pun akan beda-beda. Tapi tujuannya satu yaitu mendapat pengetahuan (المعرفة).

Lebih sederhananya lagi, orang-orang yang belajar hakikatnya adalah tengah melatih mata batinnya untuk mi'roj. Ini berarti belajar, mencari ilmu, ngaji, merenung, memahami sesuatu adalah langkah pertama memi'rojkan mata batin menuju alam malakut. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 28012022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar