Kamis, 20 Januari 2022

Cahaya Menurut Pandangan Awam (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar, menyatakan bahwa cahaya menurut pandangan orang awam Seringkali dikaitkan dengan penampakan atau ketertampakan. 

Segala sesuatu yang tampak (bagi manusia) sangat erat dengan indera penglihatan, yaitu mata. Nah, segala penampakan, apapun itu, yang terkait mata manusia, al-Ghazali membaginya kepada tiga bentuk. 

Pertama, benda-benda yang tidak punya cahaya (al-ajsam al-muzhlimah). Apapun yang masuk kategori ini, al-Ghazali menyebutnya dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat (oleh mata). 

Jika digambarkan dalam bentu Piramida, maka benda-benda tak bercahaya ini ada di tingkat terbawah. Ini berarti benda-benda tersebut bisa dibilang paling banyak. 

Malah, bisa jadi hakekat makhluk (semua ciptaan) yang ada di bumi ini masuk kategori ini. Karena pada dasarnya, benda-benda tersebut tidak bisa dilihat jika tidak ada cahaya yang membuatnya bisa terlihat. 

Termasuk, diri kita. Bentuk lahiriah badan kita. Jika tidak ada cahaya,  maka badan dan fisik kita ini tidak bisa terlihat, bukan? Karenanya, sepertinya perlu ada upaya untuk membuat diri memiliki cahaya dan bisa terlihat. 

Seperti bentuk kedua dari pengertian cahaya menurut awam dalam pandangan al-Ghazali. Yaitu segala sesuatu yang memiliki cahaya hingga bisa terlihat dan dilihat. hanya saja, cahaya pada sesuatu tersebut tidak bisa membuat sesuatu yang lain bisa terlihat. 

Al-Ghazali menyebutnya dengan al-ajsam al-mudhiah. Contohnya adalah bara api. Arang yang panjang memanggang. Dan bintang gemintang di langit. 

Jika dianalogikan benda atau sesuatu itu adalah manusia, maka bisa dibilang mereka ini yang memiliki cahaya. Bisa berupa ilmu, keterampilan, kelebihan, dan lain sebagainya, tapi semua itu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak bisa memberikan cahaya atau manfaat untuk orang lain. 

Karenanya, Al-Ghazali menjelaskan lebih lanjut tentang cahaya dalam pandangan awam, yaitu sesuatu yang memiliki cahaya hingga bisa dilihat dan terlihat. Tapi, bisa menerangi yang lain hingga bisa dilihat dan terlihat juga. Contohnya adalah matahari dan lampu. 

Analoginya seperti asas kebermanfaatan. Ya, cahaya (kelebihan, keterampilan, ilmu, dsb) yang ada pada sesuatu atau manusia, selain bermanfaat untuk dirinya, semua hal tersebut pun bisa bermanfaat untuk semua hal di sekitarnya. 

Ketiga bentuk tersebut adalah pandangan kebanyakan orang (awam) tentang pengertian cahaya yang dikemukakan Imam Al-Ghazali dalam Misykatul Anwar. 

Semua pandangan (awam) tersebut masih sangat berkaitan dengan benda-benda yang kasar atau kasat(al-ajsam al-katsifah), dan erat banget dengan aktifitas indera penglihatan, yaitu mata. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, Januari 2022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar