Selasa, 25 Januari 2022

Anak Buahnya Akal, Lahir dan Batin. (Misykatul Anwar)

Dalam filsafat ada ilmu yang dikenal dengan ontologi, yakni ilmu tentang "ada" akan sesuatu. Dalam filsafat Islam, "ada" ini dikenal dengan al-maujudat. 

Imam Al-Ghazali menegaskan semua yang terkait dengan al-maujudat adalah tanahnya akal. Semua itu, adalah tempat beredarnya akal (majaalu al-'aqli).

Di dalam diri manusia ada otak. Bahasa Inggrisnya: brain. Otak ini adalah organ. Kalau dimisalkan ke komputer, otak adalah CPU. Perangkat keras. Sementara akal, bahasa Inggrisnya main. Kalau dalam komputer, ini perangkat lunaknya, OS atau operating system-nya. 

Otak atau perangkat keras tak akan bisa bekerja tanpa ada sistem yang mengoperasikannya, yaitu akal. Sederhananya, otak tidak akan bekerja jika tidak ada akal. 

Kalau otak tidak bekerja, bisa dibilang, manusia sama dengan binatang. Karenanya, dalam filsafat Islam manusia, ada yang menyebutnya  al-hayawan al-nathiqoh, alias hewan yang bisa berpikir, berakal, bernalar. 

Pun ada juga yang menyebut bahwa manusia dengan al-nafsu al-nathiqoh, yakni jiwa yang bisa menalar. Imam Al-Ghazali menyebut ruh, nafs al-insaniy, dan akal dalam perspektif yang sama. Yakni hal yang terkait dengan "penglihatan" dalam diri manusia secara batin. 

Akal manusia, menurut Imam Al-Ghazali bisa membuat segala rahasia yang tak tampak (bersifat batin) menjadi jelas. Pun bisa mengungkap makna-makna yang tersembunyi dari segala yang ada (al-maujudat). 

Sementara mata manusia (secara lahir dan fisik) tidak bisa melakukannya. Sebab, mata (lahir dan fisik) bisa dikatakan adalah sesuatu yang gelap karena ketergantungannya dengan benda lain yang memiliki cahaya. 

Imam Al-Ghazali malah menegaskan, bahwa mata (fisik) adalah salah satu mata-mata (jaasuus) dari sekian banyak anak buah yang dimiliki akal. Tugasnya mata (fisik) ini ibarat lemari dan gudang yang menyimpan warna dan bentuk saja dari yang dilihatnya. 

Ibarat Intel, mata (fisik) hanya melaporkan warna dan bentuk dari yang dilihatnya kepada akal. Dan akal-lah yang akan memberikan pendapat secara tajam dan hukum (hikmah, pelajaran) yang pasti. 

Termasuk dengan panca indera. Semua itu, kata Imam Al-Ghazali adalah "anak buahnya" akal secara lahir dan zohir. Ya, panca indera pada manusia adalah "Intel" dari akal. Akal adalah komandan bahkan jendralnya. 

Selain lahir dan zohir, akal pun punya "anak buah" secara batin. Imam Al-Ghazali menyebut, setidaknya, ada lima. Yaitu: khoyal, wahmun, fikrun, dzikrun, dan hifzhun. 

Khoyal adalah kemampuan dalam diri manusia yang tugasnya menyimpan apapun yang ditangkap dan didapati oleh panca indera. Ini seperti memori. Misalnya, kita masih bisa melihat hal-hal di masa lalu, walau hal itu sudah tidak terjadi. 

Atau misal yang lain, mata kita melihat orang yang kita sayang. Ketika dia yang kita sayang tidak ada di hadapan, kita masih bisa melihatnya di dalam dan dengan khoyal ini. Bisa dibilang khoyal ini menyimpan informasi. 

Setelah sesuatu yang "ada" atau informasi itu masuk ke khoyal, kemudian ada sesuatu dalam diri kita (anak buahnya akal) yang mengolah informasi tersebut menjadi sebuah data. Tapi, data yang belum lengkap. Sebab, masih dalam tingkatan sangkaan (zhon). Ini seperti asumsi.  Nah, yang mengolah informasi ini disebut dengan Wahmun. 

Informasi dan data yang belum lengkap tersebut, kemudian dilengkapi dengan informasi dan data-data lain yang menguatkan "sangkaan dan asumsi" di wahmun, hingga menjadi sebuah pemikiran (fikrun). Ini terkait dengan salah satu kemampuan akal yaitu isthinbat alias menginduksi sesuatu. 

Pikiran atau pemikiran (fikrun) tersebut kemudian diolah kembali sedemikian rupa hingga menjadi ingatan (dzikrun). Sayangnya,  dzikrun ini bisa dibilang ingatan yang masih lemah. Perlu terus menerus dilakukan agar menjadi hifzhun yang berarti ingatan yang kuat. 

Ah, saya jadi tertarik dengan dzikrulloh dan hifzhulloh. Dzikrun selain berarti ingat, kata ini pun bisa diartikan dengan menyebut. Karenanya orang-orang yang menyebut nama-nama Allah dibilang sedang dzikir atau dzikrulloh. 

Hal ini sepertinya terkait dengan keadaan iman seseorang yang naik turun. Karenanya perlu terus menerus menyebut dan mengingat nama-nama Allah agar keimanan terus stabil. 

Dan ujungnya, ketika nama-nama Allah terus disebut dan dingat, akan membuat nama-nama Allah terjaga (hifzhulloh) dalam dirinya. Karena selain hafal (ingatan yang kuat), kata hifz pun bisa diartikan dengan menjaga, jika ditambah harfu jar berupa "'an". Entahlah.

Kelima anak buah akal yang disebut Imam Al-Ghazali tersebut membuat saya ingat akan teori kognisi. Teori bagaimana sebuah pengetahuan terbentuk. Teori bagaimana mengetahui tentang sesuatu. 

Pun dalam filsafat Islam, ada yang dikenal dengan teori "al-idrok" yang isinya ilmun, dzonnun, syakkun, wahmun, dan khothoun.

Sederhananya kira-kira seperti ini. Misalnya ada seseorang yang punya keinginan ingin punya mobil. Masalahnya, uangnya tidak cukup alias masih kurang. Nah, kalau menggunakan pendekatan teori kognisi atau al-idrok, maka yang dilakukan pertama adalah mencari segala informasi yang bisa membuat ia bisa membeli mobil. Misalnya, pemasukan keuangannya, penghasilannya, dan seterusnya. Termasuk mencari informasi tentang kendala-kendala yang menghambat ia bisa beli mobil. 

Semua informasi itu kemudian diolah menjadi sebuah asumsi, Zhon, atau sangkaan. Karena datanya belum lengkap, ia pun mencari informasi lain yang bisa menjadi jawaban dari hal-hal yang membuatnya bisa beli mobil, pun hal-hal yang menghambatnya bisa beli mobil. 

Informasi-informasi penguat tersebut menjadi data valid (fikrun). Nah dalam tingkatan ini, dia bisa mendapat hukum, hikmah, dan pelajaran yang membuatnya bisa membeli mobil. 

Tapi, perlu diingat juga hal tersebut mesti dilakukan berulang-ulang (dzikir) agar bisa benar-benar (hifz) menjadi ilmu yaqini yang benar-benar benar. 

Yang dimaksud Imam Al-Ghazali dari "anak buah" akal tersebut tentu saja bukan bagaimana bisa membeli mobil, tapi terkait dengan hakikat cahaya: bahwa akal punya anak buah berupa panca indera lahiriah dan batiniah. 

Dan semua anak buah tersebut, dibahas Al-Ghazali di kitab yang lain, yaitu Ihya Ulumuddin pada bagian "kitab 'ajaibu al-qolbi."

Dan inilah kelebihan akal yang kelima dibanding mata fisik. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 25012022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar