Jumat, 04 Februari 2022

Cahaya yang Menjadikan Manusia Kholifah (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali ketika melihat suatu ayat dalam Al-Qur'an, maka yang digunakan adalah ta'wil. Bukan sekadar tafsir. Ta'wil itu membedah isi atau bagian dalam dari suatu hal. Sederhananya membedah hakikatnya, esensinya. 

Termasuk ketika Imam Al-Ghazali melihat ayat الله نور السماوات والأرض. Ketika para ahli tafsir memaknainya dengan: Allah itu "seperti" cahaya, maka Imam Al-Ghazali melihatnya lebih ke dalam lagi, yaitu dengan memaknai Allah adalah Cahaya. Pemaknaan tersebut dijabarkan begitu detail dalam kitab Misykatul Anwar. 

Kitab ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama ini bagian yang dasar. Seperti pengantar bagi pembaca untuk masuk ke bagian lebih dalam. 

Di catatan-catatan saya sebelumnya, itu adalah catatan-catatan terkait bagian pertama kitab Misykatul Anwar. Catatan saat ini pun masih menjadi bagian pertama, tapi mulai masuk di akhir-akhir pembahasan yang disebut Al-Ghazali sebagai خاتمة atau penutup.

Karakteristik Al-Ghazali ketika melihat sesuatu adalah dengan melihat tingkatan-tingkatannya. Ini menjadi semacam epistimologi ala Al-Ghazali. 

Pada penutup bagian pertama Al-Ghazali menegaskan bahwa cahaya yang ada di bumi dan langit, semuanya terkait, tergantung, dan terhubung (إضافة) kepada Allah.

Kemudian Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa, setidaknya, cahaya memiliki tiga tingkatan. Sebelum itu, perlu ditegaskan juga, bahwa segala sesuatu "yang ada" (wujud) itu bisa dibilang cahaya. Karena ia ada dan bisa dilihat. Sederhananya, apapun yang kita bilang dan kita lihat ada, itu bercahaya.

Nah, tingkat pertama atau tingkat terendah adalah cahaya yang bisa membuat sesuatu yang lain bercahaya (terang) hingga bisa dilihat. Tapi, ia tidak bisa melihat yang lain dan tidak bisa melihat dirinya sendiri. Ini seperti lampu di rumah-rumah, obor atau api saat pawai, hingga matahari. 

Tingkat kedua adalah cahaya yang bisa membuat yang lain bercahaya hingga bisa dilihat. Dan ia bisa melihat yang lain tapi tidak bisa melihat dirinya sendiri (ينكشف به الأشياء). Ini adalah mata setiap makhluk secara lahir.

Kemudian, tingkat ketiga adalah cahaya yang bisa membuat yang lain bercahaya hingga bisa dilihat. Dan ia bisa melihat yang lain, pun bisa melihat (ke dalam) dirinya sendiri (ينكشف به و له الأشياء). Ini adalah mata batin, jiwa, nafs, atau yang disebut al-Ghazali dengan akal. 

Dan tingkatan paling tinggi adalah sumber dari segala cahaya. Cahaya yang dengan, untuk, dan darinya semua hal tersingkap, hingga bisa terlihat (ينكشف به و له و به الأشياء). Ini adalah Allah 'Azza Wajalla.

Kemudian Al-Ghazali mengingatkan bahwa langit dan bumi dipenuhi oleh cahaya-cahaya. Setiap cahaya punya dua tingkat. 

Pertama, cahaya yang terkait dengan mata (lahir) dan indera penglihatan. Kedua, cahaya yang terkait dengan mata batin dan akal.

Dengan mata lahiriah, kita bisa melihat bintang gemintang, matahari, bulan di langit. Termasuk segala jenis hewan, bebatuan, dan segala bentuk yang lain yang ada di bumi. Itu semua bisa disaksikan karena adanya cahaya yang tersebar. Kalau tidak ada cahaya, niscaya segala warna pada tiap bentuk yang ada itu tidak akan tampak dan ada, bukan? 

Segala hal yang tampak bagi indera (penglihatan) berupa bentuk dan ukuran-ukuran, itu mengikuti warna. Dan itu semua, gambar dan pemandangan itu, tidak bisa diketahui (dilihat) dan dinikmati kecuali dengan wasilah adanya cahaya yang tersebar tadi. 

Sementara cahaya-cahaya yang berkaitan dengan akal dan makna (intelligable/konseptual/immaterial/ide). Adanya di langit "atas" (sekali lagi, langit yang dimaksud,bukan langit yang bisa dilihat oleh indera mata). 

Langit atas ini adalah langit atau alam malakut. Alam inilah yang dipenuhi dengan cahaya-cahaya yang bersifat immateril. Dan cahaya inilah esensi malaikat menurut Imam Al-Ghazali. Di alam inilah, malaikat berada. 

Tapi, tidak hanya alam malakut atau "langit atas" yang dipenuhi cahaya-cahaya yang intelligable, konseptual, atau immaterial itu. Alam yang di bawahnya (yakni alam syahadah, alam kasroh, alam yang tampak, atau bumi ini) pun ikut dipenuhi oleh cahaya-cahaya tersebut. 

Dan itulah kehidupan binatang-binatang (bersifat kehewanan) dan kehidupan manusia (bersifat kemanusiaan). Dalam diri manusia ada jiwa yang bisa bernalar (an-nafsu al-nathiqoh). 

Cahaya manusia (bersifat kemanusiaan) yang merupakan turunan dari alam malakut (cahaya konseptual) tersebutlah yang akhirnya menampakkan hukum-hukum dalam kehidupan manusia (nizhom atau law). 

Meski berbeda sudut pandang tapi hal ini seperti yang dikatakan Stephen Hawking, bahwa alam raya ini bisa dijelaskan dengan hukum-hukum alam yang ada pada dirinya sendiri. 

Contoh lain yang lebih sederhana adalah, manusia bisa membuat segala sesuatu seperti algoritma internet, tata cara jualan di media sosial, dan lain-lain, itu hakikatnya berasal (turunan) dari cahaya di alam malakut. Cahaya ide, cahaya konsep, cahaya pengetahuan yang tidak bisa dilihat oleh indera mata. Tapi bisa dilihat oleh mata batin, jiwa, nafs, atau akal,  sebagaimana dengan itu pula manusia bisa melihat (mi'roj) ke alam malakut. 

Pun dengan cahaya malaikat (kemalaikatan) pun bisa menampakkan, menghadirkan hukum-hukum (keteraturan; nizhom) di alam malakut, alam al-'ulwu, "langit atas". 

Inilah makna, menurut Al-Ghazali yang terkandung pada ayat di surat Hud:

أنشاكم من الأرض واستعمركم فيها

"واستعمركم" jika lebih jauh bisa dimaknai dengan peradaban. Ya, manusia bisa membuat peradaban yang luar biasa. Itu disebabkan karena adanya cahaya-cahaya konseptual atau ide. 

Pun dengan ayat:

(ليستخلفنهم في الارض (الأية

(و يجعلكم خلفاء الأرض (الأية

إني جاعل في الارض خليفة (الآية)

Semuanya berujung pada kata "Kholifah". Jadi, bisa dibilang manusia yang Kholifah adalah mereka yang menggunakan cahaya-cahaya konseptual/immaterial/ide/pengetahuan yang hanya bisa dilihat dengan mata batin, jiwa, atau akal. Yang sekali lagi, semuanya adalah percikan (turunan) dari cahaya Kemalaikatan di alam malakut.

Sederhananya, manusia dijadikan Kholifah karena adanya jiwa atau mata batin yang bernalar (an-nafsu an-nathiqoh) yang berasal (turunan) dari cahaya maknawi di alam malakut. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 04022022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar