Dan hal yang demikian itu disebut dengan "i'tibar" (الإعتبار). kata ini, terdapat beberapa kali dalam Al-Quran. Misalnya: "fa'tabiruu ya uulil abshoor". Nah, I'tibar secara bahasa berasal dari kata 'abaro-ya'buru-'ubuuron yang berarti melampaui atau melewati. Maksudnya, ketika memahami sesuatu tidak pemahaman secara lahir saja, tidak secara makna lahir saja, tapi melampaui dan melewatinya hingga sampai ke makna batin.
I'tibar, lebih sederhananya bisa diartikan dengan mengambil "'ibroh" atau pelajaran dari sesuatu. Nah, pelajaran tersebut tidak sekadar pelajaran lahiriah tapi juga pelajaran batiniah. Tidak sekadar melihat dengan mata lahir saja, tapi juga melihat dengan mata batin. I'tibar dalam bahasa Inggris itu seperti "go beyond", melampaui makna lahir.
Perbedaan makna lahir dan batin tersebut, kemudian dicontohkan oleh Imam Al-Ghozali tentang pandangan orang-orang akan hadits nabi yang berbunyi:
لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب أو صورة
Sebagian orang memaknai hadits tersebut dengan pandangan bahwa yang dimaksud bukanlah memlihara anjing secara lahir atau fisik. Tapi, mengosongkan rumah hati dari marah yang diperlambangkan dengan anjing. Ya, sebagian orang memaknai hadits tersebut dengan menghilangkan sifat marah dalam hati. Marah yang diperlambangkan dengan anjing. Karena sifat marah mencegah pengetahuan (ma'rifat) yang merupakan bagian dari cahaya-cahaya malaikat.
Ya, bagi mereka, marah adalah "ghoulul 'aqli". Ghoulun secara harfiah berarti genderuwo-nya akal sehat. Tapi yang dimaksud adalah sesuatu yang menutupi kemampuan akal. Seperti orang-orang yang ketakutan saat melihat sesuatu yang seram, kemampuan akalnya saat ketakutan tersebut menjadi terhalang. Begitupun dengan marah dalam hati, yang menutup dan menghalangi pengetahuan masuk kebdalam diri seseorang.
Selain itu, anjing di hadits tersebut dimaknai bukan anjing secara lahir tapi dimaknai sebagai: keliaran, kebuasan, dan sikap agresif. Karenanya, bagi mereka, menjaga rumah (secara lahir) tempat tinggal manusia dan badan dari anjing saja kewajiban, lebih-lebih menjaga rumah hati yang merupakan tempat "Jauhar", substansi yang bersifat hakikat dan khusus, menjadi sesuatu yang lebih utama.
Imam, Al-Ghozali mengajarkan agar melihat sesuatu, memaknai sesuatu, mengambil "i'tibar" dari sesuatu, itu dengan keduanya, yakni dengan makna lahir dan makna batin. Dan itulah "penglihatan" dan "pemahaman" yang sempurna. Seperti ungkapan para ahli hakikat dan ma'rifat:
"الكامل من لا يطفئ نور معرفته نور ورعه"
Manusia yang sempurna adalah manusia yang cahaya pengetahuannya (ma'rifatnya) tidak memadamkan cahaya waro'-nya. Waro', secara sederhana bisa diartikan dengan menjauhi segala hal yang haram dan subhat. Ini berarti, manusia yang sempurna adalah manusia yang cahaya ma'rifatnya tidak membuat cahaya aksinya, cahaya Amaliah syariahnya hilang. Sederhananya, meski telah sampai di Maqom hakikat, ia tidak meninggalkan syari'at.
Karenanya, Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar menegaskan; orang-orang yang sempurna (al-kamil) tidak membiarkan dirinya meninggalkan aturan-aturan syariat dengan kesempurnaan mata batinnya (bashiroh-nya).
Sebab, kata Imam Al-Ghozali, ada sebagian orang yang salik (menuju hakikat dan ma'rifat) tergelincir dengan sikap permisif. Yakni, dengan menghilangkan hukum-hukum lahir dan zhohir. Misalnya dengan meninggalkan sholat. Ya, ada sebagian dari para salik yang tergelincir dengan meninggalkan sholat secara lahirz zhohir, dan syaria'at. Karena bagi mereka, mereka tetap sholat dengan batinnya. Bagi imam Al-Ghozali ini adalah kekeliruan.
Malah, Imam Al-Ghozali menyebut mereka yang seperti i itu dengan "al-hamqo" (الحمقى) alias orang-orang yang bebal (bodoh). Sebab, mereka berpendapat bahwa:
إن الله غني عن عملنا
Ya, mereka bilang bahwa Allah tidak butuh Amaliah dan peke jaan syari'at kita. Hingga mereka lebih mengutamakan ibadah secara batin. Sekali lagi, bagi Al-Ghozali hal ini adalah bullshit "turhaatuun" alias omongan yang tak berguna.
Sebaliknya, ada lagi orang-orang yang mengatakan bahwa batin manusia dipenuhi dengan hal-hal Bu UK dan sifat-sifat jelek. Karenanya tidak mungkin membersihkannya, tidak mungkin menyucikannya, tidak mungkin ada harapan untuk menghilangkan semua hal buruk tersebut dari batin manusia. Seperti tidak mungkinnya menghilangkan marah dan syahwat dalam diri seseorang. Al-Ghozali menegaskan bahwa hal tersebut adalah kebodohan dan kekeliruan.
Imam Al-Ghozali pun akhirnya mengingatkan bahwa marah dan syahwat manusia itu seperti mengendalikan kuda. Dan setan menggodanya hingga kuda tersebut tidak bisa dikendalikan hingga orang tersebut tertipu.
Perlu dicatat, di kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghozali menyebut bahwa marah dan syahwat bisa menjadi energi bagi kehidupan seseorang. Tapi, marah dan syahwat yang bisa dikendalikan. Hal ini pulalah yang membuat Allah memerintahkan kepada para malaikat agar "sujud" dan menghormati manusia. Sebab, manusia selain punya ruh, juga punya fisik, dan di dalam diri manusia ada marah dan syahwat yang jika bisa dikendalikan oleh manusia yang bersangkutan, justeru akan menjadi energi dahsyat. Energi yang bisa membangun dan menjadikan peradaban tak biasa. Di titik inilah setan iri pada manusia. Setan ingin manusia tidak bisa mengendalikan marah dan syahwatnya. Ya, sekali lagi, marah dan syahwat yang dikendalikan bisa menjadi kekuatan manusia yang tak terkira.
Kembali pada pembahasan "mencopot sandal". Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa memaknai mencopot sandal secara lahir adalah benar (haq) dan memaknainya hingga sampai pada makna batin adalah hakikat.
لكل حق حقيقة "Di setiap hak ada hakikat," tegas Al-Ghozali. Di setiap kebenaran terdapat hakikat.
Orang-orang yang sampai pada pengetahuan seperti itu, dikatakan Al-Ghozali adalah orang-orang yang sampai pada derajat "al-zujajah" (الزجاجة) alias derajatnya kaca (untuk lampu templok).
Al-Ghozali kembali mengingatkan tentang "al-khoyal" pada diri manusia. Kemampuan yang bisa menyimpan segala hal yang telah diindera manusia. Sederhananya, kemampuan memori manusia.
Al-khoyal kata imam Al-Ghozali itu seperti sesuatu yang berasal dari tanah lempung. Sifatnya padat/pejal dan tebal (tidak transfaran). Karenanya, sifatnya itu membuat rahasia-rahasia batin terhalang dan tertutup antara manusia dan cahaya-cahaya. Ya, bisa dibilang, salah satu yang menghalangi seseorang mengoptimalkan kemampuan mata batinnya adalah karena sikap keras dan tebalnya "al-khoyal" pada dirinya.
Ketika "khoyal" tersebut bersih seperti kaca yang transfaran maka cahaya-cahaya malaikat, pengetahuan yang merupakan cahaya-cahaya malaikat, bisa terlihat. Tapi, ada pula yang malah seseorang tidak memiliki kaca tersebut. Yaitu, orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari sisi batinnya saja.
Sederhananya, kira-kira seperti ini: orang-orang yang telah sampai ke Maqom hakikat, perlambangnya seperti kaca (untuk lampu templok). Orang-orang mesti membersihkan segala sesuatu di "khoyal"nya agar cahaya itu bisa terlihat. Pun orang-orang yang telah sampai, mesti punya kaca tersebut agar api di lampu templok tersebut tidak mudah padam.
Penjelasan lainnya: orang-orang yang hanya melihat syariat, itu seperti lampu templok. Ada apinya, tapi kaca yang menutupi api tersebut kotor, hingga cahayanya malah jadi tak terlihat. Sementara orang-orang hanya melihat hakikat, sisi batin (kebatinan) saja, seperti api pada lampu templok yang tidak ada kacanya.
Imam Al-Ghozali mengingatkan dan menerangkan, bahwa alam khoyal yang tebal (tidak transfaran) tersebut, dalam konteks para nabi adalah "kaca" (الزجاجة), dan ceruk tempat menaruh cahaya lampu templok (مشكاة الأنوار) dan tempat membersihkan (menyuling, memfilter) rahasia-rahasia batin (مصفاة الاسرار), dan tangga menuju alam malakut (مؤقتة إلى العالم الاعلى). Sederhanya, alam khoyal itu adalah kaca yang jika dibersihkan bisa membuat seseorang naik (mi'roj) ke alam malakut dan alam hakikat. Pun kaca yang bisa melindungi api "hakikat dan ma'rifat" seseorang tidak mudah padam.
Karena penjelasan itu semua, maka Mitsal, metafora dan Perlambang secara lahir adalah benar (haq) dan di baliknya ada rahasia batin yang merupakan hakikat. Dan perlambang dalam Al-Quran untuk hal tersebut adalah gunung "at-Thur" (الطور), api (النار), dan sebagainya.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 24022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar