Rabu, 02 Februari 2022

Kritik Al-Ghazali pada Mereka yang "Mabuk" ketika sampai pada Maqom Ma'rifat (Misykatul Anwar)

Sistematika Imam Al-Ghazali dalam menjelaskan sesuatu, biasanya akan dimulai dari tingkatan yang paling mudah dimengerti terlebih dahulu. Ini bisa disebut dengan pra-hakikat. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan hakikat sesuatu (حقيقة). Lalu naik lagi kepada hakikatnya hakikat (حقائق الحقائق) Lalu puncaknya adalah isyarat (إشارة).

Di catatan sebelumnya, Al-Ghozali telah menjelaskan tentang hakikatnya hakikat yang ada (al-wujud). Nah, catatan ini, saat ini terkait dengan isyarat. Kenapa isyarat? Karena hal yang akan dijelaskan Imam Al-Ghazali setelah ini adalah tentang "rasa" yang seringkali tidak bisa diwakili oleh kata-kata.

Ya, Al-Ghazali menerangkan bahwa orang-orang yang telah mencapai ma'rifat (pengetahuan sejati, pengetahuan yang sebenar-benarnya) dan mi'roj (naik) ke langit hakikat (hakikatnya hakikat), maka mereka tidak akan melihat yang "ada" (al-wujud) kecuali hanya wujud yang Satu, yaitu Allah.

Mereka yang sampai pada keadaan (al-hal: mi'roj) ini, Al-Ghozali bagi kepada dua golongan. Pertama adalah golongan "'irfanun 'ilmiyyun" (عرفان علمى) alias golongan orang-orang yang mencapai ma'rifat secara kognitif atau ilmiah. Bahasa sederhananya pengetahuan akademis. Lebih sederhana lagi: Sufi akademis. 

Golongan kedua adalah mereka yang disebut Al-Ghozali dengan "haalun dzauqiyyun" (حال ذوقى). Yakni orang-orang yang telah mencapai makrifat dengan kesadaran atau pengetahuan intuitif. Bahasa sederhananya mereka yang pengetahuannya berdasar rasa. Ya, seperti "ilmu roso" atau ilmu rasa. Mereka langsung merasakan.

Mereka yang masuk ke golongan kedua, biasanya akan hilang kesadarannya akan alam al-kasroh (عالم الكسرة). Alam al-kasroh adalah alam syahadah. Alam yang nampak. Kenapa disebut alam al-kasroh? Karena alam ini adalah alam keberagaman. Banyak makhluk. Ada beragam makhluk di dalamnya. Nah, orang-orang yang masuk ke golongan kedua, akan hilang kesadarannya akan alam ini. 

Mereka digambarkan seperti tenggelam (استغرقوا) dalam kesendirian total atau ketunggalan total (الفردانية المحضة). Akal (mata batin) mereka lebur dan terserap seperti orang-orang yang diam sangat terpesona akan sesuatu (المبهوتين). Ya, tak ada lagi ruang di mata batin (akal, jiwa, ruh, atau nafs) mereka, untuk mengingat (menyebut, melihat) selain Allah, bahkan untuk mengingat diri mereka sendiri. Tidak ada apapun lagi bagi mereka selain Allah. Hingga mereka mabuk.

Ya, Al-Ghazali meggambarkan mereka adalah orang-orang yang "mabuk". Dan mabuk inilah yang menyebabkan hilangnya kekuasaan (peran) mata batin (akal) mereka. 

Al-Ghazali memberi contoh, yaitu Abu Manshur Al-Hallaj yang wafat 309 Hijriyah atau 922 Masehi. Ia mengatakan: "ana Al-Haq" (أنا الحق) yang artinya Akulah Tuhan (Akulah Allah). Kemudian Abu Yazid Al-Bushtomi yang wafat pada 234 Hijriyah, yang bilang: سبحاني ما أعظم شاحنة yang artinya maha suci aku dan betapa agung keadaanku, dan ما فى الجبة الا الله yang bisa diartikan tidak ada di jubahku (badanku, jagat rayaku) selain Allah.

Mereka yang masuk ke golongan kedua kemudian dikritik oleh Imam Al-Ghazali. Perkataan mereka seperti perkataan orang yang tengah mabuk cinta. Cinta tapi mabuk. Namanya mabuk berarti tidak sadar. 

Al-Ghozali menegaskan bahwa ketika mabuk mereka mulai ringan (mulai tidak mabuk, mulai sadar) dan mereka kembali kepada kekuasaan mata batin (akal) yang menjadi timbangan Allah di bumi (ميزان الله في الارض), maka mereka pun akan sadar bahwa yang mereka anggap penyatuan atau menyatu (الاتحاد) tersebut bukanlah penyatuan hakiki (حقيقة الاتحاد) tapi yang menyerupai penyatuan (شبه الاتحاد). Seperti ucapan mereka yang tengah dimabuk cinta dalam sebuah syair: 

أنا من أهوى و من أهوى أنا... نحن روحانى حالنا بادنا

Arti sederhananya: Aku adalah orang yang aku cintai, dan orang yang aku cintai adalah aku. Kita adalah dua ruh tapi dalam satu badan. 

Selain mabuk, Al-Ghozali pun menggambarkan mereka itu seperti tengah melihat cermin. Ketika melihat cermin, ia tidak melihat cermin sama sekali. Tapi yang dilihat adalah gambar atau diri yang di cermin. 

Mereka mengira bahwa gambar yang dilihat di cermin adalah gambar dan cermin yang menyatu. Padahal tidak. 

Pun digambarkan Al-Ghazali, seperti melihat arak dan botol arak. Kira-kira seperti Vodka yang bening dan botol yang bening. Mereka mengira bahwa Vodka adalah botol bening, dan botol bening adalah Vodka. 

Seperti syair yang ditulis As-Shohib IBN 'Abad, seorang perdana menteri pada daulah Buwaihiyah yang terletak di Iran dan sebagaian Irak. Dinasti ini ada sebelum dinasti saljuk yang Imam Al-Ghazali hidup di masanya. Syair tersebut adalah: 

رق الزجاج و رقت الخمر .... فتشابها فتشامل الأمر
فكان ما خمر ولا قدح .... و كأنما قدح ولا خمر

Artinya kira-kira: botol dan arak itu tipis dan transparan. Bentuk keduanya serupa. Seakan hanya ada arak tiada botol. Pun seakan hanya ada botol tiada arak.

Kira-kira orang yang mabuk memang begitu: melihat botol bening dan air seperti satu, padahal itu dua hal yang berbeda. Botol ya botol. Arak ya arak. 

Nah, Al-Ghazali pun bilang bahwa "al-hal" yang seperti itu adalah urusan yang punya keterhubungan alias Amrun idhofiyyun (أمر إضافي). Dan Al-Ghazali menyebutnya bukan sekadar "hilang" (فناء) tapi "hilangnya hilang" (فناء الفناء). Kenapa?

Karena orang tersebut "hilang" dirinya, dan hilang dari hilangnya. Dan sesungguhnya mereka tidak merasa (melihat) dengan dirinya sendiri saat berada dalam "al-hal" tersebut, pun tidak merasa dengan ketiadaan rasanya. Kalaupun mereka merasa dengan ketiadaan perasaan maka telah merasa dengan dirinya sendiri. 

Dan hak demikian itu disebut Amrun idhofiyyun (hal yang tergantung dan terkait dengan yang lain) karena keterkaitannya dengan sesuatu yang membuat mereka "tenggelam". Nah di situlah letak bahwa hal tersebut adalah "penyatuan yang Majazi" bukan penyatuan hakiki. 

Meski demikian, hal tersebut bisa dibilang  hakikat tauhid, yaitu: segala sesuatu yang ada hanyalah Allah (لا موجود الا الله).

Perlu ditegaskan, bahwa kata-kata seperti naik, mi'roj, al-hal, mabuk, penyatuan, lebur, arak, botol arak, cinta, mabuk cinta, dan cermin adalah kata-kata atau istilah-istilah yang sering dipakai dalam dunia sufi. Karenanya, kata-kata tersebut sering dijumpai pada syair-syair atau puisi-puisi sufistik seperti karya Jalaluddin Rumi. 

Kritik Al-Ghazali pada mereka yang "mabuk" hingga berkata seperti yang dikatakan oleh Abu Mansur Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Bushtomi, kira-kira terletak pada:

Pertama, makhluk tidak bisa menyatu dengan pencipta (Allah). Mereka yang bilang: "Saya adalah Allah" dikatakan imam Al-Ghazali sebagai orang yang mabuk. Orang yang hilang kesadaran mata batinnya (akalnya). Hingga melihat dua hal yang berbeda, yaitu yang Ada secara hakiki dan yang ada secara Majazi, jadi satu. Padahal dua hal tersebut jelas berbeda. Karena pada hakikatnya makhluk itu tidak ada, maka mereka yang "mabuk" itu disebut fana-u al-pana; hilangnya hilang. Gak adanya gak ada. Sudah "gak ada" malah ditambah "gak adanya".

Tapi, Al-Ghazali tidak menampik bahwa ada orang-orang yang bisa sampai pada Maqom tersebut, pada Maqom yang disebut dengan "haalun dzauqiyyun". Yakni pengalaman spiritual dan sufistik yang hanya bisa dialamai dan dirasakan sendiri oleh yang bersangkutan. Dan hal seperti itu, karena terkait rasa, pada hakikatnya tidak bisa tertuang dalam kata-kata manusia yang terbatas. Jadi, sepertinya Al-Ghazali ingin menyarankan, siapapun yang telah sampai pada Maqom tersebut cukup dirasa saja, tidak sampai keluar dalam bentuk kata-kata yang bisa didengar oleh makhluk yang lain.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 03022022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar