Selasa, 08 Februari 2022

Arbabu Al-Bashoir: As-Shiddiqun dan Ulama Al-Rosikhun. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali memberikan gambaran lebih sederhana tentang segala sesuatu yang ada (bercahaya) di langit dan bumi (secara lahir) hakikatnya adalah Cahaya (Allah). 

Misalnya ketika seseorang jalan-jalan ke suatu tempat yang terdapat pemandangan alam yang indah. Ada pegunungan, air terjun, pepohonan, dan lain sebagainya. 

Semua pemandangan itu, bagi mata lahiriah, adalah hal yang ada. Karena tampak. Terlebih jika melihatnya di siang hari. Siapapun bisa melihat warna-warna hijau pepohonan. 

Saat seseorang melihat semua penampakan, ketertampakan, dan pemandangan tersebut, yang dilihat hanya yang tampak saja. Seperti hijaunya pepohonan, birunya langit, dan lain sebagainya. 

Nah, mereka yang melihat pemandangan tersebut akan mengira bahwa yang dilihat hanyalah apa yang dilihat tadi: hijaunya pepohonan, dll. 

Tapi, hakikatnya, semua yang tampak dan bisa dilihat itu (hijaunya pepohonan, dll) itu karena adanya cahaya. Hijaunya pepohonan bisa ada dan terlihat bukan karena dirinya sendiri, tapi karena ada cahaya yang membuatnya terlihat, tampak, dan bisa dilihat. 

Orang-orang yang hanya melihat secara materialistis seperti ini, akan tidak sadar adanya cahaya. Bahkan, mungkin akan mengingkari adanya "makna" cahaya bagi yang ada dan tampak tersebut. 

Ya makna. Makna itu sesuatu yang tak terlihat, tak tampak, tapi ada di sesuatu yang tampak. 

Misalnya angka 1. Ini adalah makna atau tidak terlihat. Sementara "1" adalah simbol atau representasi yang menunjukkan angka satu. 

Begitu juga dengan kata-kata, hingga kalimat. Semuanya hanyalah simbol dari "sesuatu" atau "pesan" atau "pengertian" dari yang ingin disampaikan atau dikatakan.

Malah, lebih jauh, huruf ABCDEFG dan seterusnya adalah simbol dari sesuatu yang disebut dengan "makna". 

Makna ini tidak terlihat. Tapi ada. Bahkan membuat segala sesuatu jadi ada dan bisa terlihat. Karenanya, perlu dibedakan antara simbol dan makna.

Termasuk hijaunya pepohonan, pemandangan yang dilihat mata lahir seseorang, semuanya hanyalah simbol dan representasi dari Cahaya. Cahaya yang menampakkan dan membuat segala sesuatu menjadi ada dan tampak. 

Ada kaidah dan hukum yang menarik yang disampaikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar.

Pertama, kenapa saat melihat pemandangan, yang terlihat oleh mata lahir, adalah hijaunya pepohonan, birunya langit, rerumputan, bebatuan, dan sungai, tapi justeru Cahaya yang membuat semua itu tampak malah seakan-akan tidak terlihat.

Ini seperti peribahasa: gajah di pelupuk mata, tak tampak. Semut di seberang, malah terlihat. 

Ini seperti tipuan mental atau tipuan akal. Seringkali orang tidak sadar ada sesuatu yang sangat besar di hadapannya. Kadang yang tampak malah tidak tampak. Dan yang tidak tampak tampak. 

Ya, kira-kira seperti itu kaidahnya. Terkadang, sesuatu yang sangat besar dan ada di dekat mata, malah menjadi tidak terlihat. 

Begitu juga dengan Cahaya yang membuat segala sesuatu menjadi tampak dan terlihat. Terkadang, Cahaya yang terlalu terang malah membuat silau dan membuatnya malah tak tampak.  

Al-Ghazali menyatakan sesuatu yang terlalu tampak, justeru seringkali menyebabkannya jadi tersembunyi dan tak terlihat. Kemudian, segala sesuatu yang melewati batas justeru terbalik dan malah menjadi kebalikannya.

Sederhananya: pertama, sesuatu yang sangat dan terlalu terang, justeru seringkali menyilaukan. Kedua, sesuatu yang terlalu tampak (terlalu menonjol) justeru seringkali malah jadi tidak tampak. Ketiga, sesuatu yang melewati batas justeru akan menjadi kebalikannya sesuatu tersebut. 

Begitu kira-kira gambaran yang lebih sederhana dari Al-Ghozali tentang Cahaya (Allah) yang Ada di setiap yang ada di bumi dan langit lahiriah ini.

Ah, keisengan saya kambuh. Membaca kita Misykatul Anwar di bagian ini, seakan menyentil kesadaran saya yang tertidur. Seringkali, segala sesuatu yang besar pengaruhnya, besar perannya, besar fungsinya justeru berada sangat dekat dengan diri ini. Sayangnya, seringkali pula saya tidak sadar akan hal tersebut. Terlebih ada bekal luar biasa istimewa yang diberikan Allah yaitu berupa an-nafsu an-natiqoh dalm diri ini. 

Pun seperti menyadarkan saya, bahwa segala sesuatu yang menyilaukan seringkali malah membuat saya tak bisa melihatnya dengan jelas. Apapun halnyang menyilaukan, terlebih hal yang terkait materialis dunia lahir, sepertinya malah akan membuat cahaya yang hakiki makin tak terlihat dan makin tak tampak. 

Kemudian Al-Ghazali menyatakan bahwa ada orang-orang yang disebut Arbabu Al-Bashoir. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman mata batin. 

Orang-orang yang masuk Arbabu Al-Bashoir, ada yang melihat segala sesuatu dan langsung melihat Allah bersama sesuatu tersebut. Ada pula yang tidak melihat apapun (di dunia lahir ini) kecuali melihat Allah sebelum melihat segala sesuatu.

Saya jadi teringat perempuan bernama Annamarie Schimmel yang di batu nisannya tertulis sebuah hadits: "an-naasu niyaamun, faidzaa maata, intabahuu". Ia pernah menyatakan bahwa ada citra Tuhan di dalam sesuatu, di segala sesuatu ada citraan Tuhan.

Al-Ghazali mempertegas kembali tentang Arbabu Al-Bashoir. Ada yang melihat Allah setelah melihat sesuatu. Dan ada yang tidak bisa melihat sesuatu kalau tidak melihat Allah lebih dulu.

Arbabu Al-Bashoir yang pertama yang melihat Allah setelah melihat sesuatu ini seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah: 

أولم يكف بربك أنه على كل شيء شهيد

Sementara Arbabu Al-Bashoir yang kedua, diisyaratkan dalam firman Allah:

سنريهم آياتنا فى الافاق

Pandangan Al-Ghazali ini seperti makna Ihsan yang populer dalam sebuah hadits. Kira-kira makna Ihsan itu: beribadahlah seakan-akan kita melihat Allah. Kalaupun tidak bisa (melihat Allah), Allah yang melihat kita. 

Lalu Al-Ghazali menegaskan bahwa Arbabu Al-Bashoir yang pertama adalah mereka yang melakukan musyahadah. Yang melihat Allah dengan dzauq mereka. Yang langsung merasakan dan mengalami. 

Sementara yang kedua adalah mereka yang menggunakan istidlal. Menggunakan penalaran mereka yang kuat. 

Arbabu Al-Bashoir yang musyahadah, melihat Allah lalu melihat sesuatu (up down), sementara Arbabu Al-Bashoir yang istidlal, melihat sesuatu baru kemudian melihat Allah (buttom up). 

Arbabu Al-Bashoir yang musyahadah adalah derajat dan maqomnya para As-Shiddiqun. Sementara yang istidlal adalah derajat dan maqomnya para ulama  al-Rosyikhun.

As-Shiddiqun dan Ulama  al-Rosyikhun, keduanya, Kata Imam Al-Ghazali adalah orang-orang yang sampai ke Maqom Al-fardaniyah lalu Al-wahdaniyah.



Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 08022022

Senin, 07 Februari 2022

Insan Kamil, Manusia Paripurna: Tubuh dan Badannya di Bumi, tapi Ruhnya di "Langit" (Misykatul Anwar).

Al-muwahhid adalah sebutan Imam Al-Ghazali untuk mereka yang tauhidnya sudah sampai di tingkat "laa Huwa Illa Huwa". Bukan, kalimat Tauhid ini bukan diucapkan, tapi dirasakan dan langsung dialami oleh mereka yang sudah sampai pada Maqom al-fardaniyah. 

Perlu dicatat juga, dalam dunia metafisika (tasawuf) ada istilah Maqom dan ahwal. Maqom adalah tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas. Sementara ahwal adalah pengalaman-pengalaman atau rasa ketika ada di satu Maqom. 

Nah, sebagai manusia, tugasnya hanya ikhtiyar dan terus berusaha naik (mi'roj), tentu saja dengan berbagai riyadhoh, mujahadah. Adapun perihal hasilnya seseorang sampai pada Maqom apa, itu sepenuhnya adalah urusan Allah 'Azza Wajalla.

Gerakan, perilaku orang-orang muwahid alias orang yang maqomnya sudah di tingkat paling tinggi, yang sudah sampai pada Maqom al-fardaniyah, ketika turun ke bumi, kata Imam Al-Ghazali, adalah perilaku dan tingkah laku langit. 

Indera-inderanya, seperti indera penglihatan, pendengaran berasal dari langit di atasnya. Akalnya, mata batinnya, jiwanya, ruhnya, berada di langit. 

Para Al-Muwahhid ini naik dari langit akal (mata batin, jiwa, ruh, an-nafsu an-natiqoh) ke ujung mi'roj para makhluk. 

Ketika sudah sampai di sana, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kerajaan (kekuasaan) al-fardaniyah mereka yang tujuh lapis telah sempurna. 

Perlu dicatat, Al-Ghazali menyatakan bahwa ada tujuh lapis langit di atas dan tujuh lapis langit di dalam diri manusia. 

Sekali lagi, perlu ditegaskan. Langit, kerajaan, naik, dan kata-kata lain yang banyak tertulis dalam kitab Misykatul Anwar adalah kata-kata metafora atau perlambang. Jangan sekali-kali melihat dan memahaminya dengan pengertian lahir. 

Memahami Metafora atau perlambang (misal, amsal) caranya adalah mi'roj. Dengan mata batin, akal, jiwa, ruh, atau an-nafsu an-natiqoh yang "naik" ke alam metafisik. 

Metafora atau perlambang ini seringkali diambil dari objek-objek yang ada di bumi. Dalam Filsafat ada teknik heuristik, yakni teknik untuk memudahkan seseorang memahami konsep yang abstrak. 

Sederhananya, perlambang atau metaforanya (ada) di bumi, makna hakikinya ada di langit (sekali lagi, bukan langit yang lahir atau tampak oleh indera mata, tapi Langit di alam malakut). 

Kenapa mesti melihat dengan ta'wil? Karwna di dalam Al-Quran, begitu banyak perlambang dan metafora. Nah untuk memahaminya, diperlukan mata batin, akal, an-nafsu an-natiqoh, ruh, atau jiwa. 

Ta'wil ini berasal dari kata aala-yauulu-aulan yang artinya kembali. Maksudnya, kembali ke hakikatnya, kembali pada makna yang tak tampak atau tersembunyi. 

Kembali ke al-muwahhid tadi. Setelah mereka mi'roj, naik ke tingkat paling tinggi dan sampai pada maqom al-fardaniyah, setelah melewati 7 lapis "langit", Imam Al-Ghazali mengatakan mereka akan duduk di Maqom al-wahdaniyah. 

Dari maqom tersebut, mereka bisa mengatur tingkatan-tingkatan atau lapisan-lapisan langit dalam dirinya. 

Ketika mereka turun ke bumi, ia akan mengatakan sesungguhnya manusia diciptakan dari dari gambaran (cetakan) Allah yang Maha Rohman. Dan itulah hakikat atau ta'wil dari ucapan Al-Hallaj yang terkenal: "Ana Al-Haq" dan ucapan Abu Yazid Al-Bushtomi: "maa filjubbati Illallah".

Ini pun makna dari Firman Allah kepada Nabi Musa dalam hadits Qudsi: "Aku sakit, dan kau tak menjenguk-Ku" dan seperti hadits Qudsi pada catatan sebelumnya: "Aku (Allah) yang jadi pendengarannya, penglihatannya, dan lisannya."

Sederhananya, orang-orang al-muwahhid ketika telah sampai di Maqom al-fardaniyah dan duduk di singgasana al-wahdaniyah, kemudian mereka turun ke bumi, maka hanya jasadnya saja yang di bumi, tapi ruh, akal, dan mata batinnya di langit. Badannya di bumi, ruhnya di langit.

Secara fisik, mereka ada di bumi. Mata lahirnya, telinganya, lisannya, badannya, fisiknya ada di bumi. Tapi, akal, ruh, jiwa, pendengarannya, penglihatannya, dan ucapannya ada dan dan bersumber dari dan di "langit".

Inilah orang yang sempurna. Orang yang telah sampai pada Maqom al-fardaniyah dan al-wahdaniyah. Meskipun jasadnya di bumi, tapi ruhnya di "langit". 

Inilah insan kaamil, manusia paripurna. Seperti yang dikatakan Al-Jiili; manusia yang tubuhnya di bumi, tapi ruhnya di langit. Pun seperti yang dikatakan As-Suhrawardi: jasad-jasas bumi dengan hati langit.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 08022022




Minggu, 06 Februari 2022

Penglihatan, Pendengaran, Gerakan, hingga Ucapan Malaikat bahkan Penglihatan, Pendengaran, Gerak, dan Ucapan Tuhan Dalam Diri Seseorang. (Misykatul Anwar)

Puncak mi'roj bagi makhluk (manusia) adalah kekuasaan (kerajaan) ketunggalan atau kesendirian (الفردانية). Ia lebur dan tenggelam ke dalam Maha SendiriNya Allah. Dan itulah "naik" paling tinggi. Tidak ada lagi tempat naik yang lain. 

Kenapa istilah yang dipakai adalah mi'roj atau naik? Setidaknya ada tiga hal yang diungkap Imam al-Ghazali. Pertama, sesuatu disebut naik, itu karena memang ada (bahkan banyak) sesuatu di atasnya (المرقى لا يتصور إلا بكثرة).  

Analogi sederhananya kira-kira seperti seseorang lagi berdiri di lantai pertama pada rumah tiga lantai. Nah, kenapa naik? Karena ada lantai lebih tinggi dibatasnya. Begitupun dengan derajat dan Maqom manusia yang mesti naik. Karena di atasnya masih ada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Dan fitrah manusia mestinya naik ke tingkatan-tingkatan lebih tinggi tersebut, karena Allah sudah memberikan modal berupa an-nafsu an-natiqoh, mata batin, atau akal. 

Kedua, kenapa naik? Karena setiap makhluk atau manusia memang perlu relasi dan keterhubungan dengan yang lain. Keterhubungan ini menuntut setiap orang untuk naik ke Maqom lebih tinggi (إنه نوع إضافة يستدعي ما منه الإرتقاء)

Ketiga, adanya tujuan di "atas" sana yang membuat seseorang mesti naik (إليه الإرتقاء).

Ketika seseorang telah naik dan sampai pada "puncak" maka yang ada hanya Satu. Yang terjadi adalah dirinya melebur ke dalam Yang Maha Satu. 

Ketika dirinya melebur dan larut, seperti gula atau garam yang larut ke air hangat, maka tidak ada lagi hal lain (yang banyak tadi). Karena yang ada hanya Yang Satu. Ia tidak lagi mau yang lain, yang ia mau hanya Yang Satu. Yang ia lakukan adalah terus terlebur dengan Yang Maha Satu. 

Kalaupun ada perubahan lain dari keadaan tersebut, yang ada adalah ia turun ke bumi. Turun ke langit dunia. Al-Ghazali menerangkan, turun tersebut yaitu dengan melihat apapun (seperti) dari atas ke bawah. Karena paling atas pasti punya (dan ada) yang paling bawah. Tapi tidak ada lagi atasnya. Namanya juga paling atas dan paling tinggi, bukan? 

Keadaan seperti ini (naik dan mi'roj hingga mencapai Maqom al-fardaniyah) lah yang menjadi tujuan utama dari banyak tujuan dan (sejatinya) menjadi puncak permintaan seorang manusia. Kemudian akan percaya, tahu, dan mengerti orang-orang yang tahu. Tapi, orang-orang bodoh (tidak tahu) akan mengingkarinya.

Sebab, keadaan seperti itu, seperti hadits nabi yang menyatakan bahwa ada ilmu-ilmu yang tersembunyi (أن من العلم كهيئة المكنون). Karenanya akan wajar ketika ada orang yang percaya dan mengingkarinya. 

Al-Ghazali menegaskan, bahwa mereka yang tahu dan percaya adalah para Ulama Billah (العلماء بالله). Sementara yang mengingkarinya adalah mereka yang tertipu dengan Allah (أهل الغرة بالله). 

Di awal-awal kitab Misykatul Anwar ini, Al-Ghazali telah mengingatkan perihal orang-orang yang tertipu ini. Mereka seperti paham agama, tapi sebenarnya tidak. Mereka yang sering mengatasnamakan agama untuk menghina dan melabeli orang lain dengan sebutan yang buruk. Pun mereka yang selalu bilang bahwa merekalah yang paling benar untuk urusan agama. 

Kembali kepada orang-orang yang sudah sampai pada puncak "naik" dan mi'rojnya lalu turun ke alam dunia. Diterangkan bahwa turunnya mereka adalah turunnya malaikat. Bahkan, lebih jauh turunnya Allah. 

Ya, seseorang yang telah mencapai Maqom "fardaniyah mahdoh" atau lebur ke dalam Yang Maha Sendiru dan Maha Satu, kemudian turun ke bumi diibaratkan seperti turunnya para malaikat, bahkan seperti turunnya Allah ke Bumi. 

Sebab, keadaan mereka telah berbeda. Telah berubah. Mereka telah memiliki ma'rifat. Seperti yang tertulis dalam hadits Qudsi:

صرت سمعه الذى يسمع به و بصره و لسانه الذى ينطق به

Ya, orang-orang yang sudah mencapai ma'rifat, memiliki tubuh manusia, tapi kesadarannya adalah kesadaran malaikat, bahkan lebih jauh, kesadaran Tuhan. 

Ketika mereka melihat, mereka menggunakan penglihatan malaikat, bahkan Pendengaran Tuhan. Pun ketika mendengar, berbicara, hingga bertindak, yang melakukan semua itu adalah pendengaran, lisan, hingga gerakan Malaikat bahkan Tuhan. 

Karenanya, dalam sejarah di kenal ada ulama yang bernama Abu Mansur Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Bushtomi. Al-Ghazali menyebut bahwa Al-Hallaj dan Al-Bushtomi adalah orang yang sudah sampai pada Maqom "al-fardaniyah mahdoh". Sudah sampai pada Maqom lebur ke dalam yang Maha Satu. Sayangnya, ketika mereka turun ke bumi, keadaan mereka, dibilang Al-Ghazali, masih mabuk. Hingga mengatakan: "ana Al-Haq", Akulah Allah. 

Nah, berbeda dengan orang-orang yang telah sampai pada Maqom tertinggi lalu turun ke bumi, lalu sadar. Maka, yang terjadi adalah; pandangan, pendengaran, ucapan, dan gerak gerik mereka akan berubah yaitu memandang dengan pandangan Malaikat bahkan pandangan Allah. Pendengaran mereka pun pendengaran malaikat, bahkan Pendengaran Allah. Ucapan mereka pun ucapan malaikat, bahkan ucapan Allah. 

Analogi sederhananya kira-kira seperti ini: seseorang yang awalnya tidak mengerti dan tidak tahu dunia digital marketing, misalnya. Ketika ia belajar, lalu tahu, kemudian menguasai dunia digital marketing, maka yang ia lihat, dengar, dan lakukan akan berbeda dari sebelum ia tahu. Padahal matanya tetap sama, kupingnya tetap sama.

Contoh yang lain, ketika seseorang belajar sampai S3 bahkan mungkin sampai jadi profesor di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia, ia akan melihat Indonesia dengan pandangan yang berbeda. Iabakan melihat Indonesia dengan perspektif yang berbeda. Pun akan meliha Indonesia dengan penglihatan yang berbeda. Padahal, matanya, telinganya, lisannya dan Indonesianya masih sama seperti yang dulu. Yang membuat beda adalah perspektif, penglihatan, pandangan, dan pengetahuannya.

Begitu pula dengan orang-orang yang telah sampai ke Maqom tertinggi Dan paling tinggi, yang kemudian turun ke bumi. 

Keisengan saya kambuh. "Pandangan malaikat, bahkan Pandangan Tuhan" ini pun sepertinya bisa diterapkan untuk orang-orang yang masih berada di tingkat dan alam bawah. 

Misalnya, ketika melihat orang lain, melihat apapun yang ada di bumi, ketika kita menyadari bahwa ada pandangan Malaikat dan Pandangan Tuhan saat melihat semuanya, maka sepertinya tidak akan ada pandangan negatif, jelek, dan jahat kepada apapun dan kepada siapapun. 

Misalnya ketika kita melihat seorang maling dan tertangkap, ketika melihatnya dengan pandangan Malaikat, bahkan pandangan Tuhan, sepertinya aksi main hakim sendiri tidak akan terjadi. 

Semua dan apapun yang kita lihat, dengar, ucap, dan lakukan, ketika menggunakan kesadaran pandangan, pendengaran, lisan, dan gerak malaikat, bahkan Tuhan, sepertinya semuanya akan indah. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 06022022

Wahdatul Wujud Ala Imam Al-Ghazali (Misykatul Anwar).

Pada catatan sebelumnya, Al-Ghozali telah menerangkan bahwa alam semesta, alam raya ini dipenuhi oleh cahaya-cahaya yang tampak bagi indera mata dan cahaya-cahaya batin yang bersifat konseptual yang hanya bisa dilihat oleh mata batin atau akal.

Cahaya-cahaya di tingkat "bawah", diterangkan Al-Ghazali, saling memantul. Satu cahaya memancarkan cahayanya ke yang lain, begitu seterusnya. Seperti contoh pada catatan sebelumnya; cahaya matahari memancar ke bulan, kemudian cahaya bulan memancar ke cermin. Dari cermin cahaya itu memancar ke dinding, dari dinding cahaya itu memancar ke lantai. 

"Keisengan" saya kambuh. Saya jadi "iseng" bagaimana jika pandangan tentang "yang ada" (cahaya), yang bertingkat-tingkat dan saling berhubungan (memancar) ini digunakan untuk melihat segala hal yang dalam kehidupan manusia di bumi. 

Contoh sederhananya: misalkan saya ingin bangun bisnis online. Yang saya mesti saya lakukan adalah melihat hal-hal yang berhubungan dan berkaitan dengan bisnis online. Kemudian melihat tingkatan-tingkatan masing-masing hal yang berhubungan. Dan seterusnya hingga menghasilkan berbagai alternatif yang bisa dilakukan. Inilah cahaya batin, cahaya alam malakut. Inilah konsep.

Pun ke setiap hal yang menjadi urusan atau mungkin sesuatu yang dianggap persoalan atau permasalahan oleh masing-masing orang. Sepertinya bisa menggunakan teknik Al-Ghozali dalam melihatnya. 

Kembali ke kitab Misykatul Anwar. Al-Ghazali menyatakan bahwa simbol untuk cahaya Ruhani, cahaya batin digambarkan seperti lampu. Kalau di zaman Al-Ghazali hidup, seperti lampu templok. Kalau saat ini, kira-kira seperti bola lampu. 

Nah, semua cahaya (cahaya lahir dan cahaya batin) yang tersebar di bumi, kata al-Ghazali berasal dari bola lampu tersebut yang disebut Siroj. Dan Siroj adalah ruh yang bersifat kenabian yang suci. Sederhananya, Siroj adalah ruh nabi yang suci. 

Ruh nabi yang suci itu berasal dan bersumber dari ruh di "Langit atas" atau alam malakut. Dan ruh para nabi yang suci tersebut seperti bola lampu yang bercahaya. Cahaya lampu tersebut berasal dan bersumber dari api (zaman dulu), dari cahaya di dalam bola lampu (zaman sekarang) tersebut.

Al-Ghazali menegaskan bahwa ruh nabi yang suci (yang disimbolkan dengan Siroj) lah yang menerangi dunia dan semesta ini. Ya, ruh para nabi lah yang membuat segala hal di dunia ini tampak dan bercahaya. 

Itulah hakikat tentang sumber cahaya di alam "bawah" atau dunia ini. Pun dengan cahaya di alam "atas" atau langit "atas" atau alam malakut. Cahaya di sana pun saling memantul dan saling memancar satu sama lain. Karena cahaya di sana pun memiliki tingkatan-tingkatan (maqom-maqom) yang semakin naik dan tinggi maqomnya maka semakin terang hingga sampai ke sumber cahaya yang hakiki, yaitu Allah 'azza wajalla.

Al-Ghazali menyebut sumber cahaya itu dengan nur Al-Anwar (نور الأنوار). Dan sesungguhnya itulah Dia, Allah Ta'ala yang Maha Satu, Yang Tidak ada sekutu bagi-Nya. هو الله تعالى وحده لا شريك له.

Al-Ghazali sekali lagi menegaskan bahwa semua cahaya yang ada (di alam lahir dan batin, di alam syahadah dan alam malakut) hakikatnya meminjam kepada Allah. Cahaya yang hakiki hanya Cahaya Allah. Karenanya, sesungguhnya segala sesuatu (yang ada, yang bercahaya) adalah cahaya-Nya. Lebih jauh, semuanya adalah Dia (إن الكل نوره، بل هو الكل).

Karena hakikatnya hakikat bahwa semuanya (الكل) adalah Dia (Allah), maka sesungguhnya (hakikatnya) identitas atau "ke-dia-an" (الهوية) selain Dia (Allah) adalah Majazi. 

Dan itu berarti segala cahaya adalah cahaya-Nya. Segala yang ada adalah ada-Nya. Segala cahaya (selain Cahaya, selain Dia, selain Allah) bersumber dan berasal dari Cahaya-Nya bukan berasal dari dzat (yang lain)-nya sendiri و سائر الأنوار انوار من) الذى يليه لا من ذاته).

Termasuk semua wajah (sisi) yang ada (selain Dia, selain Allah) hakikatnya menghadap kepada Allah. Inilah ta'wil Al-Ghazali tentang ayat Al-Quran: 
فأينما تولوا فثم وجه الله

Arti sederhananya: menghadap kemanapun makhluk, maka ia menghadap Allah. Lebih jauh, ketika semua makhluk melihat apapun, sesungguhnya (hakikatnya) mereka melihat Allah.

Keisengan saya kambuh lagi. Kalau pandangan ini dipakai setiap manusia, sepertinya akan terus tercipta ketenangan dan kedamaian alam hidup. Kenapa? Sebab ketika kita melihat apapun dan yang kita lihat itu (hakikatnya) adalah Allah, maka kita tidak akan semena-mena terhadapnya. Termasuk ketika melihat manusia yang lain. Hakikatnya kita tengah melihat Allah. Mau bagaimanapun kelakuan orang tersebut, kalau di dasari pandangan bahwa hakikatnya melihat Allah, maka kita tidak serta Merta dan semena-mena terhadapnya. Sederhananya, ketika melihat manusia, hakikatnya kita melihat Allah.

Seperti pada catatan ngaji sebelumya, telah diterangkan bahwa segala sesuatu punya dua sisi. Ada sisi yang menghadap kepada Allah. Sisi inilah yang terang dan bercahaya. Lalu ada sisi yang memunggungi Allah. Ini adalah sisi gelap. Begitu juga manusia. Ketika ia menghadapkan dirinya kepada Allah, maka makin terang dan bercahayalah manusia tersebut. Pun sebaliknya, semakin memunggungi atau semakin seseorang berpaling dari Allah, maka semakin gelaplah ia. Jika semakin gelap, bisa dibilang ia semakin tidak ada. 

Ah, saya jadi ingat sebuah buku karangan Jean Paul Sartre, Being A d Nothingness. Ada dan ketiadaan. Tentu saja Sartre melihat ada dan ketiadaan ini dari sudut pandang sekuler. Setidaknya, konsep ada dan ketiadaan sudah dibahas lebih dahulu oleh Imam Al-Ghazali. Dan yang dipakai oleh "Hujjatu Al-Islam" ini tentu saja pandangan orang-orang beriman. Pandangan orang-orang yang beriman kepada Allah. 

Kembali ke Misykatul Anwar. Karena landasan dan pandangan itu, maka sesungguhnya: tidak ada "Ilah" selain Dia.
"لا اله الا هو".

Kata atau diksi "Ilah" (اله) adalah ibarat, ungkapan, ekspresi untuk segala "wajah" yang menghadap kepada-Nya dalam bentuk ibadah. Wajah yang dimaksud Al-Ghazali adalah wajah-wajah hati yang itu adalah cahaya-cahaya batin, mata batin, akal, jiwa, atau nafs. 

Ketika tidak ada Ilah selain Dia, maka sesungguhnya tidak ada Dia selain Dia. 
"كما لا اله الا هو فلا هو الا هو"

Al-Ghozali sekali lagi menerangkan bahwa kata atau diksi "huwa" (هو) adalah ibarat, ungkapan, ekspresi tentang segala sesuatu yang mengisyaratkan sesuatu yang ada. Dan tidak ada isyarat kecuali hanya kepada Dia (Huwa). Artinya, segala sesuatu yang diisyaratkan (ditunjuk) oleh manusia hakikatnya isyarat (menunjuk) kepada "Huwa". 

Sederhananya kira-kira seperti ini. Segala sesuatu yang ada itu bisa ditunjuk (diisyaratkan). Segala sesuatu (yang ada) yang bisa diidentifikasi itu disebut dengan "Huwa". 

"Hawiyah" (هوية) sederhananya bisa diartikan dengan "ke-dia-an" atau identitas. Nah, "hawiyah" ini untuk menunjukkan sesuatu yang ada. Misalnya, ketika kita menyebut atau menunjuk "dia", maka hakikatnya "dia" itu ada. "Dia" itu bisa ditunjuk dan bisa diidentifikasi karena ada. 

Lebih sederhananya kira-kira seperti ini. Ketika kita menyebut atau menunjuk "sesuatu", maka sejatinya "sesuatu" itu ada, karena bisa kita tunjuk dan bisa kita sebut (bisa kita isyaratkan, bisa kita gambarakan).

Nah, hakikatnya hakikat dari "dia" atau "sesuatu" yang bisa ditunjuk, diidentifikasi, dan biaa diisyaratkan itu adalah hanya "Dia", hanya "Huwa". 

Dan Al-Ghazali menegaskan yang hanya bisa "ditunjuk", "di-itu-kan", "di-dia-kan" hanya Dia (Huwa, Allah). Karena hanya Dia (Huwa) yang hakiki. Selain Dia (Huwa) adalah majazi. 

Al-Ghazali memberi contoh. Ketika seseorang menunjuk cahaya atau sinar matahari, yang ditunjuk adalah mataharinya. 

Karena itu semua, maka Al-Ghozali menegaskan bahwa  لا إله الا الله  adalah tauhid orang biasa. Dan  لا إله إلا هو adalah tauhid orang khusus (الخواص). Sementara tauhid mereka yang khusyusnya khusus (خواص الخواص) adalah لا هو الا هو.

Dan di sinilah letak ajaran Wahdatul Wujud Imam Al-Ghazali. Karena baginya hal tersebut lebih terarah, lebih khusus, lebih lengkap, lebih Haq, lebih teliti dan mendalam, dan lebih bisa menjamin masuknya seseorang kepada kesendirian murni (الفردانية المحضة) dan penyatuan yang sejati (الوجدانية الصرفة).

Ajaran Wahdatul Wujud Imam Al-Ghazali, kemudian dikembangkan begitu luar biasa oleh ulama yang bergelar: Syaikh Al-Akbar, yaitu Imam Ibnu 'Arobi.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 06022022






Jumat, 04 Februari 2022

Cahaya yang Menjadikan Manusia Kholifah (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali ketika melihat suatu ayat dalam Al-Qur'an, maka yang digunakan adalah ta'wil. Bukan sekadar tafsir. Ta'wil itu membedah isi atau bagian dalam dari suatu hal. Sederhananya membedah hakikatnya, esensinya. 

Termasuk ketika Imam Al-Ghazali melihat ayat الله نور السماوات والأرض. Ketika para ahli tafsir memaknainya dengan: Allah itu "seperti" cahaya, maka Imam Al-Ghazali melihatnya lebih ke dalam lagi, yaitu dengan memaknai Allah adalah Cahaya. Pemaknaan tersebut dijabarkan begitu detail dalam kitab Misykatul Anwar. 

Kitab ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama ini bagian yang dasar. Seperti pengantar bagi pembaca untuk masuk ke bagian lebih dalam. 

Di catatan-catatan saya sebelumnya, itu adalah catatan-catatan terkait bagian pertama kitab Misykatul Anwar. Catatan saat ini pun masih menjadi bagian pertama, tapi mulai masuk di akhir-akhir pembahasan yang disebut Al-Ghazali sebagai خاتمة atau penutup.

Karakteristik Al-Ghazali ketika melihat sesuatu adalah dengan melihat tingkatan-tingkatannya. Ini menjadi semacam epistimologi ala Al-Ghazali. 

Pada penutup bagian pertama Al-Ghazali menegaskan bahwa cahaya yang ada di bumi dan langit, semuanya terkait, tergantung, dan terhubung (إضافة) kepada Allah.

Kemudian Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa, setidaknya, cahaya memiliki tiga tingkatan. Sebelum itu, perlu ditegaskan juga, bahwa segala sesuatu "yang ada" (wujud) itu bisa dibilang cahaya. Karena ia ada dan bisa dilihat. Sederhananya, apapun yang kita bilang dan kita lihat ada, itu bercahaya.

Nah, tingkat pertama atau tingkat terendah adalah cahaya yang bisa membuat sesuatu yang lain bercahaya (terang) hingga bisa dilihat. Tapi, ia tidak bisa melihat yang lain dan tidak bisa melihat dirinya sendiri. Ini seperti lampu di rumah-rumah, obor atau api saat pawai, hingga matahari. 

Tingkat kedua adalah cahaya yang bisa membuat yang lain bercahaya hingga bisa dilihat. Dan ia bisa melihat yang lain tapi tidak bisa melihat dirinya sendiri (ينكشف به الأشياء). Ini adalah mata setiap makhluk secara lahir.

Kemudian, tingkat ketiga adalah cahaya yang bisa membuat yang lain bercahaya hingga bisa dilihat. Dan ia bisa melihat yang lain, pun bisa melihat (ke dalam) dirinya sendiri (ينكشف به و له الأشياء). Ini adalah mata batin, jiwa, nafs, atau yang disebut al-Ghazali dengan akal. 

Dan tingkatan paling tinggi adalah sumber dari segala cahaya. Cahaya yang dengan, untuk, dan darinya semua hal tersingkap, hingga bisa terlihat (ينكشف به و له و به الأشياء). Ini adalah Allah 'Azza Wajalla.

Kemudian Al-Ghazali mengingatkan bahwa langit dan bumi dipenuhi oleh cahaya-cahaya. Setiap cahaya punya dua tingkat. 

Pertama, cahaya yang terkait dengan mata (lahir) dan indera penglihatan. Kedua, cahaya yang terkait dengan mata batin dan akal.

Dengan mata lahiriah, kita bisa melihat bintang gemintang, matahari, bulan di langit. Termasuk segala jenis hewan, bebatuan, dan segala bentuk yang lain yang ada di bumi. Itu semua bisa disaksikan karena adanya cahaya yang tersebar. Kalau tidak ada cahaya, niscaya segala warna pada tiap bentuk yang ada itu tidak akan tampak dan ada, bukan? 

Segala hal yang tampak bagi indera (penglihatan) berupa bentuk dan ukuran-ukuran, itu mengikuti warna. Dan itu semua, gambar dan pemandangan itu, tidak bisa diketahui (dilihat) dan dinikmati kecuali dengan wasilah adanya cahaya yang tersebar tadi. 

Sementara cahaya-cahaya yang berkaitan dengan akal dan makna (intelligable/konseptual/immaterial/ide). Adanya di langit "atas" (sekali lagi, langit yang dimaksud,bukan langit yang bisa dilihat oleh indera mata). 

Langit atas ini adalah langit atau alam malakut. Alam inilah yang dipenuhi dengan cahaya-cahaya yang bersifat immateril. Dan cahaya inilah esensi malaikat menurut Imam Al-Ghazali. Di alam inilah, malaikat berada. 

Tapi, tidak hanya alam malakut atau "langit atas" yang dipenuhi cahaya-cahaya yang intelligable, konseptual, atau immaterial itu. Alam yang di bawahnya (yakni alam syahadah, alam kasroh, alam yang tampak, atau bumi ini) pun ikut dipenuhi oleh cahaya-cahaya tersebut. 

Dan itulah kehidupan binatang-binatang (bersifat kehewanan) dan kehidupan manusia (bersifat kemanusiaan). Dalam diri manusia ada jiwa yang bisa bernalar (an-nafsu al-nathiqoh). 

Cahaya manusia (bersifat kemanusiaan) yang merupakan turunan dari alam malakut (cahaya konseptual) tersebutlah yang akhirnya menampakkan hukum-hukum dalam kehidupan manusia (nizhom atau law). 

Meski berbeda sudut pandang tapi hal ini seperti yang dikatakan Stephen Hawking, bahwa alam raya ini bisa dijelaskan dengan hukum-hukum alam yang ada pada dirinya sendiri. 

Contoh lain yang lebih sederhana adalah, manusia bisa membuat segala sesuatu seperti algoritma internet, tata cara jualan di media sosial, dan lain-lain, itu hakikatnya berasal (turunan) dari cahaya di alam malakut. Cahaya ide, cahaya konsep, cahaya pengetahuan yang tidak bisa dilihat oleh indera mata. Tapi bisa dilihat oleh mata batin, jiwa, nafs, atau akal,  sebagaimana dengan itu pula manusia bisa melihat (mi'roj) ke alam malakut. 

Pun dengan cahaya malaikat (kemalaikatan) pun bisa menampakkan, menghadirkan hukum-hukum (keteraturan; nizhom) di alam malakut, alam al-'ulwu, "langit atas". 

Inilah makna, menurut Al-Ghazali yang terkandung pada ayat di surat Hud:

أنشاكم من الأرض واستعمركم فيها

"واستعمركم" jika lebih jauh bisa dimaknai dengan peradaban. Ya, manusia bisa membuat peradaban yang luar biasa. Itu disebabkan karena adanya cahaya-cahaya konseptual atau ide. 

Pun dengan ayat:

(ليستخلفنهم في الارض (الأية

(و يجعلكم خلفاء الأرض (الأية

إني جاعل في الارض خليفة (الآية)

Semuanya berujung pada kata "Kholifah". Jadi, bisa dibilang manusia yang Kholifah adalah mereka yang menggunakan cahaya-cahaya konseptual/immaterial/ide/pengetahuan yang hanya bisa dilihat dengan mata batin, jiwa, atau akal. Yang sekali lagi, semuanya adalah percikan (turunan) dari cahaya Kemalaikatan di alam malakut.

Sederhananya, manusia dijadikan Kholifah karena adanya jiwa atau mata batin yang bernalar (an-nafsu an-nathiqoh) yang berasal (turunan) dari cahaya maknawi di alam malakut. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 04022022

Rabu, 02 Februari 2022

Kritik Al-Ghazali pada Mereka yang "Mabuk" ketika sampai pada Maqom Ma'rifat (Misykatul Anwar)

Sistematika Imam Al-Ghazali dalam menjelaskan sesuatu, biasanya akan dimulai dari tingkatan yang paling mudah dimengerti terlebih dahulu. Ini bisa disebut dengan pra-hakikat. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan hakikat sesuatu (حقيقة). Lalu naik lagi kepada hakikatnya hakikat (حقائق الحقائق) Lalu puncaknya adalah isyarat (إشارة).

Di catatan sebelumnya, Al-Ghozali telah menjelaskan tentang hakikatnya hakikat yang ada (al-wujud). Nah, catatan ini, saat ini terkait dengan isyarat. Kenapa isyarat? Karena hal yang akan dijelaskan Imam Al-Ghazali setelah ini adalah tentang "rasa" yang seringkali tidak bisa diwakili oleh kata-kata.

Ya, Al-Ghazali menerangkan bahwa orang-orang yang telah mencapai ma'rifat (pengetahuan sejati, pengetahuan yang sebenar-benarnya) dan mi'roj (naik) ke langit hakikat (hakikatnya hakikat), maka mereka tidak akan melihat yang "ada" (al-wujud) kecuali hanya wujud yang Satu, yaitu Allah.

Mereka yang sampai pada keadaan (al-hal: mi'roj) ini, Al-Ghozali bagi kepada dua golongan. Pertama adalah golongan "'irfanun 'ilmiyyun" (عرفان علمى) alias golongan orang-orang yang mencapai ma'rifat secara kognitif atau ilmiah. Bahasa sederhananya pengetahuan akademis. Lebih sederhana lagi: Sufi akademis. 

Golongan kedua adalah mereka yang disebut Al-Ghozali dengan "haalun dzauqiyyun" (حال ذوقى). Yakni orang-orang yang telah mencapai makrifat dengan kesadaran atau pengetahuan intuitif. Bahasa sederhananya mereka yang pengetahuannya berdasar rasa. Ya, seperti "ilmu roso" atau ilmu rasa. Mereka langsung merasakan.

Mereka yang masuk ke golongan kedua, biasanya akan hilang kesadarannya akan alam al-kasroh (عالم الكسرة). Alam al-kasroh adalah alam syahadah. Alam yang nampak. Kenapa disebut alam al-kasroh? Karena alam ini adalah alam keberagaman. Banyak makhluk. Ada beragam makhluk di dalamnya. Nah, orang-orang yang masuk ke golongan kedua, akan hilang kesadarannya akan alam ini. 

Mereka digambarkan seperti tenggelam (استغرقوا) dalam kesendirian total atau ketunggalan total (الفردانية المحضة). Akal (mata batin) mereka lebur dan terserap seperti orang-orang yang diam sangat terpesona akan sesuatu (المبهوتين). Ya, tak ada lagi ruang di mata batin (akal, jiwa, ruh, atau nafs) mereka, untuk mengingat (menyebut, melihat) selain Allah, bahkan untuk mengingat diri mereka sendiri. Tidak ada apapun lagi bagi mereka selain Allah. Hingga mereka mabuk.

Ya, Al-Ghazali meggambarkan mereka adalah orang-orang yang "mabuk". Dan mabuk inilah yang menyebabkan hilangnya kekuasaan (peran) mata batin (akal) mereka. 

Al-Ghazali memberi contoh, yaitu Abu Manshur Al-Hallaj yang wafat 309 Hijriyah atau 922 Masehi. Ia mengatakan: "ana Al-Haq" (أنا الحق) yang artinya Akulah Tuhan (Akulah Allah). Kemudian Abu Yazid Al-Bushtomi yang wafat pada 234 Hijriyah, yang bilang: سبحاني ما أعظم شاحنة yang artinya maha suci aku dan betapa agung keadaanku, dan ما فى الجبة الا الله yang bisa diartikan tidak ada di jubahku (badanku, jagat rayaku) selain Allah.

Mereka yang masuk ke golongan kedua kemudian dikritik oleh Imam Al-Ghazali. Perkataan mereka seperti perkataan orang yang tengah mabuk cinta. Cinta tapi mabuk. Namanya mabuk berarti tidak sadar. 

Al-Ghozali menegaskan bahwa ketika mabuk mereka mulai ringan (mulai tidak mabuk, mulai sadar) dan mereka kembali kepada kekuasaan mata batin (akal) yang menjadi timbangan Allah di bumi (ميزان الله في الارض), maka mereka pun akan sadar bahwa yang mereka anggap penyatuan atau menyatu (الاتحاد) tersebut bukanlah penyatuan hakiki (حقيقة الاتحاد) tapi yang menyerupai penyatuan (شبه الاتحاد). Seperti ucapan mereka yang tengah dimabuk cinta dalam sebuah syair: 

أنا من أهوى و من أهوى أنا... نحن روحانى حالنا بادنا

Arti sederhananya: Aku adalah orang yang aku cintai, dan orang yang aku cintai adalah aku. Kita adalah dua ruh tapi dalam satu badan. 

Selain mabuk, Al-Ghozali pun menggambarkan mereka itu seperti tengah melihat cermin. Ketika melihat cermin, ia tidak melihat cermin sama sekali. Tapi yang dilihat adalah gambar atau diri yang di cermin. 

Mereka mengira bahwa gambar yang dilihat di cermin adalah gambar dan cermin yang menyatu. Padahal tidak. 

Pun digambarkan Al-Ghazali, seperti melihat arak dan botol arak. Kira-kira seperti Vodka yang bening dan botol yang bening. Mereka mengira bahwa Vodka adalah botol bening, dan botol bening adalah Vodka. 

Seperti syair yang ditulis As-Shohib IBN 'Abad, seorang perdana menteri pada daulah Buwaihiyah yang terletak di Iran dan sebagaian Irak. Dinasti ini ada sebelum dinasti saljuk yang Imam Al-Ghazali hidup di masanya. Syair tersebut adalah: 

رق الزجاج و رقت الخمر .... فتشابها فتشامل الأمر
فكان ما خمر ولا قدح .... و كأنما قدح ولا خمر

Artinya kira-kira: botol dan arak itu tipis dan transparan. Bentuk keduanya serupa. Seakan hanya ada arak tiada botol. Pun seakan hanya ada botol tiada arak.

Kira-kira orang yang mabuk memang begitu: melihat botol bening dan air seperti satu, padahal itu dua hal yang berbeda. Botol ya botol. Arak ya arak. 

Nah, Al-Ghazali pun bilang bahwa "al-hal" yang seperti itu adalah urusan yang punya keterhubungan alias Amrun idhofiyyun (أمر إضافي). Dan Al-Ghazali menyebutnya bukan sekadar "hilang" (فناء) tapi "hilangnya hilang" (فناء الفناء). Kenapa?

Karena orang tersebut "hilang" dirinya, dan hilang dari hilangnya. Dan sesungguhnya mereka tidak merasa (melihat) dengan dirinya sendiri saat berada dalam "al-hal" tersebut, pun tidak merasa dengan ketiadaan rasanya. Kalaupun mereka merasa dengan ketiadaan perasaan maka telah merasa dengan dirinya sendiri. 

Dan hak demikian itu disebut Amrun idhofiyyun (hal yang tergantung dan terkait dengan yang lain) karena keterkaitannya dengan sesuatu yang membuat mereka "tenggelam". Nah di situlah letak bahwa hal tersebut adalah "penyatuan yang Majazi" bukan penyatuan hakiki. 

Meski demikian, hal tersebut bisa dibilang  hakikat tauhid, yaitu: segala sesuatu yang ada hanyalah Allah (لا موجود الا الله).

Perlu ditegaskan, bahwa kata-kata seperti naik, mi'roj, al-hal, mabuk, penyatuan, lebur, arak, botol arak, cinta, mabuk cinta, dan cermin adalah kata-kata atau istilah-istilah yang sering dipakai dalam dunia sufi. Karenanya, kata-kata tersebut sering dijumpai pada syair-syair atau puisi-puisi sufistik seperti karya Jalaluddin Rumi. 

Kritik Al-Ghazali pada mereka yang "mabuk" hingga berkata seperti yang dikatakan oleh Abu Mansur Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Bushtomi, kira-kira terletak pada:

Pertama, makhluk tidak bisa menyatu dengan pencipta (Allah). Mereka yang bilang: "Saya adalah Allah" dikatakan imam Al-Ghazali sebagai orang yang mabuk. Orang yang hilang kesadaran mata batinnya (akalnya). Hingga melihat dua hal yang berbeda, yaitu yang Ada secara hakiki dan yang ada secara Majazi, jadi satu. Padahal dua hal tersebut jelas berbeda. Karena pada hakikatnya makhluk itu tidak ada, maka mereka yang "mabuk" itu disebut fana-u al-pana; hilangnya hilang. Gak adanya gak ada. Sudah "gak ada" malah ditambah "gak adanya".

Tapi, Al-Ghazali tidak menampik bahwa ada orang-orang yang bisa sampai pada Maqom tersebut, pada Maqom yang disebut dengan "haalun dzauqiyyun". Yakni pengalaman spiritual dan sufistik yang hanya bisa dialamai dan dirasakan sendiri oleh yang bersangkutan. Dan hal seperti itu, karena terkait rasa, pada hakikatnya tidak bisa tertuang dalam kata-kata manusia yang terbatas. Jadi, sepertinya Al-Ghazali ingin menyarankan, siapapun yang telah sampai pada Maqom tersebut cukup dirasa saja, tidak sampai keluar dalam bentuk kata-kata yang bisa didengar oleh makhluk yang lain.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 03022022


Selasa, 01 Februari 2022

Wujud Hakiki dan Majazi, Al-nafsu Al-Nathiqoh, Hingga Makna Allahu Akbar (Misyaktul Anwar).

Di catatan sebelumnya, diterangkan bahwa ada dua wujud. Yakni wujud hakiki dan wujud majazi. Wujud hakiki adalah Allah 'Azza Wajalla. Dan selain-Nya adalah wujud majazi.

Wujud majazi, bisa dibilang wujud pinjaman. Ya, wujud yang pinjam ke Allah. Suatu saat pinjaman itu akan ditarik atau diambil kembali oleh Allah.

Perlu dicatat, wujud (ada) itu bisa dibilang cahaya. Sebab sesuatu dibilang ada karena dia tampak (ada cahaya di dirinya). Dan cahaya atau ada-nya makhluk adalah cahaya dan ada yang majazi, bukan hakiki.

Ini berarti, semua yang ada di dunia dan bumi ini, hakikatnya adalah majazi. Analoginya seperti pinjaman. Ya, segala sesuatu yang ada (majazi) adalah pinjaman dari Allah. 

Pandangan ini perlu "pegangan" dan "arahan". Sebab, jika memandang segala sesuatu adalah pinjaman, seseorang akan tergelincir pada pasrah total yang bisa jadi kurang tepat. bisa jadi, benar di satu sisi, tapi kurang tepat di sisi yang lain. Kenapa?

Sebab, meski semua hal adalah pinjaman, tapi Allah juga memberi "bekal" berupa jiwa, mata batin, akal, ruh, atau "nafs" yang bisa menalar dan melihat segala sesuatu (an-nafsu an-natiqoh). 

"An-nafsu an-natiqoh" ini mesti digunakan untuk membuat dan membangun peradaban di dunia dan bumi. Selain sebagai bentuk syukur karena dibekali kemampuan ini, penggunaan bekal istimewa ini pun sepertinya untuk pengingat bahwa kemajuan dan perkembangan apapun yang terjadi dan ada di dunia dan bumi ini hakikatnya adalah majazi dan ada karena adanya Allah.

Ya, sederhananya adalah, misalnya ketika seseorang menjadi ilmuan, ia akan sadar bahwa apapun yang ditemukan adalah temuan majazi dan tak lupa bahwa ia makhluk Allah. 

Saya jadi ingat dengan nasihat Kiayi Idris: "jadi apapun kalian kelak, inggatlah pertama kali kalian adalah muslim dan mu'min. Ini mesti jadi pondasi awal. Kalian jadi dokter, berarti kalian adalah muslim dan mu'min yang dokter. Dan lain sebagainya."

Ya, ada empat kesadaran dan keyakinan yang perlu terus ada dalam diri setiap orang. Pertama keyakinan bahwa adanya dirinya adalah majazi, mengikuti Adanya Allah. Kedua, menyadari bahwa semua yang ada di dunia dan bumi ini adalah pinjaman. Suatu saat akan diambil oleh pemilik sejatinya. Ketiga, menyukuri pinjaman dan bekal yang dikasih Allah berupa akal, mata batin, nafs, atau jiwa untuk mengembangkan, memajukan, serta meningkatkan kualitas kehidupan di dunia. Keempat, menyadari bahwa posisi dan status setiap manusia adalah hamba Allah apapun profesi, kerja, dan jabatannya di dunia.

Sekali lagi, Allah telah membekali manusia dengan cahaya yang disebut "al-nafsu al-nathiqoh". Kemampuan untuk bernalar hingga bisa menciptakan dan menemukan sesuatu. Menggunakan bekal ini adalah bentuk syukur kepada Allah. Malah, ketika tidak menggunakannya, bisa dianggap mengingkari kemanusiaan dan hakikat "keberadaannya" sebagai manusia. 

Sebab hakikatnya manusia bukan hewan dan bukan tumbuhan. Mesti sama-sama dibekali jiwa dan ruh, tapi hewan tidak bisa bernalar. Ruh dan jiwanya sebatas bertahan hidup (makan) dan berproduksi. 

Karenanya, bisa dibilang, manusia yang sebatas bertahan hidup dan bereproduksi, serta tidak menggunakan ruh, jiwa, akal, dan nafs-nya untuk menalar dan naik ke alam yang lebih tinggi, bisa dibilang binatang bahkan lebih sesat (أضل). 

Pun dengan tumbuhan, dibekali ruh tapi sebatas bertahan hidup (makan). 

(Keisengan saya kambuh di sini). Karena hewan dan tumbuhan punya ruh. Ini berarti adanya mereka pun hakikatnya punya "keterhubungan" dengan Yang Ada Hakiki (wujud hakiki) yaitu Allah. Hanya saja, mereka tidak dibekali al-nafsu al-nathiqoh. Hingga derajat mereka berada di bawah manusia. Karena keterhubungan ini, sepertinya perlu dibangun "hubungan" yang baik pula dengan mereka. sebab, ketika manusia merusak dan memperlakukan mereka dengan semena-mena, hakikatnya merusak dan berlaku semena-mena kepada Sang Pencipta. Karena itu tadi, ada keterhubungan ruh. 

Kembali pada Misykatul Anwar, Imam Al-Ghazali menerangkan, bahwa orang-orang yang "tahu" (ma'rifat) dan sadar akan hakikatnya hakikat sesuatu hingga hakikatnya hakikat hakikat akan sesuatu, dan seterusnya kemudian menyempurnakan mi'roj nya; mereka akan melihat dan menyaksikan langsung bahwa tidak ada wujud selain Allah Ta'ala.

Hal ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran yang berbunyi: "كل شيء هالك إلا وجهه"

Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar menegaskan bahwa yang dimaksud  "هالك" di ayat tersebut bukan hancur di waktu tertentu, tapi hancur atau binasa dari yang tak terbatas di masa lalu dan yang tak terbatas di masa depan (ازلا و ابدا).

Karena sungguh, segala sesuatu (dzatnya) selain Allah, adalah ketiadaan murni. Asli, enggak ada. Ya, selain Allah, hakikatnya gak ada.

Nah, segala sesuatu yang "dianggap" ada di dunia ini adalah ada karena adanya Allah. Ada karena adanya Wajah Allah.

Perlu dicatat dan ditegaskan. Kata "wajah" (وجه), jangan sekali-kali dibayangkan dan dilekatkan kepada Allah. Sebab, jika kata "wajah" di sini diartikan seperti wajah manusia, maka ini kekeliruan fatal. Sebab Allah tidak seperti manusia. 

Manusia dan bahasanya sangat amat terbatas untuk menggambarkan bahkan untuk menjelaskan tentang Allah. Kata-kata dalam Al-Quran yang seperti itu, seperti "wajah", adalah untuk memudahkan manusia "mengerti" dan "memahami" tentang Allah, bukan gambaran tentang Allah itu sendiri. 

Seperti kata "wajah Allah" (وجه الله), jangan sekali-kali diartikan sebagai wajah Allah secara harafiah. Sebab, manusia sangat amat terbatas pengetahuan, kata-kata, dan bahasanya. Nah karena keterbatasan ini, di sini, kata yang dianggap paling mewakili adalah wajah Allah. (Sekali lagi, wajah di sini jangan diartikan dengan harafiah!).

Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa segala sesuatu itu punya dua wajah. Pertama, wajah dirinya sendiri. Kedua wajah (ke) Tuhannya (Allah). Wajah dirinya sendiri adalah ketiadaan ('adamun). Sementara wajah Allah adalah ada (maujud)

Jadi, sungguh tidak ada yang ada kecuali Allah (لا موجود إلاالله). Dan segala sesuatu selain wajah Allah adalah hancur atau binasa dari yang tak terhingga di masa lalu dan tak terhingga di masa yang akan datang (ازلا و ابدا). 

Al-Ghazali menegaskan bahwa seruan (panggilan, pandangan) tersebut tidak perlu menunggu sampai hari kiamat. Seperti yang tertera dalam ayat:

"لمن الملك اليوم، لله الواحد القهار"

Ya, pandangan dan seruan tersebut, kata Al-Ghazali, sebenarnya terus berdengung di telinga setiap orang. Terlebih di telinga orang-orang yang "tahu", orang-orang yang mengetahui hakikat, orang-orang yang punya ma'rifat. Tidak perlu menunggu hingga kiamat, hari ini pun, sekarang pun, mereka akan menjawab bahwa Allah pemilik segala kekuasaan.

Seperti pemahaman tentang "Allahu Akbar" (الله اكبر). Al-Ghazali, dalam kitabnya, Misyaktul Anwar, menjelaskan bahwa Allahu Akbar maknanya adalah: Allah terlalu Besar untuk disebut Maha Besar atau Lebih Besar. 

Allahu Akbar tidak bisa dimaknai "Allah Lebih Besar," sebab jika demikian, kita mengakui adanya wujud yang hakiki selain Tuhan. 

Kata Akbar, dalam kaidah bahasa Arab masuk dalam "shigoh tafdhil" yang berarti ada sesuatu yang lain yang jadi perbandingan, ada yang lain yang dibandingkan. 

Nah, Allah itu tidak ada bandingannya. Tidak ada yang bisa menandingi Allah. Lagi-lagi di sinilah keterbatasan kata dan bahasa manusia. Kata Allahu Akbar bukan berarti ada yang sesuatu yang lain selain Allah. Walaupun bentuknya lebih kecil dari Allah. Tidak, itu tidak ada. 

Tidak ada wujud selain Allah. Yang Wujud hanya wujudnya Tuhan. Jadi, mustahil mengatakan "Allah Lebih Besar." Lebih besar dari apa, kalau tidak ada wujud selain Allah?

Allahu Akbar sederhananya bisa diartikan dengan:  Allah itu lebih Akbar dari Akbar, bahkan tak terhingga akbar-nya dalam jangkauan bahasa dan kata-kata manusia. Akbar-Nya Allah itu tak terhingga.  

Ya, Allah tidak bersifat Akbar dalam makna bahasa manusia yang sangat terbatas. Sekali lagi, ini adalah keterbatasan bahasa manusia dan keterbatasan manusia itu sendiri dalam memahami "Ke-MahaBesaran-Nya" yang tak terhingga.

Begitupun dengan kalimat Allah bersama kita (إن الله معنا). Al-Ghazali pun mengingatkan bahwa ini hanya majazi, metaforis, dan perumpamaan saja. Sebab, kita tidak bisa sejajar secara hakiki. 

Sekali lagi, segala sesuatu selain Allah adalah makhluk (ciptaan). Termasuk manusia. Kata "bersama" tidak bisa diartikan dengan "posisi" sejajar secara harfiah. 

Bahkan, Al-Ghazali menegaskan bahwa derajat ada dan keberadaan makhluk (manusia, dll) tidak bisa sejajar dan bersama (المعية) tapi tab'iyyah (تبعية), yakni mengikuti Adanya Allah. Allah Yang Mahanya Maha Maha Maha Besar yang tak terhingga Ke-MahaBesaran-Nya. 

Ya, makna Allahu Akbar itu lebih besar (tak terhingga dan tak terbatas) dari kata Allahu Akbar yang diucapkan manusia (yang terbatas). Bahkan lebih besar dari Allahu Akbar yang diketahui manusia, nabi, bahkan malaikat sekalipun. 

Karena tidak ada yang benar-benar bisa tahu Allah kecuali Allah sendiri. Kenapa? 

Sebab, tahu atau pengetahuan itu bisa dibilang kekuasaan dan kekuatan. Seperti ungkapan: knowledge is power. Ketika seseorang tahu akan sesuatu, maka sesuatu yang diketahuinya itu masuk menjadi bagian dari kekuasaanya.

Misal sederhananya, ketika seseorang tahu tentang digital marketing, itu berarti dia menguasai digital marketing. 

Begitupun dengan Allah. Ketika seseorang tahu tentang Allah, itu berarti dia menguasai Allah. Dan ini sangat amat tidak mungkin. Sebab, Sejatinya, siapapun selain Allah, tidak bisa "tahu" Allah.

Yang mungkin dan bisa adalah, dia "tahu" dan "mengetahui" dirinya. Ketika dia tahu tentang dirinya, maka dia mengetahui sedikit (teramat dikit) dan sebagian kecil (teramat kecil) tentang Allah. 
"من عرف نفسه، عرف ربه"

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 02022022













Hakikat Kepemilikan: Kita Hanya Minjam Ke Allah. (Misykatul Anwar)

Di catatan sebelumnya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa sumber segala cahaya adalah Cahaya yang bercahaya karena dan dengan Dzatnya sendiri (النور لذاته و بذاته), yaitu Allah 'azza wa jalla. 

Allah adalah Cahaya yang menyinari, Cahaya yang paling atas yang tidak ada cahaya lagi di atasnya. Inilah hakikat cahaya menurut Imam Al-Ghazali. Cahaya sebenar-benarnya cahaya. 

Selain Cahaya tersebut, Al-Ghazali menyebutnya dengan cahaya majazi. Alias cahaya yang diibaratkan dengan cahaya pinjaman. 

Ya, selain Cahaya lidzatihi wa bidzatihi, hakikatnya tidak ada dan tidak punya cahaya. Meskipun ada cahaya di dirinya, itu hanya cahaya pinjaman dari Cahaya Lidzatihi wa Bidzatihi. 

Termasuk nurani dalam diri setiap manusia. Nurani yang bisa diartikan dengan sesuatu yang bersifat cahaya sekalipun, hakikatnya pinjaman dari Allah. 

Al-Ghazali menganalogikan dengan hal sederhana, yaitu pinjam meminjam. Ya, ibarat orang yang pinjam meminjam. 

Hakikatnya siapapun yang meminjam adalah orang yang fakir, sementara yang meminjamkan adalah orang yang kaya. 

Siapapun yang meminjami, punya hak untuk mengambil dan menarik kembali apapun yang dipinjami ke orang lain.

Ya, mau kapanpun, barang pinjaman itu akan ditarik dan diambil kembali oleh sang peminjam. Dan Al-Ghazali menegaskan, siapapun yang yang menyadari hal ini, akan sadar bahwa dirinya dan apapun yang ada di dirinya adalah milik Dia yang meminjamkan. 

Ini hakikat kepemilikan yang pertama. Sementara hakikat selanjutnya adalah tentang cahaya yang terkait dengan tampak dan menampakkan, dan tingkatan-tingkatannya. 

Al-Ghazali menegaskan bahwa hakikat kegelapan (ظلمة) adalah ketiadaan. Puncak kegelapan adalah ketiadaan atau tidak adanya sesuatu.

Ini terkait dengan makhluk (ciptaan) yang hakikatnya adalah tak bercahaya, sebab cahaya yang ada di makhluk adalah cahaya pinjaman, maka bisa dibilang bahwa hakikatnya makhluk itu gelap. Dan gelap yang paling puncak adalah ketiadaan atau tidak ada wujudnya. 

Sederhananya, bisa dibilang makhluk itu hakikatnya tidak ada. Beruntungnya, terutama untuk manusia, Allah memberikan modal dan bekal agar manusia bisa ada, yaitu akal, mata batin, ruh, nafs, atau jiwa. 

Ada dalam arti bisa bercahaya dan terlihat. Setidaknya membuat dirinya bisa bercahaya. Lebih-lebih bisa mencahayai dan membuat orang lain terlihat.

Ketika seseorang tidak menggunakan modal dan bekal tersebut, hakikatnya ia telah mengingkari kodratnya sebagai manusia, yaitu makhluk yang punya potensi untuk bercahaya; untuk ada.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada (wujud) itu ada dua. Pertama, ada yang hakiki (wujud hakiki). Kedua, ada yang majazi (wujud majazi). 

Ada (wujud) yang ada karena sebab ada yang lain, itu bukan ada yang hakiki, tapi majazi. Ibarat pinjam meminjam tadi. Nah, manusia dan semua makhluk masuk dalam kategori ada yang majazi ini. Sementara ada (wujud) hakiki, tegas Imam Al-Ghazali adalah Allah Ta'ala. Sepertu cahaya yang Haq adalah Allah Ta'ala.

Ketika menyadari hakikat ini, siapapun bisa lebih menyadari akan arti kepemilikan yang sesungguhnya. Apapun yang ada di dunia, adalah pinjaman. Bahkan termasuk diri dan hidup manusia sendiri adalah pinjaman kepada Allah. 

Ah, keisengan saya kambuh; saya tidak mau meminta apapun lagi ke Allah, tapi ketika saya mau atau butuh apapun, saya akan bilang; "Ya Allah saya mau pinjam.....
.................."

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 01022022

Minggu, 30 Januari 2022

Tingkatan dan Sumber Cahaya (Misykatul Anwar)

Di abad ke-16, tepatnya di kisaran tahun 1572 hingga 1640, hidup seorang ulama yang filosof bergelar Sadr al-Din Mohammad Shirazi. Ia lahir di Shirza atau Shiraz, Persia Selatan dan diberi nama Muhammad Ibn Ibrahim al-Qawami. Belakangan ia lebih dikenal dengan Mulla Sadra. 

Di antara pandangannya yang masyhur adalah tentang al-hikmah al-muta'aliyah (الحكمة المتعالية). Hikmah yang utama yang merujuk pada tiga hal, yaitu: wahdah al-wujud, tasykik al-wujud, dan asholah al-wujud. Ulama yang filosof dan banyak merujuk (belajar) pada karya Ibnu Sina ini merumuskan teosofi dari landasan intelektualitas, rasionalitas, dan syariat.

Di antara pandangannya dalam isykak al-wujud atau al-wujud al-musyakkak adalah tentang perbedaan derajat dan gradasi kualitas. Ya, sederhananya Mulla Sadra menyatakan bahwa segala sesuatu (ciptaan, makhluk) itu berderajat. Meskipun sesuatu itu terlihat sama (sama-sama manusia, misalnya) tetap saja derajatnya beda-beda. Tetap saja ada perbedaan kualitas. 

Jauh sebelum itu di abad ke-11, Imam Al-Ghazali pun telah menyatakan hal yang mirip dengan pendapat Mulla Sadra ketika menjelaskan tentang Cahaya dalam kitab Misykatul Anwar.

Al-Ghozali menjelaskan bahwa cahaya-cahaya bumi bersumber dari cahaya-cahaya "langit". Al-Ghozali menganalogikannya dengan misal seperti ini: saat malam hari (tentu saja diandaikan belum ada listrik), cahaya bulan menyeruak masuk ke dalam rumah lewat lubang (bisa lubang angin, atau lubang di atap). Cahaya itu kemudian terkena cermin. Dari cermin cahaya tersebut memantul ke tembok. Dari tembok cahaya tersebut lalu terpantul ke lantai (tanah).

Dengan analogi dan misal tersebut, Al-Ghozali menegaskan bahwa cahaya pun memiliki tingkatan-tingkatan yang terkait derajat dan kualitas terangnya. Semakin jauh dari sumber, cahaya semakin redup. Sebaliknya, semakin dekat dengan sumber, cahaya itu akan semakin terang. Begitu juga dengan derajat "cahaya" pada manusia: akan berbeda-beda. 

Bagi orang-orang yang telah terbuka mata batinnya dan bisa mi'roj ke alam malakut, maka akan terkuak dan terbuka pula baginya cahaya-cahaya kemalaikatan (الانوار الملكوتية) yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat pula. Al-Ghazali menegaskan derajat (cahaya) malaikat Israfil tentu berbeda dengan malaikat Jibril. Semakin dekat dengan "Sumber Cahaya" maka cahaya para malaikat pun akan semakin terang dan cerlang. Ini seperti yang tertera dalam Al-Quran: 
و إنالنحن الصافون و إنا لنحن المسبحون

Seperti catatan saya sebelumnya, bahwa Allah memiliki malaikat yang selalu bertasbih. 

Al-Ghozali kemudian menegaskan, meskipun cahaya bertingkat-tingkat, bergradasi, dan berbeda-beda yang tak terbatas, tapi itu untuk aliran cahaya ke bawah. Tapi, jika cahaya itu ditelusuri ke atas, ke sumbernya, maka akan berhenti pada sumber yang dikatakan Al-Ghazali dengan: Cahaya yang bercahaya karena Dzatnya Sendiri dan Dengan Dzatnya Sendiri (النور لذاته و بذاته). Dan inilah sumbernya sumber cahaya. 

Al-Ghazali sebagaimana diketahui mempelajari karya-karya dan pandangan Ibnu Sina, setidaknya terpengaruh juga dalam pemakaian istilah Filsafat Ibnu Sina. Ya, النور لذاته و بذاته, adalah istilah yang kerap dipakai dalam filsafat ala Ibnu Sina. 

Ya, النور لذاته و بذاته, tegas Imam Al-Ghazali adalah yang paling layak dan paling relevan untuk disebut sebagai cahaya. Yaitu cahaya yang paling tinggi dan paling atas (النور الأقصى الأعلى) yang tidak ada lagi cahaya di atasnya. Serta darinya turun cahaya-cahaya hingga sampai ke tingkat paling bawah. 

Dari sinilah, Al-Ghazali mengajak untuk merenung (melihat dan memperhatikan) manakah yang lebih layak disebut cahaya; apakah yang cahaya yang menjadi sumber (Cahaya yang bercahaya karena Dzatnya Sendiri dan Dengan Dzatnya Sendiri, النور لذاته و بذاته) atau cahaya yang diterangi serta meminjam cahaya dari sumber cahaya? 

Sederhananya, Al-Ghozali menyatakan bahwa cahaya malaikat pun berbeda-beda. ada yang redup ada yang sangat terang. semakin dekat dengan sumber cahaya, akan semakin terang. begitu juga dengan manusia. cahayanya berbeda-beda. ada yang redup, ada yang sangat redup, hingga ada yang sangat terang. 

perbedaan cahaya pada manusia tersebut, di antaranya karena perbedaan ilmu dan pengetahuannya. semua orang yang punya ilmu itu bercahaya. Ilmu apapun yang dimiliki, itulah cahaya dirinya. Di atas ilmu ada pengetahuan (المعرفة), siapapun yang memiliki, maka cahayanya akan lebih terang.  

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 31012022

Lampu yang bercahaya (sirojan muniron), Api, dan Cahaya Di Atas Cahaya (Misykatul Anwar)

Seperti yang telah tertulis di catatan-catatan saya sebelumnya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada mata yang bisa melihat dirinya sendiri dan bisa melihat yang lain, dan ini lebih layak dan pantas disebut cahaya. 

Pun ada mata, selain bisa melihat dirinya sendiri dan bisa melihat yang lain, bisa juga membuat yang lain bisa melihat dirinya dan melihat yang lain. Ini pun lebih layak dan pantas lagi untuk disebut cahaya. 

Sederhananya, kira-kira begini: ada sesuatu. Ia bercahaya; mencahayai dirinya dirinya sendiri pun bisa mencahayai yang lain hingga yang lain tersebut bisa bercahaya dan mencahayai yang lain lagi. 

Al-Ghazali menyebut mereka yang begitu (bercahaya, bisa mencahayai dirinya dan mencahayai orang lain lalu membuat orang lain bercahaya dan bisa mencahayai dirinya dan orang lain) dengan sirojan muniron (سراج منيرا). 

Sirojan muniron, bisa diartikan dengan lampu yang terang yang bisa menyinari sekitarnya. Tentu saja, yang perlu dipahami bahwa ini perlambang. Semacam simbol dan metafor. Sebab, perlambang ini (sirojan muniron) seperti memancarkan cahayanya kepada yang lain. 

Mereka yang sirojan muniron ini adalah orang-orang istimewa. Dan mereka, kata al-Ghazali), yang memiliki ruh (jiwa) yang suci yang bersifat nabi (للروح القدس النبوى). Ya, mereka adalah Nabi. Sebab darinya terpancar cahaya-cahaya pengetahuan (المعرفة) kepada para makhluk (manusia). 

Dan di sinilah Al-Ghozali memberi pemahaman bahwa makna dibalik pemberian nama oleh Allah kepada Nabi Muhammad dengan Sirojan Muniron

Pun dengan nabi-nabi yang lain. Begitu juga dengan para 'ulama. Tapi, tentu saja terdapat perbedaan yang tak terhingga di antara Nabi Muhammad dan nabi yang lain, dan dengan masing-masing ulama. 

Ya, mata batin para nabi kira-kira seperti itu: bercahaya, bisa melihat dirinya, bisa melihat yang lain, bisa membuat yang lain bercahaya dan bisa membuat mereka melihat diri sendiri dan melihat yang lain. 

(Saya tertarik dengan Al-Ghazali yang menyebut bahwa yang menjadi Sirojan Muniron adalah nabi Muhammad, sementara nabi-nabi yang lain hanya sirojan saja. Termasuk para ulama sebagai pewaris para nabi pun disebut Al-Ghozali dengan sirojan.)

Perlu saya catat juga, bahwa ulama bukan hanya mereka yang identik dengan agama. Tapi, ulama juga bisa disandarkan pada mereka yang berpengetahuan. Misalnya, ketika saya tidak tahu tentang digital marketing, bisa disebut saya sedang di fase kegelapan. Tak ada cahaya. Tapi, ketika saya belajar kemudian mendapat pengetahuan tentang digital marketing. Di fase ini bisa dibilang saya sudah bercahaya. Nah, ketika pengetahuan yang saya miliki bisa membuat orang lain memiliki pengetahuan juga, maka saya bisa disebut sebagai "ulama ('alim) dalam digital marketing".  Pun dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain. 

Begitu juga setiap orang, bisa dibilang dalam keadaan gelap ketika dirinya masih di tahap tidak (belum) tahu akan sesuatu. Dirinya akan menjadi terang ketika sudah memiliki pengetahuan akan sesuatu. Di fase ini, orang tersebut bisa disebut telah bercahaya. Nah, ketika cahayanya bisa menyinari yang lain alias membuat orang lain ikut bercahaya, maka di titik inilah ia bisa disebut ulama. 

Sekilas, seperti teori manfaat. Seperti kata Kanjeng Nabi sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat kepada orang lain. Sepertinya, di titik inilah,setidaknya, setiap orang bisa menjadikan dirinya "bercahaya", yaitu dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Saya jadi ingat dengan kisah-kisah Walisongo. Pada hakikatnya mereka memberikan cahaya pada daerah yang bisa dibilang gelap. Kehadiran para wali menjadikan orang-orang (termasuk) daerah yang didatangi menjadi terang dengan cahaya hikmah dan pengetahuan.

Pun seperti: Syaikh Hasyim Asy'ari ketika datang ke Tebuireng, Mbah manab Abdul Karim di Lirboyo, dan ulama-ulama yang lain. Hakikatnya, kedatangan mereka adalah memberi cahaya pada daerah dan orang-orang yang didatangi. Hingga daerah dan orang-orang di situ pun ikut bercahaya.

Kembali ke sirojan muniron. Bahasa sederhananya bisa diartikan dengan lampu yang terang dan bisa menerangi. 

Terangnya lampu ini tentu saja ada sumbernya. Nah, perlambang yang disebut Imam Al-Ghozali untuk sumber terangnya lampu ini adalah api. 

"Lampu-lampu" (cahaya) yang ada di bumi, itu semua berasal dari "lampu-lampu" yang bersifat "tinggi", yakni "lampu-lampu" yang dimiliki oleh ruh (jiwa) yang suci yang bersifat kenabian (للروح القدس النبوى).

Di zaman dulu, ada lampu templok. Lampu templok ini perlu minyak. Begitu juga dengan perlambang "Lampu" dalam Jiwa yang suci yang bersifat kenabian ini, pun ada minyaknya. 

Minyaknya itu disebut minyak zaitun. Nah, minyak zaitun ini sendiri adalah minyak yang paling bagus. Minyak ini tanpa tersentuh api pun sudah bercahaya. Sudah terang. Dan ketika minyak yang sudah bercahaya ini tersentuh api, jadilah ia cahaya di atas cahaya. 

والروح القدس النبوي يكاد زيتها يضىء ولو لم تمسسه نار. ولكن إنما يصير نورا على نور إذا مسته النار

Kira-kira perlambang atau metafornya seperti ini. Ada sebuah lampu minyak. Lampu ini menjadi sumber cahaya bagi sekitar. Sementara sumber cahaya lampu ini sendiri adalah api.

Lampu ini ada minyaknya. Minyaknya ini sendiri sudah bercahaya walau belum tersentuh api. Nah, ketika minyak yang bercahaya ini tersentuh oleh api yang bercahaya, inilah yang disebut "cahaya di atas cahaya".

Lampu Minyak adalah perlambang dari para nabi. Lampu minyak yang menerangi (Sirojan Muniron) adalah perlambang untuk Nabi Muhammad. Dan api sebagi sumber dari lampu tersebut adalah Allah. 

Kemudian Imam Al-Ghazali menjelaskan tentang jiwa (ruh) yang ada di bumi. Bahwa ruh-ruh (jiwa-jiwa) manusia yang ada di bumi ini pun, semuanya bersumber dari ruh yang bersifat ketuhanan yang bersifat tinggi (الروح الإلهية العلوية).

Ini seperti yang dikatakan Ali Bin Abi Thalib dan Imam Ibnu 'Abas bahwa: Allah memiliki malaikat. Setiap malaikat punya 70.000 kepala. Setiap kepala punya 70.000 wajah. Setiap wajah punya 70.000 mulut. Setiap mulut punya 70.000 lisan yang masing-masing selalu bertasbih (memaha-sucikan Allah) dan tidak ada kata (bahasa) lain yang keluar dari lisannya selain tasbih.

Sekali lagi, perlu dipahami, bahwa kepala, wajah, mulut, dan lisan itu perlambang. Sebab, malaikat itu murni ruh. Tidak ada jasad atau tubuh. Semua kata yang identik dengan tubuh tersebut adalah perlambang seperti manusia.

Nah, malaikat yang bertasbih tersebut adalah mereka yang akan ikut berbaris dalam satu barisan dengan ruh yang disebut pada ayat Al-Qur'an: 
"يوم يقوم الروح والملائمة صفا"

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 30012022