Abu Hamid Al-Ghozali kemudian memberikan contoh. Ketika kita melihat matahari dalam mimpi, ta'birnya atau takwilnya adalah seorang raja atau sultan. Ya matahari adalah perlambang dari seorang raja. Karena antara raja dan matahari memiliki kesamaan dan kesetaraan pada makna ruhaninya, yaitu kesamaan pada posisi tingginya terhadap semua orang dan mengalirnya pengaruh atau cahayanya pada semua.
Kemudian ketika kita mimpi melihat rembulan, maka takwil mimpinya adalah seorang menteri. Karena kaitan cahayanya dengan matahari ketika matahari terbenam. Hal tersebut sebagaimana cahaya seorang raja bisa diwakilkan kepada menteri ketika sang raja tidak ada di tempat, misalnya.
Sementara siapapun yang mimpi melihat di tangannya ada cincin. Kemudian dengan cincin tersebut ia menutup mulutnya para laki-laki dan menutup alat vitalnya perempuan, maka takwil mimpi tersebut ia adalah seorang muadzin yang adzan sebelum subuh ketika romadhon.
Perlu di catat, saat itu, profesi muadzin adalah salah satu profesi yang prestisius, terlebih ketika menjadi muadzin di masjid yang para raja dan sultan solat di di situ.
Dan mengunci mulut laki-laki serta menutup alat vital perempuan adalah metafora dari puasa. Yakni, tidak boleh makan dan minum dan tidak boleh berhubungan badan dengan pasangan.
Kemudian al-Ghazali menyebut siapapun yang mimpi menuang minyak biasa ke dalam minyak zaitun, maka takwil mimpi tersebut ada budak perempuan yang dimilikinya yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri sementara ia tidak tahu. Perlu di catat, di zaman itu, memang masih terjadi jual beli budak.
Imam Al-Ghozali menegaskan dalam kitab Misykatul Anwar bahwa ilmu tabir mimpi atau takwil mimpi ini begitu banyak jumlahnya. Tapi, karena fokus al-Ghazali tidak untuk menerangkan ilmu tersebut, tapi hanya untuk menjadikannya sebagai pola, cetakan, atau paradigma untuk memahami metafora atau perlambang dalam Al-Quran, Al-Ghozali mencukupkan pemberian contoh sampai di situ.
Al-Ghazali kembali pada penjelasan tentang bagaimana melihat dan memahami metafora atau perlambang dalam Al-Quran.
Imam Al-Ghozali menegaskan tentang sesuatu maujud (ada) yang tetap, tidak berubah, agung, tidak kecil yang mengalir darinya air-air pengetahuan (مياه المعارف) dan ketersingkapan yang berharga (نفائش المكاشفات) kepada hati manusia (jiwa manusia), yang perlambangnya atau metaforanya adalah "at-thur" (الطور) alias gunung. Seperti dalam surat at-thin.
Ya, gunung adalah metafora untuk menggambarkan sesuatu yang besar dan darinya mengalir air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga kepada hati, jiwa, atau mata batin manusia. Bisa dibilang, hati manusia, jiwa manusia, ruh manusia, mata batin manusia adalah kolam yang menampung limpahan dan aliran air-air pengetahuan yang tak terkira banyaknya itu.
Tapi, lagi-lagi perlu dicatat, bahwa setiap manusia memiliki kapasitas kolam yang berbeda-beda. Ada yang sangat luas, ada yang tak terlalu luas, bahkan ada yang kecil. Tapi, setidaknya, setiap orang bisa dipastikan menerima limpahan dan aliran air-air pengetahuan tersebut.
Nah perantara atau wasilah (jalan) mengalirnya air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga tersebut, Al-Ghozali menerangkan bahwa simbolnya, metaforanya, perlambangnya adalah "الوادى" atau sungai-sungai.
Hubungan antara air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga tersebut dengan hati, jiwa, ruh, mata batin manusia pun mengalir dari hati ke hati. Antar hati.
Dan hati hati ini pun, kata imam Al-Ghozali memiliki sungai (alirannya sendiri). Pembuka sungai tersebut adalah hatinya para nabi. Kemudian hatinya para ulama.
Makanya, bisa dibilang, manusia menerima air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga dihantarkam atau dialirkan dari hatinya para nabi dan hatinya para ulama.
Imam Al-Ghozali menyebut Sungai pertama atau hati para nabi itu dengan "al-wadi al-ayman" (الوادى الايمن) karena banyak berkahnya dan tinggi derajatnya.
Perlu di catat, asal kata "aiman" adalah "yumnun" yang artinya berkah, membuncah, dan meluap-luap.
Sementara untuk "al-wadi" yang di bawahnya, yaitu hati para ulama, Al-Ghozali menyebutnya dengan "syathi al-wadi al-aiman" (شاطئ الوادى الايمن) alias pinggirnya sungai. Bukan tengahnya dan bukan sumbernya.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 18022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar