Minggu, 30 Januari 2022

Tingkatan dan Sumber Cahaya (Misykatul Anwar)

Di abad ke-16, tepatnya di kisaran tahun 1572 hingga 1640, hidup seorang ulama yang filosof bergelar Sadr al-Din Mohammad Shirazi. Ia lahir di Shirza atau Shiraz, Persia Selatan dan diberi nama Muhammad Ibn Ibrahim al-Qawami. Belakangan ia lebih dikenal dengan Mulla Sadra. 

Di antara pandangannya yang masyhur adalah tentang al-hikmah al-muta'aliyah (الحكمة المتعالية). Hikmah yang utama yang merujuk pada tiga hal, yaitu: wahdah al-wujud, tasykik al-wujud, dan asholah al-wujud. Ulama yang filosof dan banyak merujuk (belajar) pada karya Ibnu Sina ini merumuskan teosofi dari landasan intelektualitas, rasionalitas, dan syariat.

Di antara pandangannya dalam isykak al-wujud atau al-wujud al-musyakkak adalah tentang perbedaan derajat dan gradasi kualitas. Ya, sederhananya Mulla Sadra menyatakan bahwa segala sesuatu (ciptaan, makhluk) itu berderajat. Meskipun sesuatu itu terlihat sama (sama-sama manusia, misalnya) tetap saja derajatnya beda-beda. Tetap saja ada perbedaan kualitas. 

Jauh sebelum itu di abad ke-11, Imam Al-Ghazali pun telah menyatakan hal yang mirip dengan pendapat Mulla Sadra ketika menjelaskan tentang Cahaya dalam kitab Misykatul Anwar.

Al-Ghozali menjelaskan bahwa cahaya-cahaya bumi bersumber dari cahaya-cahaya "langit". Al-Ghozali menganalogikannya dengan misal seperti ini: saat malam hari (tentu saja diandaikan belum ada listrik), cahaya bulan menyeruak masuk ke dalam rumah lewat lubang (bisa lubang angin, atau lubang di atap). Cahaya itu kemudian terkena cermin. Dari cermin cahaya tersebut memantul ke tembok. Dari tembok cahaya tersebut lalu terpantul ke lantai (tanah).

Dengan analogi dan misal tersebut, Al-Ghozali menegaskan bahwa cahaya pun memiliki tingkatan-tingkatan yang terkait derajat dan kualitas terangnya. Semakin jauh dari sumber, cahaya semakin redup. Sebaliknya, semakin dekat dengan sumber, cahaya itu akan semakin terang. Begitu juga dengan derajat "cahaya" pada manusia: akan berbeda-beda. 

Bagi orang-orang yang telah terbuka mata batinnya dan bisa mi'roj ke alam malakut, maka akan terkuak dan terbuka pula baginya cahaya-cahaya kemalaikatan (الانوار الملكوتية) yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat pula. Al-Ghazali menegaskan derajat (cahaya) malaikat Israfil tentu berbeda dengan malaikat Jibril. Semakin dekat dengan "Sumber Cahaya" maka cahaya para malaikat pun akan semakin terang dan cerlang. Ini seperti yang tertera dalam Al-Quran: 
و إنالنحن الصافون و إنا لنحن المسبحون

Seperti catatan saya sebelumnya, bahwa Allah memiliki malaikat yang selalu bertasbih. 

Al-Ghozali kemudian menegaskan, meskipun cahaya bertingkat-tingkat, bergradasi, dan berbeda-beda yang tak terbatas, tapi itu untuk aliran cahaya ke bawah. Tapi, jika cahaya itu ditelusuri ke atas, ke sumbernya, maka akan berhenti pada sumber yang dikatakan Al-Ghazali dengan: Cahaya yang bercahaya karena Dzatnya Sendiri dan Dengan Dzatnya Sendiri (النور لذاته و بذاته). Dan inilah sumbernya sumber cahaya. 

Al-Ghazali sebagaimana diketahui mempelajari karya-karya dan pandangan Ibnu Sina, setidaknya terpengaruh juga dalam pemakaian istilah Filsafat Ibnu Sina. Ya, النور لذاته و بذاته, adalah istilah yang kerap dipakai dalam filsafat ala Ibnu Sina. 

Ya, النور لذاته و بذاته, tegas Imam Al-Ghazali adalah yang paling layak dan paling relevan untuk disebut sebagai cahaya. Yaitu cahaya yang paling tinggi dan paling atas (النور الأقصى الأعلى) yang tidak ada lagi cahaya di atasnya. Serta darinya turun cahaya-cahaya hingga sampai ke tingkat paling bawah. 

Dari sinilah, Al-Ghazali mengajak untuk merenung (melihat dan memperhatikan) manakah yang lebih layak disebut cahaya; apakah yang cahaya yang menjadi sumber (Cahaya yang bercahaya karena Dzatnya Sendiri dan Dengan Dzatnya Sendiri, النور لذاته و بذاته) atau cahaya yang diterangi serta meminjam cahaya dari sumber cahaya? 

Sederhananya, Al-Ghozali menyatakan bahwa cahaya malaikat pun berbeda-beda. ada yang redup ada yang sangat terang. semakin dekat dengan sumber cahaya, akan semakin terang. begitu juga dengan manusia. cahayanya berbeda-beda. ada yang redup, ada yang sangat redup, hingga ada yang sangat terang. 

perbedaan cahaya pada manusia tersebut, di antaranya karena perbedaan ilmu dan pengetahuannya. semua orang yang punya ilmu itu bercahaya. Ilmu apapun yang dimiliki, itulah cahaya dirinya. Di atas ilmu ada pengetahuan (المعرفة), siapapun yang memiliki, maka cahayanya akan lebih terang.  

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 31012022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar