Walau (andaikan) ada yang bilang bahwa pengetahuan tertentu atau ilmu spesifik (al-'ulum al-mufasholah), seperti matematika, fisika, psikologi perkembangan, psikologi anak, dan ilmu-ilmu yang lain itu terbatas, tapi, kata Imam Al-Ghazali, potensi memahami (quwwatu al-idrok) itu tak terbatas.
Saya tertarik dengan diksi quwwatu al-idrok yang dipakai imam Al-Ghazali di sini. Kata quwwatun dipahami dengan potensi. Kekuatan adalah potensi. Kalau potensi, maka bisa dibilang belum menjadi nyata.
Misalnya; saya berpotensi (memiliki quwwatun) untuk bahagia. Karena masih berada di tingkat potensi, maka bisa dibilang bahwa saya belum bahagia secara nyata. Pun dengan perihal; bahwa saya berpotensi menjadi apapun yang saya mau.
Nah, menariknya, Imam Al-Ghozali, menjelaskan bahwa potensi itu akan menjadi nyata jika sudah berubah menjadi al-fi'lu. Ya, ketika sudah betubah menjadi suatu pekerjaan. Bisa dibilang, siapapun bisa mewujudkan apapun yang diinginkannya, karena setiap orang punya potensi alias kekuatan dalam dirinya (al-quwwatu), asal potensi (kekuatan) itu diubah menjadi kata kerja alias dikerjakan.
Pun seperti quwwatu al-idrok (potensi memahami, melihat, dan mengetahui sesuatu) dalam kitab Misykatul Anwar karya Imam Al-Ghazali yang dijelaskan ada dan nyantel pada diri setiap orang.
Al-Ghazali menyontohkan dengan angka dua dan tiga. Mata (fisik) bisa melihat angka tersebut. Tapi ketika angka tersebut diberi kelipatan-kelipatan (pangkat, tambah, dan seterusnya), maka mata ini akan tidak bisa melihat angka-angka yang tak terbatas. Sementara akal, bisa melihatnya.
Seperti tingkatan "tahu-nya" seseorang: misalnya saya tahu kamu tidak suka saya. Kemudian saya tahu bahwa saya tahu kamu tidak suka saya. Terus, saya tahu bahwa saya tahu bahwa saya tahu kamu tidak suka saya. Dan seterusnya.
Itu disebabkan karena akal bisa mengetahui ilmu atas sesuatu. Pun bisa mengetahui ilmunya ilmu atas sesuatu itu. Dan bisa mengetahui ilmunya ilmunya ilmu atas sesuatu tersebut, dan seterusnya.
Itu adalah kelemahan keenam dari mata. Sementara kelemahan ketujuh sangat terkait dengan optical illusion. Tertipunya mata.
Ya, mata kita seringkali melihat sesuatu itu besar padahal kecil. Pun sebaliknya, melihat kecil padahal besar.
Imam Al-Ghazali menyontohkan dengan bintang gemintang. Bintang terlihat kecil. Ukurannya seperti duit logam. Padahal, bintang memiliki ukuran yang besar.
Selain terkait ukuran, mata kita pun sering tertipu dengan gerak. Kita melihat sesuatu bergerak padahal diam. Pun sebaliknya, melihat sesuatu itu sepertinya diam padahal bergerak.
Imam Al-Ghazali menyontohkan dengan anak kecil. Mata kita melihatnya seakan anak itu tidak tumbuh dan tidak berkembang, padahal setiap saat anak tersebut terus gerak (tumbuh dan berkembang). Begitu juga dengan bintang gemintang yang seakan-akan terlihat diam dan tak bergerak, padahal bintang itu terus bergerak.
Terkait hal ini, Imam Al-Ghazali merujuk pada hadits nabi yang berbunyi:
كما قال صلى الله عليه وسلم لجبريل عليه السلام: أزالت الشمس؟ فقال لا، نعم! فقال عليه السلام: كيف؟ "منذ قلت (لا) إلى أن قلت، (نعم): قد تحركت مسيرة خمسمائة سنة.
Hadits ini menarik. Selain menegaskan bahwa bintang bergerak, pun menunjukkan bahwa nabi Muhammad mengetahui pergerakan cahaya. Nabi bilang, dalam sekian detik (cahaya) matahari bergerak lima ratus tahun kecepatan cahaya.
Selain itu, hadits ini pun seakan ingin menegaskan bahwa Nabi Muhammad itu Cerdas dan lebih pintar dari malaikat Jibril. Lebih-lebih kecepatan cahaya, matahari dan bintang ini pun terkait ilmu fisika, astronomi, dan lain-lain. jadi, nabi Muhammad bisa dibilang menguasai ilmu-ilmu tersebut.
Ya, itulah tujuh kelemahan mata. Malah Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa mata sebenarnya memiliki banyak kekeliruan. Sementara akal, lepas serta bebas dari itu semua. Akal tidak memiliki kekurangan, kata Imam Al-Ghazali.
Meskipun ada yang bilang bahwa orang-orang yang berakal pun bisa keliru dalam pandangannya, tapi Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa itu bukan kekeliruan akal. Ini terkait dengan teori kognisi atau teori al-idrok.
Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa dalam diri manusia ada khoyal, wahm, dan kepercayaan yang seringkali memberi asumsi dan sangkaan. Nah, kebanyakan orang justeru mengira semua asumsi dan sangkaan (Zhon) tersebut adalah kerja akal. Padahal bukan. Sangkaan itu adalah kerjaan khoyal dan wahm dalam diri manusia. Imam Al-Ghazali membahas hal ini pada kitab "mi'yaru al-'ilmi" dan "muhikku an-nazhori".
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kekeliruan orang-orang yang berakal adalah karena adanya selubung khoyal dan wahm (ghisyawatu al-wahmi wa al-khoyali). Kalau tidak ada selubung tersebut, akal bisa dipastikan benar-benar melihat sesuatu benar adanya.
Dan Al-Ghazali bilang, menhindar dari selubung khoyal dan wahm ini berat dan sulit dilakukan. Karenanya Al-Ghozali pun bilang: seseorang bisa mengetahui (melihat dan memahami) kebenaran yang benar-benar benar akan sesuatu justeru setelah ia meninggal dunia (wafat).
Ini seperti Firman Allah dalam Al-Qur'an:
فكشفنا عنك غطائك فبصرك اليوم حديد.
Ah, saya jadi ingat dengan logical fallacy. Ya, kekeliruan logika, kekeliruan nalar. Jika, al-Ghazali bilang hakekat benar dan kebenaran, atau sesuatu itu benar-benar benar hanya bisa diketahui setelah mati, maka bisa dibilang bahwa kebenaran yang ada di dunia ini bagi seseorang masih berpotensi keliru. Seperti ungkapan Imam Syafi'i: "pendapatku bisa benar, pun bisa salah."
Pun saya teringat dengan hadits nabi:
والناس نيام، إذا مات فانتبهوا
Manusia (di dunia ini) hakekatnya sedang tidur. Dan ketika mereka mati, barulah sadar. Terkait hadits nabi ini saya pernah menuliskannya di tulisan saya pada blog yang lain.
Orang-orang akan menyadari kekeliruan khoyal dan wahm dalam dirinya setelah mati. Ya, kita akan sadar dan "ngeh" dengan kekeliruan dan kesalahan yang kita anggap benar saat hidup di dunia. Imam Al-Ghazali merujuk pada ayat Al-Qur'an yang berbunyi:
ربنا ابصرنا وسمعنا فارجعنا نعمل صالحا (الآية)
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 26012022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar