Kamis, 10 Februari 2022

Makna Hakiki Allah Bersama Segala Sesuatu (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali memberi penjelasan lebih lanjut tentang "Allah bersama segala sesuatu, seperti cahaya yang ada bersama segala sesuatu" yang kemungkinan akan dipahami sebagian orang dengan pernyataan bahwa Allah ada dimana-mana dan Allah seolah-olah banyak dan punya tempat. 

Pandangan dan pendapat bahwa Allah bersama segala sesuatu yang kemudian oleh sebagian orang dipahami bahwa Allah ada dimana-mana, ditegaskan oleh al-Ghazali bahwa Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dan terlepas dari tempat. Sederhananya, Allah terbebas dari "tempat" atau "penempatan" seperti yang dipahami penglihatan lahiriah. 

Ya, tak dibisa dipungkiri, seakan ada kontradiksi antara Allah bersama segala sesuatu dan Allah tidak terkait tempat. Ya, seolah-olah, di satu sisi Allah bertempat karena "bersama" segala sesuatu, di sisi lain Allah tidak terkait dengan tempat. 

Nah, Imam Al-Ghazali menjelaskan lebih lanjut, bahwa makna " Allah bersama" tersebut adalah: Allah Ada "sebelum' segala sesuatu ada, dan Allah Ada "di atas" segala sesuatu ada. Dan Allah Yang Membuat segala sesuatu menjadi ada dan tampak. (قبل، فوق، المظهر). Dan inilah makna hakiki dari ungkapan: "Allah bersama segala sesuatu".

Penjelasan sederhananya; jika diurutkan, Sesuatu Yang Membuat segala sesuatu ada dan tampak (المظهر), Ada "sebelum" sesuatu yang ditampakkan, ada. Dan Yang membuat segala sesuatu menjadi ada, pastinya berada di tingkatan atas, ada di atasnya secara urutan. 

Sekali lagi, Allah dikatakan bersama (مع) segala sesuatu, memang seolah-olah bareng; adanya bareng-bareng, bersamaan dengan segala sesuatu tersebut. Padahal tidak. Di satu sisi dikatakan bareng, padahal hakikatnya di sisi yang lain, Adanya Allah, lebih dulu (sebelum) dan posisi atau secara tingkat, Adanya Allah di atas.

Hal tersebut terlihat paradoks dan kontradiktif, padahal tidak. Al-Ghozali memberikan contoh yang sangat sederhana dalam kitab Misykatul Anwar, yaitu dengan mengajak kita melihat gerakan tangan dan bayangannya. 

Ketika melihat gerakan tangan dan bayangan, akan terlihat gerakan keduanya berbarengan. Seolah-olah keduanya bergerak secara bersamaan. Tapi, hakikatnya tidak. 

Gerak bayangan hadir (adanya) setelah gerak tangan. Sederhananya, bayangan ada, karena ada tangan. Dan geraknya bayangan yang seolah-olah bersamaan itu, hakikatnya, gerakannya ada setelah adanya gerakan tangan. Jadi, gerakan tangan ada sebelum gerakan bayangan. Pun derajatnya, ada di atas gerakan bayangan. 

Al-Ghazali memberi contoh dengan tangan dan bayangan yang identik dengan alam lahirian dan indera penglihatan, bukan berarti "menyamakan" Allah dengan itu. Bukan. Sekali lagi bukan. Itu hanya analogi, misal, perlambang, metafora. 

Kebanyakan manusia memang maqomnya berada di Maqom inderawi (المحسوسات) dalam pengetahuannya (العرفان) dalam memahami sesuatu. Seperti paham materialisme. Jadi, Al-Ghazali memberi misal dan gambaran dari sesuatu yàng mudah dipahami oleh kebanyakan manusia.

Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa segala sesuatu ada maqomnya masing-masing. Termasuk manusia; punya maqomnya masing-masing. Dan Al-Ghazali menekankan agar setiap orang menyadari maqomnya di mana, lalu menyadari bahwa ada maqom-maqom lain yang lebih tinggi derajatnya di atasnya. 

Ya, itulah penjelasan Imam Al-Ghazali tentang "Allah (Ada) bersama segala sesuatu".

Ah, saya jadi ingat dengan ucapan orang-orang: "Allah bersama kita", "Tanang aja, Ada Allah bersama kita", dan kata-kata lain yang intinya ingin menegaskan bahwa Allah ada bersama setiap orang.

Jika menggunakan "pendekatan" penjelasan Al-Ghazali bahwa Allah "bersama" (itu ada "Sebelum", "di atas", dan "Yang Membuat segala sesuatu menjadi ada"), sepertinya setiap orang tidak akan merasa gundah, galau, gelisah, dan akan semakin cerah dan terang hidupnya. Kenapa? 

Karena Ada keyakinan bahwa Ada Allah sebelum dan bersama dirinya dan bersama segala sesuatu yang ada, terjadi, dan tersaji dalam hidupnya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 10022022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar