Nah, Imam Al-Ghazali kemudian menyebut ruh para nabi itu sebagai "sirojan muniron" alias lampu yang bercahaya dengan terang benderang.
Lebih jauh lagi, Ruh para nabi tersebut diambil melalui Wahyu Allah. Sederhananya, ruh nabi adalah Wahyu. Seperti firman Allah: (اوحينا اليك روحا من امرنا). Dan al-Ghazali, menerangkan bahwa perlambang atau metafora dari "diambilnya" ruh nabi yang berasal dari Wahyu tersebut dengan api (النار).
Kalau digambarkan dengan lebih sederhana lagi, api itu cahaya. Nah, Wahyu adalah cahaya. Begitu juga dengan ilmu. Nah, cahaya inilah yang kemudian diambil oleh para ulama. Hingga para ulama disebut sebagai "warotsatul anbiya", alias pewaris para nabi. Kemudian manusia mengambil cahaya dari para ulama sebagai cahaya untuk dirinya. Sebagai ilmunya.
Karenanya, derajat para ulama mendekati dpara nabi. Malah, Ahmad Syauqi, seorang penyair yang mendapat julukan "amiirus syu'aro" pernah menulis:
قم للمعلم زفه التبجيلا # كاد المعلم ان يكون رسولا
Kembali pada para nabi. Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa derajat dan tingkatan para nabi pun berbeda-beda dalam menangkap dan menerima Wahyu. Ada nabi yang mengikut dan menuruti saja Wahyu yang didengarnya, tapi ada nabi yang benar-benar memahami Wahyu yang diterima dengan mata batinnya (dengan bashirohnya).
Nah, perlambang atau metafora dari para nabi yang hanya manut, ikut, dan mendengar saja Wahyu yang diterima, kata Imam al-Ghazali adalah "al-khobar". Sekadar kabar. Sementara perlambang atau metafora tentang para nabi yang memahami betul Wahyu yang diterima, adalah "al-jadzwah, al-qobas, dan as-syihab". Jadzwah adalah arang yang menyala. Qobas itu obor. Sementara Syihab adalah lampu yang menyala.
Nah, "Khobar" dan "jadzwah" ini pun seperti tingkat pengetahuan manusia. Seseorang yang baru membaca, menerima informasi, melihat berita, belajar sesuatu, bisa dibilang masih berada di tingkat Khobar. Di tingkat menerima kabar atau informasi saja. Di tingkat menerima ilmu saja.
Informasi atau ilmu tersebut baru bisa naik menjadi jadzwah jika ilmu dan informasi tersebut benar-benar dipahami. Contoh sederhananya, seseorang yang belajar tentang ilmu komputer, misalnya. Ketika ia mempelajari semua ilmu terkait komputer, ini yang dikatakan dengan tingkat Khobar. Tapi, ketika ilmu tersebut benar-benar dipahami, dan ilmu itu menjadi bagian dari dirinya, sehingga ketika dia melakukan sesuatu terhadap komputer, seakan-akan komputer itu adalah dirinya, inilah tingkat jadzwah.
Termasuk disiplin ilmu yang lain. Atau bidang-bidang yang lain. Bisa di dunia kesenian, dunia olahraga, dunia bisnis, dan dunia apapun. Ketika ilmu atau keterampilan yang dipelajarinya dan dilatihnya sudah seperti menjadi bagian dari dirinya, maka itulah tingkat jadzwah. Misalnya pembalap. Ketika ia balap, sepeda motornya sudah seperti bagian dari dirinya, dan menjadi atau menyatu ke dalam dirinya, itulah jadzwah.
Dan orang-orang yang "jadzwah" tersebut, kata Al-Ghazali, adalah orang-orang yang disebut dengan "shohibu al-dzauq" alias orang-orang yang merasakan langsung tentang sesuatu yang diterimanya. Nah, "shohibu al-dzauq" ini bisa mengikuti para nabi untuk beberapa keadaan kebatinan. Suasana batin para nabi, bisa dirasakan oleh para "shohibu al-dzauq" ini. Dan perlambang atau metafora untuk ini adalah "al-ishthilaa" (الاصطلاء).
Al-ishthilaa secara sederhana bisa diartikan dengan proses arang menjadi api. Dan hakikatnya, proses menjadi api ini mesti merasakan apinya langsung, tidak sekadar mendengar kabarnya saja.
Analogi sederhananya adalah ada dua orang dan sate. Yang satu mendengar kabar bahwa sate "anu" itu enak. Sementara yang satu lagi langsung merasakan sate "anu" tersebut. Yang satu, hanya dengar, yang satu langsung merasakan. Kira-kira, yang mana yang lebih memahami enaknya sate tersebut?
Al-Ghozali kemudian lebih dalam dan naik lagi membahas tentang perlambang dan metafora yang ada dalam Al-Quran.
Beliau menegaskan bahwa langkah (Maqom) pertama para nabi menjadi nabi adalah dengan "naik" (الترفى) ke alam yang suci dengan melepaskan "kotoran-kotoran" (yang bersifat) jasmani alias inderawi dan (yang bersifat) "khoyali".
Di catatan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa di dalam diri setiap manusia ada sesuatu yang bisa menyimpan segala hal yang terdeteksi oleh inderanya. Apapun yang dilihat, didengar, diraba, dicecap, dan dialami, semua itu terekam dan tersimpan di dalam sesuatu yang bernama "al-khoyal" dalam diri manusia. Al-khoyal ini sudah masuk alam batin tapi masih dekat dengan alam nyata dan alam fisik.
Nah, para nabi, langkah pertama mereka ketika menjadi nabi adalah melepaskan sua hal yang terkait alam jasmani atau alam fisik dan segala hal yang ada di dalam al-khoyal tersebut. Proses melepaskan diri dari kedua hal tersebut, dan tempat langkah pertama tersebut, metaforanya menurut Imam Al-Ghazali adalah lembah yang suci (الوادى المقدس).
Dan Imam Al-Ghozali menegaskan, tidak mungkin menginjakkan dan menapakkan kaki di lembah yang suci (الوادى المقدس) tersebut kecuali dengan membuang dua alam, yakni dunia dan akhirat. Ya, bagi para nabi, tidak ada lagi dunia dan akhirat. Sebab, ketika para nabi "naik" yang ada dalam ruh mereka hanyalah menuju Allah. Hanyalah menghadap kepada "Al-wahidil Haq" (الواحد الحق).
Karena dunia dan akhirat, kata al-Ghazali, adalah dua hal yang saling berhadapan dan salinh tarik menarik. Dan keduanya, adalah hal yang aksidental untuk substansi cahaya batin (nurani) manusia.
Nah, membuang dunia dan akhirat itu, seperti ihrom persiapan untuk menghadap kepada Ka'bah yang suci, dan metaforanya menurut Imam Al-Ghazali adalah "melepas dua sandal" (خلع النعلين).
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 19022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar