Imam Al-Ghazali pada awal bagian pasal kedua di kitab Misykatul Anwar kembali menjelaskan hal tersebut. Malah lebih detail dan terperinci.
Al-Ghozali menerangkan bahwa ada dua alam; rohani dan jasmani, Alam indera (kasat mata) dan alam akal (penalaran), alam atas dan alam bawah.
Semuanya penyebutan tersebut hakikatnya sama. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda.
Ketika melihat dua alam tersebut dengan sudut pandang ke wujud dan diri kedua alam tersebut, maka lahirlah sebutan alam rohani dan jasmani.
Ketika kedua alam tersebut dilihat dari sudut pandang hubungan dan keterkaitannya kepada "mata" yang bisa melihat, maka sebutannya adalah alam inderawi dan alam akal.
Sementara ketika dua alam tersebut dilihat dengan sudut pandang keterkaitannya masing-masing atau hubungan antara keduanya maka penyebutannya adalah alam atas dan alam bawah.
Selain itu, ada lagi penyebutan (istilah) yang lain, yaitu alam yang tampak atau alam materil ('alam syahadah) dan alam malaikat (''alam malakut).
Banyaknya penyebutan dan istilah tersebut, kata Imam Al-Ghazali, seringkali membuat bingung. Terlebih bagi mereka yang mencari hakikat lewat penyebutan atau istilah-isitilah. Karenanya, Al-Ghazali menasihati agar jangan mencari (tahu) hakikat (substansi) lewat istilah, tapi mesti lewat makna.
Ya, makna adalah inti dan sumbernya, sementara istilah adalah alirannya. Analoginya, makna itu jenderalnya, istilah-istilah adalah prajuritnya.
Contoh sederhananya, seperti orang yang melihat judul berita tapi tidak membaca isinya. Atau melihat buku, hanya dari sampulnya. Ya, jika ingin memahami sesuatu maka lihatlah isinya, bukan bungkusnya.
Makanya, tak heran jika orang-orang yang hanya melihat sampul, bungkus, judul, dan luarannya saja, akan bingung lalu disebut Al-Ghazali dengan mereka yang lemah.
Orang yang melihat makna dan istilah, atau mereka yang melihat isi dan sampul, tentu saja akan berbeda. Al-Ghozali menegaskan bahwa mereka itu seperti yang diungkap dalam Al-Quran di surat Al-Mulk:
أفمن يمسي مكبا على وجحه اهدى ام من يمشى سويا على صراط مستقيم
Orang yang jalannya "sungsang" tentu berbeda dengan yang jalannya normal.
Hakikat dan inti dari banyaknya istilah dan penyebutan tersebut adalah bahwa ada dua alam. Alam yang tampak ('alam syahadah) dan alam yang tidak tampak ('alam malakut).
Alam malakut adalah alam gaib yang sebagian besar orang tidak bisa melihatnya. Sementara alam inderawi (alam syahadah), siapapun (semua orang) bisa melihatnya.
Al-Ghozali menegaskan bahwa alam material ('alam hiasi) adalah 'tangga" untuk naik ke alam akal. Ini berarti, hakikatnya siapapun bisa (punya potensi) untuk naik ke alam akal.
Ya, siapapun sebenarnya bisa "melihat" dan naik ke alam malakut. Sebab, antara kedua alam tersebut saling terhubung dan terkait. Alam syahadah terhubung ke alam malakut. Alam material terhubung ke alam immaterial. Alam fisik terhubung ke alam metafisik.
Kalau tidak ada hubungan maka tidak akan ada jalan untuk "naik" (mi'roj). Dan kalau begitu, maka tidak akan ada orang yang bisa "sampai" ke Maqom Ketuhanan.
Sederhananya, antara alam materil dan alam gaib itu ada jalannya. Ada keterhubungan dan keterkaitannya. Kalau gak ada jalannya, ya gak mungkin orang bisa sampai ke Maqom Al-fardaniyah dan al-wahdaniyah.
Dan kalau tidak terhubung, tidak ada jalannya, tidak mungkin manusia bisa dekat kepada Allah. Sesuatu yang awalnya jauh, kemudian dikatakan dekat, karena ada jalan yang menghubungkan lalu membuat dekat, bukan?
Pun begitu dengan manusia dan Allah. Ada hubungan dan keterkaitan antara manusia dan Allah. Keterhubungan dan keterkaitan inilah jalan agar manusia bisa mendekat, semakin dekat, dan dekat dengan Allah.
Agar semakin dekat dengan Allah, manusia yang berada di alam materil (alam syahadah) mesti "naik" ke alam malakut lewat jalan atau tangga yang menghubungkan.
Ini berarti, bisa dibilang bahwa alam materil, alam syahadah, alam jasmani, atau alam yang tampak ini pun penting. Sebab, alam ini adalah pijakan awal setiap orang untuk "naik" ke alam yang lebih tinggi, ke alam malakut. Hingga ujungnya ia bisa semakin "dekat" kepada Allah.
Ya, alam yang tampak itu penting, karena ia pijakan awal setiap orang. Tapi, jauh lebih penting adalah alam yang tidak tampak.
Contoh sederhana yang bisa diambil dari alam syahadah, misalnya rumah, kendaraan, Hp dan benda-benda lain yang dianggap penting. Semua itu penting, tapi, jauh lebih penting adalah konsep, ide, dan desain dari semua itu.
Pun dengan alam malakut yang jauh lebih penting dari alam syahadah. Malah, seringkali hal yang tidak tampak jauh lebih penting dari hal yang tampak, bukan?
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 12022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar