Selasa, 01 Maret 2022

Tingkatan Ruh pada Manusia yang Bersifat Cahaya untuk Mengetahui Sesuatu. (Misyaktul Anwar)

Imam Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar menerangkan bahwa ada lima tingkatan ruh yang bersifat cahaya pada diri manusia. Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya, kebodohan itu bisa dibilang sebagai kegelapan. Nah, sebaliknya, kemampuan manusia mengetahui sesuatu bisa disebut dengan cahaya. Cahaya tersebut adalah cahaya yang bersifat Ruhani, disebut juga mata batin, jiwa, dll. Semua pengetahuan (cahaya) itu, kata Imam Al-Ghazali bersumber dan berasal dari alam malakut. Yang ujung-ujungnya bersumber dari Allah.

Tingkat pertama menurut Imam Al-Ghazali adalah ruh inderawi (الروح الحساس). Ruh ini adalah ruh yang berkaitan dengan eksplorasi indera yang lima akan sesuatu. 

Ruh ini pun bisa dibilang ruh yang bersifat kehewanan atau kebinatangan. Karena ruh ini pun ada pada setiap binatang. Sementara untuk manusia, ruh ini terjadi dan berlaku untuk anak-anak bayi yang masih menyusu. Sederhananya, ruh ini bisa dibilang sebagai insting kehewananan yang paling dasar, yaitu bertahan hidup dengan butuh akan makanan. Seperti bayi yang baru lahir butuh asupan makanan lewat ASI. 

Tingkat kedua adalah ruh yang bersifat memori (الروح الخيالى). Ruh khoyali ini adalah kemampuan makhluk untuk menyimpan di dalam dirinya apa-apa yang telah dieksplorasi oleh inderanya. 

Ruh khoyali ini mulai ada pada anak-anak yang mulai tumbuh. Di dalam dirinya mulai muncul keinginan dan hasrat yang kuat untuk mengetahui dan mengambil sesuatu. 

Contohnya, ketika anak-anak yang masih menyusu tadi ketika mengindera sesuatu, melihat sesuatu misalnya, sesuatu yang dilihat tersebut tidak ada lagi di matanya, ia akan lupa sesuatu tersebut. Tapi ketika anak itu mulai tumbuh, dan mulai tidak menyusu lagi, di dalam dirinya mulai muncul ingatan akan sesuatu yang diinderanya. Ketika sesuatu tersebut tidak ada di mata atau di indera lainnya, ia mulai menangis meminta sesuatu tersebut. Misalnya, ketika lapar, ia akan meminta asupan makanan. Ketika ingin perhatian, ia mulai menangis. Dan sebagainya. Kenapa seperti itu, karena sesuatu tersebut mulai tersimpan dalam memorinya (ruh khoyalinya). 

Ruh ini pun bisa ditemukan dan ada pada sebagian hewan. Al-Ghozali memberi contoh laron dan anjing. Ruh khoyali ini tidak ada pada laron, sementara anjing memilikinya. Kenapa? Sebab gerombolan laron pada malam hari biasanya akan terbang berhamburan menuju api (lampu atau sesuatu yang bercahaya) karena laron-laron tersebut sangat menyukai dengan terangnya cahaya siang. 

Laron-laron tersebut menyangka bahwa lampu (cahaya) seperti lubang yang terbuka bagi mereka. Hinga laron-laron ini bisa dibilang menjatuhkan dan menyerahkan dirinya (nyawanya) pada api (yang sebenarnya panas). Laron-laron tersebut seakan menyakiti diri sendiri. Dan mereka akan tetap mendekati api, walaupun hal tersebut menyakiti bahkan bisa membuatnya mati. Hal ini terjadi, karena laron-laron tersebut tidak memiliki ruh al-khoyali yang bisa menyimpan memori atau pengetahuan akan hal yang bisa menyebabkan sakit dan kematian tersebut. 

Sementara anjing, ketika misalnya dipukul sekali dengan kayu atau ranting. Di lain waktu, ketika anjing itu melihat kayu atau ranting atau sesuatu yang mirip dengan sesuatu yang bisa menyakitinya, ia akan lari. Karena menurut Al-Ghazali, anjing punya ruh al-khoyali. 

Tingkat ketiga adalah ruh yang bersifat akal (الروح العقلي). Ruh 'aqli ini adalah ruh yang bisa mengetahui dan menangkap makna-makna yang keluar dari ruh hissi dan khoyali. Maksudnya, ruh hissi hanya bisa mengindera. Kemudian ruh khoyali hanya menyimpan memori dari yang diindera oleh ruh hissi. Ruh 'aqli ini kemampuannya lebih jauh lagi. 

Bisa dibilang ruh 'aqli ini adalah substansi yang khusus untuk manusia الجوهر الإنس) الخاص). Ruh ini tidak ada pada hewan dan anak-anak. Objek-objek pengetahuan ruh 'aqli adalah pengetahuan-pengetahuan yang bersifat general dan bersifat dhoruri (المعارف الكلية الضرورية). 

Pengetahuan al-kuliyyatu adalah pengetahuan yang bersifat umum. Misalnya, pengetahuan tentang binatang. Bahwa anjing, kucing, ayam, burung, dan macam, adalah binatang, misalnya. Pun misalnya pengetahuan umum tentang manusia. Bahwa Umar, Usman, Ali, Ahmad, Paijo, Parjo, Burjo, dan Patmo adalah manusia. 

Sementara pengetahuan dhoruri adalah pengetahuan yang bisa diketahui tanpa harus belajar terlebih dahulu. Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas. Ketika tidak makan dan minum, akan lapar dan haus. Dan sebagainya. 

Pengetahuan al-kuliyyatu ad-dhoruriyatu inilah yang kemudian akan menghasilkan konsep-konsep pengetahuan dan teori-teori pengetahuan akan sesuatu. 

Tingkat keempat adalah ruh yang bersifat berfikir (الروح الفكرى). Ruh ini adalah ruh yang mengambil pengetahuan-pengetahuan yang bersifat akal yang murni (المعارف العقلية المحضة). Maksudnya, pengetahuan-pengetahuan yang bersifat akal, mental, dan intelektual. 

Ruh al-fikri ini bekerja dengan menggabungkan dan mengkombinasikan dua hal atau lebih dari pengetahuan akal yang murni. Ini seperti silogisme. Misalnya; Manusia adalah hewan yang bisa berpikir (ini pengetahuan akal yang murni yang pertama). Kemudian, Umar adalah manusia (ini pengetahuan akan yang murni yang kedua). Nah, ruh al-fikri berkemampuan untuk menggabungkan keduanya hingga bisa mendapat satu kesimpulan (menyimpulkan). Kesimpulan yang kata Imam al-Ghazali adalah kesimpulan yang darinya lahir pengetahuan-pengetahuan yang mulia (معارف شريفة). 

Kemudian, ruh al-fikri ini pun bisa menyimpulkan dari dua kesimpulan. kesimpulan yang satu digabung kembali dengan kesimpulan yang lain, hingga melahirkan kesimpulan yang baru. Dan kesimpulan-kesimpulan itu tak terbatas, akan terus bertambah. 

Mengenai hal ini, dalam ilmu manthiq ada dua konsep dasar yang penting. Yakni apa yang disebut dengan tashowwur (تصور) dan tashdiq (تصديق). Tashowwur adalah pengetahuan yang bersifat tunggal. Nah, tashdiq menyusun dua tashowwur tersebut dalam satu hal atau dalam satu kalimat. Sekali lagi Ini seperti silogisme. Ada premis mayor dan ada premis minor. Dalam ilmu manthiq, premis ini disebut dengan qodhiyyah (قضية).

Kemudian tingkat kelima ruh manusia yang bersifat cahaya adalah apa yang disebut Imam Al-Ghozali dengan ruh suci yang bersifat kenabian (الروح القدسى النبوى). 

Ruh ini dikhususkan hanya kepada para nabi dan sebagian dari para wali. Pada ruh Qudsi an-nabawi ini kilatan-kilatan alam gaib, hukum-hukum akhirat, pengetahuan-pengetahuan yang ada di alam malakut, di  langit dan di bumi, serta pengetahuan-pengetahuan yang bersifat ketuhanan akan jelas. Semua pengetahuan itu akan tempak dengan jelas dan terang di ruh Qudsi an-nabawi. Sementara semua pengetahuan tersebut tidak akan sanggup untuk dijangkau oleh ruh 'aqli dan ruh al-fikri. 

Dan hal tersebut telah diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur'an. Yaitu ayat yang berbunyi: 

وكذالك أوحينا اليك روحا من امرنا ماكنت تدرى ما الكتاب ولا الإيمان و لكن جعلناه نورا نهدي به من نشاء من عبادنا و إنك لتهدى إلى صراط مستقيم

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 02032022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar