Jumat, 21 Januari 2022

Cahaya dalam pandangan Al-khowash (Misykatul Anwar)

Ketika rahasia, makna, dan inti cahaya terletak pada ketertampakan (penampakan) dan penginderaan (mata), maka penginderaan mesti butuh pada dua hal, yaitu, adanya cahaya dan adanya mata yang bisa melihat. Berarti bisa dibilang, cahaya itu adalah sesuatu yang tampak dan menampakkan. 

Sayangnya, jika cahaya diartikan seperti itu, maka hal tersebut sepertinya tidak berlaku bagi mereka, para penyandang disabilitas berupa tuna netra. Sebab tidak ada apapun yang tampak dan menampakkan di indera mata meraka.

Karenanya, ada pendapat yang menyatakan bahwa (aktifitas) melihat itu sama dengan memahami. Ya, memahami, sama dengan melihat sesuatu. Kata al-idrooku yang digunakan dalam Misykatul Anwar diartikan tidak sebatas aktifitas inderawi berupa melihat saja, tapi diartikan juga dengan memahami. 

Kegiatan memahami ini, sangat lekat dengan mata yang tak tampak. Bukan mata lahir, tapi mata batin. Al-Ghazali menyebutnya dengan ar-ruh al-bashiroh. Jiwa yang bisa melihat (untuk memahami). Bahasa sederhananya adalah mata batin. 

Ini berarti, jika kegiatan melihat yang dilakukan indera mata (mata lahir) dengan kegiatan melihat yang dilakukan Mata batin, maka keduanya bisa dibilang memiliki kesamaan. Setidaknya dari segi kegiatan melihatnya. 

Hanya saja, mata batin tidak sekadar melihat sesuatu secara lahir (tampak) saja, tapi bisa melihat hal yang tak tampak. Misalnya, mata lahir bisa melihat orang tua saat mereka masih hidup dan bersama kita. Tapi ketika mereka sudah meninggal, maka mata lahir ini tidak bisa lagi melihatnya. Tapi, mata batin tetap bisa melihatnya. Bahkan, Meskipun orang tua kita telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Tidak hanya melihat hal yang tak tampak, mata batin pun bisa digunakan untuk memahami sesuatu. Misalnya, mata lahir kita bisa melihat tulisan 1+1=2. Tapi, ketika tulisan itu dihapus, mata lahir ini tidak bisa lagi melihatnya. Nah, di sinilah mata batin bekerja. Ia tetap bisa melihat dan lebih jauh memahami bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. 

Misalnya lagi, dengan mata lahir kita bisa melihat seseorang yang menangis. Tapi, dengan mata batin kita bisa melihat hal-hal yang membuat seseorang tersebut menangis. Apakah karena sedih atau terlalu bahagia. Dan seterusnya. Melihat kesedihan atau kebahagiaan sebagai penyebab ini, hanya bisa dilakukan oleh mata batin. Sebab ini terkait memahami sesuatu. 

Imam Al-Ghazali menulis: 

و أما النور فليس بمدرك ولا به الإدراك، بل عنده الإدراك فإنه مدرك به لا مدرك، فهو مفعول لا فاعل، فكان اسم النور بالروح /بالنور الباصر أحق منه بالنور المبصر عنده

Makanya, mata batin (ar-ruh al-bashiroh) ini lebih pantas untuk hal yang relatif (Amrun idhofiyyun) terkait mata (kegiatan melihat) dan segala sesuatu yang tampak dan menampakkan, alias cahaya ini.

Di samping itu, mata lahir memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan. Al-Ghozali menyontohkan dengan menyebut mata kelelawar, mata manusia yang mengalami kerabunan, termasuk para tuna netra. 

Nah, kalau cahaya hanya dilekatkan dan hanya bisa dilihat dengan mata lahir, maka mereka yang kekurangan (dari segi lahiriah) tersebut, akan kesulitan menikmati dan mendapat nikmat dan Rahmat Allah berupa cahaya ini. Karenanya, Al-Ghozali menyatakan bahwa segala yang tampak dan menampakkan (cahaya) ini masih bisa dilihat dengan mata batin.

Imam Al-Ghazali lebih jauh menjelaskan (bahkan mensupport), meski telah hilang cahaya penglihatan bagi para tuna netra, alias gelap. Tapi, dibalik kegelapan (lahir) itu tersimpan hikmah ketuhanan (Al-Hikmah al-ilahiyyah).

Al-Ghozali melambangkan hilangnya pengelihatan tersebut dengan warna hitam. Bukankah gelap biasa diidentikkan dengan warna hitam?

Nah, warna hitam tersebut, justeru kata Imam Al-Ghazali, memiliki kemampuan untuk mengumpulkan cahaya-cahaya penglihatan dan menguatkannya. Saya jadi ingat mereka yang bilang agar jangan pakai baju warna hitam di bawah terik matahari, karena katanya akan bikin badan semakin panas, sebab warna hitam menyimpan lebih banyak panas matahari.

Al-Ghozali menyebut (untuk memberi contoh) tentang pupil pada mata manusia yang berwarna hitam (al-ajfan). Sesuatu yang hitam ini (pupil) dikelilingi bagian mata yang berwarna putih, untuk memperkuat kinerja mata (untuk melihat).

Sementara, warna putih (bagian putih pada mata), justeru malah melemahkan fungsi mata, melemahkan cahaya-cahaya yang tampak dan menampakkan diri pada mata. 

Analoginya kira-kira seperti ini: saat berkendara, di malam hari, saat ada sinar lampu kendaraan dari arah depan, biasanya mata akan menangkap cahaya putih. Dan itu menyilaukan. Karena silau, justeru kemampuan melihat kita semakin berkurang. 

Ah, saya jadi ingat juga tentang nasihat; ketika ingin melihat sesuatu secara jernih, maka pejamkan mata. Meski secaravlahir semua akan tampak gelap dan Hitam, hakekatnya justeru banyak cahaya dan gambar yang tampak serta menampakkan diri pada kita saat terpejam. 

Ya, kita tidak bisa melihat apapun jika yang tampak dan menampakkan tersebut silau. Apapun yang menyilaukan, sepertinya memang akan melemahkan penglihatan (pemahaman) kita, bukan?

Nah, Ar-ruh al-bashori,  mata batin, jiwa yang bisa melihat (memahami) hal-hal yang tampak dan menampakkan (cahaya) ini adalah pandangan dari mereka, yang disebut Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar dengan Al-khowash.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan tertentu. Bisa ilmuan, saintis, ustadz, atau siapapun yang bukan awam. Ya, menurut pandangan orang-orang Al-khowash, melihat adalah memahami. 

Allahu a'lam bisshowab.

Sawangan Baru, 22012022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar