Senin, 24 Januari 2022

Tanpa Akal, Manusia adalah Ciptaan (makhluk) Paling Rendah. (Misykatul Anwar)

Sekuat apapun fisik dan badan manusia, pasti ada batas dan punya sisi lemahnya. Termasuk mata. 

Al-Ghazali menjelaskan kelemahan ketiga dari mata (secara lahir dan fisik) manusia adalah tidak bisa melihat segala sesuatu di balik hijab, sesuatu yang ditutupi atau tertutup. 

Berbeda dengan akal yang bisa disebut juga dengan mata (secara batiniah) bisa Melihat hal-hal yang tak tampak (tertutup) tersebut.

Malah, al-Ghazali bilang bahwa akal bisa menelusuri (melihat) 'arys, kursi (Allah), dan segala sesuatu dibalik tabir-tabir yang ada di langit. Seperti, alam malakut yang luhur. Semua yang tertutup alias hal-hal batiniah tersebut tidak berlaku bagi akal. Asal akal tetap terbuka. 

Saya seperti melihat payung. Payung itu akan bekerja, melindungi seseorang dari basahnya air hujan jika payung tersebut terbuka dan mengembang. Pun seperti parasut yang dipakai para atlit terjun payung atau mereka yang ingin merasakan sensasi adrenali terjun dari ketinggian. Parasut akan bekerja jika ia terbuka dan mengembang. 

Semua tabir yang menutup penglihatan inderawi secara lahiriah, tidak berlaku untuk penglihatan mata manusia yang bernama akal. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa yang bisa menutup akal adalah akal itu sendiri. 

Sama seperti sesuatu yang menutupi mata (lahiriah) saat terpejam, atau ada sesuatu yang menutupinya. Nah, akal hanya bisa tertutup oleh dirinya sendiri, yaitu tidak mau "melihat" alias tidak mau belajar. 

Kemudian, kelemahan keempat dari mata secara fisik adalah hanya bisa melihat segala sesuatu secara zohir, lahiriahnya saja, permukaannya saja, bentuk luarnya saja, dan gambar luarannya saja. 

Sementara akal bisa tajam menghujam ke dalam ranah batin dan rahasia-rahasia dari segala sesuatu. Hingga akal bisa mengetahui hakekat dan ruh segala sesuatu tersebut. 

Mata manusia yang berupa akal ini bisa menginduksi (membuat kesimpulan) tentang sebab musabab, landasan-landasan, tujuan-tujuan, dan hikmah dari sesuatu tersebut: dari apa diciptakan, bagaimana diciptakan, hingga kenapa diciptakan.

Misalnya, ketika saya tahu saya sedang sedih. Akal ini bisa melihat apa saja yang menyebabkan saya sedih. Kenapa saya bisa sedih. Bagaimana dan buat apa saya sedih. Dan hal-hal lain yang bisa dilihat dari sedih. Setelah melihat, mengetahui, dan memahami semua hal tersebut, saya bisa membuat kesimpulan dan induksi (istinbath) dari sesuatu yang bernama sedih. Kemudian saya bisa memilih sikap apa yang diperlukan untuk sedih ini.

Ah, saya ingat dalam filsafat Islam ada teori istinbath dan istidlal. Istinbath serupa dengan induksi. Yaitu, mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menemukan hukum (saya menyebutnya hikmah, atau pelajaran). Contohnya seperti sedih tadi. Akal digunakan untuk melihat apa saja penyebab sedih, bagaimana semua itu membentuk sedih, lalu kenapa mesti ada sedih, dan seterusnya.

Sementara istidlal seperti deduksi, yang bisa dibilang menarik kesimpulan dari keadaan-keadaan umum yang terjadi. Misalnya, ada seseorang yang bilang dadanya sesak, hatinya sakit, kemudian dia menangis. Nah, bisa dideduksikan bahwa ia tengah sedih. Dan seterusnya. 

Al-Ghazali menyebut bahwa akal bisa membuat istinbath karena akal bisa mengumpulkan makna (artiz hikmah, pelajaran) dari segala sesuatu lalu menyusunnya menjadi suatu pengetahuan dan hikmah. Pun bisa menghubungkannya dengan ilmu ontologis. Ya, ilmu yang terkait dengan ada dan keberadaan. (wujud dan maujud).

Dalam filsafat Islam ada sesuatu yang disebut dengan martabat ada dan keberadaan (martabat al-wujud). Teori ini terkait dengan hirarki atau tingkatan segala sesuatu. 

Kalau terkait makhluk (ciptaan), martabat tertinggi adalah segala sesuatu yang murni ruh. Contohnya malaikat. Kemudian di bawahnya, ada makhluk yang punya ruh tapi punya akal dan punya nafsu. Contohnya manusia. Di bawah manusia ada hewan. Yaitu makhluk yang punya ruh, punya nafsu, tapi tidak punya akal. Di bawahnya lagi, ada makhluk yang yang hidup, tapi tidak punya akal dan tidak punya nafsu. Contohnya tumbuhan. Dan tingkatan paling bawah adalah segala sesuatu yang tidak hidup sama sekali. Contohnya adalah benda-benda seperti meja, bangku, batu, dan lain sebagainya. 

Akal pada manusia bisa melihat lalu menentukan segala sesuatu yang ada masuk pada tingkatan alias martabat yang mana. Mata secara fisik, tentu tidak bisa melakukan hal ini, bukan?

Hal kelima yang bisa dilakukan akal dan tidak bisa dilakukan mata secara fisik adalah segala sesuatu yang terkait dengan al-mahsusat dan al-ma'quulat. Keduanya adalah bagian dari al-maujudat.

 Al-mahsusat adalah segala sesuatu yang bisa "dinderai". Dan ini lengeket dengan segala sesuatu yang lahiriah, yang zohir. Dan al-ma'quulat terkait dengan segala sesuatu yang tidak bisa "diinderai" dan hanya bisa dinalar. 

Contohnya: suara. Walau indera pendengaran bisa mendengarnya, tapi Indera mata tidak bisa melihat suara. Sementara akal bisa melihatnya. Misalnya, saya bisa tahu suara gitar yang dimainkan seseorang, menggunakan arpegio, minor, mayor, atau nada-nada lain dalam irama musik. 

Misal yang lain, saya bisa tahu bahwa ini suara Gusmus, suara Gusdur, dan suara yang lain, walau mata fisik saya tidak bisa melihatnya. Ya, saya bisa melihat bahwa yang berbicara adalah Umi atau orang yang saya sayang walau mata fisik saya tak melihat wujudnya, tak melihat mereka tengah bicara. 

Selain suara, akal pun bisa melihat bebauan, rasa, panas, dingin, dan lain sebagainya. Termasuk bisa melihat kekuatan dari inder penglihatan, indera pendengaran, pencecap, peraba, hingga indera perasa, dan lain sebagainya.


Selain itu, akal pun bisa melihat hal-hal batin dalam jiwa manusia, seperti kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan, kesedihan, keterpurukan, sakit, kesakitan, kelezatan, kenikmatan, syahwat, keinginan, kemampuan, kehendak, dan lain sebagainya yang tidak bisa dihitung. 

Mata manusia secara fisik, sungguh, memiliki ruang dan keleluasaan yang terbatas dan sempit. Mata fisik, hakekatnya bisa melihat segala sesuatu hanya pada warna dan bentuk saja. Dan menurut Imam Al-Ghazali, hal ini adalah bentuk paling rendah dari al-maujudat atau segala sesuatu yang ada. 

Pun dengan badan dan jasmani yang merupakan bagian dari al-maujudat. Hingga tak salah, jika badan dan fisik manusia, sekuat-kuatnya, sehebat-hebatnya, tetap saja berada di tingkat paling bawah dan rendah. Jadi, bisa dibilang sesuatu yang bisa membuat manusia bisa berada di tingkat paling tinggi adalah akal. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 24012022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar