Contoh sederhananya di bumi ini, seperti rambu-rambu lalu lintas. Ada petunjuk ke kanan, ada petuntuj ke kiri, ada petunjuk jalan menurun, jalan menyempit dan lain-lain yang berupa plang-plang lalu lintas. Rambu atau plang lalu lintas tersebut untuk menunjukkan "makna" di baliknya. Seperti tanda lampu merah yang menyala untuk menunjukkan bahwa para pengendara mesti berhenti. Nah, pengendara mesti berhenti itulah makna. Bisa jadi, salah satu makna dari sekian makna yang ada di balik lampu merah yang nyala.
Sederhananya, segala sesuatu yang ada dan bisa diindera di alam semesta (jasmani, fisik) ini adalah "Mitsal" (metafora, perlambang, simbol, perwujudan) yang menunjukkan "makna" di alam gaib (alam malakut).
Karenanya, bisa dibilang orang-orang yang beriman, mesti mempercayai dan melihat segala sesuatu di alam material ini memiliki dua alam, punya dua tingkat: alas jasmani dan rohani. Alam yang tampak dan alam gaib. Ini berarti, orang-orang yang menampik dan menafikan adanya alam gaib, adanya alam yang tidak tampak, alam malakut, bisa dibilang bukan orang yang beriman.
Imam Al-Ghazali di bagian pasal pertama Kitab Misykatul Anwar telah menyontohkan saat seseorang tiba di musim semi. Saat siang hari di musim semi, orang-orang melihat betapa banyak keindahan yang ada dan bisa dilihat. Sayangnya, kadang orang-orang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat semua yang terlihat oleh mata mereka itu bisa terlihat, yaitu adanya cahaya.
Nah, orang-orang yang tidak beriman akan menafikan dan menampik adanya cahaya yang membuat semua itu bisa terlihat. Sebaliknya, orang yang beriman akan melihat dan menyadari adanya cahaya yang membuat semua itu terlihat.
Cahaya itu bisa dibilang dengan makna
Makna yang adanya di alam malakut. Tidak tampak oleh indera mata. Hanya bisa dilihat dengan mata batin atau akal atau jiwa atau ruh yang ada di "dalam" diri manusia.
Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makna di alam syahadah itu bertingkat-tingkat. Contoh sederhananya adalah seperti ilmu fisika. Ada ilmu fisika murni ada ilmu fisika terapan. Dan contoh-contoh lainnya. Begitu juga makna di alam malakut, pun bertingkat-tingkat dan banyak. Pun dengan perlambang, simbol, metafora (Mitsal) yang ada di alam syahadah yang jumlahnya begitu banyak, tak terkira. Karenanya, Al-Ghazali menegaskan, kekuatan manusia, pemahaman manusia tidak akan sanggup untuk memahami semuanya. Terlebih umur manusia yang pendek. Tidak akan cukup untuk memahami semua "mitsal" tersebut.
Alhamdulillahnya, Al-Ghazali memberitahukan tentang "pegangan" berupa anmudzaj, alias paradigma yang bisa memudahkan orang-orang untuk memahami "Mitsal" yang banyak tak terhingga itu.
Paradigma (anmudzaj) itu sederhananya adalah cetakan. Gambarannya kira-kira seperti cetakan batu bata. Dari satu cetakan bisa menghasilkan banyak batu bata. Cetakan itulah paradigma. Ya, Al-Ghazali lewat Misykatul Anwar seakan ingin memberi pemahaman tentang paradigma atau "cetakan Mitsal" tersebut.
Al-Ghozali memberi pemahaman paradigma tersebut dengan mengungkapkan tentang pola-pola "cetakan" atau paradigma tersebut.
Pertama, Di alam malakut terdapat "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah". Secara harafiah bisa diartikan dengan mutiara yang bersifat cahaya, yang mulia, dan tinggi.
Tapi, perlu dicatat, kata "Jawahir" yang merupakan kata jamak dari "jauharun" adalah istilah yang sangat kental dalam Ilmu Kalam, teologi, dan filsafat Islam. Artinya adalah substansi. Sesuatu yang ada. Bahasa Inggrisnya substance. Setiap Jauhar (substansi) punya sifat ('arodh). Sederhananya substansi itu isi, 'arodh itu bungkus. Nah, "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" bisa diartikan substansi yang bersifat cahaya (terang), bersifat mulia, dan bersifat tinggi.
"Jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" itu adalah malaikat. Dari malaikat ini mengalir (membuncah/luber) cahaya-cahaya ke jiwa-jiwa manusia. Ya, cahaya-cahaya malaikat di alam malakut itu luber lalu mengalir ke jiwa-jiwa, ke ruh-ruh manusia (al-arwah al-basyariyah). Karena itulah jiwa-jiwa manusia yang menerima luberan cahaya-cahaya malaikat dinamakan arbaban. Arbaban itu jamak dari rob. Bisa diartikan dengan tuhan.
Ah, saya jadi ingat dengan Cak Nur yang bilang "tiada tuhan selain Tuhan" (t kecil dan T besar). Ya, arbaban bisa dibilang seperti itu. Arbaban adalah tuhan-tuhan, dewa-dewa.
Al-Ghozali lalu menegaskan bahwa Allah adalah Tuhannya tuhan-tuhan itu karena melihat aliran dan limpahan cahaya yang mengalir ke jiwa-jiwa dan ruh-ruh manusia, tadi.
Al-Ghazali lalu menegaskan bahwa arbaban tersebut bertingkat-tingkat. Dan "Mitsal" atas tingkatan-tingkatan itu di bumi ini adalah matahari, bulan, dan bintang.
Allahu a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 13022022