Selasa, 01 Februari 2022

Wujud Hakiki dan Majazi, Al-nafsu Al-Nathiqoh, Hingga Makna Allahu Akbar (Misyaktul Anwar).

Di catatan sebelumnya, diterangkan bahwa ada dua wujud. Yakni wujud hakiki dan wujud majazi. Wujud hakiki adalah Allah 'Azza Wajalla. Dan selain-Nya adalah wujud majazi.

Wujud majazi, bisa dibilang wujud pinjaman. Ya, wujud yang pinjam ke Allah. Suatu saat pinjaman itu akan ditarik atau diambil kembali oleh Allah.

Perlu dicatat, wujud (ada) itu bisa dibilang cahaya. Sebab sesuatu dibilang ada karena dia tampak (ada cahaya di dirinya). Dan cahaya atau ada-nya makhluk adalah cahaya dan ada yang majazi, bukan hakiki.

Ini berarti, semua yang ada di dunia dan bumi ini, hakikatnya adalah majazi. Analoginya seperti pinjaman. Ya, segala sesuatu yang ada (majazi) adalah pinjaman dari Allah. 

Pandangan ini perlu "pegangan" dan "arahan". Sebab, jika memandang segala sesuatu adalah pinjaman, seseorang akan tergelincir pada pasrah total yang bisa jadi kurang tepat. bisa jadi, benar di satu sisi, tapi kurang tepat di sisi yang lain. Kenapa?

Sebab, meski semua hal adalah pinjaman, tapi Allah juga memberi "bekal" berupa jiwa, mata batin, akal, ruh, atau "nafs" yang bisa menalar dan melihat segala sesuatu (an-nafsu an-natiqoh). 

"An-nafsu an-natiqoh" ini mesti digunakan untuk membuat dan membangun peradaban di dunia dan bumi. Selain sebagai bentuk syukur karena dibekali kemampuan ini, penggunaan bekal istimewa ini pun sepertinya untuk pengingat bahwa kemajuan dan perkembangan apapun yang terjadi dan ada di dunia dan bumi ini hakikatnya adalah majazi dan ada karena adanya Allah.

Ya, sederhananya adalah, misalnya ketika seseorang menjadi ilmuan, ia akan sadar bahwa apapun yang ditemukan adalah temuan majazi dan tak lupa bahwa ia makhluk Allah. 

Saya jadi ingat dengan nasihat Kiayi Idris: "jadi apapun kalian kelak, inggatlah pertama kali kalian adalah muslim dan mu'min. Ini mesti jadi pondasi awal. Kalian jadi dokter, berarti kalian adalah muslim dan mu'min yang dokter. Dan lain sebagainya."

Ya, ada empat kesadaran dan keyakinan yang perlu terus ada dalam diri setiap orang. Pertama keyakinan bahwa adanya dirinya adalah majazi, mengikuti Adanya Allah. Kedua, menyadari bahwa semua yang ada di dunia dan bumi ini adalah pinjaman. Suatu saat akan diambil oleh pemilik sejatinya. Ketiga, menyukuri pinjaman dan bekal yang dikasih Allah berupa akal, mata batin, nafs, atau jiwa untuk mengembangkan, memajukan, serta meningkatkan kualitas kehidupan di dunia. Keempat, menyadari bahwa posisi dan status setiap manusia adalah hamba Allah apapun profesi, kerja, dan jabatannya di dunia.

Sekali lagi, Allah telah membekali manusia dengan cahaya yang disebut "al-nafsu al-nathiqoh". Kemampuan untuk bernalar hingga bisa menciptakan dan menemukan sesuatu. Menggunakan bekal ini adalah bentuk syukur kepada Allah. Malah, ketika tidak menggunakannya, bisa dianggap mengingkari kemanusiaan dan hakikat "keberadaannya" sebagai manusia. 

Sebab hakikatnya manusia bukan hewan dan bukan tumbuhan. Mesti sama-sama dibekali jiwa dan ruh, tapi hewan tidak bisa bernalar. Ruh dan jiwanya sebatas bertahan hidup (makan) dan berproduksi. 

Karenanya, bisa dibilang, manusia yang sebatas bertahan hidup dan bereproduksi, serta tidak menggunakan ruh, jiwa, akal, dan nafs-nya untuk menalar dan naik ke alam yang lebih tinggi, bisa dibilang binatang bahkan lebih sesat (أضل). 

Pun dengan tumbuhan, dibekali ruh tapi sebatas bertahan hidup (makan). 

(Keisengan saya kambuh di sini). Karena hewan dan tumbuhan punya ruh. Ini berarti adanya mereka pun hakikatnya punya "keterhubungan" dengan Yang Ada Hakiki (wujud hakiki) yaitu Allah. Hanya saja, mereka tidak dibekali al-nafsu al-nathiqoh. Hingga derajat mereka berada di bawah manusia. Karena keterhubungan ini, sepertinya perlu dibangun "hubungan" yang baik pula dengan mereka. sebab, ketika manusia merusak dan memperlakukan mereka dengan semena-mena, hakikatnya merusak dan berlaku semena-mena kepada Sang Pencipta. Karena itu tadi, ada keterhubungan ruh. 

Kembali pada Misykatul Anwar, Imam Al-Ghazali menerangkan, bahwa orang-orang yang "tahu" (ma'rifat) dan sadar akan hakikatnya hakikat sesuatu hingga hakikatnya hakikat hakikat akan sesuatu, dan seterusnya kemudian menyempurnakan mi'roj nya; mereka akan melihat dan menyaksikan langsung bahwa tidak ada wujud selain Allah Ta'ala.

Hal ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran yang berbunyi: "كل شيء هالك إلا وجهه"

Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar menegaskan bahwa yang dimaksud  "هالك" di ayat tersebut bukan hancur di waktu tertentu, tapi hancur atau binasa dari yang tak terbatas di masa lalu dan yang tak terbatas di masa depan (ازلا و ابدا).

Karena sungguh, segala sesuatu (dzatnya) selain Allah, adalah ketiadaan murni. Asli, enggak ada. Ya, selain Allah, hakikatnya gak ada.

Nah, segala sesuatu yang "dianggap" ada di dunia ini adalah ada karena adanya Allah. Ada karena adanya Wajah Allah.

Perlu dicatat dan ditegaskan. Kata "wajah" (وجه), jangan sekali-kali dibayangkan dan dilekatkan kepada Allah. Sebab, jika kata "wajah" di sini diartikan seperti wajah manusia, maka ini kekeliruan fatal. Sebab Allah tidak seperti manusia. 

Manusia dan bahasanya sangat amat terbatas untuk menggambarkan bahkan untuk menjelaskan tentang Allah. Kata-kata dalam Al-Quran yang seperti itu, seperti "wajah", adalah untuk memudahkan manusia "mengerti" dan "memahami" tentang Allah, bukan gambaran tentang Allah itu sendiri. 

Seperti kata "wajah Allah" (وجه الله), jangan sekali-kali diartikan sebagai wajah Allah secara harafiah. Sebab, manusia sangat amat terbatas pengetahuan, kata-kata, dan bahasanya. Nah karena keterbatasan ini, di sini, kata yang dianggap paling mewakili adalah wajah Allah. (Sekali lagi, wajah di sini jangan diartikan dengan harafiah!).

Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa segala sesuatu itu punya dua wajah. Pertama, wajah dirinya sendiri. Kedua wajah (ke) Tuhannya (Allah). Wajah dirinya sendiri adalah ketiadaan ('adamun). Sementara wajah Allah adalah ada (maujud)

Jadi, sungguh tidak ada yang ada kecuali Allah (لا موجود إلاالله). Dan segala sesuatu selain wajah Allah adalah hancur atau binasa dari yang tak terhingga di masa lalu dan tak terhingga di masa yang akan datang (ازلا و ابدا). 

Al-Ghazali menegaskan bahwa seruan (panggilan, pandangan) tersebut tidak perlu menunggu sampai hari kiamat. Seperti yang tertera dalam ayat:

"لمن الملك اليوم، لله الواحد القهار"

Ya, pandangan dan seruan tersebut, kata Al-Ghazali, sebenarnya terus berdengung di telinga setiap orang. Terlebih di telinga orang-orang yang "tahu", orang-orang yang mengetahui hakikat, orang-orang yang punya ma'rifat. Tidak perlu menunggu hingga kiamat, hari ini pun, sekarang pun, mereka akan menjawab bahwa Allah pemilik segala kekuasaan.

Seperti pemahaman tentang "Allahu Akbar" (الله اكبر). Al-Ghazali, dalam kitabnya, Misyaktul Anwar, menjelaskan bahwa Allahu Akbar maknanya adalah: Allah terlalu Besar untuk disebut Maha Besar atau Lebih Besar. 

Allahu Akbar tidak bisa dimaknai "Allah Lebih Besar," sebab jika demikian, kita mengakui adanya wujud yang hakiki selain Tuhan. 

Kata Akbar, dalam kaidah bahasa Arab masuk dalam "shigoh tafdhil" yang berarti ada sesuatu yang lain yang jadi perbandingan, ada yang lain yang dibandingkan. 

Nah, Allah itu tidak ada bandingannya. Tidak ada yang bisa menandingi Allah. Lagi-lagi di sinilah keterbatasan kata dan bahasa manusia. Kata Allahu Akbar bukan berarti ada yang sesuatu yang lain selain Allah. Walaupun bentuknya lebih kecil dari Allah. Tidak, itu tidak ada. 

Tidak ada wujud selain Allah. Yang Wujud hanya wujudnya Tuhan. Jadi, mustahil mengatakan "Allah Lebih Besar." Lebih besar dari apa, kalau tidak ada wujud selain Allah?

Allahu Akbar sederhananya bisa diartikan dengan:  Allah itu lebih Akbar dari Akbar, bahkan tak terhingga akbar-nya dalam jangkauan bahasa dan kata-kata manusia. Akbar-Nya Allah itu tak terhingga.  

Ya, Allah tidak bersifat Akbar dalam makna bahasa manusia yang sangat terbatas. Sekali lagi, ini adalah keterbatasan bahasa manusia dan keterbatasan manusia itu sendiri dalam memahami "Ke-MahaBesaran-Nya" yang tak terhingga.

Begitupun dengan kalimat Allah bersama kita (إن الله معنا). Al-Ghazali pun mengingatkan bahwa ini hanya majazi, metaforis, dan perumpamaan saja. Sebab, kita tidak bisa sejajar secara hakiki. 

Sekali lagi, segala sesuatu selain Allah adalah makhluk (ciptaan). Termasuk manusia. Kata "bersama" tidak bisa diartikan dengan "posisi" sejajar secara harfiah. 

Bahkan, Al-Ghazali menegaskan bahwa derajat ada dan keberadaan makhluk (manusia, dll) tidak bisa sejajar dan bersama (المعية) tapi tab'iyyah (تبعية), yakni mengikuti Adanya Allah. Allah Yang Mahanya Maha Maha Maha Besar yang tak terhingga Ke-MahaBesaran-Nya. 

Ya, makna Allahu Akbar itu lebih besar (tak terhingga dan tak terbatas) dari kata Allahu Akbar yang diucapkan manusia (yang terbatas). Bahkan lebih besar dari Allahu Akbar yang diketahui manusia, nabi, bahkan malaikat sekalipun. 

Karena tidak ada yang benar-benar bisa tahu Allah kecuali Allah sendiri. Kenapa? 

Sebab, tahu atau pengetahuan itu bisa dibilang kekuasaan dan kekuatan. Seperti ungkapan: knowledge is power. Ketika seseorang tahu akan sesuatu, maka sesuatu yang diketahuinya itu masuk menjadi bagian dari kekuasaanya.

Misal sederhananya, ketika seseorang tahu tentang digital marketing, itu berarti dia menguasai digital marketing. 

Begitupun dengan Allah. Ketika seseorang tahu tentang Allah, itu berarti dia menguasai Allah. Dan ini sangat amat tidak mungkin. Sebab, Sejatinya, siapapun selain Allah, tidak bisa "tahu" Allah.

Yang mungkin dan bisa adalah, dia "tahu" dan "mengetahui" dirinya. Ketika dia tahu tentang dirinya, maka dia mengetahui sedikit (teramat dikit) dan sebagian kecil (teramat kecil) tentang Allah. 
"من عرف نفسه، عرف ربه"

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 02022022













Tidak ada komentar:

Posting Komentar