Ya, hakikatnya dalam segala hal yang terkait perkembangan pengetahuan dan "naiknya" mata batin manusia meniru atau setidaknya berkaca pada Abul Ambiya, yaitu Nabi Ibrohim.
Saat melihat bintang gemintang, Nabi Ibrahim seperti mendapat "eureka". Karena melihat pendaran cahayanya pada bumi, lalu mengatakan: "haadza robbii".
Sayangnya, ketika bintang gemintang tersebut diketahui kekurangannya yaitu bisa terbenam dan hilang ketika matahari datang, "eureka" yang tadi sempat dirasakan, pun hilang seiring memudarnya cahaya bintang gemintang.
Pun begitu juga dengan para salik Yan mengalami pengalaman batin, pengalaman spiritualitas, atau pengalaman rohani. Ketika berada di derajat bintang (sebagi Mitsal) awalnya, ia akan bilang: "eureka", "hadza Robbi".
Di catatan sebelumnya, telah ditegaskan bahwa Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa di alam malakut, terdapat substansi bersifat cahaya nan mulia nan tinggi yang disebut dengan malaikat. Dan cahaya malaikat tersebut luber dan mengalir kepada jiwa-jiwa (ruh-ruh) manusia. Dan karena itulah Malaikat-malaikat tersebut disebut dengan Arbab. Jamak dari rob. Yang secara harafiah bisa diartikan dengan tuhan-tuhan (t kecil).
Nah, ketika melihat kisah nabi Ibrohim, saat Abul anbiya ini mengatakan "hadza Robbi" kitab Misykatul Anwar ini membantu kita melihat ucapan nabi Ibrohim tersebut dengan perspektif yang lain. Yaitu persepektif metafora atau perlambang yang didasari pengalaman batin atau rohani.
Nabi Ibrohim melihat bintang gemintang, lalu mengatakan "hadzaa Robbi", namun ketika datang matahari. Nabi Ibrohim bilang "hadza Robbi, hadza Akbar". Tapi, lagi-lagi nabi Ibrohim mendapati bahwa matahari pun bisa tenggelam dan terbenam.
Pada akhirnya nabi Ibrohim pun mengatakan "wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal Ardhi haniifan".
Yang perlu digaris bawahi dari ungkapan nabi Ibrohim tersebut adalah kata "alladzi" yang sederhananya berarti "yang".
"Al-ladzi" bisa dibilang salah satu misteri dalam bahasa Arab. Di titik ini, Nabi Ibrohim tidak bisa membuat mitsal atau metafora dari "Allah".
Ini seperti martabat pertama dalam ajaran martabat tujuh. Ajaran yang dibawa oleh Sufi Aceh, Syeikh Abdul Rouf Singkil yang berbaiat dalan thoriqoh Syattariyah yang kemudian sampai ke Jawa, kepada Syeikh Abdul Muhyi Tasikmalaya. Syeikh Abdul Rouf Singkil belajar dari seorang guru di Madinah bernama Imam Ibrohim Al-Qurroni sekitar abad 17.
Pada ajaran martabat tujuh, martabat pertama itu disebut al-ahadiyah. Jika menggunakan istilah imam Muhyiddin Ibnu 'Arobi, laa ta'yiin atau al-ghoibul muthlaq alias sesuatu yang tidak bisa digambarkan, tidak bisa didefinisikan, tidak bisa diidentifikasi, tidak bisa dimetaforakan.
Di saat nabi Ibrohim mengatakan 'wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal Ardhi haniifan," hakikatnya nabi Ibrohim telah sampai pada Maqom "sesuatu yang tidak bisa dimetaforakan dan diperlambangkan".
Lalu Imam Al-Ghozali menjelaskan dan menerangkan bahwa "al-ladzi" adalah sesuatu untuk menunjukkan rahasia atau misteri yang tidak ada sepadanannya, tidak ada yang menyamainya, tidak ada yang sepertinya.
ومعنى "الذى" إشارة مبهمة لا مناسبة لها , tulis imam Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar.
Lalu ketika ada yang bertanya apa "Mitsal" atau metafora dari "al-ladzi", maka tidak ada gambaran untuk menjawabnya karena "al-ladzi" bebas dan terlepas dari segala keterkaitan dan itulah yang disebut الاول الحق Kebenaran Paling Pertama.
Seperti kata Imam Ibnu'Arobi yang menerangkan bahwa puncak Nama Tuhan adalah هو (Huwa).
Imam Al-Ghozali kemudian bercerita tentang seorang Arab kepada Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallam tentang apa metafora Tuhan? (ما نسبة الاله؟) hingga turunlah surat Al-Ikhlas.
Dan makna hakikat dari surat Al-Ikhlas tersebut menurut Al-Ghozali adalah bahwa "Yang" itu suci dari perlambang, bahwa "Yang" itu bebas dan terlepas dari metafora. Bebas dan sucinya "Yang" tersebut itulah metaforanya dan perlambangnya "Yang". Sederhananya, Makna surat Al-Ikhlas adalah Allah tidak bisa dimetaforakan, dan itulah metaforanya.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 17022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar