Cahaya-cahaya di tingkat "bawah", diterangkan Al-Ghazali, saling memantul. Satu cahaya memancarkan cahayanya ke yang lain, begitu seterusnya. Seperti contoh pada catatan sebelumnya; cahaya matahari memancar ke bulan, kemudian cahaya bulan memancar ke cermin. Dari cermin cahaya itu memancar ke dinding, dari dinding cahaya itu memancar ke lantai.
"Keisengan" saya kambuh. Saya jadi "iseng" bagaimana jika pandangan tentang "yang ada" (cahaya), yang bertingkat-tingkat dan saling berhubungan (memancar) ini digunakan untuk melihat segala hal yang dalam kehidupan manusia di bumi.
Contoh sederhananya: misalkan saya ingin bangun bisnis online. Yang saya mesti saya lakukan adalah melihat hal-hal yang berhubungan dan berkaitan dengan bisnis online. Kemudian melihat tingkatan-tingkatan masing-masing hal yang berhubungan. Dan seterusnya hingga menghasilkan berbagai alternatif yang bisa dilakukan. Inilah cahaya batin, cahaya alam malakut. Inilah konsep.
Pun ke setiap hal yang menjadi urusan atau mungkin sesuatu yang dianggap persoalan atau permasalahan oleh masing-masing orang. Sepertinya bisa menggunakan teknik Al-Ghozali dalam melihatnya.
Kembali ke kitab Misykatul Anwar. Al-Ghazali menyatakan bahwa simbol untuk cahaya Ruhani, cahaya batin digambarkan seperti lampu. Kalau di zaman Al-Ghazali hidup, seperti lampu templok. Kalau saat ini, kira-kira seperti bola lampu.
Nah, semua cahaya (cahaya lahir dan cahaya batin) yang tersebar di bumi, kata al-Ghazali berasal dari bola lampu tersebut yang disebut Siroj. Dan Siroj adalah ruh yang bersifat kenabian yang suci. Sederhananya, Siroj adalah ruh nabi yang suci.
Ruh nabi yang suci itu berasal dan bersumber dari ruh di "Langit atas" atau alam malakut. Dan ruh para nabi yang suci tersebut seperti bola lampu yang bercahaya. Cahaya lampu tersebut berasal dan bersumber dari api (zaman dulu), dari cahaya di dalam bola lampu (zaman sekarang) tersebut.
Al-Ghazali menegaskan bahwa ruh nabi yang suci (yang disimbolkan dengan Siroj) lah yang menerangi dunia dan semesta ini. Ya, ruh para nabi lah yang membuat segala hal di dunia ini tampak dan bercahaya.
Itulah hakikat tentang sumber cahaya di alam "bawah" atau dunia ini. Pun dengan cahaya di alam "atas" atau langit "atas" atau alam malakut. Cahaya di sana pun saling memantul dan saling memancar satu sama lain. Karena cahaya di sana pun memiliki tingkatan-tingkatan (maqom-maqom) yang semakin naik dan tinggi maqomnya maka semakin terang hingga sampai ke sumber cahaya yang hakiki, yaitu Allah 'azza wajalla.
Al-Ghazali menyebut sumber cahaya itu dengan nur Al-Anwar (نور الأنوار). Dan sesungguhnya itulah Dia, Allah Ta'ala yang Maha Satu, Yang Tidak ada sekutu bagi-Nya. هو الله تعالى وحده لا شريك له.
Al-Ghazali sekali lagi menegaskan bahwa semua cahaya yang ada (di alam lahir dan batin, di alam syahadah dan alam malakut) hakikatnya meminjam kepada Allah. Cahaya yang hakiki hanya Cahaya Allah. Karenanya, sesungguhnya segala sesuatu (yang ada, yang bercahaya) adalah cahaya-Nya. Lebih jauh, semuanya adalah Dia (إن الكل نوره، بل هو الكل).
Karena hakikatnya hakikat bahwa semuanya (الكل) adalah Dia (Allah), maka sesungguhnya (hakikatnya) identitas atau "ke-dia-an" (الهوية) selain Dia (Allah) adalah Majazi.
Dan itu berarti segala cahaya adalah cahaya-Nya. Segala yang ada adalah ada-Nya. Segala cahaya (selain Cahaya, selain Dia, selain Allah) bersumber dan berasal dari Cahaya-Nya bukan berasal dari dzat (yang lain)-nya sendiri و سائر الأنوار انوار من) الذى يليه لا من ذاته).
Termasuk semua wajah (sisi) yang ada (selain Dia, selain Allah) hakikatnya menghadap kepada Allah. Inilah ta'wil Al-Ghazali tentang ayat Al-Quran:
فأينما تولوا فثم وجه الله
Arti sederhananya: menghadap kemanapun makhluk, maka ia menghadap Allah. Lebih jauh, ketika semua makhluk melihat apapun, sesungguhnya (hakikatnya) mereka melihat Allah.
Keisengan saya kambuh lagi. Kalau pandangan ini dipakai setiap manusia, sepertinya akan terus tercipta ketenangan dan kedamaian alam hidup. Kenapa? Sebab ketika kita melihat apapun dan yang kita lihat itu (hakikatnya) adalah Allah, maka kita tidak akan semena-mena terhadapnya. Termasuk ketika melihat manusia yang lain. Hakikatnya kita tengah melihat Allah. Mau bagaimanapun kelakuan orang tersebut, kalau di dasari pandangan bahwa hakikatnya melihat Allah, maka kita tidak serta Merta dan semena-mena terhadapnya. Sederhananya, ketika melihat manusia, hakikatnya kita melihat Allah.
Seperti pada catatan ngaji sebelumya, telah diterangkan bahwa segala sesuatu punya dua sisi. Ada sisi yang menghadap kepada Allah. Sisi inilah yang terang dan bercahaya. Lalu ada sisi yang memunggungi Allah. Ini adalah sisi gelap. Begitu juga manusia. Ketika ia menghadapkan dirinya kepada Allah, maka makin terang dan bercahayalah manusia tersebut. Pun sebaliknya, semakin memunggungi atau semakin seseorang berpaling dari Allah, maka semakin gelaplah ia. Jika semakin gelap, bisa dibilang ia semakin tidak ada.
Ah, saya jadi ingat sebuah buku karangan Jean Paul Sartre, Being A d Nothingness. Ada dan ketiadaan. Tentu saja Sartre melihat ada dan ketiadaan ini dari sudut pandang sekuler. Setidaknya, konsep ada dan ketiadaan sudah dibahas lebih dahulu oleh Imam Al-Ghazali. Dan yang dipakai oleh "Hujjatu Al-Islam" ini tentu saja pandangan orang-orang beriman. Pandangan orang-orang yang beriman kepada Allah.
Kembali ke Misykatul Anwar. Karena landasan dan pandangan itu, maka sesungguhnya: tidak ada "Ilah" selain Dia.
"لا اله الا هو".
Kata atau diksi "Ilah" (اله) adalah ibarat, ungkapan, ekspresi untuk segala "wajah" yang menghadap kepada-Nya dalam bentuk ibadah. Wajah yang dimaksud Al-Ghazali adalah wajah-wajah hati yang itu adalah cahaya-cahaya batin, mata batin, akal, jiwa, atau nafs.
Ketika tidak ada Ilah selain Dia, maka sesungguhnya tidak ada Dia selain Dia.
"كما لا اله الا هو فلا هو الا هو"
Al-Ghozali sekali lagi menerangkan bahwa kata atau diksi "huwa" (هو) adalah ibarat, ungkapan, ekspresi tentang segala sesuatu yang mengisyaratkan sesuatu yang ada. Dan tidak ada isyarat kecuali hanya kepada Dia (Huwa). Artinya, segala sesuatu yang diisyaratkan (ditunjuk) oleh manusia hakikatnya isyarat (menunjuk) kepada "Huwa".
Sederhananya kira-kira seperti ini. Segala sesuatu yang ada itu bisa ditunjuk (diisyaratkan). Segala sesuatu (yang ada) yang bisa diidentifikasi itu disebut dengan "Huwa".
"Hawiyah" (هوية) sederhananya bisa diartikan dengan "ke-dia-an" atau identitas. Nah, "hawiyah" ini untuk menunjukkan sesuatu yang ada. Misalnya, ketika kita menyebut atau menunjuk "dia", maka hakikatnya "dia" itu ada. "Dia" itu bisa ditunjuk dan bisa diidentifikasi karena ada.
Lebih sederhananya kira-kira seperti ini. Ketika kita menyebut atau menunjuk "sesuatu", maka sejatinya "sesuatu" itu ada, karena bisa kita tunjuk dan bisa kita sebut (bisa kita isyaratkan, bisa kita gambarakan).
Nah, hakikatnya hakikat dari "dia" atau "sesuatu" yang bisa ditunjuk, diidentifikasi, dan biaa diisyaratkan itu adalah hanya "Dia", hanya "Huwa".
Dan Al-Ghazali menegaskan yang hanya bisa "ditunjuk", "di-itu-kan", "di-dia-kan" hanya Dia (Huwa, Allah). Karena hanya Dia (Huwa) yang hakiki. Selain Dia (Huwa) adalah majazi.
Al-Ghazali memberi contoh. Ketika seseorang menunjuk cahaya atau sinar matahari, yang ditunjuk adalah mataharinya.
Karena itu semua, maka Al-Ghozali menegaskan bahwa لا إله الا الله adalah tauhid orang biasa. Dan لا إله إلا هو adalah tauhid orang khusus (الخواص). Sementara tauhid mereka yang khusyusnya khusus (خواص الخواص) adalah لا هو الا هو.
Dan di sinilah letak ajaran Wahdatul Wujud Imam Al-Ghazali. Karena baginya hal tersebut lebih terarah, lebih khusus, lebih lengkap, lebih Haq, lebih teliti dan mendalam, dan lebih bisa menjamin masuknya seseorang kepada kesendirian murni (الفردانية المحضة) dan penyatuan yang sejati (الوجدانية الصرفة).
Ajaran Wahdatul Wujud Imam Al-Ghazali, kemudian dikembangkan begitu luar biasa oleh ulama yang bergelar: Syaikh Al-Akbar, yaitu Imam Ibnu 'Arobi.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 06022022