Minggu, 06 Februari 2022

Penglihatan, Pendengaran, Gerakan, hingga Ucapan Malaikat bahkan Penglihatan, Pendengaran, Gerak, dan Ucapan Tuhan Dalam Diri Seseorang. (Misykatul Anwar)

Puncak mi'roj bagi makhluk (manusia) adalah kekuasaan (kerajaan) ketunggalan atau kesendirian (الفردانية). Ia lebur dan tenggelam ke dalam Maha SendiriNya Allah. Dan itulah "naik" paling tinggi. Tidak ada lagi tempat naik yang lain. 

Kenapa istilah yang dipakai adalah mi'roj atau naik? Setidaknya ada tiga hal yang diungkap Imam al-Ghazali. Pertama, sesuatu disebut naik, itu karena memang ada (bahkan banyak) sesuatu di atasnya (المرقى لا يتصور إلا بكثرة).  

Analogi sederhananya kira-kira seperti seseorang lagi berdiri di lantai pertama pada rumah tiga lantai. Nah, kenapa naik? Karena ada lantai lebih tinggi dibatasnya. Begitupun dengan derajat dan Maqom manusia yang mesti naik. Karena di atasnya masih ada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Dan fitrah manusia mestinya naik ke tingkatan-tingkatan lebih tinggi tersebut, karena Allah sudah memberikan modal berupa an-nafsu an-natiqoh, mata batin, atau akal. 

Kedua, kenapa naik? Karena setiap makhluk atau manusia memang perlu relasi dan keterhubungan dengan yang lain. Keterhubungan ini menuntut setiap orang untuk naik ke Maqom lebih tinggi (إنه نوع إضافة يستدعي ما منه الإرتقاء)

Ketiga, adanya tujuan di "atas" sana yang membuat seseorang mesti naik (إليه الإرتقاء).

Ketika seseorang telah naik dan sampai pada "puncak" maka yang ada hanya Satu. Yang terjadi adalah dirinya melebur ke dalam Yang Maha Satu. 

Ketika dirinya melebur dan larut, seperti gula atau garam yang larut ke air hangat, maka tidak ada lagi hal lain (yang banyak tadi). Karena yang ada hanya Yang Satu. Ia tidak lagi mau yang lain, yang ia mau hanya Yang Satu. Yang ia lakukan adalah terus terlebur dengan Yang Maha Satu. 

Kalaupun ada perubahan lain dari keadaan tersebut, yang ada adalah ia turun ke bumi. Turun ke langit dunia. Al-Ghazali menerangkan, turun tersebut yaitu dengan melihat apapun (seperti) dari atas ke bawah. Karena paling atas pasti punya (dan ada) yang paling bawah. Tapi tidak ada lagi atasnya. Namanya juga paling atas dan paling tinggi, bukan? 

Keadaan seperti ini (naik dan mi'roj hingga mencapai Maqom al-fardaniyah) lah yang menjadi tujuan utama dari banyak tujuan dan (sejatinya) menjadi puncak permintaan seorang manusia. Kemudian akan percaya, tahu, dan mengerti orang-orang yang tahu. Tapi, orang-orang bodoh (tidak tahu) akan mengingkarinya.

Sebab, keadaan seperti itu, seperti hadits nabi yang menyatakan bahwa ada ilmu-ilmu yang tersembunyi (أن من العلم كهيئة المكنون). Karenanya akan wajar ketika ada orang yang percaya dan mengingkarinya. 

Al-Ghazali menegaskan, bahwa mereka yang tahu dan percaya adalah para Ulama Billah (العلماء بالله). Sementara yang mengingkarinya adalah mereka yang tertipu dengan Allah (أهل الغرة بالله). 

Di awal-awal kitab Misykatul Anwar ini, Al-Ghazali telah mengingatkan perihal orang-orang yang tertipu ini. Mereka seperti paham agama, tapi sebenarnya tidak. Mereka yang sering mengatasnamakan agama untuk menghina dan melabeli orang lain dengan sebutan yang buruk. Pun mereka yang selalu bilang bahwa merekalah yang paling benar untuk urusan agama. 

Kembali kepada orang-orang yang sudah sampai pada puncak "naik" dan mi'rojnya lalu turun ke alam dunia. Diterangkan bahwa turunnya mereka adalah turunnya malaikat. Bahkan, lebih jauh turunnya Allah. 

Ya, seseorang yang telah mencapai Maqom "fardaniyah mahdoh" atau lebur ke dalam Yang Maha Sendiru dan Maha Satu, kemudian turun ke bumi diibaratkan seperti turunnya para malaikat, bahkan seperti turunnya Allah ke Bumi. 

Sebab, keadaan mereka telah berbeda. Telah berubah. Mereka telah memiliki ma'rifat. Seperti yang tertulis dalam hadits Qudsi:

صرت سمعه الذى يسمع به و بصره و لسانه الذى ينطق به

Ya, orang-orang yang sudah mencapai ma'rifat, memiliki tubuh manusia, tapi kesadarannya adalah kesadaran malaikat, bahkan lebih jauh, kesadaran Tuhan. 

Ketika mereka melihat, mereka menggunakan penglihatan malaikat, bahkan Pendengaran Tuhan. Pun ketika mendengar, berbicara, hingga bertindak, yang melakukan semua itu adalah pendengaran, lisan, hingga gerakan Malaikat bahkan Tuhan. 

Karenanya, dalam sejarah di kenal ada ulama yang bernama Abu Mansur Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Bushtomi. Al-Ghazali menyebut bahwa Al-Hallaj dan Al-Bushtomi adalah orang yang sudah sampai pada Maqom "al-fardaniyah mahdoh". Sudah sampai pada Maqom lebur ke dalam yang Maha Satu. Sayangnya, ketika mereka turun ke bumi, keadaan mereka, dibilang Al-Ghazali, masih mabuk. Hingga mengatakan: "ana Al-Haq", Akulah Allah. 

Nah, berbeda dengan orang-orang yang telah sampai pada Maqom tertinggi lalu turun ke bumi, lalu sadar. Maka, yang terjadi adalah; pandangan, pendengaran, ucapan, dan gerak gerik mereka akan berubah yaitu memandang dengan pandangan Malaikat bahkan pandangan Allah. Pendengaran mereka pun pendengaran malaikat, bahkan Pendengaran Allah. Ucapan mereka pun ucapan malaikat, bahkan ucapan Allah. 

Analogi sederhananya kira-kira seperti ini: seseorang yang awalnya tidak mengerti dan tidak tahu dunia digital marketing, misalnya. Ketika ia belajar, lalu tahu, kemudian menguasai dunia digital marketing, maka yang ia lihat, dengar, dan lakukan akan berbeda dari sebelum ia tahu. Padahal matanya tetap sama, kupingnya tetap sama.

Contoh yang lain, ketika seseorang belajar sampai S3 bahkan mungkin sampai jadi profesor di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia, ia akan melihat Indonesia dengan pandangan yang berbeda. Iabakan melihat Indonesia dengan perspektif yang berbeda. Pun akan meliha Indonesia dengan penglihatan yang berbeda. Padahal, matanya, telinganya, lisannya dan Indonesianya masih sama seperti yang dulu. Yang membuat beda adalah perspektif, penglihatan, pandangan, dan pengetahuannya.

Begitu pula dengan orang-orang yang telah sampai ke Maqom tertinggi Dan paling tinggi, yang kemudian turun ke bumi. 

Keisengan saya kambuh. "Pandangan malaikat, bahkan Pandangan Tuhan" ini pun sepertinya bisa diterapkan untuk orang-orang yang masih berada di tingkat dan alam bawah. 

Misalnya, ketika melihat orang lain, melihat apapun yang ada di bumi, ketika kita menyadari bahwa ada pandangan Malaikat dan Pandangan Tuhan saat melihat semuanya, maka sepertinya tidak akan ada pandangan negatif, jelek, dan jahat kepada apapun dan kepada siapapun. 

Misalnya ketika kita melihat seorang maling dan tertangkap, ketika melihatnya dengan pandangan Malaikat, bahkan pandangan Tuhan, sepertinya aksi main hakim sendiri tidak akan terjadi. 

Semua dan apapun yang kita lihat, dengar, ucap, dan lakukan, ketika menggunakan kesadaran pandangan, pendengaran, lisan, dan gerak malaikat, bahkan Tuhan, sepertinya semuanya akan indah. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 06022022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar