Sabtu, 12 Februari 2022

Suluk Shirothol Mustaqim. (Misykatul Anwar)

Di antara teori kognisi (al-idrok) paling dasar yang diungkap Imam Al-Ghozali adalah kemampuan mengindera. Yakni, melihat, mendengar, merasakan, dan indera lainnya yang berkaitan dengan alam fisik. Misalnya melihat gelas kopi.

Semua yang diindera tersebut lalu masuk ke dalam "al-khoyal". Sederhananya, "Al-Khoyal" adalah gudang memori dalam diri manusia. Jadi, walaupun gelas kopi yang dilihat tadi sudah tidak ada wujudnya (dipindahkan ke dapur, atau pecah, atau hilang), tapi "Al-Khoyal" dalam diri manusia masih menyimpan gambar, bentuk, dan segala sesuatu tentang gelas kopi yang "pernah" dilihat oleh mata. 

Nah, Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa alam yang tinggi (alam gaib, alam malakut) yang "bisa diketahui" oleh indera dan "al-khoyal" bisanya dikenal dengan istilah alam abstrak. Seperti ide, konsep,  dan gambaran-gambaran yang ada di "al-khoyal".

Gambaran abstrak yang ada di "al-khoyal" tersebut tentu saja adalah hal yang gaib. Karena ia tidak bisa dilihat oleh indera penglihatan (mata). Karenanya Imam Al-Ghozali menyebutnya dengan alam yang suci ('alam al-quds). 

Kenapa dibilang alam yang suci? Karena segala sesuatu yang ada pada dirinya (di alam yang suci/'alam al-quds) tersebut bisa dibilang masih murni. Analogi yang sekiranya mudah dipahami secara inderawi, adalah seperti suatu tempat yang dianggap keramat atau suci. 

Tempat tersebut dikelilingi pagar, dikelilingi tembok dan ditutup atap. Hingga siapapun atau apapun tidak ada yang bisa masuk atau keluar dari situ. Karena dianggap suci. 

Pun begitu, siapapun yang ingin lebih dekat kepada Allah, kata Al-Ghozali mesti "menapakkan kaki" ke inti atau pusat dari alam yang suci tersebut. Al-Ghozali menyebutnya dengan ""hazhirotul quds".

Pusat kesucian atau "hazhirotul quds" tersebut adalah ruh manusia (ar-ruhul basyari). Dan di sinilah tempatnya kilatan-kilatan yang "suci", seperti ide, konsep, dan Ilham melintas. Di ruh manusia. Hal tersebut "digambarkan", "dimetaforakan", "diperlambangkan" oleh Al-Quran dengan "al-wadil Muqoddas" (lembah" yang suci) dalam kisah Nabi Musa yang sangat familiar saat bertapa di Thur lalu bertemu dengan Allah.

Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa terdapat tingkatan-tingkatan makna dalam "hazhirotul quds". Dan para "Arbabul Bashoir" bisa melihat, tahu dan mengerti semua itu. 

Seperti di catatan sebelumnya, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa alam syahadah atau alam jasmani atau alam "hissi", adalah tangga untuk naik ke alam akal, alam malakut, alam gaib, atau alam "atas". 

Antara kedua alam tersebut punya keterhubungan dan keterkaitan, yaitu ruh manusia. Dengan kata lain, Allah menitipkan sesuatu yang suci dalam diri manusia, berupa ruh. 

Ruh yang bisa membuat manusia "naik" hingga alam malakut. Bahkan bisa naik lagi hingga sampai ke Maqom Al-fardaniyah dan al-wahdaniyah, alias Maqom Ketuhanan. 

Inilah pengantar Al-Ghozali pada pasal kedua kitab Misykatul Anwar. Hal tersebut untuk mendasari pembahasan dan penjelasan Imam Al-Ghozali tentang bagaimana sebuah perlambang atau bagaimana metafora (mitsal) terbentuk.

Tentu saja perlambang atau metafora dalam Al-Quran. Bukan metafora yang dikenal dalam dunia sastra, terutama puisi. Metafora yang ingin dibahas Al-Ghozali adalah metafora yang dasarnya adalah pengalaman ruhani, pengalaman sufistik yang dirasakan dan dialami langsung oleh Imam Al-Ghozali. 

(Dan inilah catatan kecil saya untuk ngaji Misykatul Anwar pasal kedua).

Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa alam syahadah adalah tangga untuk menuju ke alam malakut. Ungkapan paling sederhana untuk naik tersebut, menurut Al-Ghozali adalah "suluk Shirothol Mustaqim". Ya, Shirothol Mustaqim yang terdapat di surat Al-Fatihah. 

Sederhananya, tangga pertama alias tingkatan pertama untuk "naik" ke alam malakut disebut dengan "suluk Shirothol Mustaqim". 

"Naik" atau Suluk Shirothol Mustaqim ini dikenal dengan istilah atau ungkapan agama dan tingkatan-tingkatan atau tempat-tempat petunjuk (الدين و منازل الهدى). 

Sekali lagi, Imam Al-Ghozali, menegaskan kalau tidak ada "tangga", tidak ada keterhubungan, dan tidak ada keterkaitan antara alam syahadah dan alam malakut, maka tidak akan ada kata atau tidak akan bisa seseorang "naik" dari alam yang satu ke alam yang lain.

Yang membuat keterhubungan dan ketersambungan itu tidak lain, kata Al-Ghozali, adalah Rahmat Ketuhanan (الرحمة الإلهية). Rahmat Ketuhanan inilah yang  membuat keseimbangan (keteraturan) di alam malakut. Kemudian keseimbangan di alam malakut lah yang menciptakan alam syahadah. Ya, alam syahadah ataubalam jasmani ini bisa dibilang gambaran dan perwujudan dari alam malakut.

Sederhananya, dunia ini adalah wujud dan bentuk yang berasal dari alam malakut. Analogi sederhananya kira-kira seperti sebuah bangunan. 

Bangunan itu ada karena diawali dari ide, konsep, dan desain seorang arsitek. Ide itu kemudian diwujudkan menjadi sebuah bangunan. Ide dan desain bentuk bangunan tersebut adalah alam Quds sementara wujudnya alam syahadah.

Karenanya Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini (di alam syahadah) adalah "mitsal" (perlambang, metafora, simbol) dari segala sesuatu yang ada di alam quds atau alam malakut yang Al-Ghozali menyebutnya dengan "makna" (المعنى).

Sederhananya, "Mitsal" (metafora, perlambang) menurut Al-Ghozali adalah simbol-simbol atau sesuatu yang ada di alam syahadah tapi maknanya ada di alam malakut. Antara simbol yang dipakai di alam syahadah dan makna di alam malakut harus ada keterhubungan, kecocokan, atau keserasian.

Nah, "makna" di alam malakut yang berwujud abstrak dan gaib kemudian jadi ada bentuknya di alam syahadah yang bisa dilihat, didengar, dan dipahami lebih mudah oleh manusia. Nah, inilah tangga/jalan/jembatan untuk manusia untuk beriman kepada hal yang gaib, untuk manusia bisa melakukan Suluk Shirothol Mustaqim. 

Disebut "mitsal", simbol, metafora, atau perlambang karena ada "makna" yang "di-mitsalkan", disimbolkan, dimetaforakan, dan diperlambangkan. Di sinilah proses terjadinya metafora, perlambang, simbol, atau "mitsal".

Imam Al-Ghozali menegaskan: pertama, satu simbol bisa banyak makna. Dan kedua, banyak simbol bisa satu makna. 

Contoh sederhana dari satu simbol banyak makna, di antaranya adalah mata. Mata bisa bermakna: penglihatan, pemahaman, pengertian, pengetahuan, dan lain-lain. Sementara contoh sederhana dari banyak simbol satu makna, di antaranya adalah Asmaul Husna. 

"Naik" atau "Mi'roj" pertama yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah Suluk Shirothol Mustaqim. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar