Selasa, 22 Februari 2022

Manusia Sempurna (Insan Kamil) menurut Imam Al-Ghozali. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghozali menegaskan dalam kitab Misykatul Anwar, kalau bukan karena Rahmat Allah maka manusia tidak akan bisa mengetahui siapa yang menjaga dan mengatur diri dan kehidupannya. Yakni, Manusia tidak akan tahu Tuhannya. Dan manusia tidak akan tahu Tuhannya kecuali manusia mengenal dirinya. 

Seperti catatan ngaji sebelumnya, bahwa manusia dan alam semesta diciptakan dari sifat Rohmannya Allah. Lebih jauh, segala yang ada di bumi dan langit ini, termasuk semua makhluk, hakikatnya karena sifat Rohman Allah. 

Imam Al-Ghozali menegaskan sekali lagi bahwa semuanya berasal dari gambaran sifat Rohman Allah, bukan gambaran Allah itu sendiri.

Perlu dicatat, Kehadirat Allah setidaknya ada kehadirat ketuhanan (حضرة الالهية), yakni Allah yang menjadi sesembahan segala makhluk. Ada kehadirat kekuasaan dan Kerajaan ketuhanan (حضرة الملك) yakni Allah yang menjadi Penguasa (Raja) segala hal. Ada pula kehadirat ketuhanan yang bersifat rububiyah (حضرة الربوبية), yakni Allah yang menjaga dan mengatur segala hal. Pun ada kehadiran kasih sayang Allah (حضرة الرحمة), yakni Sifat Allah yang menjadikan dan menciptakan segala hal.

Karenanya di dalam surat An-Nas, manusia diperintah untuk berlindung kepada semua kehadirat Ketuhanan tersebut. Yakni berlindung kepada Tuhan sebagai "rob", kepada Tuhan sebagai "Sesembahan", dan kepada Tuhan sebagai "penguasa" manusia.

Dan itulah makna dari hadits nabi yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari gambaran sifat kasih sayang (Rohman) Allah خلق آدم على صورة الرحمن.

Kitab Misykatul Anwar bisa dibilang kitab tasawuf falsafi. Yang bagivsebagian orang mungkin memusingkan. Kitab ini beda dengan kitab Ihya Ulumuddin yang bisa dibilang kitab tasawuf akhlaqi, yang lebih mudah dipahami dan diaplikasikan. 

Karenanya, di penghujung bagian kedua kitab Misykatul Anwar ini, Al-Ghozali menegaskan ketika orang-orang yang membaca kitab Misykatul Anwar ini pusing atau tidak mengerti, Al-Ghozali mengingatkan agar menghibur diri dengan ingat ayat Al-Qur'an yang berbunyi: 

انزل من السماء ماء فسالت أودية بقدرها

Tafsiran lahirnya: Allah menurunkan air (dari langit) kemudian air itu mengalir kepada sungai-sungai (wadah) yang sesuai dengan kadarnya masing-masing. 

Imam Al-Ghozali menegaskan, makna lain (batin) dari air tersebut adalah pengetahuan dan Al-Quran. Sementara sungai (اودية) dimaknai sebagai hati (قلب).

Ya, kemampuan untuk menerima dan memahami pengetahuan dalam diri manusia, kata Imam al-Ghazali bukanlah otak (brain) tapi hati. Mungkin, seperti mind (pikiran) dalam bahasa Inggris. 

Nah, kemampuan manusia dalam menerima dan memahami pengetahuan dari Allah, kata Al-Ghozali, berbeda-beda kadarnya. Ada yang sangat bagus, ada yang bagus, ada yang biasa, hingga ada yang sangat biasa, dan seterusnya. 

Selain itu, setiap orang pun dalam menerima dan memahami pengetahuan, ada yang menangkap dan bisa memahami pengetahuan-pengetahuan tertentu saja. Ada orang yang sangat bagus menerima pengetahuan terkait hadits. Ada yang bagus di tafsir. Ada yang bagus tentang pengetahuan ekonomi. Ada yang bagus di fisika. Ada yang sangat bagus di matematika. Dan seterusnya. 

Sederhananya, bisa dibilang, setiap orang punya kemampuan menerima dan memahami pengetahuan masing-masing sesuai dengan kadarnya. Tapi, yang pasti dan bisa dipastikan, setiap orang akan menerima "air" pengetahuan dari Allah. Soal banyak atau sedikitnya, lagi-lagi sesuai kadar masing-masing. 

Di penutup bagian kedua kitab Misykatul Anwar, Imam Al-Ghozali sekali lagi menegaskan, meski kitab Misykatul Anwar ini lebih condong membahas tentang makna batin, tapi Imam Al-Ghazali tidak menampik bahkan tidak serta Merta menghilangkan dan mengenyampingkan makna lahir. 

Seperti ketika saya membahas tentang perintah Allah kepada nabi Musa agar mencopot dua sandalnya. Imam Al-Ghozali tidak serta Merta bilang bahwa nabi Musa tidak memakai sandal karena melihat makna batinnya saja.

Tidak. Al-Ghozali menegaskan bahwa nabi Musa, secara lahir memang memakai sandal dan Allah memerintahkan agar melepas kedua sandal tersebut. Lalu lebih jauh, Al-Ghozali melihat makna batin dari hal tersebut.

Al-Ghozali malah dengan tegas berlindung kepada Allah, agar terhindar dari "penampikan" makna-makna lahir tersebut seperti pandangan kaum "kebatinan" yang hanya melihat makna batin. Al-Ghozali malah menyebut mereka dengan orang-orang yang melihat sesuatu hanya dengan satu mata. Hanya dengan mata sebelah. نظروا بالعين العوراء.

Ya, Kaum "kebatinan" adalah mereka yang menampik pandangan kaum "hasyawiyah", yakni orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari makna lahirnya saja. 

Al-Ghozali menegaskan bahwa orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari segi lahirnya saja, makna lahirnya saja, disebut dengan kaum "hasyawiyun". Sementara orang-orang yang melihat sesuatu hanya dari segi batin dan makna batinnya saja disebut dengan kaum "bathiniyyun". 

Nah, orang yang sempurna, manusia yang sempurna, kata Al-Ghozali adalah orang-orang yang melihat sesuatu, menerima dan memahami suatu pengetahuan dengan menggunakan dan melihat keduanya. Yaitu melihat makna lahir dan makna batinnya. 

Dan ini seperti hadits nabi, walau ada beberapa yang bilang bahwa ini adalah "atsar" sahabat karena berhenti di Ali Bin Abi Thalib: 

القرآن ظاهر و باطن و حد و مطلع

Al-Quran itu memiliki unsur lahir, batin, batas (batasan antara lahir dan batin), dan Al-Quran punya "mathla'un", yakni sesuatu yang muncul dari batas tersebut. 

Ini seperti syariat. Ya, sesuatu yang lahir seperti syariat. Sementara yang batin, seperti hakikat. Beragama, kalau hanya unsur syariatnya saja, maka akan terasa kering. Pun kalau hanya unsur hakikatnya saja, akan timpang. Seperti ilmu fikih, Ushul fiqh, dan lain-lain, itu adalah ilmu lahir. Dan ilmu tasawuf adalah ilmu batin. 

Nah, Al-Ghozali menegaskan bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang melihat sesuatu secara lahir dan batin. Tentu saja didasari dengan tauhid yang mumpuni. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 23022022



Tidak ada komentar:

Posting Komentar