Selasa, 08 Februari 2022

Penyebab Seseorang Tidak Sadar Bahwa Cahaya (Allah) Ada dan Selalu Bersama Setiap Makhluk. (Misykatul Anwar)

Pada catatan sebelumnya, Al-Ghozali menerangkan bahwa ada dua jenis orang yang bisa sampai (wushul) kepada Allah. Yakni As-Shiddiqun dan Ulama al-Rosyikhun. 

Dan saya meyakini, Imam Al-Ghazali, pun wushul dengan keduanya. Kenapa? Karena Al-Ghazali menyatakan bahwa As-Shiddiqun alias orang-orang yang sampai ke Maqom paling tinggi dengan rasa (dzauq) dan mengalaminya langsung, lebih Koko dibanding mereka yang sampai dengan kekuatan an-nafsu an-natiqohnya.

Di catatan kali ini, Al-Ghazali menegaskan dengan lebih sederhana tentang segala sesuatu yang ada dan disebut cahaya itu ada yang cahaya (wujud) lahir dan cahaya batin.

Nah, Cahaya (Allah) hakikatnya akan selalu nempel (bersama) pada segala sesuatu tersebut, lahir ataupun batin. 

Segala sesuatu menjadi ada (tampak dan bercahaya) di alam lahir itu karena adanya Cahaya (Allah). Pun segala yang ada (tampak) di alam batin pun karena Allah. 

Sederhananya, segala sesuatu, semuanya tak terpisah dari Cahaya (Allah). Sebab, Cahaya (Allah) lah yang menyebabkan semuanya menjadi ada, menjadi tampak, menjadi terlihat.

Segala yang ada di alam batin, wujudnya ya semua hal yang terlihat dan nampak bagi mata (indera mata). Sementara segala sesuatu yang ada di alam batin, wujudnya seperti pengetahuan, ilmu, konsep, dan ide. Sederhananya, kemampuan seseorang untuk memahami dan mengerti sesuatu itu sebenarnya, ranahnya, berada di alam batin. 

Sayangnya, seringkali keberadaan (Adanya) Cahaya (Allah) pada segala sesuatu malah tidak disadari, bahkan dianggap tidak ada. Kenapa?

Seperti di catatan sebelumnya, Al-Ghozali menggambarkan seperti seseorang yang tengah menikmati pemandangan. Semua yang tampak di mata lahirnya hanyalah apa-apa yang bisa dilihatnya saja. Nah, dia sadar bahwa ada cahaya yang membuat semua terlihat, ketika sesuatu yang dilihatnya tidak bisa dilihat lagi.

Gambaran sederhananya, saya bisa melihat gunung, pepohonan, sawah, air terjun, rerumputan, bebungaan, dan hal-hal indah lainnya, pada siang hari. Nah, saya akan sadar bahwa ada cahaya yang membuat semuanya itu terlihat ketika matahari terbenam. 

Misal yang lebih sederhana, seperti kata Bung Roma Irama: "Kalau sudah tiada, baru terasa, Kehadirannya." Ya, begitu juga dengan cahaya saat saya melihat segala pemandangan. Seringkali saya tidak sadar dan tidak merasakan hadirnya cahaya. Saya baru sadar dan merasa adanya cahaya, ketika pemandangan tersebut tidak ada lagi tidak bisa dilihat lagi karena matahari terbenam.

Nah, gambaran seperti ini pula yang diungkapkan Al-Ghazali untuk menjelaskan orang-orang yang tidak percaya, tidak sadar, bahkan tidak tahu adanya Cahaya (Allah) pada segala sesuatu di alam lahir dan di alam batin.

Untuk membuat seseorang sadar dan tahu akan adanya sesuatu, metode dengan menyodorkan perbedaan bisa menjadi alternatif. Tapi, perlu dipahami dan dipertegas,  bahwa ada perbedaan antara cahaya lahir dan cahaya Ilahi. 

Cahaya lahiriah digambarkan bisa hilang dengan terbenamnya matahari. Sementara Cahaya Ilahi (Allah) yang membuat segala sesuatu menjadi tampak, tidak bisa digambarkan dan tidak bisa dibayangkan bisa hilang dan mustahil berubah. 

Sederhananya, cahaya lahir bisa hilang dan berubah. Seperti terbit dan tenggelamnya matahari. Sementara Cahaya (Allah) tidak akan bisa berubah dan tidak akan pernah hilang. Cahaya Allah akan terus menetap dan bersama segala sesuatu. Sebab, kalau Cahaya (Allah) digambarkan bisa berubah atau hilang, maka segala sesuatu akan tidak ada.

Metode seperti ini, yang membedakan Cahaya (Allah) antara ada dan tiada, yang disebut Al-Ghazali dengan "At-Tafriqoh" menjadi runtuh dan tidak bisa diterima. Sebab, pembuktian atau metode ini hanya bisa dipakai untuk segala sesuatu selain Allah. Ya, metode pembuktian ini tidak bisa dipakai untuk Allah. Kenapa? Sebab, Allah tidak bisa dibandingkan atau disandingkan dengan apapun. 

Kemudian ada lagi metode atau cara untuk membuat sesuatu menjadi lebih tampak dan ada. Atau untuk membuat sesuatu lebih terasa dan terlihat wujudnya. Yaitu dengan menghadapkan pada kebalikannya. 

Misalnya, siang dihadapkan dengan malam. Panas dihadapkan dengan dingin. Gelap dihadapkan dengan terang. Keras dihadapkan dengan lembut. Dan sebagainya.

Ya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa segala sesuatu akan menjadi jelas (kehadiran, keberadaan, dan wujudnya) ketika dihadapkan dengan lawannya. 

Sayangnya, metode ini pun lagi-lagi hanya bisa digunakan untuk segala sesuatu selain Allah. Kenapa? Ya karena tidak ada yang bisa menandingi, menyamai, dan menyerupai Allah. 

Kemungkinan ketiga, kata Imam Al-Ghazali, Sesuatu yang tidak punya tandingan, yang tidak berubah, dan terus ada, seringkali menyebabkan orang-orang tidak menyadari bahwa sesuatu itu ada. 

Misal sederhananya, orang yang terus menerus sehat, seringkali tidak sadar dan tidak tau bagaiman rasanya sehat. Orang yang selalu miskin, seringkali malah merasa tidak miskin, karwna saking terbiasanya miskin. Orang yang selalu kaya, seringkali malah merasa dan tidak sadar bahwa ia kaya. Dan contoh lainnya.

Begitu pun dengan  Cahaya (Allah) yang ada dan terus bersama segala sesuatu di alam lahir dan alam batin, malah menjadi tidak disadari Ada-Nya.

Perlu dicatat, cahaya itu punya dua kemungkinan: menyinari dan menyilaukan. Nah, orang-orang yang tidak bisa melihat cahaya Allah, kemungkinan besar adalah mereka silau karena saking terangnya Cahaya (Allahh). Pun bisa jadi, karena manusia lebih memilih melihat yang ada secara lahir saja, entahlah.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 09022022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar