Rabu, 26 Januari 2022

Akal, Cahaya Hikmah, Cahaya Allah, dan Al-Quran (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali menyatakan ada ilmu yang disebut dengan ilmu dhoruri (العلم الضرورى), yakni ilmu pada diri manusia yang secara naluri (atau fitrah) selalu ada dalam diri manusia. Sudah ada dan nempel di akalnya. Pun ada ilmu yang disebut dengan ilmu iktisab (العلم الإكتساب) yakni ilmu yang perlu usaha terlebih dahulu. Perlu diupayakan.

Contoh ilmu dhoruri: saya tidak akan bilang bahwa gelas kopi itu besar dan kecil dalam satu waktu. Kalau saya bilang gelas kopi kecil, maka tidak mungkin saya bilang besar saat itu juga. Pun ketika saya bilang ada gelas kopi di atas meja saat saya membuat catatan ini, tidak mungkin saya bilang tidak ada di saat yang bersamaan. 

Pun misalnya, ketika saya bilang seseorang itu cantik, maka ini berarti saya tidak bilang hak yang sebaliknya. Tidak mungkin saya bilang dia itu cantik dan kelak dalam satu waktu. 

Terkait hal ini, saya jadi ingat cerita tentang nabi Muhammad dan Abu Jahal. Nama nabi: Muhammad, sederhananya berarti orang yang terpuji. Nah, Abu Jahal tahu akan hal ini, karenanya dia tidak mau memanggil nabi dengan nama, tapi dengan "al-madzmum" yang artinya orang tercela. 

Tapi, inilah di antara kekuatan dan keistimewaan dari nama (dan penamaan) nabi dengan Muhammad. Bagaimanapun orang-orang kafir membenci dan tidak suka pada Nabi, akan tetap menyebut nabi sebagai orang yang terpuji, karena nama Nabi. 

Misalnya, abu Jahal bertanya atau bilang ke orang-orang: "mana itu si al-madzmum?" Kemudia orang yang ditanya akan balas: "al-madzmum itu siapa?" Mau tak mau Abu Jahal akan menyebut nama Nabi. Walaupun dia tidak menyebut nama nabi, misalnya dengan menyebut dengan anaknya Aminah, orang-orang yang diajaknya bicara, mau tak mau akan menyebut nama Muhammad. 

Ya, dari penyebutan, nama, dan penamaan saja, siapapun akan bilang (mau tidak mau, sadar tidak sadar) bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang terpuji, karena dari arti nama memang demikian. 

Walaupun Shakespeare bilang, apalah arti sebuah nama, tapi sepertinya nama (pemberian nama) itu penting. Terlebih jika itu dikaitlan dengan doa dan harapan. Orang tua terhadap anak, misalnya.

Kembali ke Ilmu Dhoruri, Imam Al-Ghazali melanjutkan penjelasannya dengan memberi keterangan bahwa jika ada sesuatu yang khusus, maka ada yang umum. Misalnya, ada warna hitam (khusus), maka berarti ada yang umum yaitu warna. 

Namun, ketika ada sesuatu yang (bersifat) umum, maka yang khusus belum tentu seperti itu adanya. Misalnya; ada warna (umum), nah, yang khusus belum tentu adanya seperti itu. Misalnya belum tentu ada warna hitam, sebab bisa jadi warnanya biru, hijau, merah, dan lain-lain. 

Hal-hal yang demikian itu ditegaskan al-Ghazali sebagai al-khodoya al-dhoruriyat (القضايا الضروريات). Ya, saya ingat dalam ilmu manthiq ada beberapa istilah, diantaranya: qodhiyyah (قضية), kulliyyah (كلية) dan muujabah (موجبة). Dari ketiga hal ini nantinya akan lahir yang namanya natiijah (نتيجة) atau kesimpulan. 

Nah, Qodhiyah (القضية) ini adalah istilah yang artinya kalau dalam bahasa inggris: term atau statement. 

Term-term dalam ilmu dhoruri Dijelaskan imam Al-Ghazali ada tiga, yaitu al-wajibaat (الواجبات), al-jaaizaat (الجائزات), dan al-mustahiilat (المستحيلات). 

Jika melihat akal sebagai hal khusus (bersifat khusus) dan manusia bersifat umum, maka bisa dipastikan bahwa semua manusia punya akal. Dan ini berarti, bahwa setiap orang punya bisa dipastikan punya ilmu dhoruri.

Sementara untuk ilmu iktisab (العلم الإكتساب), Imam Al-Ghazali menganalogikannya dengan zaman dulu sebelum ada korek api. Ya, dengan batu yang digesek-gesek agar menjadi api. Kira-kira seperti itu ilmu iktisab ini. Perlu ada upaya untuknya. 

Tentu saja, upaya tiap orang berbeda-beda. Seperti batu api tadi. Ada yang hanya perlu sekali gesekan langsung menimbulkan api, ada yang perlu upaya keras dan berkali-kali hingga timbul api.

Upaya gesekan batu agar lahir api itu pun seperti  yang terjadi pada akal manusia. Selain ilmu yang sudah nempel di dirinya seperti bawaan orok (ilmu dhoruri), akal manusia dalam melihat segala sesuatu pun perlu upaya dan usaha agar terwujud sesuatu yang disebut ilmu iktisab. 

Contoh sederhananya ilmu iktisab; kita misalnya tahu bahwa satu ditambah satu sama dengan dua, tapi akal kita akan bekerja dan berupaya lebih ketika menemukan seribu dua ratus delapan pulun tujuh dikali seratus tiga puluh delapan ribu tujuh ratus tujuh puluh tujuh (1.287 X 138.777) itu berapa jumlahnya.

Nah upaya atau usaha tersebut, termasuk apapun yang terkait dengan kemampuan akal dalam melihat sesuatu bisa ingatkan atau disentuh oleh apa yang disebut Imam Al-Ghazali dengan kalaamu Al-Hikmah (كلام الحكمة).

Cahaya hikmah ini akan terus menyinari akal setiap manusia. Kenapa? Sebab, setiap manusia punya potensi (القوة). Lebih jauh, dalam kitab Al-munqidz min Al-dholal, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada satu hal dalam diri manusia yang bernama dzauq. Bahasa Indonesianya intuisi. Dzauq inilah yang bisa menangkap cahaya hikmah, lintasan-lintasan ide (Khowathir), yang selalu menyinari akal manusia. 

Nah, namanya potensi (القوة) walau kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kekuatan, tetap saja itu masih potensi. Belum terwujud menjadi nyata. Misalnya, saya tahu gelas itu bisa menampung air termasuk menampung kopi. Tapi, gelas itu tidak akan bisa berisi kopi, jika tidak diwujudkan dengan mengisinya dengan kopi. Nah, gelas sebagai penampung kopi inilah yang dimaksud dengan potensi atau al-quwwah tadi.

Lalu bagaimana agar itu menjadi nyata? Imam Al-Ghazali menggunakan diksi الفعل untuk membuat potensi itu terbentuk lalu terwujud menjadi nyata. Ya, kata kerja. Bisa dibilang, potensi apapun akan tetap menjadi potensi jika tidak ada aksi untuknya. 

Termasuk dengan akal yang ada pada diri setiap manusia. Akal hanya akan menjadi potensi jika tidak ada aksi. Atau akal hanya akan jadi potensibjika tidak digunakan bekerja; untuk melihat dan memahami sesuatu, misalnya. 

Sekali lagi, cahaya hikmah itu akan selalu ada dan menyinari setiap akal manusia. Karena cahaya hikmah itu adalah cahaya dari Allah. Hikmah dan cahaya Allah itu sangat amat banyak jenisnya. Termasuk segala informasi yang kita lihat, semua itu adalah hikmah. Tapi, cahaya hikmah terbesar, paling besar, teragung, paling agung kata Imam Al-Ghazali adalah kalaamullah (كلام الله) alias Al-Quran.

Al-Ghazali dalam kitab Misyakatul Anwar ini, menegaskan bahwa Al-Quran itu ibarat cahaya matahari kepada mata: membuat penglihatan lebih jelas ketika melihat sesuatu. Karenanya, Al-Quran pun bisa disebut dan dinamai dengan cahaya. 

Ah, saya jadi terbayang dengan keadaan manusia sebelum Al-Quran turun. Saat itu, bisa dipastikan manusia sudah punya akal, tapi penglihatannya samar, bahkan mungkin buram. Karenanya mungkin ini pula yang menyebabkan ketika dulu saya belajar "muhadoroh" (belajar latihan pidato), akan selalu ada kalimat dari alam kegelapan ke alam terang benderang (من الظلمات إلى النور). Entahlah.

Imam Al-Ghazali kemudian menegaskan, bahwa akal (mata batin) bisa memahami hal-hal yang masuk akal, melihat hakikat-hakikat yang bersifat batiniah, itu dengan Al-Quran yang di dalamnya ada hikmah. Ada cahaya Allah. Inilah makna yang diungkap al-Ghazali dari kedua ayat: 

فآمنوا بالله و رسوله و النور الذى أنزلنا (الآية) 

قد جاءكم برهان من ربكم وانزلنا إليكم نورا مبينا (الآية)

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 27012022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar