Selasa, 08 Februari 2022

Arbabu Al-Bashoir: As-Shiddiqun dan Ulama Al-Rosikhun. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali memberikan gambaran lebih sederhana tentang segala sesuatu yang ada (bercahaya) di langit dan bumi (secara lahir) hakikatnya adalah Cahaya (Allah). 

Misalnya ketika seseorang jalan-jalan ke suatu tempat yang terdapat pemandangan alam yang indah. Ada pegunungan, air terjun, pepohonan, dan lain sebagainya. 

Semua pemandangan itu, bagi mata lahiriah, adalah hal yang ada. Karena tampak. Terlebih jika melihatnya di siang hari. Siapapun bisa melihat warna-warna hijau pepohonan. 

Saat seseorang melihat semua penampakan, ketertampakan, dan pemandangan tersebut, yang dilihat hanya yang tampak saja. Seperti hijaunya pepohonan, birunya langit, dan lain sebagainya. 

Nah, mereka yang melihat pemandangan tersebut akan mengira bahwa yang dilihat hanyalah apa yang dilihat tadi: hijaunya pepohonan, dll. 

Tapi, hakikatnya, semua yang tampak dan bisa dilihat itu (hijaunya pepohonan, dll) itu karena adanya cahaya. Hijaunya pepohonan bisa ada dan terlihat bukan karena dirinya sendiri, tapi karena ada cahaya yang membuatnya terlihat, tampak, dan bisa dilihat. 

Orang-orang yang hanya melihat secara materialistis seperti ini, akan tidak sadar adanya cahaya. Bahkan, mungkin akan mengingkari adanya "makna" cahaya bagi yang ada dan tampak tersebut. 

Ya makna. Makna itu sesuatu yang tak terlihat, tak tampak, tapi ada di sesuatu yang tampak. 

Misalnya angka 1. Ini adalah makna atau tidak terlihat. Sementara "1" adalah simbol atau representasi yang menunjukkan angka satu. 

Begitu juga dengan kata-kata, hingga kalimat. Semuanya hanyalah simbol dari "sesuatu" atau "pesan" atau "pengertian" dari yang ingin disampaikan atau dikatakan.

Malah, lebih jauh, huruf ABCDEFG dan seterusnya adalah simbol dari sesuatu yang disebut dengan "makna". 

Makna ini tidak terlihat. Tapi ada. Bahkan membuat segala sesuatu jadi ada dan bisa terlihat. Karenanya, perlu dibedakan antara simbol dan makna.

Termasuk hijaunya pepohonan, pemandangan yang dilihat mata lahir seseorang, semuanya hanyalah simbol dan representasi dari Cahaya. Cahaya yang menampakkan dan membuat segala sesuatu menjadi ada dan tampak. 

Ada kaidah dan hukum yang menarik yang disampaikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar.

Pertama, kenapa saat melihat pemandangan, yang terlihat oleh mata lahir, adalah hijaunya pepohonan, birunya langit, rerumputan, bebatuan, dan sungai, tapi justeru Cahaya yang membuat semua itu tampak malah seakan-akan tidak terlihat.

Ini seperti peribahasa: gajah di pelupuk mata, tak tampak. Semut di seberang, malah terlihat. 

Ini seperti tipuan mental atau tipuan akal. Seringkali orang tidak sadar ada sesuatu yang sangat besar di hadapannya. Kadang yang tampak malah tidak tampak. Dan yang tidak tampak tampak. 

Ya, kira-kira seperti itu kaidahnya. Terkadang, sesuatu yang sangat besar dan ada di dekat mata, malah menjadi tidak terlihat. 

Begitu juga dengan Cahaya yang membuat segala sesuatu menjadi tampak dan terlihat. Terkadang, Cahaya yang terlalu terang malah membuat silau dan membuatnya malah tak tampak.  

Al-Ghazali menyatakan sesuatu yang terlalu tampak, justeru seringkali menyebabkannya jadi tersembunyi dan tak terlihat. Kemudian, segala sesuatu yang melewati batas justeru terbalik dan malah menjadi kebalikannya.

Sederhananya: pertama, sesuatu yang sangat dan terlalu terang, justeru seringkali menyilaukan. Kedua, sesuatu yang terlalu tampak (terlalu menonjol) justeru seringkali malah jadi tidak tampak. Ketiga, sesuatu yang melewati batas justeru akan menjadi kebalikannya sesuatu tersebut. 

Begitu kira-kira gambaran yang lebih sederhana dari Al-Ghozali tentang Cahaya (Allah) yang Ada di setiap yang ada di bumi dan langit lahiriah ini.

Ah, keisengan saya kambuh. Membaca kita Misykatul Anwar di bagian ini, seakan menyentil kesadaran saya yang tertidur. Seringkali, segala sesuatu yang besar pengaruhnya, besar perannya, besar fungsinya justeru berada sangat dekat dengan diri ini. Sayangnya, seringkali pula saya tidak sadar akan hal tersebut. Terlebih ada bekal luar biasa istimewa yang diberikan Allah yaitu berupa an-nafsu an-natiqoh dalm diri ini. 

Pun seperti menyadarkan saya, bahwa segala sesuatu yang menyilaukan seringkali malah membuat saya tak bisa melihatnya dengan jelas. Apapun halnyang menyilaukan, terlebih hal yang terkait materialis dunia lahir, sepertinya malah akan membuat cahaya yang hakiki makin tak terlihat dan makin tak tampak. 

Kemudian Al-Ghazali menyatakan bahwa ada orang-orang yang disebut Arbabu Al-Bashoir. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman mata batin. 

Orang-orang yang masuk Arbabu Al-Bashoir, ada yang melihat segala sesuatu dan langsung melihat Allah bersama sesuatu tersebut. Ada pula yang tidak melihat apapun (di dunia lahir ini) kecuali melihat Allah sebelum melihat segala sesuatu.

Saya jadi teringat perempuan bernama Annamarie Schimmel yang di batu nisannya tertulis sebuah hadits: "an-naasu niyaamun, faidzaa maata, intabahuu". Ia pernah menyatakan bahwa ada citra Tuhan di dalam sesuatu, di segala sesuatu ada citraan Tuhan.

Al-Ghazali mempertegas kembali tentang Arbabu Al-Bashoir. Ada yang melihat Allah setelah melihat sesuatu. Dan ada yang tidak bisa melihat sesuatu kalau tidak melihat Allah lebih dulu.

Arbabu Al-Bashoir yang pertama yang melihat Allah setelah melihat sesuatu ini seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah: 

أولم يكف بربك أنه على كل شيء شهيد

Sementara Arbabu Al-Bashoir yang kedua, diisyaratkan dalam firman Allah:

سنريهم آياتنا فى الافاق

Pandangan Al-Ghazali ini seperti makna Ihsan yang populer dalam sebuah hadits. Kira-kira makna Ihsan itu: beribadahlah seakan-akan kita melihat Allah. Kalaupun tidak bisa (melihat Allah), Allah yang melihat kita. 

Lalu Al-Ghazali menegaskan bahwa Arbabu Al-Bashoir yang pertama adalah mereka yang melakukan musyahadah. Yang melihat Allah dengan dzauq mereka. Yang langsung merasakan dan mengalami. 

Sementara yang kedua adalah mereka yang menggunakan istidlal. Menggunakan penalaran mereka yang kuat. 

Arbabu Al-Bashoir yang musyahadah, melihat Allah lalu melihat sesuatu (up down), sementara Arbabu Al-Bashoir yang istidlal, melihat sesuatu baru kemudian melihat Allah (buttom up). 

Arbabu Al-Bashoir yang musyahadah adalah derajat dan maqomnya para As-Shiddiqun. Sementara yang istidlal adalah derajat dan maqomnya para ulama  al-Rosyikhun.

As-Shiddiqun dan Ulama  al-Rosyikhun, keduanya, Kata Imam Al-Ghazali adalah orang-orang yang sampai ke Maqom Al-fardaniyah lalu Al-wahdaniyah.



Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 08022022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar