Jumat, 18 Februari 2022

Khobar, jadzwah: Ilmu Yang "Menyatu" dengan Diri. (Misykatul Anwar)

Di catatan ngaji sebelumnya, diterangkan bahwa manusia menerima air-air pengetahuan melalui perantara ruh para nabi dan ulama. 

Nah, Imam Al-Ghazali kemudian menyebut ruh para nabi itu sebagai "sirojan muniron" alias lampu yang bercahaya dengan terang benderang. 

Lebih jauh lagi, Ruh para nabi tersebut diambil melalui Wahyu Allah. Sederhananya, ruh nabi adalah Wahyu. Seperti firman Allah: (اوحينا اليك روحا من امرنا). Dan al-Ghazali, menerangkan bahwa perlambang atau metafora dari "diambilnya" ruh nabi yang berasal dari Wahyu tersebut dengan api (النار). 

Kalau digambarkan dengan lebih sederhana lagi, api itu cahaya. Nah, Wahyu adalah cahaya. Begitu juga dengan ilmu. Nah, cahaya inilah yang kemudian diambil oleh para ulama. Hingga para ulama disebut sebagai "warotsatul anbiya", alias pewaris para nabi. Kemudian manusia mengambil cahaya dari para ulama sebagai cahaya untuk dirinya. Sebagai ilmunya. 

Karenanya, derajat para ulama mendekati dpara nabi. Malah, Ahmad Syauqi, seorang penyair yang mendapat julukan "amiirus syu'aro" pernah menulis: 
قم للمعلم زفه التبجيلا # كاد المعلم ان يكون رسولا

Kembali pada para nabi. Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa derajat dan tingkatan para nabi pun berbeda-beda dalam menangkap dan menerima Wahyu. Ada nabi yang mengikut dan menuruti saja Wahyu yang didengarnya, tapi ada nabi yang benar-benar memahami Wahyu yang diterima dengan mata batinnya (dengan bashirohnya).

Nah, perlambang atau metafora dari para nabi yang hanya manut, ikut, dan mendengar saja Wahyu yang diterima, kata Imam al-Ghazali adalah "al-khobar". Sekadar kabar. Sementara perlambang atau metafora tentang para nabi yang memahami betul Wahyu yang diterima, adalah "al-jadzwah, al-qobas, dan as-syihab". Jadzwah adalah arang yang menyala. Qobas itu obor. Sementara Syihab adalah lampu yang menyala. 

Nah, "Khobar" dan "jadzwah" ini pun seperti tingkat pengetahuan manusia. Seseorang yang baru membaca, menerima informasi, melihat berita, belajar sesuatu, bisa dibilang masih berada di tingkat Khobar. Di tingkat menerima kabar atau informasi saja. Di tingkat menerima ilmu saja. 

Informasi atau ilmu tersebut baru bisa naik menjadi jadzwah jika ilmu dan informasi tersebut benar-benar dipahami. Contoh sederhananya, seseorang yang belajar tentang ilmu komputer, misalnya. Ketika ia mempelajari semua ilmu terkait komputer, ini yang dikatakan dengan tingkat Khobar. Tapi, ketika ilmu tersebut benar-benar dipahami, dan ilmu itu menjadi bagian dari dirinya, sehingga ketika dia melakukan sesuatu terhadap komputer, seakan-akan komputer itu adalah dirinya, inilah tingkat jadzwah.

Termasuk disiplin ilmu yang lain. Atau bidang-bidang yang lain. Bisa di dunia kesenian, dunia olahraga, dunia bisnis, dan dunia apapun. Ketika ilmu atau keterampilan yang dipelajarinya dan dilatihnya sudah seperti menjadi bagian dari dirinya, maka itulah tingkat jadzwah. Misalnya pembalap. Ketika ia balap, sepeda motornya sudah seperti bagian dari dirinya, dan menjadi atau menyatu ke dalam dirinya, itulah jadzwah. 

Dan orang-orang yang "jadzwah" tersebut, kata Al-Ghazali, adalah orang-orang yang disebut dengan "shohibu al-dzauq" alias orang-orang yang merasakan langsung tentang sesuatu yang diterimanya. Nah, "shohibu al-dzauq" ini bisa mengikuti para nabi untuk beberapa keadaan kebatinan. Suasana batin para nabi, bisa dirasakan oleh para "shohibu al-dzauq" ini. Dan perlambang atau metafora untuk ini adalah "al-ishthilaa" (الاصطلاء). 

Al-ishthilaa secara sederhana bisa diartikan dengan proses arang menjadi api. Dan hakikatnya, proses menjadi api ini mesti merasakan apinya langsung, tidak sekadar mendengar kabarnya saja. 

Analogi sederhananya adalah ada dua orang dan sate. Yang satu mendengar kabar bahwa sate "anu" itu enak. Sementara yang satu lagi langsung merasakan sate "anu" tersebut. Yang satu, hanya dengar, yang satu langsung merasakan. Kira-kira, yang mana yang lebih memahami enaknya sate tersebut?

Al-Ghozali kemudian lebih dalam dan naik lagi membahas tentang perlambang dan metafora yang ada dalam Al-Quran. 

Beliau menegaskan bahwa langkah (Maqom) pertama para nabi menjadi nabi adalah dengan "naik" (الترفى) ke alam yang suci dengan melepaskan "kotoran-kotoran" (yang bersifat) jasmani alias inderawi dan (yang bersifat) "khoyali".

Di catatan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa di dalam diri setiap manusia ada sesuatu yang bisa menyimpan segala hal yang terdeteksi oleh inderanya. Apapun yang dilihat, didengar, diraba, dicecap, dan dialami, semua itu terekam dan tersimpan di dalam sesuatu yang bernama "al-khoyal" dalam diri manusia. Al-khoyal ini sudah masuk alam batin tapi masih dekat dengan alam nyata dan alam fisik. 

Nah, para nabi, langkah pertama mereka ketika menjadi nabi adalah melepaskan sua hal yang terkait alam jasmani atau alam fisik dan segala hal yang ada di dalam al-khoyal tersebut. Proses melepaskan diri dari kedua hal tersebut, dan tempat langkah pertama tersebut, metaforanya menurut Imam Al-Ghazali adalah lembah yang suci (الوادى المقدس). 

Dan Imam Al-Ghozali menegaskan, tidak mungkin menginjakkan dan menapakkan kaki di lembah yang suci (الوادى المقدس) tersebut kecuali dengan membuang dua alam, yakni dunia dan akhirat. Ya, bagi para nabi, tidak ada lagi dunia dan akhirat. Sebab, ketika para nabi "naik" yang ada dalam ruh mereka hanyalah menuju Allah. Hanyalah menghadap kepada "Al-wahidil Haq" (الواحد الحق).

Karena dunia dan akhirat, kata al-Ghazali, adalah dua hal yang saling berhadapan dan salinh tarik menarik. Dan keduanya, adalah hal yang aksidental untuk substansi cahaya batin (nurani) manusia.

Nah, membuang dunia dan akhirat itu, seperti ihrom persiapan untuk menghadap kepada Ka'bah yang suci, dan metaforanya menurut Imam Al-Ghazali adalah "melepas dua sandal" (خلع النعلين). 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 19022022



Kamis, 17 Februari 2022

Hati Manusia adalah Kolam yang Menampung Air-Air Pengetahuan. (Misykatul Anwar)

Pola Atau paradigma (anmuzaj) selanjutnya yang diterangkan Imam Al-Ghazali untuk memahami dan melihat metafora atau perlambang dalam Al-Quran, adalah tabir mimpi Alia takwil mimpi alias menafsir mimpi (التعبير). Ya, ilmu ta'bir atau takwil mimpi bisa kasih tahu kita cara dan memahami perlambang atau metafora. Karena, kata al-Ghazali, mimpi itu bagian dari kenabian.

Abu Hamid Al-Ghozali kemudian memberikan contoh. Ketika kita melihat matahari dalam mimpi, ta'birnya atau takwilnya adalah seorang raja atau sultan. Ya matahari adalah perlambang dari seorang raja. Karena antara raja dan matahari memiliki kesamaan dan kesetaraan pada makna ruhaninya, yaitu kesamaan pada posisi tingginya terhadap semua orang dan mengalirnya pengaruh atau cahayanya pada semua.

Kemudian ketika kita mimpi melihat rembulan, maka takwil mimpinya adalah seorang menteri. Karena kaitan cahayanya dengan matahari ketika matahari terbenam. Hal tersebut sebagaimana cahaya seorang raja bisa diwakilkan kepada menteri ketika sang raja tidak ada di tempat, misalnya.

Sementara siapapun yang mimpi melihat di tangannya ada cincin. Kemudian dengan cincin tersebut ia menutup mulutnya para laki-laki dan menutup alat vitalnya perempuan, maka takwil mimpi tersebut ia adalah seorang muadzin yang adzan sebelum subuh ketika romadhon.

Perlu di catat, saat itu, profesi muadzin adalah salah satu profesi yang prestisius, terlebih ketika menjadi muadzin di masjid yang para raja dan sultan solat di di situ. 

Dan mengunci mulut laki-laki serta menutup alat vital perempuan adalah metafora dari puasa. Yakni, tidak boleh makan dan minum dan tidak boleh berhubungan badan dengan pasangan.

Kemudian al-Ghazali menyebut siapapun yang mimpi menuang minyak biasa ke dalam minyak zaitun, maka takwil mimpi tersebut ada budak perempuan yang dimilikinya yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri sementara ia tidak tahu. Perlu di catat, di zaman itu, memang masih terjadi jual beli budak. 

Imam Al-Ghozali menegaskan dalam kitab Misykatul Anwar bahwa ilmu tabir mimpi atau takwil mimpi ini begitu banyak jumlahnya. Tapi, karena fokus al-Ghazali tidak untuk menerangkan ilmu tersebut, tapi hanya untuk menjadikannya sebagai pola, cetakan, atau paradigma untuk memahami metafora atau perlambang dalam Al-Quran, Al-Ghozali mencukupkan pemberian contoh sampai di situ. 

Al-Ghazali kembali pada penjelasan tentang bagaimana melihat dan memahami metafora atau perlambang dalam Al-Quran.

Imam Al-Ghozali menegaskan tentang sesuatu maujud (ada) yang tetap, tidak berubah, agung, tidak kecil yang mengalir darinya air-air pengetahuan (مياه المعارف) dan ketersingkapan yang berharga (نفائش المكاشفات) kepada hati manusia (jiwa manusia), yang perlambangnya atau metaforanya adalah "at-thur" (الطور) alias gunung. Seperti dalam surat at-thin.

Ya, gunung adalah metafora untuk menggambarkan sesuatu yang besar dan darinya mengalir air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga kepada hati, jiwa, atau mata batin manusia. Bisa dibilang, hati manusia, jiwa manusia, ruh manusia, mata batin manusia adalah kolam yang menampung limpahan dan aliran air-air pengetahuan yang tak terkira banyaknya itu. 

Tapi, lagi-lagi perlu dicatat, bahwa setiap manusia memiliki kapasitas kolam yang berbeda-beda. Ada yang sangat luas, ada yang tak terlalu luas, bahkan ada yang kecil. Tapi, setidaknya, setiap orang bisa dipastikan menerima limpahan dan aliran air-air pengetahuan tersebut. 

Nah perantara atau wasilah (jalan) mengalirnya air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga tersebut, Al-Ghozali menerangkan bahwa simbolnya, metaforanya, perlambangnya adalah "الوادى" atau sungai-sungai. 

Hubungan antara air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga tersebut dengan hati, jiwa, ruh, mata batin manusia pun mengalir dari hati ke hati. Antar hati. 

Dan hati hati ini pun, kata imam Al-Ghozali memiliki sungai (alirannya sendiri). Pembuka sungai tersebut adalah hatinya para nabi. Kemudian hatinya para ulama. 

Makanya, bisa dibilang, manusia menerima air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga dihantarkam atau dialirkan dari hatinya para nabi dan hatinya para ulama. 

Imam Al-Ghozali menyebut Sungai pertama atau hati para nabi itu dengan "al-wadi al-ayman" (الوادى الايمن) karena banyak berkahnya dan tinggi derajatnya. 

Perlu di catat, asal kata "aiman" adalah "yumnun" yang artinya berkah, membuncah, dan meluap-luap.

Sementara untuk "al-wadi" yang di bawahnya, yaitu hati para ulama, Al-Ghozali menyebutnya dengan "syathi al-wadi al-aiman" (شاطئ الوادى الايمن) alias pinggirnya sungai. Bukan tengahnya dan bukan sumbernya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 18022022


Metafora Allah dan Makna Surat Al-Ikhlas. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa orang-orang yang berjalan menuju Allah (salik) di antaranya ada yang berada di tahapan atau di derajatnya bintang gemintang. Seperti kisah Nabi Ibrahim dalam pencarian Rob-nya.

Ya, hakikatnya dalam segala hal yang terkait perkembangan pengetahuan dan "naiknya" mata batin manusia meniru atau setidaknya berkaca pada Abul Ambiya, yaitu Nabi Ibrohim. 

Saat melihat bintang gemintang, Nabi Ibrahim seperti mendapat "eureka". Karena melihat pendaran cahayanya pada bumi, lalu mengatakan: "haadza robbii".

Sayangnya, ketika bintang gemintang tersebut diketahui kekurangannya yaitu bisa terbenam dan hilang ketika matahari datang, "eureka" yang tadi sempat dirasakan, pun hilang seiring memudarnya cahaya bintang gemintang. 

Pun begitu juga dengan para salik Yan mengalami pengalaman batin, pengalaman spiritualitas, atau pengalaman rohani. Ketika berada di derajat bintang (sebagi Mitsal) awalnya, ia akan bilang: "eureka", "hadza Robbi".

Di catatan sebelumnya, telah ditegaskan bahwa Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa di alam malakut, terdapat substansi bersifat cahaya nan mulia nan tinggi yang disebut dengan malaikat. Dan cahaya malaikat tersebut luber dan mengalir kepada jiwa-jiwa (ruh-ruh) manusia. Dan karena itulah Malaikat-malaikat tersebut disebut dengan Arbab. Jamak dari rob. Yang secara harafiah bisa diartikan dengan tuhan-tuhan (t kecil). 

Nah, ketika melihat kisah nabi Ibrohim, saat Abul anbiya ini mengatakan "hadza Robbi" kitab Misykatul Anwar ini membantu kita melihat ucapan nabi Ibrohim tersebut dengan perspektif yang lain. Yaitu persepektif metafora atau perlambang yang didasari pengalaman batin atau rohani.

Nabi Ibrohim melihat bintang gemintang, lalu mengatakan "hadzaa Robbi", namun ketika datang matahari. Nabi Ibrohim bilang "hadza Robbi, hadza Akbar". Tapi, lagi-lagi nabi Ibrohim mendapati bahwa matahari pun bisa tenggelam dan terbenam. 

Pada akhirnya nabi Ibrohim pun mengatakan "wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal Ardhi haniifan". 

Yang perlu digaris bawahi dari ungkapan nabi Ibrohim tersebut adalah kata "alladzi" yang sederhananya berarti "yang". 

"Al-ladzi" bisa dibilang salah satu misteri dalam bahasa Arab. Di titik ini, Nabi Ibrohim tidak bisa membuat mitsal atau metafora dari "Allah". 

Ini seperti martabat pertama dalam ajaran martabat tujuh. Ajaran yang dibawa oleh Sufi Aceh, Syeikh Abdul Rouf Singkil yang berbaiat dalan thoriqoh Syattariyah yang kemudian sampai ke Jawa, kepada Syeikh Abdul Muhyi Tasikmalaya. Syeikh Abdul Rouf Singkil belajar dari seorang guru di Madinah bernama Imam Ibrohim Al-Qurroni sekitar abad 17.

Pada ajaran martabat tujuh, martabat pertama itu disebut al-ahadiyah. Jika menggunakan istilah imam Muhyiddin Ibnu 'Arobi, laa ta'yiin atau al-ghoibul muthlaq alias sesuatu yang tidak bisa digambarkan, tidak bisa didefinisikan, tidak bisa diidentifikasi, tidak bisa dimetaforakan. 

Di saat nabi Ibrohim mengatakan 'wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal Ardhi haniifan," hakikatnya nabi Ibrohim telah sampai pada Maqom "sesuatu yang tidak bisa dimetaforakan dan diperlambangkan". 

Lalu Imam Al-Ghozali menjelaskan dan menerangkan bahwa "al-ladzi" adalah sesuatu untuk menunjukkan rahasia atau misteri yang tidak ada sepadanannya, tidak ada yang menyamainya, tidak ada yang sepertinya. 

ومعنى "الذى" إشارة مبهمة لا مناسبة لها , tulis imam Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar.

Lalu ketika ada yang bertanya apa "Mitsal" atau metafora dari "al-ladzi", maka tidak ada gambaran untuk menjawabnya karena "al-ladzi" bebas dan terlepas dari segala keterkaitan dan itulah yang disebut الاول الحق Kebenaran Paling Pertama.

Seperti kata Imam Ibnu'Arobi yang menerangkan bahwa puncak Nama Tuhan adalah هو (Huwa).

Imam Al-Ghozali kemudian bercerita tentang seorang Arab kepada Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallam tentang apa metafora Tuhan? (ما نسبة الاله؟) hingga turunlah surat Al-Ikhlas. 

Dan makna hakikat dari surat Al-Ikhlas tersebut menurut Al-Ghozali adalah bahwa "Yang" itu suci dari perlambang, bahwa "Yang" itu bebas dan terlepas dari metafora. Bebas dan sucinya "Yang" tersebut itulah metaforanya dan perlambangnya "Yang". Sederhananya, Makna surat Al-Ikhlas adalah Allah tidak bisa dimetaforakan, dan itulah metaforanya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 17022022

Minggu, 13 Februari 2022

Allah Adalah Robbul Arbab. (Misykatul Anwar).

Pada catatan ngaji sebelumnya, diterangkan bahwa semua yang ada di alam sayahadah (dunia lahir, dunia fisik, bumi) ini adalah perlambang, metafora, dan simbol-simbol dari sesuatu, yang disebut oleh Imam Al-Ghozali dengan "makna", yang ada di alam malakut.

Contoh sederhananya di bumi ini, seperti rambu-rambu lalu lintas. Ada petunjuk ke kanan, ada petuntuj ke kiri, ada petunjuk jalan menurun, jalan menyempit dan lain-lain yang berupa plang-plang lalu lintas. Rambu atau plang lalu lintas tersebut untuk menunjukkan "makna" di baliknya. Seperti tanda lampu merah yang menyala untuk menunjukkan bahwa para pengendara mesti berhenti. Nah, pengendara mesti berhenti itulah makna. Bisa jadi, salah satu makna dari sekian makna yang ada di balik lampu merah yang nyala. 

Sederhananya, segala sesuatu yang ada dan bisa diindera di alam semesta (jasmani, fisik) ini adalah "Mitsal" (metafora, perlambang, simbol, perwujudan) yang menunjukkan "makna" di alam gaib (alam malakut).

Karenanya, bisa dibilang orang-orang yang beriman, mesti mempercayai dan melihat segala sesuatu di alam material ini memiliki dua alam, punya dua tingkat: alas jasmani dan rohani. Alam yang tampak dan alam gaib. Ini berarti, orang-orang yang menampik dan menafikan adanya alam gaib, adanya alam yang tidak tampak, alam malakut, bisa dibilang bukan orang yang beriman.

Imam Al-Ghazali di bagian pasal pertama Kitab Misykatul Anwar telah menyontohkan saat seseorang tiba di musim semi. Saat siang hari di musim semi, orang-orang melihat betapa banyak keindahan yang ada dan bisa dilihat. Sayangnya, kadang orang-orang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat semua yang terlihat oleh mata mereka itu bisa terlihat, yaitu adanya cahaya. 

Nah, orang-orang yang tidak beriman akan menafikan dan menampik adanya cahaya yang membuat semua itu bisa terlihat. Sebaliknya, orang yang beriman akan melihat dan menyadari adanya cahaya yang membuat semua itu terlihat.

Cahaya itu bisa dibilang dengan makna
 Makna yang adanya di alam malakut. Tidak tampak oleh indera mata. Hanya bisa dilihat dengan mata batin atau akal atau jiwa atau ruh yang ada di "dalam" diri manusia. 

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makna di alam syahadah itu bertingkat-tingkat. Contoh sederhananya adalah seperti ilmu fisika. Ada ilmu fisika murni ada ilmu fisika terapan. Dan contoh-contoh lainnya. Begitu juga makna di alam malakut, pun bertingkat-tingkat dan banyak. Pun dengan perlambang, simbol, metafora (Mitsal) yang ada di alam syahadah yang jumlahnya begitu banyak, tak terkira. Karenanya, Al-Ghazali menegaskan, kekuatan manusia, pemahaman manusia tidak akan sanggup untuk memahami semuanya. Terlebih umur manusia yang pendek. Tidak akan cukup untuk memahami semua "mitsal" tersebut.

Alhamdulillahnya, Al-Ghazali memberitahukan tentang "pegangan" berupa anmudzaj, alias paradigma yang bisa memudahkan orang-orang untuk memahami "Mitsal" yang banyak tak terhingga itu. 

Paradigma (anmudzaj) itu sederhananya adalah cetakan. Gambarannya kira-kira seperti cetakan batu bata. Dari satu cetakan bisa menghasilkan banyak batu bata. Cetakan itulah paradigma. Ya, Al-Ghazali lewat Misykatul Anwar seakan ingin memberi pemahaman tentang paradigma atau "cetakan Mitsal" tersebut.

Al-Ghozali memberi pemahaman paradigma tersebut dengan mengungkapkan tentang pola-pola "cetakan" atau paradigma tersebut. 

Pertama, Di alam malakut terdapat "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah". Secara harafiah bisa diartikan dengan mutiara yang bersifat cahaya, yang mulia, dan tinggi.

Tapi, perlu dicatat, kata "Jawahir" yang merupakan kata jamak dari "jauharun" adalah istilah yang sangat kental dalam Ilmu Kalam, teologi, dan filsafat Islam. Artinya adalah substansi. Sesuatu yang ada. Bahasa Inggrisnya substance. Setiap Jauhar (substansi) punya sifat ('arodh). Sederhananya substansi itu isi, 'arodh itu bungkus. Nah, "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" bisa diartikan substansi yang bersifat cahaya (terang), bersifat mulia, dan bersifat tinggi. 

"Jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" itu adalah malaikat. Dari malaikat ini mengalir (membuncah/luber) cahaya-cahaya ke jiwa-jiwa manusia. Ya, cahaya-cahaya malaikat di alam malakut itu luber lalu mengalir ke jiwa-jiwa, ke ruh-ruh manusia (al-arwah al-basyariyah). Karena itulah jiwa-jiwa manusia yang menerima luberan cahaya-cahaya malaikat dinamakan arbaban. Arbaban itu jamak dari rob. Bisa diartikan dengan tuhan.

Ah, saya jadi ingat dengan Cak Nur yang bilang "tiada tuhan selain Tuhan" (t kecil dan T besar). Ya, arbaban bisa dibilang seperti itu. Arbaban adalah tuhan-tuhan, dewa-dewa. 

Al-Ghozali lalu menegaskan bahwa Allah adalah Tuhannya tuhan-tuhan itu karena melihat aliran dan limpahan cahaya yang mengalir ke jiwa-jiwa dan ruh-ruh manusia, tadi. 

Al-Ghazali lalu menegaskan bahwa arbaban tersebut bertingkat-tingkat. Dan "Mitsal" atas tingkatan-tingkatan itu di bumi ini adalah matahari, bulan, dan bintang.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022






Apa itu Ghibah dan Apa Saja yang Berpotensi Terdapat Ghibah (Ihya Ulumuddin)

Dari kemarin saya lebih sering membuat catatan ngaji Kitab Misykatul Anwar. Entah kenapa, setelah magrib tadi, seperti ada "kilatan ide" (lawaih Khowathir) yang membisiki saya untuk membuat catatan juga untuk ngaji Ihya Ulumuddin. 

Endilalah, catatan pertama ini saya mulai dari bab Ghibah yang merupakan bagian dari penyakit mulut menurut Imam Al-Ghozali.

Sederhananya, Ghibah adalah menyebut siapapun (bisa saudara, temen, dll) dengan sesuatu yang tidak disukainya ketika kita menyampaikan hal tersebut. 

Misalnya tentang kekurangan fisiknya, nasab keluarganya, tingkah lakunya, pekerjaannya, perkataannya, agamanya, dunianya hingga tentang pakaian dan lingkungannya.

Dari segi fisik atau badan. Misalnya kita menyebut tentang matanya yang rabun, juling, buta, botak, pendek, tinggi, hitam, kuning, dan semua sifat yang tergambar pada fisik atau badan seseorang yang semua itu tidak disukai (atau malah ia benci) ada pada dirinya bagaimanapun rupa dan bentuknya.

Dari segi nasab keturunan. Misalnya bapaknya petani (profesi bapaknya), Hindi (agamanya), fasik (kelakuan), atau apapaun yang, sekali lagi, tidak ia sukai. 

Sementara dari segi akhlak. Kita mengatakan sesuatu terkait akhlak seseorang. Misalnya sombong, gampang marah, rendah hati, dan segaka sesuatu kekurangan dalam akhlaknya.

Kemudian dari segi pekerjaan alias apapun yang dikerjakan seseorang terkait dengan agama. Misalnya kita mengatakan atau menyebut (seseorang) dengan pencuri, pembohong, pemabuk, pengkhianat, zholim, lalai sholat dan zakatnya, tidak bagus ruku dan sujudnya, atau tidak sucinya ia dari hadata dan najis, tidak baik kepada orang tua, tidak melaksanakan zakat, atau tidak baik dalam membagikan zakat, tidak bagus puasanya, dan lain sebagainya.

Sementara terkait pekerjaannya yang terhubung dengan dunia. Misalnya kita bicara tentang dia yang gak ada adab, jahat kepada orang, meremehkan orang lain, merasa benar sendiri, banyak bicara, banyak makan, banyak tidur, dan lain sebagainya. 

Soal pakaian, Imam Al-Ghazali pun menjelaskan, seperti kita membicarakan panjangnya jubahnya, dan bahan pakaiannya.

Ya, pada dasarnya ghibah adalah kita menyebut, membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, sekiranya kita sebut atau bicarakan, dan orang itu tidak suka. Lebih sederhananya, apapun yang kita sendiri gak suka ketika itu dibicarakan.

Al-Ghazali ketika membahas sesuatu biasanya akan memulai dari hal paling dasar, mendalam, dan menyeluruh. Segala hal yang berkaitan dengan apa yang dibahas akan ditelusuri. Ibaratnya, akan mengupas begitu detail, sedetail-detailnya.

Seperti bab Ghibah ini. Al-Ghazali memulai dengan menjelaskan apa hakikatnya ghibah. Lalu menelusuri sesuatu yang disebut ghibah ada di mana dan ada di apa saja. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022

Sabtu, 12 Februari 2022

Suluk Shirothol Mustaqim. (Misykatul Anwar)

Di antara teori kognisi (al-idrok) paling dasar yang diungkap Imam Al-Ghozali adalah kemampuan mengindera. Yakni, melihat, mendengar, merasakan, dan indera lainnya yang berkaitan dengan alam fisik. Misalnya melihat gelas kopi.

Semua yang diindera tersebut lalu masuk ke dalam "al-khoyal". Sederhananya, "Al-Khoyal" adalah gudang memori dalam diri manusia. Jadi, walaupun gelas kopi yang dilihat tadi sudah tidak ada wujudnya (dipindahkan ke dapur, atau pecah, atau hilang), tapi "Al-Khoyal" dalam diri manusia masih menyimpan gambar, bentuk, dan segala sesuatu tentang gelas kopi yang "pernah" dilihat oleh mata. 

Nah, Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa alam yang tinggi (alam gaib, alam malakut) yang "bisa diketahui" oleh indera dan "al-khoyal" bisanya dikenal dengan istilah alam abstrak. Seperti ide, konsep,  dan gambaran-gambaran yang ada di "al-khoyal".

Gambaran abstrak yang ada di "al-khoyal" tersebut tentu saja adalah hal yang gaib. Karena ia tidak bisa dilihat oleh indera penglihatan (mata). Karenanya Imam Al-Ghozali menyebutnya dengan alam yang suci ('alam al-quds). 

Kenapa dibilang alam yang suci? Karena segala sesuatu yang ada pada dirinya (di alam yang suci/'alam al-quds) tersebut bisa dibilang masih murni. Analogi yang sekiranya mudah dipahami secara inderawi, adalah seperti suatu tempat yang dianggap keramat atau suci. 

Tempat tersebut dikelilingi pagar, dikelilingi tembok dan ditutup atap. Hingga siapapun atau apapun tidak ada yang bisa masuk atau keluar dari situ. Karena dianggap suci. 

Pun begitu, siapapun yang ingin lebih dekat kepada Allah, kata Al-Ghozali mesti "menapakkan kaki" ke inti atau pusat dari alam yang suci tersebut. Al-Ghozali menyebutnya dengan ""hazhirotul quds".

Pusat kesucian atau "hazhirotul quds" tersebut adalah ruh manusia (ar-ruhul basyari). Dan di sinilah tempatnya kilatan-kilatan yang "suci", seperti ide, konsep, dan Ilham melintas. Di ruh manusia. Hal tersebut "digambarkan", "dimetaforakan", "diperlambangkan" oleh Al-Quran dengan "al-wadil Muqoddas" (lembah" yang suci) dalam kisah Nabi Musa yang sangat familiar saat bertapa di Thur lalu bertemu dengan Allah.

Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa terdapat tingkatan-tingkatan makna dalam "hazhirotul quds". Dan para "Arbabul Bashoir" bisa melihat, tahu dan mengerti semua itu. 

Seperti di catatan sebelumnya, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa alam syahadah atau alam jasmani atau alam "hissi", adalah tangga untuk naik ke alam akal, alam malakut, alam gaib, atau alam "atas". 

Antara kedua alam tersebut punya keterhubungan dan keterkaitan, yaitu ruh manusia. Dengan kata lain, Allah menitipkan sesuatu yang suci dalam diri manusia, berupa ruh. 

Ruh yang bisa membuat manusia "naik" hingga alam malakut. Bahkan bisa naik lagi hingga sampai ke Maqom Al-fardaniyah dan al-wahdaniyah, alias Maqom Ketuhanan. 

Inilah pengantar Al-Ghozali pada pasal kedua kitab Misykatul Anwar. Hal tersebut untuk mendasari pembahasan dan penjelasan Imam Al-Ghozali tentang bagaimana sebuah perlambang atau bagaimana metafora (mitsal) terbentuk.

Tentu saja perlambang atau metafora dalam Al-Quran. Bukan metafora yang dikenal dalam dunia sastra, terutama puisi. Metafora yang ingin dibahas Al-Ghozali adalah metafora yang dasarnya adalah pengalaman ruhani, pengalaman sufistik yang dirasakan dan dialami langsung oleh Imam Al-Ghozali. 

(Dan inilah catatan kecil saya untuk ngaji Misykatul Anwar pasal kedua).

Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa alam syahadah adalah tangga untuk menuju ke alam malakut. Ungkapan paling sederhana untuk naik tersebut, menurut Al-Ghozali adalah "suluk Shirothol Mustaqim". Ya, Shirothol Mustaqim yang terdapat di surat Al-Fatihah. 

Sederhananya, tangga pertama alias tingkatan pertama untuk "naik" ke alam malakut disebut dengan "suluk Shirothol Mustaqim". 

"Naik" atau Suluk Shirothol Mustaqim ini dikenal dengan istilah atau ungkapan agama dan tingkatan-tingkatan atau tempat-tempat petunjuk (الدين و منازل الهدى). 

Sekali lagi, Imam Al-Ghozali, menegaskan kalau tidak ada "tangga", tidak ada keterhubungan, dan tidak ada keterkaitan antara alam syahadah dan alam malakut, maka tidak akan ada kata atau tidak akan bisa seseorang "naik" dari alam yang satu ke alam yang lain.

Yang membuat keterhubungan dan ketersambungan itu tidak lain, kata Al-Ghozali, adalah Rahmat Ketuhanan (الرحمة الإلهية). Rahmat Ketuhanan inilah yang  membuat keseimbangan (keteraturan) di alam malakut. Kemudian keseimbangan di alam malakut lah yang menciptakan alam syahadah. Ya, alam syahadah ataubalam jasmani ini bisa dibilang gambaran dan perwujudan dari alam malakut.

Sederhananya, dunia ini adalah wujud dan bentuk yang berasal dari alam malakut. Analogi sederhananya kira-kira seperti sebuah bangunan. 

Bangunan itu ada karena diawali dari ide, konsep, dan desain seorang arsitek. Ide itu kemudian diwujudkan menjadi sebuah bangunan. Ide dan desain bentuk bangunan tersebut adalah alam Quds sementara wujudnya alam syahadah.

Karenanya Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini (di alam syahadah) adalah "mitsal" (perlambang, metafora, simbol) dari segala sesuatu yang ada di alam quds atau alam malakut yang Al-Ghozali menyebutnya dengan "makna" (المعنى).

Sederhananya, "Mitsal" (metafora, perlambang) menurut Al-Ghozali adalah simbol-simbol atau sesuatu yang ada di alam syahadah tapi maknanya ada di alam malakut. Antara simbol yang dipakai di alam syahadah dan makna di alam malakut harus ada keterhubungan, kecocokan, atau keserasian.

Nah, "makna" di alam malakut yang berwujud abstrak dan gaib kemudian jadi ada bentuknya di alam syahadah yang bisa dilihat, didengar, dan dipahami lebih mudah oleh manusia. Nah, inilah tangga/jalan/jembatan untuk manusia untuk beriman kepada hal yang gaib, untuk manusia bisa melakukan Suluk Shirothol Mustaqim. 

Disebut "mitsal", simbol, metafora, atau perlambang karena ada "makna" yang "di-mitsalkan", disimbolkan, dimetaforakan, dan diperlambangkan. Di sinilah proses terjadinya metafora, perlambang, simbol, atau "mitsal".

Imam Al-Ghozali menegaskan: pertama, satu simbol bisa banyak makna. Dan kedua, banyak simbol bisa satu makna. 

Contoh sederhana dari satu simbol banyak makna, di antaranya adalah mata. Mata bisa bermakna: penglihatan, pemahaman, pengertian, pengetahuan, dan lain-lain. Sementara contoh sederhana dari banyak simbol satu makna, di antaranya adalah Asmaul Husna. 

"Naik" atau "Mi'roj" pertama yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah Suluk Shirothol Mustaqim. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022

Jumat, 11 Februari 2022

Keterhubungan Antara Alam Syahadah dan Alam Malakut yang Menjadi Jalan untuk Mi'roj. (Misykatul Anwar)

Di antara ciri atau tanda orang yang beriman adalah percaya kepada alam gaib. Ini berarti, siapapun yang mengaku beriman ketika melihat sesuatu (realitas) mesti melihat bahwa pada sesuatu itu ada dua lapis (dua alam), yaitu lahir dan batin. 

Imam Al-Ghazali pada awal bagian pasal kedua di kitab Misykatul Anwar kembali menjelaskan hal tersebut. Malah lebih detail dan terperinci. 

Al-Ghozali menerangkan bahwa ada dua alam; rohani dan jasmani, Alam indera (kasat mata) dan alam akal (penalaran), alam atas dan alam bawah. 

Semuanya penyebutan tersebut hakikatnya sama. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda. 

Ketika melihat dua alam tersebut dengan sudut pandang ke wujud dan diri kedua alam tersebut, maka lahirlah sebutan alam rohani dan jasmani.

Ketika kedua alam tersebut dilihat dari sudut pandang hubungan dan keterkaitannya kepada "mata" yang bisa melihat, maka sebutannya adalah alam inderawi dan alam akal. 

Sementara ketika dua alam tersebut dilihat dengan sudut pandang keterkaitannya masing-masing atau hubungan antara keduanya maka penyebutannya adalah alam atas dan alam bawah.

Selain itu, ada lagi penyebutan (istilah) yang lain, yaitu alam yang tampak atau alam materil ('alam syahadah) dan alam malaikat (''alam malakut). 

Banyaknya penyebutan dan istilah tersebut, kata Imam Al-Ghazali, seringkali membuat bingung. Terlebih bagi mereka yang mencari hakikat lewat penyebutan atau istilah-isitilah. Karenanya, Al-Ghazali menasihati agar jangan mencari (tahu) hakikat (substansi) lewat istilah, tapi mesti lewat makna.

Ya, makna adalah inti dan sumbernya, sementara istilah adalah alirannya. Analoginya, makna itu jenderalnya, istilah-istilah adalah prajuritnya. 

Contoh sederhananya, seperti orang yang melihat judul berita tapi tidak membaca isinya. Atau melihat buku, hanya dari sampulnya. Ya, jika ingin memahami sesuatu maka lihatlah isinya, bukan bungkusnya. 

Makanya, tak heran jika orang-orang yang hanya melihat sampul, bungkus, judul, dan luarannya saja, akan bingung lalu disebut Al-Ghazali dengan mereka yang lemah.

Orang yang melihat makna dan istilah, atau mereka yang melihat isi dan sampul, tentu saja akan berbeda. Al-Ghozali menegaskan bahwa mereka itu seperti yang diungkap dalam Al-Quran di surat Al-Mulk:

أفمن يمسي مكبا على وجحه اهدى ام من يمشى سويا على صراط مستقيم

Orang yang jalannya "sungsang" tentu berbeda dengan yang jalannya normal. 

Hakikat dan inti dari banyaknya istilah dan penyebutan tersebut adalah bahwa ada dua alam. Alam yang tampak ('alam syahadah) dan alam yang tidak tampak ('alam malakut).

Alam malakut adalah alam gaib yang sebagian besar orang tidak bisa melihatnya. Sementara alam inderawi (alam syahadah), siapapun (semua orang) bisa melihatnya. 

Al-Ghozali menegaskan bahwa alam material ('alam hiasi) adalah 'tangga" untuk naik ke alam akal. Ini berarti, hakikatnya siapapun bisa (punya potensi) untuk naik ke alam akal. 

Ya, siapapun sebenarnya bisa "melihat" dan naik ke alam malakut. Sebab, antara kedua alam tersebut saling terhubung dan terkait. Alam syahadah terhubung ke alam malakut. Alam material terhubung ke alam immaterial. Alam fisik terhubung ke alam metafisik. 

Kalau tidak ada hubungan maka tidak akan ada jalan untuk "naik" (mi'roj). Dan kalau begitu, maka tidak akan ada orang yang bisa "sampai" ke Maqom Ketuhanan. 

Sederhananya, antara alam materil dan alam gaib itu ada jalannya. Ada keterhubungan dan keterkaitannya. Kalau gak ada jalannya, ya gak mungkin orang bisa sampai ke Maqom Al-fardaniyah dan al-wahdaniyah. 

Dan kalau tidak terhubung, tidak ada jalannya, tidak mungkin manusia bisa dekat kepada Allah. Sesuatu yang awalnya jauh, kemudian dikatakan dekat, karena ada jalan yang menghubungkan lalu membuat dekat, bukan?

Pun begitu dengan manusia dan Allah. Ada hubungan dan keterkaitan antara manusia dan Allah. Keterhubungan dan keterkaitan inilah jalan agar manusia bisa mendekat, semakin dekat, dan dekat dengan Allah. 

Agar semakin dekat dengan Allah, manusia yang berada di alam materil (alam syahadah) mesti "naik" ke alam malakut lewat jalan atau tangga yang menghubungkan. 

Ini berarti, bisa dibilang bahwa alam materil, alam syahadah, alam jasmani, atau alam yang tampak ini pun penting. Sebab, alam ini adalah pijakan awal setiap orang untuk "naik" ke alam yang lebih tinggi, ke alam malakut. Hingga ujungnya ia bisa semakin "dekat" kepada Allah. 

Ya, alam yang tampak itu penting, karena ia pijakan awal setiap orang. Tapi, jauh lebih penting adalah alam yang tidak tampak. 

Contoh sederhana yang bisa diambil dari alam syahadah, misalnya rumah, kendaraan, Hp dan benda-benda lain yang dianggap penting. Semua itu penting, tapi, jauh lebih penting adalah konsep, ide, dan desain dari semua itu.

Pun dengan alam malakut yang jauh lebih penting dari alam syahadah. Malah, seringkali hal yang tidak tampak jauh lebih penting dari hal yang tampak, bukan? 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 12022022





Kamis, 10 Februari 2022

Imam Al-Ghazali: The Master Of Perlambang, Metafor, dan Analogi.

Allah menurunkan Wahyu Kepada nabi Muhammad berbentuk Al-Quran. Al-Quran itu isinya kalimat-kalimat dan kata-kata yang Hakikatnya disampaikan Oleh Allah kepada semua manusia lewat Nabi Muhammad. Ini berarti, secara sederhana bisa dibilang bahwa Allah "ngomong" kepada manusia lewat Al-Quran. 

Kalau boleh diibaratkan, Al-Quran itu buku puisi yang sangat indah (tentu saja, Al-Quran lebih puitis, lebih indah, lebih dari sekadar puisi). Nah, dalam puisi, dikenal istilah metafora. 

Biasanya Metafor digunakan untuk melambangkan sesuatu dengan sesuatu. Misalnya kalimat-kalimat dalam puisi Chairil Anwar: "Aku binatang jalang", " Aku ingin hidup seribu tahun lagi." 

Tentu saja "binatang jalang" yang dimaksud bukan binatang secara lahiriah. Bukan berarti binatang secara fisik. Ada hal lain yang ingin dikatakan Chairil Anwar lewat "binatang jalang" tersebut. Pun dengan "hidup seribu tahun lagi". 

Saya menduga, puisi atau syair, awalnya terinspirasi dari bentuk, termasuk isi dalam Al-Qur'an. Sebab, di dalam Al-Quran pun begitu banyak, sangat banyak, kata yang mengandung metafora.

Ya, di dalam Al-Quran terdapat begitu banyak metafora, simbol, perlambang, "tanda-tanda", dan "misal". Nah, untuk memahami semua ini, tentu saja tidak bisa menggunakan penglihatan lahir saja. 

Seperti ayat tentang Cahaya. Bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahaya. Cahaya yang dimisalkan seperti "ceruk" (misykat) yang di dalamnya terdapat lampu (Al-Misbah). 

Nah, itulah Metafor, perlambang, analogi, simbol, atau "misal". Semua itu bisa diketahui dan dipahami dengan cara "dilihat lebih dalam" alias dipikirkan. Nah, satu-satunya makhluk di bumi ini yang bisa melakukannya hanyalah manusia. 

Sebab manusia diberikan bekal berupa "an-nafsu an-natiqoh". Kemampuan untuk menalar, melihat lebih dalam dan lebih jauh. Dengannya, manusia bisa membangun peradaban yang dahsyat. Bahkan, secara metafisik, manusia bisa mencapai "Maqom" tertinggi, yaitu Maqom al-fardaniyah dan al-wahdaniyah alias"Maqom" Ketuhanan.

Di antara manusia yang memiliki kemampuan "an-nafsu an-natiqohx yang ajib dan dahsyat adalah Abu Hamid Al-Ghozali, ulama yang bergelar Hujjatu Al-Islam. 

Ya, bisa dibilang Imam Al-Ghozali adalah "master of Methapor". Ini seperti kitab Misykatul Anwar yang beliau tulis. Isinya, tentang penjelasan makna ayat yang menegaskan bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahya. 

Imam Al-Ghozali menjelaskan dengan begitu runut dan gamblang. Pun kata-kata yang digunakan seringkali menyesuaikan dengan pembacanya. Ya, seperti dimaklumi, penulisan Kitab Misykatul Anwar ini adalah permintaan dari salah satu murid (santrinya) Imam Al-Ghozali. 

Bahkan, di kitab lain yang fenomenal, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghozali pun begitu banyak menggunakan simbol-simbol, pertanda, methafor, dan perlambang yang mengindikasikan bahwa beliau sangat matang dalam ilmu, pengetahuan, dan penguasaan akan perlambang-perlambang, simbol-simbol, dan metafor.

Misalnya dalam Ihya Ulumuddin. Kitab ini berisi 40 kitab (bab). Kenapa 40? Ada yang bilang ini seperti Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi nabi di usia 40 tahun. 

Ada pula yang menjelaskan hal tersebut seperti hadits nabi yang mengatakan siapa yang hafal 40 hadits nabi akan masuk surga. Karenanya kita kenal dengan hadits arba'in. Seperti karya Imam Nawawi: "al-Hadits Al-Arba'in An-Nawawiyah". 

Pun ada yang mengaitkan seperti lamanya "semedi" dan "tapa" nabi Musa di gunung Thur, hingga bisa berbicara dengan Allah.

Begitu saya pernah dengar bahwa "life begin at forty", yang katanya kematangan seseorang dimulai pada usia 40 tahun. Ya, apapun dasarnya, kenapa 40, Hanya Al-Ghazali dan Allah yang tahu jawaban sebenarnya.

Jika melihat lebih jauh lagi, Kitab Ihya Ulumuddin itu terbagi ke dalam 4 bagian. Masing-masing bagian terdiri dari 10 kitab. Hal ini dikatakan terkait dengan fase kehidupan manusia. 

Bagian pertama kitab Ihya Ulumuddin adalah tentang Ibadah. Menariknya, meski tentang ibadah, Al-Ghazali memulainya dengan kitab ilmu. 

Seolah, Imam Al-Ghozali ingin menekankan bahwa semuanya mesti didasari oleh ilmu. Terlebih soal ibadah. Pun soal kehidupan manusia.

Lalu di kitab ke 20, Al-Ghozali membahas tentang kerja dan mencari rejeki. Lagi-lagi, seakan-akan Imam Al-Ghazali ingin menggambarkan bahwa di usia 20 tahun ke atas, adalah fase seseorang mulai mencari kerja dan menghidup dirinya sendiri. 

Kemudian di kitab ke 31, Al-Ghazali membahas tentang keajaiban hati. Seakan ingin mengingatkan bahwa di fase ini, seseorang mesti memahami konsep diri.

Lalu, di bagian akhir, Al-Ghozali membahas tentang dzikru al-maut. Alias mengingat mati.

Ya, inilah Ulama yang sangat amat keren. Ulama yang menguasai berbagai ilmu lalu menjadikannya pengetahuan dengan sangat mendalam. Soal biografi Imam Al-Ghazali, bisa ditemukan dalam Kitab lain, yaitu Al-munqidz min Al-dholal. 

Di kitab tersebut, dijelaskan bagaimana Al-Ghozali mengalami kegelisahan tentang ilmu dan pengetahuannya sendiri. Pun dijelaskan tentang bidang apa saja yang diperdalam oleh Al-Ghozali.

Teruntuk Imam Al-Ghozali: Al-fatihah.

Allahu a'lam bisshowab 

Sawangan Baru, 11022022

Makna Hakiki Allah Bersama Segala Sesuatu (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali memberi penjelasan lebih lanjut tentang "Allah bersama segala sesuatu, seperti cahaya yang ada bersama segala sesuatu" yang kemungkinan akan dipahami sebagian orang dengan pernyataan bahwa Allah ada dimana-mana dan Allah seolah-olah banyak dan punya tempat. 

Pandangan dan pendapat bahwa Allah bersama segala sesuatu yang kemudian oleh sebagian orang dipahami bahwa Allah ada dimana-mana, ditegaskan oleh al-Ghazali bahwa Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dan terlepas dari tempat. Sederhananya, Allah terbebas dari "tempat" atau "penempatan" seperti yang dipahami penglihatan lahiriah. 

Ya, tak dibisa dipungkiri, seakan ada kontradiksi antara Allah bersama segala sesuatu dan Allah tidak terkait tempat. Ya, seolah-olah, di satu sisi Allah bertempat karena "bersama" segala sesuatu, di sisi lain Allah tidak terkait dengan tempat. 

Nah, Imam Al-Ghazali menjelaskan lebih lanjut, bahwa makna " Allah bersama" tersebut adalah: Allah Ada "sebelum' segala sesuatu ada, dan Allah Ada "di atas" segala sesuatu ada. Dan Allah Yang Membuat segala sesuatu menjadi ada dan tampak. (قبل، فوق، المظهر). Dan inilah makna hakiki dari ungkapan: "Allah bersama segala sesuatu".

Penjelasan sederhananya; jika diurutkan, Sesuatu Yang Membuat segala sesuatu ada dan tampak (المظهر), Ada "sebelum" sesuatu yang ditampakkan, ada. Dan Yang membuat segala sesuatu menjadi ada, pastinya berada di tingkatan atas, ada di atasnya secara urutan. 

Sekali lagi, Allah dikatakan bersama (مع) segala sesuatu, memang seolah-olah bareng; adanya bareng-bareng, bersamaan dengan segala sesuatu tersebut. Padahal tidak. Di satu sisi dikatakan bareng, padahal hakikatnya di sisi yang lain, Adanya Allah, lebih dulu (sebelum) dan posisi atau secara tingkat, Adanya Allah di atas.

Hal tersebut terlihat paradoks dan kontradiktif, padahal tidak. Al-Ghozali memberikan contoh yang sangat sederhana dalam kitab Misykatul Anwar, yaitu dengan mengajak kita melihat gerakan tangan dan bayangannya. 

Ketika melihat gerakan tangan dan bayangan, akan terlihat gerakan keduanya berbarengan. Seolah-olah keduanya bergerak secara bersamaan. Tapi, hakikatnya tidak. 

Gerak bayangan hadir (adanya) setelah gerak tangan. Sederhananya, bayangan ada, karena ada tangan. Dan geraknya bayangan yang seolah-olah bersamaan itu, hakikatnya, gerakannya ada setelah adanya gerakan tangan. Jadi, gerakan tangan ada sebelum gerakan bayangan. Pun derajatnya, ada di atas gerakan bayangan. 

Al-Ghazali memberi contoh dengan tangan dan bayangan yang identik dengan alam lahirian dan indera penglihatan, bukan berarti "menyamakan" Allah dengan itu. Bukan. Sekali lagi bukan. Itu hanya analogi, misal, perlambang, metafora. 

Kebanyakan manusia memang maqomnya berada di Maqom inderawi (المحسوسات) dalam pengetahuannya (العرفان) dalam memahami sesuatu. Seperti paham materialisme. Jadi, Al-Ghazali memberi misal dan gambaran dari sesuatu yàng mudah dipahami oleh kebanyakan manusia.

Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa segala sesuatu ada maqomnya masing-masing. Termasuk manusia; punya maqomnya masing-masing. Dan Al-Ghazali menekankan agar setiap orang menyadari maqomnya di mana, lalu menyadari bahwa ada maqom-maqom lain yang lebih tinggi derajatnya di atasnya. 

Ya, itulah penjelasan Imam Al-Ghazali tentang "Allah (Ada) bersama segala sesuatu".

Ah, saya jadi ingat dengan ucapan orang-orang: "Allah bersama kita", "Tanang aja, Ada Allah bersama kita", dan kata-kata lain yang intinya ingin menegaskan bahwa Allah ada bersama setiap orang.

Jika menggunakan "pendekatan" penjelasan Al-Ghazali bahwa Allah "bersama" (itu ada "Sebelum", "di atas", dan "Yang Membuat segala sesuatu menjadi ada"), sepertinya setiap orang tidak akan merasa gundah, galau, gelisah, dan akan semakin cerah dan terang hidupnya. Kenapa? 

Karena Ada keyakinan bahwa Ada Allah sebelum dan bersama dirinya dan bersama segala sesuatu yang ada, terjadi, dan tersaji dalam hidupnya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 10022022


Selasa, 08 Februari 2022

Penyebab Seseorang Tidak Sadar Bahwa Cahaya (Allah) Ada dan Selalu Bersama Setiap Makhluk. (Misykatul Anwar)

Pada catatan sebelumnya, Al-Ghozali menerangkan bahwa ada dua jenis orang yang bisa sampai (wushul) kepada Allah. Yakni As-Shiddiqun dan Ulama al-Rosyikhun. 

Dan saya meyakini, Imam Al-Ghazali, pun wushul dengan keduanya. Kenapa? Karena Al-Ghazali menyatakan bahwa As-Shiddiqun alias orang-orang yang sampai ke Maqom paling tinggi dengan rasa (dzauq) dan mengalaminya langsung, lebih Koko dibanding mereka yang sampai dengan kekuatan an-nafsu an-natiqohnya.

Di catatan kali ini, Al-Ghazali menegaskan dengan lebih sederhana tentang segala sesuatu yang ada dan disebut cahaya itu ada yang cahaya (wujud) lahir dan cahaya batin.

Nah, Cahaya (Allah) hakikatnya akan selalu nempel (bersama) pada segala sesuatu tersebut, lahir ataupun batin. 

Segala sesuatu menjadi ada (tampak dan bercahaya) di alam lahir itu karena adanya Cahaya (Allah). Pun segala yang ada (tampak) di alam batin pun karena Allah. 

Sederhananya, segala sesuatu, semuanya tak terpisah dari Cahaya (Allah). Sebab, Cahaya (Allah) lah yang menyebabkan semuanya menjadi ada, menjadi tampak, menjadi terlihat.

Segala yang ada di alam batin, wujudnya ya semua hal yang terlihat dan nampak bagi mata (indera mata). Sementara segala sesuatu yang ada di alam batin, wujudnya seperti pengetahuan, ilmu, konsep, dan ide. Sederhananya, kemampuan seseorang untuk memahami dan mengerti sesuatu itu sebenarnya, ranahnya, berada di alam batin. 

Sayangnya, seringkali keberadaan (Adanya) Cahaya (Allah) pada segala sesuatu malah tidak disadari, bahkan dianggap tidak ada. Kenapa?

Seperti di catatan sebelumnya, Al-Ghozali menggambarkan seperti seseorang yang tengah menikmati pemandangan. Semua yang tampak di mata lahirnya hanyalah apa-apa yang bisa dilihatnya saja. Nah, dia sadar bahwa ada cahaya yang membuat semua terlihat, ketika sesuatu yang dilihatnya tidak bisa dilihat lagi.

Gambaran sederhananya, saya bisa melihat gunung, pepohonan, sawah, air terjun, rerumputan, bebungaan, dan hal-hal indah lainnya, pada siang hari. Nah, saya akan sadar bahwa ada cahaya yang membuat semuanya itu terlihat ketika matahari terbenam. 

Misal yang lebih sederhana, seperti kata Bung Roma Irama: "Kalau sudah tiada, baru terasa, Kehadirannya." Ya, begitu juga dengan cahaya saat saya melihat segala pemandangan. Seringkali saya tidak sadar dan tidak merasakan hadirnya cahaya. Saya baru sadar dan merasa adanya cahaya, ketika pemandangan tersebut tidak ada lagi tidak bisa dilihat lagi karena matahari terbenam.

Nah, gambaran seperti ini pula yang diungkapkan Al-Ghazali untuk menjelaskan orang-orang yang tidak percaya, tidak sadar, bahkan tidak tahu adanya Cahaya (Allah) pada segala sesuatu di alam lahir dan di alam batin.

Untuk membuat seseorang sadar dan tahu akan adanya sesuatu, metode dengan menyodorkan perbedaan bisa menjadi alternatif. Tapi, perlu dipahami dan dipertegas,  bahwa ada perbedaan antara cahaya lahir dan cahaya Ilahi. 

Cahaya lahiriah digambarkan bisa hilang dengan terbenamnya matahari. Sementara Cahaya Ilahi (Allah) yang membuat segala sesuatu menjadi tampak, tidak bisa digambarkan dan tidak bisa dibayangkan bisa hilang dan mustahil berubah. 

Sederhananya, cahaya lahir bisa hilang dan berubah. Seperti terbit dan tenggelamnya matahari. Sementara Cahaya (Allah) tidak akan bisa berubah dan tidak akan pernah hilang. Cahaya Allah akan terus menetap dan bersama segala sesuatu. Sebab, kalau Cahaya (Allah) digambarkan bisa berubah atau hilang, maka segala sesuatu akan tidak ada.

Metode seperti ini, yang membedakan Cahaya (Allah) antara ada dan tiada, yang disebut Al-Ghazali dengan "At-Tafriqoh" menjadi runtuh dan tidak bisa diterima. Sebab, pembuktian atau metode ini hanya bisa dipakai untuk segala sesuatu selain Allah. Ya, metode pembuktian ini tidak bisa dipakai untuk Allah. Kenapa? Sebab, Allah tidak bisa dibandingkan atau disandingkan dengan apapun. 

Kemudian ada lagi metode atau cara untuk membuat sesuatu menjadi lebih tampak dan ada. Atau untuk membuat sesuatu lebih terasa dan terlihat wujudnya. Yaitu dengan menghadapkan pada kebalikannya. 

Misalnya, siang dihadapkan dengan malam. Panas dihadapkan dengan dingin. Gelap dihadapkan dengan terang. Keras dihadapkan dengan lembut. Dan sebagainya.

Ya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa segala sesuatu akan menjadi jelas (kehadiran, keberadaan, dan wujudnya) ketika dihadapkan dengan lawannya. 

Sayangnya, metode ini pun lagi-lagi hanya bisa digunakan untuk segala sesuatu selain Allah. Kenapa? Ya karena tidak ada yang bisa menandingi, menyamai, dan menyerupai Allah. 

Kemungkinan ketiga, kata Imam Al-Ghazali, Sesuatu yang tidak punya tandingan, yang tidak berubah, dan terus ada, seringkali menyebabkan orang-orang tidak menyadari bahwa sesuatu itu ada. 

Misal sederhananya, orang yang terus menerus sehat, seringkali tidak sadar dan tidak tau bagaiman rasanya sehat. Orang yang selalu miskin, seringkali malah merasa tidak miskin, karwna saking terbiasanya miskin. Orang yang selalu kaya, seringkali malah merasa dan tidak sadar bahwa ia kaya. Dan contoh lainnya.

Begitu pun dengan  Cahaya (Allah) yang ada dan terus bersama segala sesuatu di alam lahir dan alam batin, malah menjadi tidak disadari Ada-Nya.

Perlu dicatat, cahaya itu punya dua kemungkinan: menyinari dan menyilaukan. Nah, orang-orang yang tidak bisa melihat cahaya Allah, kemungkinan besar adalah mereka silau karena saking terangnya Cahaya (Allahh). Pun bisa jadi, karena manusia lebih memilih melihat yang ada secara lahir saja, entahlah.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 09022022