Minggu, 30 Januari 2022

Lampu yang bercahaya (sirojan muniron), Api, dan Cahaya Di Atas Cahaya (Misykatul Anwar)

Seperti yang telah tertulis di catatan-catatan saya sebelumnya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada mata yang bisa melihat dirinya sendiri dan bisa melihat yang lain, dan ini lebih layak dan pantas disebut cahaya. 

Pun ada mata, selain bisa melihat dirinya sendiri dan bisa melihat yang lain, bisa juga membuat yang lain bisa melihat dirinya dan melihat yang lain. Ini pun lebih layak dan pantas lagi untuk disebut cahaya. 

Sederhananya, kira-kira begini: ada sesuatu. Ia bercahaya; mencahayai dirinya dirinya sendiri pun bisa mencahayai yang lain hingga yang lain tersebut bisa bercahaya dan mencahayai yang lain lagi. 

Al-Ghazali menyebut mereka yang begitu (bercahaya, bisa mencahayai dirinya dan mencahayai orang lain lalu membuat orang lain bercahaya dan bisa mencahayai dirinya dan orang lain) dengan sirojan muniron (سراج منيرا). 

Sirojan muniron, bisa diartikan dengan lampu yang terang yang bisa menyinari sekitarnya. Tentu saja, yang perlu dipahami bahwa ini perlambang. Semacam simbol dan metafor. Sebab, perlambang ini (sirojan muniron) seperti memancarkan cahayanya kepada yang lain. 

Mereka yang sirojan muniron ini adalah orang-orang istimewa. Dan mereka, kata al-Ghazali), yang memiliki ruh (jiwa) yang suci yang bersifat nabi (للروح القدس النبوى). Ya, mereka adalah Nabi. Sebab darinya terpancar cahaya-cahaya pengetahuan (المعرفة) kepada para makhluk (manusia). 

Dan di sinilah Al-Ghozali memberi pemahaman bahwa makna dibalik pemberian nama oleh Allah kepada Nabi Muhammad dengan Sirojan Muniron

Pun dengan nabi-nabi yang lain. Begitu juga dengan para 'ulama. Tapi, tentu saja terdapat perbedaan yang tak terhingga di antara Nabi Muhammad dan nabi yang lain, dan dengan masing-masing ulama. 

Ya, mata batin para nabi kira-kira seperti itu: bercahaya, bisa melihat dirinya, bisa melihat yang lain, bisa membuat yang lain bercahaya dan bisa membuat mereka melihat diri sendiri dan melihat yang lain. 

(Saya tertarik dengan Al-Ghazali yang menyebut bahwa yang menjadi Sirojan Muniron adalah nabi Muhammad, sementara nabi-nabi yang lain hanya sirojan saja. Termasuk para ulama sebagai pewaris para nabi pun disebut Al-Ghozali dengan sirojan.)

Perlu saya catat juga, bahwa ulama bukan hanya mereka yang identik dengan agama. Tapi, ulama juga bisa disandarkan pada mereka yang berpengetahuan. Misalnya, ketika saya tidak tahu tentang digital marketing, bisa disebut saya sedang di fase kegelapan. Tak ada cahaya. Tapi, ketika saya belajar kemudian mendapat pengetahuan tentang digital marketing. Di fase ini bisa dibilang saya sudah bercahaya. Nah, ketika pengetahuan yang saya miliki bisa membuat orang lain memiliki pengetahuan juga, maka saya bisa disebut sebagai "ulama ('alim) dalam digital marketing".  Pun dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain. 

Begitu juga setiap orang, bisa dibilang dalam keadaan gelap ketika dirinya masih di tahap tidak (belum) tahu akan sesuatu. Dirinya akan menjadi terang ketika sudah memiliki pengetahuan akan sesuatu. Di fase ini, orang tersebut bisa disebut telah bercahaya. Nah, ketika cahayanya bisa menyinari yang lain alias membuat orang lain ikut bercahaya, maka di titik inilah ia bisa disebut ulama. 

Sekilas, seperti teori manfaat. Seperti kata Kanjeng Nabi sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat kepada orang lain. Sepertinya, di titik inilah,setidaknya, setiap orang bisa menjadikan dirinya "bercahaya", yaitu dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Saya jadi ingat dengan kisah-kisah Walisongo. Pada hakikatnya mereka memberikan cahaya pada daerah yang bisa dibilang gelap. Kehadiran para wali menjadikan orang-orang (termasuk) daerah yang didatangi menjadi terang dengan cahaya hikmah dan pengetahuan.

Pun seperti: Syaikh Hasyim Asy'ari ketika datang ke Tebuireng, Mbah manab Abdul Karim di Lirboyo, dan ulama-ulama yang lain. Hakikatnya, kedatangan mereka adalah memberi cahaya pada daerah dan orang-orang yang didatangi. Hingga daerah dan orang-orang di situ pun ikut bercahaya.

Kembali ke sirojan muniron. Bahasa sederhananya bisa diartikan dengan lampu yang terang dan bisa menerangi. 

Terangnya lampu ini tentu saja ada sumbernya. Nah, perlambang yang disebut Imam Al-Ghozali untuk sumber terangnya lampu ini adalah api. 

"Lampu-lampu" (cahaya) yang ada di bumi, itu semua berasal dari "lampu-lampu" yang bersifat "tinggi", yakni "lampu-lampu" yang dimiliki oleh ruh (jiwa) yang suci yang bersifat kenabian (للروح القدس النبوى).

Di zaman dulu, ada lampu templok. Lampu templok ini perlu minyak. Begitu juga dengan perlambang "Lampu" dalam Jiwa yang suci yang bersifat kenabian ini, pun ada minyaknya. 

Minyaknya itu disebut minyak zaitun. Nah, minyak zaitun ini sendiri adalah minyak yang paling bagus. Minyak ini tanpa tersentuh api pun sudah bercahaya. Sudah terang. Dan ketika minyak yang sudah bercahaya ini tersentuh api, jadilah ia cahaya di atas cahaya. 

والروح القدس النبوي يكاد زيتها يضىء ولو لم تمسسه نار. ولكن إنما يصير نورا على نور إذا مسته النار

Kira-kira perlambang atau metafornya seperti ini. Ada sebuah lampu minyak. Lampu ini menjadi sumber cahaya bagi sekitar. Sementara sumber cahaya lampu ini sendiri adalah api.

Lampu ini ada minyaknya. Minyaknya ini sendiri sudah bercahaya walau belum tersentuh api. Nah, ketika minyak yang bercahaya ini tersentuh oleh api yang bercahaya, inilah yang disebut "cahaya di atas cahaya".

Lampu Minyak adalah perlambang dari para nabi. Lampu minyak yang menerangi (Sirojan Muniron) adalah perlambang untuk Nabi Muhammad. Dan api sebagi sumber dari lampu tersebut adalah Allah. 

Kemudian Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang jiwa (ruh) yang ada di bumi. Bahwa ruh-ruh (jiwa-jiwa) manusia yang ada di bumi ini pun, semuanya bersumber dari ruh yang bersifat ketuhanan yang bersifat tinggi (الروح الإلهية العلوية).

Ini seperti yang dikatakan Ali Bin Abi Thalib dan Imam Ibnu 'Abas bahwa: Allah memiliki malaikat. Setiap malaikat punya 70.000 kepala. Setiap kepala punya 70.000 wajah. Setiap wajah punya 70.000 mulut. Setiap mulut punya 70.000 lisan yang masing-masing selalu bertasbih (memaha-sucikan Allah) dan tidak ada kata (bahasa) lain yang keluar dari lisannya selain tasbih.

Sekali lagi, perlu dipahami, bahwa kepala, wajah, mulut, dan lisan itu perlambang. Sebab, malaikat itu murni ruh. Tidak ada jasad atau tubuh. Semua kata yang identik dengan tubuh tersebut adalah perlambang seperti manusia.

Nah, malaikat yang bertasbih tersebut adalah mereka yang akan ikut berbaris dalam satu barisan dengan ruh yang disebut pada ayat Al-Qur'an: 
"يوم يقوم الروح والملائمة صفا"

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 30012022
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar