Perlu dicatat juga, dalam dunia metafisika (tasawuf) ada istilah Maqom dan ahwal. Maqom adalah tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas. Sementara ahwal adalah pengalaman-pengalaman atau rasa ketika ada di satu Maqom.
Nah, sebagai manusia, tugasnya hanya ikhtiyar dan terus berusaha naik (mi'roj), tentu saja dengan berbagai riyadhoh, mujahadah. Adapun perihal hasilnya seseorang sampai pada Maqom apa, itu sepenuhnya adalah urusan Allah 'Azza Wajalla.
Gerakan, perilaku orang-orang muwahid alias orang yang maqomnya sudah di tingkat paling tinggi, yang sudah sampai pada Maqom al-fardaniyah, ketika turun ke bumi, kata Imam Al-Ghazali, adalah perilaku dan tingkah laku langit.
Indera-inderanya, seperti indera penglihatan, pendengaran berasal dari langit di atasnya. Akalnya, mata batinnya, jiwanya, ruhnya, berada di langit.
Para Al-Muwahhid ini naik dari langit akal (mata batin, jiwa, ruh, an-nafsu an-natiqoh) ke ujung mi'roj para makhluk.
Ketika sudah sampai di sana, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kerajaan (kekuasaan) al-fardaniyah mereka yang tujuh lapis telah sempurna.
Perlu dicatat, Al-Ghazali menyatakan bahwa ada tujuh lapis langit di atas dan tujuh lapis langit di dalam diri manusia.
Sekali lagi, perlu ditegaskan. Langit, kerajaan, naik, dan kata-kata lain yang banyak tertulis dalam kitab Misykatul Anwar adalah kata-kata metafora atau perlambang. Jangan sekali-kali melihat dan memahaminya dengan pengertian lahir.
Memahami Metafora atau perlambang (misal, amsal) caranya adalah mi'roj. Dengan mata batin, akal, jiwa, ruh, atau an-nafsu an-natiqoh yang "naik" ke alam metafisik.
Metafora atau perlambang ini seringkali diambil dari objek-objek yang ada di bumi. Dalam Filsafat ada teknik heuristik, yakni teknik untuk memudahkan seseorang memahami konsep yang abstrak.
Sederhananya, perlambang atau metaforanya (ada) di bumi, makna hakikinya ada di langit (sekali lagi, bukan langit yang lahir atau tampak oleh indera mata, tapi Langit di alam malakut).
Kenapa mesti melihat dengan ta'wil? Karwna di dalam Al-Quran, begitu banyak perlambang dan metafora. Nah untuk memahaminya, diperlukan mata batin, akal, an-nafsu an-natiqoh, ruh, atau jiwa.
Ta'wil ini berasal dari kata aala-yauulu-aulan yang artinya kembali. Maksudnya, kembali ke hakikatnya, kembali pada makna yang tak tampak atau tersembunyi.
Kembali ke al-muwahhid tadi. Setelah mereka mi'roj, naik ke tingkat paling tinggi dan sampai pada maqom al-fardaniyah, setelah melewati 7 lapis "langit", Imam Al-Ghazali mengatakan mereka akan duduk di Maqom al-wahdaniyah.
Dari maqom tersebut, mereka bisa mengatur tingkatan-tingkatan atau lapisan-lapisan langit dalam dirinya.
Ketika mereka turun ke bumi, ia akan mengatakan sesungguhnya manusia diciptakan dari dari gambaran (cetakan) Allah yang Maha Rohman. Dan itulah hakikat atau ta'wil dari ucapan Al-Hallaj yang terkenal: "Ana Al-Haq" dan ucapan Abu Yazid Al-Bushtomi: "maa filjubbati Illallah".
Ini pun makna dari Firman Allah kepada Nabi Musa dalam hadits Qudsi: "Aku sakit, dan kau tak menjenguk-Ku" dan seperti hadits Qudsi pada catatan sebelumnya: "Aku (Allah) yang jadi pendengarannya, penglihatannya, dan lisannya."
Sederhananya, orang-orang al-muwahhid ketika telah sampai di Maqom al-fardaniyah dan duduk di singgasana al-wahdaniyah, kemudian mereka turun ke bumi, maka hanya jasadnya saja yang di bumi, tapi ruh, akal, dan mata batinnya di langit. Badannya di bumi, ruhnya di langit.
Secara fisik, mereka ada di bumi. Mata lahirnya, telinganya, lisannya, badannya, fisiknya ada di bumi. Tapi, akal, ruh, jiwa, pendengarannya, penglihatannya, dan ucapannya ada dan dan bersumber dari dan di "langit".
Inilah orang yang sempurna. Orang yang telah sampai pada Maqom al-fardaniyah dan al-wahdaniyah. Meskipun jasadnya di bumi, tapi ruhnya di "langit".
Inilah insan kaamil, manusia paripurna. Seperti yang dikatakan Al-Jiili; manusia yang tubuhnya di bumi, tapi ruhnya di langit. Pun seperti yang dikatakan As-Suhrawardi: jasad-jasas bumi dengan hati langit.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 08022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar