Kalau boleh diibaratkan, Al-Quran itu buku puisi yang sangat indah (tentu saja, Al-Quran lebih puitis, lebih indah, lebih dari sekadar puisi). Nah, dalam puisi, dikenal istilah metafora.
Biasanya Metafor digunakan untuk melambangkan sesuatu dengan sesuatu. Misalnya kalimat-kalimat dalam puisi Chairil Anwar: "Aku binatang jalang", " Aku ingin hidup seribu tahun lagi."
Tentu saja "binatang jalang" yang dimaksud bukan binatang secara lahiriah. Bukan berarti binatang secara fisik. Ada hal lain yang ingin dikatakan Chairil Anwar lewat "binatang jalang" tersebut. Pun dengan "hidup seribu tahun lagi".
Saya menduga, puisi atau syair, awalnya terinspirasi dari bentuk, termasuk isi dalam Al-Qur'an. Sebab, di dalam Al-Quran pun begitu banyak, sangat banyak, kata yang mengandung metafora.
Ya, di dalam Al-Quran terdapat begitu banyak metafora, simbol, perlambang, "tanda-tanda", dan "misal". Nah, untuk memahami semua ini, tentu saja tidak bisa menggunakan penglihatan lahir saja.
Seperti ayat tentang Cahaya. Bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahaya. Cahaya yang dimisalkan seperti "ceruk" (misykat) yang di dalamnya terdapat lampu (Al-Misbah).
Nah, itulah Metafor, perlambang, analogi, simbol, atau "misal". Semua itu bisa diketahui dan dipahami dengan cara "dilihat lebih dalam" alias dipikirkan. Nah, satu-satunya makhluk di bumi ini yang bisa melakukannya hanyalah manusia.
Sebab manusia diberikan bekal berupa "an-nafsu an-natiqoh". Kemampuan untuk menalar, melihat lebih dalam dan lebih jauh. Dengannya, manusia bisa membangun peradaban yang dahsyat. Bahkan, secara metafisik, manusia bisa mencapai "Maqom" tertinggi, yaitu Maqom al-fardaniyah dan al-wahdaniyah alias"Maqom" Ketuhanan.
Di antara manusia yang memiliki kemampuan "an-nafsu an-natiqohx yang ajib dan dahsyat adalah Abu Hamid Al-Ghozali, ulama yang bergelar Hujjatu Al-Islam.
Ya, bisa dibilang Imam Al-Ghozali adalah "master of Methapor". Ini seperti kitab Misykatul Anwar yang beliau tulis. Isinya, tentang penjelasan makna ayat yang menegaskan bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahya.
Imam Al-Ghozali menjelaskan dengan begitu runut dan gamblang. Pun kata-kata yang digunakan seringkali menyesuaikan dengan pembacanya. Ya, seperti dimaklumi, penulisan Kitab Misykatul Anwar ini adalah permintaan dari salah satu murid (santrinya) Imam Al-Ghozali.
Bahkan, di kitab lain yang fenomenal, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghozali pun begitu banyak menggunakan simbol-simbol, pertanda, methafor, dan perlambang yang mengindikasikan bahwa beliau sangat matang dalam ilmu, pengetahuan, dan penguasaan akan perlambang-perlambang, simbol-simbol, dan metafor.
Misalnya dalam Ihya Ulumuddin. Kitab ini berisi 40 kitab (bab). Kenapa 40? Ada yang bilang ini seperti Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi nabi di usia 40 tahun.
Ada pula yang menjelaskan hal tersebut seperti hadits nabi yang mengatakan siapa yang hafal 40 hadits nabi akan masuk surga. Karenanya kita kenal dengan hadits arba'in. Seperti karya Imam Nawawi: "al-Hadits Al-Arba'in An-Nawawiyah".
Pun ada yang mengaitkan seperti lamanya "semedi" dan "tapa" nabi Musa di gunung Thur, hingga bisa berbicara dengan Allah.
Begitu saya pernah dengar bahwa "life begin at forty", yang katanya kematangan seseorang dimulai pada usia 40 tahun. Ya, apapun dasarnya, kenapa 40, Hanya Al-Ghazali dan Allah yang tahu jawaban sebenarnya.
Jika melihat lebih jauh lagi, Kitab Ihya Ulumuddin itu terbagi ke dalam 4 bagian. Masing-masing bagian terdiri dari 10 kitab. Hal ini dikatakan terkait dengan fase kehidupan manusia.
Bagian pertama kitab Ihya Ulumuddin adalah tentang Ibadah. Menariknya, meski tentang ibadah, Al-Ghazali memulainya dengan kitab ilmu.
Seolah, Imam Al-Ghozali ingin menekankan bahwa semuanya mesti didasari oleh ilmu. Terlebih soal ibadah. Pun soal kehidupan manusia.
Lalu di kitab ke 20, Al-Ghozali membahas tentang kerja dan mencari rejeki. Lagi-lagi, seakan-akan Imam Al-Ghazali ingin menggambarkan bahwa di usia 20 tahun ke atas, adalah fase seseorang mulai mencari kerja dan menghidup dirinya sendiri.
Kemudian di kitab ke 31, Al-Ghazali membahas tentang keajaiban hati. Seakan ingin mengingatkan bahwa di fase ini, seseorang mesti memahami konsep diri.
Lalu, di bagian akhir, Al-Ghozali membahas tentang dzikru al-maut. Alias mengingat mati.
Ya, inilah Ulama yang sangat amat keren. Ulama yang menguasai berbagai ilmu lalu menjadikannya pengetahuan dengan sangat mendalam. Soal biografi Imam Al-Ghazali, bisa ditemukan dalam Kitab lain, yaitu Al-munqidz min Al-dholal.
Di kitab tersebut, dijelaskan bagaimana Al-Ghozali mengalami kegelisahan tentang ilmu dan pengetahuannya sendiri. Pun dijelaskan tentang bidang apa saja yang diperdalam oleh Al-Ghozali.
Teruntuk Imam Al-Ghozali: Al-fatihah.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 11022022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar