Sabtu, 29 Januari 2022

Melihat Hakikat Sesuatu (Misykatul Anwar)

Dalam kitab Misykatul Anwar, diterangkan bahwa Nabi Muhammad bersabda: 

إن الله خلق الخلق في ظلمة ثم أفاض عليهم من نوره

Artinya kira-kira: sungguh, Allah menciptakan makhluk (manusia) bersifat gelap. Kemudian Allah berikan secuil cahaya-Nya bagi mereka.

Ya, secuil. Sebab, diksi من (min) pada hadits tersebut adalah min tadh'if (من تضعيف), yang bisa diartikan dengan dari (bagian) yang sedikit, sangat sedikit.

Kenapa Allah hanya memberikan secuil cahaya-Nya kepada semua makhluk ciptaan-Nya?

Jawab sederhananya, karena sebagian besar makhluk tidak akan mampu dan kuat menerima cahaya Allah dalam jumlah yang banyak. 

Bahkan, sekelas nabi Musa pun, konon diceritakan sampai pingsan, ketika Allah baru menampakkan Cahaya-Nya. Gimana dengan kita yang bukan nabi? 

Malah dalam contoh sederhana, tak jarang saya dengar cerita ada seseorang yang gila, "miring", bahkan tak waras, karena kebanyakan "ngelmu." Ibarat wadah dan air: kapasitasnya gelas, tapi air yang diterimanya seember. Ini baru di tingkat ilmu. Gimana dengan pengetahuan, yang tingkatnya lebih tinggi daripada ilmu? Lalu, gimana dengan Cahaya Allah? 

Karenanya, di hadits tersebut, nabi Muhammad men gaskan bahwa Allah hanya memberi secuil cahaya-Nya. Tapi, perlu dipahami, secuil bagi Allah tentu berbeda dengan secuil bagi manusia. Bisa jadi, secuil bagi Allah, sangat amat banyak dan tak terhingga bagi manusia. 

Pasalnya, ada seseorang yang dkenal dan disebut dengan jadzab. Orang ini, seringkali berkelakuan aneh dan gak waras di mata kebanyakan orang. Malah, sering dicap gila. 

Padahal, orang tersebut adalah orang yang menerima cahaya Allah dalam jumlah yang tak sedikit. Hingga dirinya secara jasad dan lahir tidak kuat menampung dan menerima limpahan ilmu, pengetahuan, dan cahaya dari Allah, karena saking banyaknya. 

Kesadarannya akan dunia yang tampak (عالم الشهادة) ini pun lepas dari pandangan dan dirinya secara lahir. Karenanya sikap dan perilakunya sering dianggap gila. 

Kemudian, Nabi Muhammad pun bersabda: 

إن لله ملائكة، هم اعلم بأعمال العباد منهم

Kira-kira arti sederhananya: sesungguhnya Allah memiliki banyak malaikat. Para malaikat ini lebih tahu apapun terkait pekerjaan manusia.

Hadits ini terkait dengan tingkatan yang ada (مراتب الوجود): benda, tumbuhan, hewan, manusia dan malaikat. Karena malaikat tingkatnya (maqomnya) di atas, maka mereka tahu segala hal yang ada di bawah tingkat mereka. Di bawah mereka adalah manusia. 

Contoh sederhananya kira-kira seperti ini. Ketika saya berdiri di halaman rumah, yang bisa saya lihat hanya apa yang tampak di hadapan saja. Tapi, ketika saya naik ke lantai tiga atau ke atas genting, saya bisa melihat rumah-rumah tetangga yang tadi tidak terlihat ketika saya berdiri di bawah. Bahkan mungkin, saya bisa melihat bahwa ada tong sampah di samping rumah, yang tadi tidak terlihat ketika saya di depan rumah. Kira-kira seperti itu.

Kemudian Imam Al-Ghazali menegaskan tentang para nabi ketika mi'roj. Mereka sampai pada tingkat atas (alam malakut). Mereka bisa melihat alam bawah (alam syahadah). Mereka melihat dari atas ke bawah. Bahkan, mereka pun bisa melihat (isi) hati manusia. Dan hal ini tentu saja sangat lengket dengan ilmu gaib yang yang ada pada alam Malakut.

Begitu juga dengan manusia yang mi'roj. Ketika sampai pada alam Malakut, mereka pun bisa melihat alam yang di bawahnya. Karenanya, jangan heran jika ada orang yang bisa tahu hati seseorang. Bahkan bisa tahu apa yang dikerjakan seseorang walau orang tersebut sedang tidak berada di hadapannya.

Ada cerita, konon, syaikhona Kholil Bangkalan sangat tahu tentang santri-santrinya, karenanya sikap beliau terhadap mereka berbeda-beda. Pun cerita tentang Gusdur yang memberi sejumlah uang pada seseorang yang tidak dikenal. Setelah ditelusuri, ternyata orang tersebut memang sedang sangat butuh sejumlah uang yang dikasih Gusdur. 

Semua hal itu bagi sebagian orang, mungkin akan tidak logis, tapi kira-kira begitulah ketika seseorang sudah mi'roj dan naik ke alam Malakut.

Kalau di alam syahadah, di alam nyata, di bumi ini, kira-kira analoginya seperti ini: seorang anak kecil melihat sikat dan pasta gigi. Ia hanya melihat saja, belum tahu bagaimana menggunakan dan buat apa. Tapi setelah ia belajar, "maqomnya", tingkatnya mulai naik. Perlahan ia bisa menggunakan sikat dan pasta gigi tersebut. Kemudian tahu apa fungsi dan kapan dipakainya. Dan seterusnya. 

Begitu juga seharusnya dengan mereka yang secara lahir tengah berada di atas. Misalnya: seorang guru, mestinya mereka "tahu" bagaimana muridnya. Seorang Kiayi, mestinya "paham" bagaimana santrinya. Seorang bos atau pimpinan, Mestinya "ngerti" bagaimana bawahannya. Sebab mereka berada di atas yang harusnya bisa "melihat" ke bawah. 

Tahu, faham, dan mengerti ini dimulai dari belajar dan mencari informasi Sebanyak-banyaknya hingga mendapat ilmu (العلم). Kemudian ilmu itu direnungi dan dihayati hingga nongol pengetahuan, pemahaman, dan pengertian (المعرفة). Nah, di sinilah kemudian lahir perspektif.

Perspektif bisa diartikan dengan sudut pandang, bagaimana dan cara seseorang melihat sesuatu. Nah, perspektif ini tidak akan ada kalau seseorang tidak mi'roj atau menaikkan tingkat penglihatannya. Karenanya, ada yang bilang: siapapun yang punya perspektif (pengetahuan, dan pemahaman, dan pengertian), hidupnya akan tenang. Ini misal di alam syahadah. 

Sementara orang-orang yang mi'roj dan sampai ke alam malakut, tak heran bisa melihat segala yang ada di alam bawah termasuk mengetahui hal-hal gaib di dalamnya, seperti hati seseorang, karena hakikatnya ia telah berada "di samping" Allah. كان عند الله عز وجل, tulis Imam Al-Ghazali di kitab Misykatul Anwar.

Dan Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah adalah pemilik kunci-kunci alam dan hal gaib. Jadi, kenapa mereka yang sudah berhasil dan sampai ke alam malakut, bisa mengetahui apapun yang ada di alam manusia, karena Imam Al-Ghazali pun bilang dengan tegas bahwa segala yang ada di dunia ini, di alam syahadah ini, disebabkan karena adanya alam malakut. Ya, menurut Imam Al-Ghazali, alam syahadah adalah jejak (آثر) dari alam malakut. Seperti bayangan dari suatu benda. 

Dalam filsafat  neo-platonism diterangkan bahwa "alam atas" itu hakiki, sementara alam di bumi ini hanya tiruan saja. Apapun yang ada di bumi adalah cerminan dari alam ide. Ini seperti yang dikatakan Al-Ghozali: 

من كان في عالم الملكوت كان عند الله عز وجل. {و عنده مفاتيح الغيب} و من عنده تنزيل اسباب الموجودات في عالم الشهادة. و عالم الشهادة آثر من آثار ذالك العالم يجرى منه مجرى الظل بالإضافة الشخص، و مجرى الثمرة بالإضافة إلى المثمرة، والمسبب بالإضافة إلى السبب، و مفاتيح معرفة المسببات لا توجد إلا من الأسباب. ولذالك كان عالم الشهادة مثالا لعالم الملكوت

Sederhananya kira-kira seperti ini: alam syahadah adalah bayang-bayang (bayangan) dari alam malakut. Analoginya seperti sebuah rumah. 

Rumah yang tampak dan bisa dilihat oleh mata kalau dilihat lebih dalam, hakikatnya itu dibentuk oleh banyak material. Termasuk banyak orang yang terlibat dalam prosesnya. 

Kalau dilihat lebih jauh dan dalam lagi, rumah tersebut hakikatnya bermula dari ide dan desain seorang arsitektur. Jadi, bisa dibilang rumah yang (sekalipun) tampak dan bisa dilihat oleh mata, itu bermula (bayangan) dari ide dan dan desain arsitektur. 

Ide itu tak bisa dilihat. Ia bagian dari hal gaib. Karenanya, bisa dibilang rumah itu adalah bayangan, jejak, representasi dari sesuatu yang gaib bernama ide.

Begitu juga dengan dunia ini, di dunia yang tampak ini. Di balik apa yang dilihat dan tampak oleh mata, Al-Ghazali menjelaskan ada "sesuatu yang sangat amat dan teramat dalam" (غور عميق). Seperti contoh rumah tadi. Karenanya, alam syahadah ini sekadar menjadi bayang-bayang, representasi, manifestasi, jejak, hingga tiruan dari alam malakut. 

sesuatu yang terlihat sederhana, receh, dan biasa saja di mata, ternyata menyimpan sesuatu yang tak terkira banyak dalam penciptaannya. 

Dan sepertinya, ketika seseorang menggunakan "pandangan" ini untuk melihat apapun yang ada di alam syahadah, akan lebih menyukuri segala yang ada. Bahkan mungkin, tidak akan lagi meremehkan dan merendahkan makhluk yang lain.

Al-Ghozali pun bilang; siapapun yang "melihat" segala sesuatu, secara hakikat memiliki ghourun 'amiqun (غور عميق), akan terkuak dan terbuka baginya hakikat-hakikat perlambang (امثلة) dalam Al-Quran dengan mudah. 

و من اطلع على كنه عميق حقيقته، انكشف له حقائق امثلة القرآن على يسر, tulis Al-Ghozali.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 29012022



Tidak ada komentar:

Posting Komentar