Minggu, 13 Februari 2022

Allah Adalah Robbul Arbab. (Misykatul Anwar).

Pada catatan ngaji sebelumnya, diterangkan bahwa semua yang ada di alam sayahadah (dunia lahir, dunia fisik, bumi) ini adalah perlambang, metafora, dan simbol-simbol dari sesuatu, yang disebut oleh Imam Al-Ghozali dengan "makna", yang ada di alam malakut.

Contoh sederhananya di bumi ini, seperti rambu-rambu lalu lintas. Ada petunjuk ke kanan, ada petuntuj ke kiri, ada petunjuk jalan menurun, jalan menyempit dan lain-lain yang berupa plang-plang lalu lintas. Rambu atau plang lalu lintas tersebut untuk menunjukkan "makna" di baliknya. Seperti tanda lampu merah yang menyala untuk menunjukkan bahwa para pengendara mesti berhenti. Nah, pengendara mesti berhenti itulah makna. Bisa jadi, salah satu makna dari sekian makna yang ada di balik lampu merah yang nyala. 

Sederhananya, segala sesuatu yang ada dan bisa diindera di alam semesta (jasmani, fisik) ini adalah "Mitsal" (metafora, perlambang, simbol, perwujudan) yang menunjukkan "makna" di alam gaib (alam malakut).

Karenanya, bisa dibilang orang-orang yang beriman, mesti mempercayai dan melihat segala sesuatu di alam material ini memiliki dua alam, punya dua tingkat: alas jasmani dan rohani. Alam yang tampak dan alam gaib. Ini berarti, orang-orang yang menampik dan menafikan adanya alam gaib, adanya alam yang tidak tampak, alam malakut, bisa dibilang bukan orang yang beriman.

Imam Al-Ghazali di bagian pasal pertama Kitab Misykatul Anwar telah menyontohkan saat seseorang tiba di musim semi. Saat siang hari di musim semi, orang-orang melihat betapa banyak keindahan yang ada dan bisa dilihat. Sayangnya, kadang orang-orang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat semua yang terlihat oleh mata mereka itu bisa terlihat, yaitu adanya cahaya. 

Nah, orang-orang yang tidak beriman akan menafikan dan menampik adanya cahaya yang membuat semua itu bisa terlihat. Sebaliknya, orang yang beriman akan melihat dan menyadari adanya cahaya yang membuat semua itu terlihat.

Cahaya itu bisa dibilang dengan makna
 Makna yang adanya di alam malakut. Tidak tampak oleh indera mata. Hanya bisa dilihat dengan mata batin atau akal atau jiwa atau ruh yang ada di "dalam" diri manusia. 

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makna di alam syahadah itu bertingkat-tingkat. Contoh sederhananya adalah seperti ilmu fisika. Ada ilmu fisika murni ada ilmu fisika terapan. Dan contoh-contoh lainnya. Begitu juga makna di alam malakut, pun bertingkat-tingkat dan banyak. Pun dengan perlambang, simbol, metafora (Mitsal) yang ada di alam syahadah yang jumlahnya begitu banyak, tak terkira. Karenanya, Al-Ghazali menegaskan, kekuatan manusia, pemahaman manusia tidak akan sanggup untuk memahami semuanya. Terlebih umur manusia yang pendek. Tidak akan cukup untuk memahami semua "mitsal" tersebut.

Alhamdulillahnya, Al-Ghazali memberitahukan tentang "pegangan" berupa anmudzaj, alias paradigma yang bisa memudahkan orang-orang untuk memahami "Mitsal" yang banyak tak terhingga itu. 

Paradigma (anmudzaj) itu sederhananya adalah cetakan. Gambarannya kira-kira seperti cetakan batu bata. Dari satu cetakan bisa menghasilkan banyak batu bata. Cetakan itulah paradigma. Ya, Al-Ghazali lewat Misykatul Anwar seakan ingin memberi pemahaman tentang paradigma atau "cetakan Mitsal" tersebut.

Al-Ghozali memberi pemahaman paradigma tersebut dengan mengungkapkan tentang pola-pola "cetakan" atau paradigma tersebut. 

Pertama, Di alam malakut terdapat "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah". Secara harafiah bisa diartikan dengan mutiara yang bersifat cahaya, yang mulia, dan tinggi.

Tapi, perlu dicatat, kata "Jawahir" yang merupakan kata jamak dari "jauharun" adalah istilah yang sangat kental dalam Ilmu Kalam, teologi, dan filsafat Islam. Artinya adalah substansi. Sesuatu yang ada. Bahasa Inggrisnya substance. Setiap Jauhar (substansi) punya sifat ('arodh). Sederhananya substansi itu isi, 'arodh itu bungkus. Nah, "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" bisa diartikan substansi yang bersifat cahaya (terang), bersifat mulia, dan bersifat tinggi. 

"Jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" itu adalah malaikat. Dari malaikat ini mengalir (membuncah/luber) cahaya-cahaya ke jiwa-jiwa manusia. Ya, cahaya-cahaya malaikat di alam malakut itu luber lalu mengalir ke jiwa-jiwa, ke ruh-ruh manusia (al-arwah al-basyariyah). Karena itulah jiwa-jiwa manusia yang menerima luberan cahaya-cahaya malaikat dinamakan arbaban. Arbaban itu jamak dari rob. Bisa diartikan dengan tuhan.

Ah, saya jadi ingat dengan Cak Nur yang bilang "tiada tuhan selain Tuhan" (t kecil dan T besar). Ya, arbaban bisa dibilang seperti itu. Arbaban adalah tuhan-tuhan, dewa-dewa. 

Al-Ghozali lalu menegaskan bahwa Allah adalah Tuhannya tuhan-tuhan itu karena melihat aliran dan limpahan cahaya yang mengalir ke jiwa-jiwa dan ruh-ruh manusia, tadi. 

Al-Ghazali lalu menegaskan bahwa arbaban tersebut bertingkat-tingkat. Dan "Mitsal" atas tingkatan-tingkatan itu di bumi ini adalah matahari, bulan, dan bintang.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022






Apa itu Ghibah dan Apa Saja yang Berpotensi Terdapat Ghibah (Ihya Ulumuddin)

Dari kemarin saya lebih sering membuat catatan ngaji Kitab Misykatul Anwar. Entah kenapa, setelah magrib tadi, seperti ada "kilatan ide" (lawaih Khowathir) yang membisiki saya untuk membuat catatan juga untuk ngaji Ihya Ulumuddin. 

Endilalah, catatan pertama ini saya mulai dari bab Ghibah yang merupakan bagian dari penyakit mulut menurut Imam Al-Ghozali.

Sederhananya, Ghibah adalah menyebut siapapun (bisa saudara, temen, dll) dengan sesuatu yang tidak disukainya ketika kita menyampaikan hal tersebut. 

Misalnya tentang kekurangan fisiknya, nasab keluarganya, tingkah lakunya, pekerjaannya, perkataannya, agamanya, dunianya hingga tentang pakaian dan lingkungannya.

Dari segi fisik atau badan. Misalnya kita menyebut tentang matanya yang rabun, juling, buta, botak, pendek, tinggi, hitam, kuning, dan semua sifat yang tergambar pada fisik atau badan seseorang yang semua itu tidak disukai (atau malah ia benci) ada pada dirinya bagaimanapun rupa dan bentuknya.

Dari segi nasab keturunan. Misalnya bapaknya petani (profesi bapaknya), Hindi (agamanya), fasik (kelakuan), atau apapaun yang, sekali lagi, tidak ia sukai. 

Sementara dari segi akhlak. Kita mengatakan sesuatu terkait akhlak seseorang. Misalnya sombong, gampang marah, rendah hati, dan segaka sesuatu kekurangan dalam akhlaknya.

Kemudian dari segi pekerjaan alias apapun yang dikerjakan seseorang terkait dengan agama. Misalnya kita mengatakan atau menyebut (seseorang) dengan pencuri, pembohong, pemabuk, pengkhianat, zholim, lalai sholat dan zakatnya, tidak bagus ruku dan sujudnya, atau tidak sucinya ia dari hadata dan najis, tidak baik kepada orang tua, tidak melaksanakan zakat, atau tidak baik dalam membagikan zakat, tidak bagus puasanya, dan lain sebagainya.

Sementara terkait pekerjaannya yang terhubung dengan dunia. Misalnya kita bicara tentang dia yang gak ada adab, jahat kepada orang, meremehkan orang lain, merasa benar sendiri, banyak bicara, banyak makan, banyak tidur, dan lain sebagainya. 

Soal pakaian, Imam Al-Ghazali pun menjelaskan, seperti kita membicarakan panjangnya jubahnya, dan bahan pakaiannya.

Ya, pada dasarnya ghibah adalah kita menyebut, membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, sekiranya kita sebut atau bicarakan, dan orang itu tidak suka. Lebih sederhananya, apapun yang kita sendiri gak suka ketika itu dibicarakan.

Al-Ghazali ketika membahas sesuatu biasanya akan memulai dari hal paling dasar, mendalam, dan menyeluruh. Segala hal yang berkaitan dengan apa yang dibahas akan ditelusuri. Ibaratnya, akan mengupas begitu detail, sedetail-detailnya.

Seperti bab Ghibah ini. Al-Ghazali memulai dengan menjelaskan apa hakikatnya ghibah. Lalu menelusuri sesuatu yang disebut ghibah ada di mana dan ada di apa saja. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022

Sabtu, 12 Februari 2022

Suluk Shirothol Mustaqim. (Misykatul Anwar)

Di antara teori kognisi (al-idrok) paling dasar yang diungkap Imam Al-Ghozali adalah kemampuan mengindera. Yakni, melihat, mendengar, merasakan, dan indera lainnya yang berkaitan dengan alam fisik. Misalnya melihat gelas kopi.

Semua yang diindera tersebut lalu masuk ke dalam "al-khoyal". Sederhananya, "Al-Khoyal" adalah gudang memori dalam diri manusia. Jadi, walaupun gelas kopi yang dilihat tadi sudah tidak ada wujudnya (dipindahkan ke dapur, atau pecah, atau hilang), tapi "Al-Khoyal" dalam diri manusia masih menyimpan gambar, bentuk, dan segala sesuatu tentang gelas kopi yang "pernah" dilihat oleh mata. 

Nah, Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa alam yang tinggi (alam gaib, alam malakut) yang "bisa diketahui" oleh indera dan "al-khoyal" bisanya dikenal dengan istilah alam abstrak. Seperti ide, konsep,  dan gambaran-gambaran yang ada di "al-khoyal".

Gambaran abstrak yang ada di "al-khoyal" tersebut tentu saja adalah hal yang gaib. Karena ia tidak bisa dilihat oleh indera penglihatan (mata). Karenanya Imam Al-Ghozali menyebutnya dengan alam yang suci ('alam al-quds). 

Kenapa dibilang alam yang suci? Karena segala sesuatu yang ada pada dirinya (di alam yang suci/'alam al-quds) tersebut bisa dibilang masih murni. Analogi yang sekiranya mudah dipahami secara inderawi, adalah seperti suatu tempat yang dianggap keramat atau suci. 

Tempat tersebut dikelilingi pagar, dikelilingi tembok dan ditutup atap. Hingga siapapun atau apapun tidak ada yang bisa masuk atau keluar dari situ. Karena dianggap suci. 

Pun begitu, siapapun yang ingin lebih dekat kepada Allah, kata Al-Ghozali mesti "menapakkan kaki" ke inti atau pusat dari alam yang suci tersebut. Al-Ghozali menyebutnya dengan ""hazhirotul quds".

Pusat kesucian atau "hazhirotul quds" tersebut adalah ruh manusia (ar-ruhul basyari). Dan di sinilah tempatnya kilatan-kilatan yang "suci", seperti ide, konsep, dan Ilham melintas. Di ruh manusia. Hal tersebut "digambarkan", "dimetaforakan", "diperlambangkan" oleh Al-Quran dengan "al-wadil Muqoddas" (lembah" yang suci) dalam kisah Nabi Musa yang sangat familiar saat bertapa di Thur lalu bertemu dengan Allah.

Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa terdapat tingkatan-tingkatan makna dalam "hazhirotul quds". Dan para "Arbabul Bashoir" bisa melihat, tahu dan mengerti semua itu. 

Seperti di catatan sebelumnya, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa alam syahadah atau alam jasmani atau alam "hissi", adalah tangga untuk naik ke alam akal, alam malakut, alam gaib, atau alam "atas". 

Antara kedua alam tersebut punya keterhubungan dan keterkaitan, yaitu ruh manusia. Dengan kata lain, Allah menitipkan sesuatu yang suci dalam diri manusia, berupa ruh. 

Ruh yang bisa membuat manusia "naik" hingga alam malakut. Bahkan bisa naik lagi hingga sampai ke Maqom Al-fardaniyah dan al-wahdaniyah, alias Maqom Ketuhanan. 

Inilah pengantar Al-Ghozali pada pasal kedua kitab Misykatul Anwar. Hal tersebut untuk mendasari pembahasan dan penjelasan Imam Al-Ghozali tentang bagaimana sebuah perlambang atau bagaimana metafora (mitsal) terbentuk.

Tentu saja perlambang atau metafora dalam Al-Quran. Bukan metafora yang dikenal dalam dunia sastra, terutama puisi. Metafora yang ingin dibahas Al-Ghozali adalah metafora yang dasarnya adalah pengalaman ruhani, pengalaman sufistik yang dirasakan dan dialami langsung oleh Imam Al-Ghozali. 

(Dan inilah catatan kecil saya untuk ngaji Misykatul Anwar pasal kedua).

Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa alam syahadah adalah tangga untuk menuju ke alam malakut. Ungkapan paling sederhana untuk naik tersebut, menurut Al-Ghozali adalah "suluk Shirothol Mustaqim". Ya, Shirothol Mustaqim yang terdapat di surat Al-Fatihah. 

Sederhananya, tangga pertama alias tingkatan pertama untuk "naik" ke alam malakut disebut dengan "suluk Shirothol Mustaqim". 

"Naik" atau Suluk Shirothol Mustaqim ini dikenal dengan istilah atau ungkapan agama dan tingkatan-tingkatan atau tempat-tempat petunjuk (الدين و منازل الهدى). 

Sekali lagi, Imam Al-Ghozali, menegaskan kalau tidak ada "tangga", tidak ada keterhubungan, dan tidak ada keterkaitan antara alam syahadah dan alam malakut, maka tidak akan ada kata atau tidak akan bisa seseorang "naik" dari alam yang satu ke alam yang lain.

Yang membuat keterhubungan dan ketersambungan itu tidak lain, kata Al-Ghozali, adalah Rahmat Ketuhanan (الرحمة الإلهية). Rahmat Ketuhanan inilah yang  membuat keseimbangan (keteraturan) di alam malakut. Kemudian keseimbangan di alam malakut lah yang menciptakan alam syahadah. Ya, alam syahadah ataubalam jasmani ini bisa dibilang gambaran dan perwujudan dari alam malakut.

Sederhananya, dunia ini adalah wujud dan bentuk yang berasal dari alam malakut. Analogi sederhananya kira-kira seperti sebuah bangunan. 

Bangunan itu ada karena diawali dari ide, konsep, dan desain seorang arsitek. Ide itu kemudian diwujudkan menjadi sebuah bangunan. Ide dan desain bentuk bangunan tersebut adalah alam Quds sementara wujudnya alam syahadah.

Karenanya Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini (di alam syahadah) adalah "mitsal" (perlambang, metafora, simbol) dari segala sesuatu yang ada di alam quds atau alam malakut yang Al-Ghozali menyebutnya dengan "makna" (المعنى).

Sederhananya, "Mitsal" (metafora, perlambang) menurut Al-Ghozali adalah simbol-simbol atau sesuatu yang ada di alam syahadah tapi maknanya ada di alam malakut. Antara simbol yang dipakai di alam syahadah dan makna di alam malakut harus ada keterhubungan, kecocokan, atau keserasian.

Nah, "makna" di alam malakut yang berwujud abstrak dan gaib kemudian jadi ada bentuknya di alam syahadah yang bisa dilihat, didengar, dan dipahami lebih mudah oleh manusia. Nah, inilah tangga/jalan/jembatan untuk manusia untuk beriman kepada hal yang gaib, untuk manusia bisa melakukan Suluk Shirothol Mustaqim. 

Disebut "mitsal", simbol, metafora, atau perlambang karena ada "makna" yang "di-mitsalkan", disimbolkan, dimetaforakan, dan diperlambangkan. Di sinilah proses terjadinya metafora, perlambang, simbol, atau "mitsal".

Imam Al-Ghozali menegaskan: pertama, satu simbol bisa banyak makna. Dan kedua, banyak simbol bisa satu makna. 

Contoh sederhana dari satu simbol banyak makna, di antaranya adalah mata. Mata bisa bermakna: penglihatan, pemahaman, pengertian, pengetahuan, dan lain-lain. Sementara contoh sederhana dari banyak simbol satu makna, di antaranya adalah Asmaul Husna. 

"Naik" atau "Mi'roj" pertama yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah Suluk Shirothol Mustaqim. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022

Jumat, 11 Februari 2022

Keterhubungan Antara Alam Syahadah dan Alam Malakut yang Menjadi Jalan untuk Mi'roj. (Misykatul Anwar)

Di antara ciri atau tanda orang yang beriman adalah percaya kepada alam gaib. Ini berarti, siapapun yang mengaku beriman ketika melihat sesuatu (realitas) mesti melihat bahwa pada sesuatu itu ada dua lapis (dua alam), yaitu lahir dan batin. 

Imam Al-Ghazali pada awal bagian pasal kedua di kitab Misykatul Anwar kembali menjelaskan hal tersebut. Malah lebih detail dan terperinci. 

Al-Ghozali menerangkan bahwa ada dua alam; rohani dan jasmani, Alam indera (kasat mata) dan alam akal (penalaran), alam atas dan alam bawah. 

Semuanya penyebutan tersebut hakikatnya sama. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda. 

Ketika melihat dua alam tersebut dengan sudut pandang ke wujud dan diri kedua alam tersebut, maka lahirlah sebutan alam rohani dan jasmani.

Ketika kedua alam tersebut dilihat dari sudut pandang hubungan dan keterkaitannya kepada "mata" yang bisa melihat, maka sebutannya adalah alam inderawi dan alam akal. 

Sementara ketika dua alam tersebut dilihat dengan sudut pandang keterkaitannya masing-masing atau hubungan antara keduanya maka penyebutannya adalah alam atas dan alam bawah.

Selain itu, ada lagi penyebutan (istilah) yang lain, yaitu alam yang tampak atau alam materil ('alam syahadah) dan alam malaikat (''alam malakut). 

Banyaknya penyebutan dan istilah tersebut, kata Imam Al-Ghazali, seringkali membuat bingung. Terlebih bagi mereka yang mencari hakikat lewat penyebutan atau istilah-isitilah. Karenanya, Al-Ghazali menasihati agar jangan mencari (tahu) hakikat (substansi) lewat istilah, tapi mesti lewat makna.

Ya, makna adalah inti dan sumbernya, sementara istilah adalah alirannya. Analoginya, makna itu jenderalnya, istilah-istilah adalah prajuritnya. 

Contoh sederhananya, seperti orang yang melihat judul berita tapi tidak membaca isinya. Atau melihat buku, hanya dari sampulnya. Ya, jika ingin memahami sesuatu maka lihatlah isinya, bukan bungkusnya. 

Makanya, tak heran jika orang-orang yang hanya melihat sampul, bungkus, judul, dan luarannya saja, akan bingung lalu disebut Al-Ghazali dengan mereka yang lemah.

Orang yang melihat makna dan istilah, atau mereka yang melihat isi dan sampul, tentu saja akan berbeda. Al-Ghozali menegaskan bahwa mereka itu seperti yang diungkap dalam Al-Quran di surat Al-Mulk:

أفمن يمسي مكبا على وجحه اهدى ام من يمشى سويا على صراط مستقيم

Orang yang jalannya "sungsang" tentu berbeda dengan yang jalannya normal. 

Hakikat dan inti dari banyaknya istilah dan penyebutan tersebut adalah bahwa ada dua alam. Alam yang tampak ('alam syahadah) dan alam yang tidak tampak ('alam malakut).

Alam malakut adalah alam gaib yang sebagian besar orang tidak bisa melihatnya. Sementara alam inderawi (alam syahadah), siapapun (semua orang) bisa melihatnya. 

Al-Ghozali menegaskan bahwa alam material ('alam hiasi) adalah 'tangga" untuk naik ke alam akal. Ini berarti, hakikatnya siapapun bisa (punya potensi) untuk naik ke alam akal. 

Ya, siapapun sebenarnya bisa "melihat" dan naik ke alam malakut. Sebab, antara kedua alam tersebut saling terhubung dan terkait. Alam syahadah terhubung ke alam malakut. Alam material terhubung ke alam immaterial. Alam fisik terhubung ke alam metafisik. 

Kalau tidak ada hubungan maka tidak akan ada jalan untuk "naik" (mi'roj). Dan kalau begitu, maka tidak akan ada orang yang bisa "sampai" ke Maqom Ketuhanan. 

Sederhananya, antara alam materil dan alam gaib itu ada jalannya. Ada keterhubungan dan keterkaitannya. Kalau gak ada jalannya, ya gak mungkin orang bisa sampai ke Maqom Al-fardaniyah dan al-wahdaniyah. 

Dan kalau tidak terhubung, tidak ada jalannya, tidak mungkin manusia bisa dekat kepada Allah. Sesuatu yang awalnya jauh, kemudian dikatakan dekat, karena ada jalan yang menghubungkan lalu membuat dekat, bukan?

Pun begitu dengan manusia dan Allah. Ada hubungan dan keterkaitan antara manusia dan Allah. Keterhubungan dan keterkaitan inilah jalan agar manusia bisa mendekat, semakin dekat, dan dekat dengan Allah. 

Agar semakin dekat dengan Allah, manusia yang berada di alam materil (alam syahadah) mesti "naik" ke alam malakut lewat jalan atau tangga yang menghubungkan. 

Ini berarti, bisa dibilang bahwa alam materil, alam syahadah, alam jasmani, atau alam yang tampak ini pun penting. Sebab, alam ini adalah pijakan awal setiap orang untuk "naik" ke alam yang lebih tinggi, ke alam malakut. Hingga ujungnya ia bisa semakin "dekat" kepada Allah. 

Ya, alam yang tampak itu penting, karena ia pijakan awal setiap orang. Tapi, jauh lebih penting adalah alam yang tidak tampak. 

Contoh sederhana yang bisa diambil dari alam syahadah, misalnya rumah, kendaraan, Hp dan benda-benda lain yang dianggap penting. Semua itu penting, tapi, jauh lebih penting adalah konsep, ide, dan desain dari semua itu.

Pun dengan alam malakut yang jauh lebih penting dari alam syahadah. Malah, seringkali hal yang tidak tampak jauh lebih penting dari hal yang tampak, bukan? 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 12022022





Kamis, 10 Februari 2022

Imam Al-Ghazali: The Master Of Perlambang, Metafor, dan Analogi.

Allah menurunkan Wahyu Kepada nabi Muhammad berbentuk Al-Quran. Al-Quran itu isinya kalimat-kalimat dan kata-kata yang Hakikatnya disampaikan Oleh Allah kepada semua manusia lewat Nabi Muhammad. Ini berarti, secara sederhana bisa dibilang bahwa Allah "ngomong" kepada manusia lewat Al-Quran. 

Kalau boleh diibaratkan, Al-Quran itu buku puisi yang sangat indah (tentu saja, Al-Quran lebih puitis, lebih indah, lebih dari sekadar puisi). Nah, dalam puisi, dikenal istilah metafora. 

Biasanya Metafor digunakan untuk melambangkan sesuatu dengan sesuatu. Misalnya kalimat-kalimat dalam puisi Chairil Anwar: "Aku binatang jalang", " Aku ingin hidup seribu tahun lagi." 

Tentu saja "binatang jalang" yang dimaksud bukan binatang secara lahiriah. Bukan berarti binatang secara fisik. Ada hal lain yang ingin dikatakan Chairil Anwar lewat "binatang jalang" tersebut. Pun dengan "hidup seribu tahun lagi". 

Saya menduga, puisi atau syair, awalnya terinspirasi dari bentuk, termasuk isi dalam Al-Qur'an. Sebab, di dalam Al-Quran pun begitu banyak, sangat banyak, kata yang mengandung metafora.

Ya, di dalam Al-Quran terdapat begitu banyak metafora, simbol, perlambang, "tanda-tanda", dan "misal". Nah, untuk memahami semua ini, tentu saja tidak bisa menggunakan penglihatan lahir saja. 

Seperti ayat tentang Cahaya. Bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahaya. Cahaya yang dimisalkan seperti "ceruk" (misykat) yang di dalamnya terdapat lampu (Al-Misbah). 

Nah, itulah Metafor, perlambang, analogi, simbol, atau "misal". Semua itu bisa diketahui dan dipahami dengan cara "dilihat lebih dalam" alias dipikirkan. Nah, satu-satunya makhluk di bumi ini yang bisa melakukannya hanyalah manusia. 

Sebab manusia diberikan bekal berupa "an-nafsu an-natiqoh". Kemampuan untuk menalar, melihat lebih dalam dan lebih jauh. Dengannya, manusia bisa membangun peradaban yang dahsyat. Bahkan, secara metafisik, manusia bisa mencapai "Maqom" tertinggi, yaitu Maqom al-fardaniyah dan al-wahdaniyah alias"Maqom" Ketuhanan.

Di antara manusia yang memiliki kemampuan "an-nafsu an-natiqohx yang ajib dan dahsyat adalah Abu Hamid Al-Ghozali, ulama yang bergelar Hujjatu Al-Islam. 

Ya, bisa dibilang Imam Al-Ghozali adalah "master of Methapor". Ini seperti kitab Misykatul Anwar yang beliau tulis. Isinya, tentang penjelasan makna ayat yang menegaskan bahwa Allah adalah Cahaya di atas cahya. 

Imam Al-Ghozali menjelaskan dengan begitu runut dan gamblang. Pun kata-kata yang digunakan seringkali menyesuaikan dengan pembacanya. Ya, seperti dimaklumi, penulisan Kitab Misykatul Anwar ini adalah permintaan dari salah satu murid (santrinya) Imam Al-Ghozali. 

Bahkan, di kitab lain yang fenomenal, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghozali pun begitu banyak menggunakan simbol-simbol, pertanda, methafor, dan perlambang yang mengindikasikan bahwa beliau sangat matang dalam ilmu, pengetahuan, dan penguasaan akan perlambang-perlambang, simbol-simbol, dan metafor.

Misalnya dalam Ihya Ulumuddin. Kitab ini berisi 40 kitab (bab). Kenapa 40? Ada yang bilang ini seperti Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi nabi di usia 40 tahun. 

Ada pula yang menjelaskan hal tersebut seperti hadits nabi yang mengatakan siapa yang hafal 40 hadits nabi akan masuk surga. Karenanya kita kenal dengan hadits arba'in. Seperti karya Imam Nawawi: "al-Hadits Al-Arba'in An-Nawawiyah". 

Pun ada yang mengaitkan seperti lamanya "semedi" dan "tapa" nabi Musa di gunung Thur, hingga bisa berbicara dengan Allah.

Begitu saya pernah dengar bahwa "life begin at forty", yang katanya kematangan seseorang dimulai pada usia 40 tahun. Ya, apapun dasarnya, kenapa 40, Hanya Al-Ghazali dan Allah yang tahu jawaban sebenarnya.

Jika melihat lebih jauh lagi, Kitab Ihya Ulumuddin itu terbagi ke dalam 4 bagian. Masing-masing bagian terdiri dari 10 kitab. Hal ini dikatakan terkait dengan fase kehidupan manusia. 

Bagian pertama kitab Ihya Ulumuddin adalah tentang Ibadah. Menariknya, meski tentang ibadah, Al-Ghazali memulainya dengan kitab ilmu. 

Seolah, Imam Al-Ghozali ingin menekankan bahwa semuanya mesti didasari oleh ilmu. Terlebih soal ibadah. Pun soal kehidupan manusia.

Lalu di kitab ke 20, Al-Ghozali membahas tentang kerja dan mencari rejeki. Lagi-lagi, seakan-akan Imam Al-Ghazali ingin menggambarkan bahwa di usia 20 tahun ke atas, adalah fase seseorang mulai mencari kerja dan menghidup dirinya sendiri. 

Kemudian di kitab ke 31, Al-Ghazali membahas tentang keajaiban hati. Seakan ingin mengingatkan bahwa di fase ini, seseorang mesti memahami konsep diri.

Lalu, di bagian akhir, Al-Ghozali membahas tentang dzikru al-maut. Alias mengingat mati.

Ya, inilah Ulama yang sangat amat keren. Ulama yang menguasai berbagai ilmu lalu menjadikannya pengetahuan dengan sangat mendalam. Soal biografi Imam Al-Ghazali, bisa ditemukan dalam Kitab lain, yaitu Al-munqidz min Al-dholal. 

Di kitab tersebut, dijelaskan bagaimana Al-Ghozali mengalami kegelisahan tentang ilmu dan pengetahuannya sendiri. Pun dijelaskan tentang bidang apa saja yang diperdalam oleh Al-Ghozali.

Teruntuk Imam Al-Ghozali: Al-fatihah.

Allahu a'lam bisshowab 

Sawangan Baru, 11022022

Makna Hakiki Allah Bersama Segala Sesuatu (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali memberi penjelasan lebih lanjut tentang "Allah bersama segala sesuatu, seperti cahaya yang ada bersama segala sesuatu" yang kemungkinan akan dipahami sebagian orang dengan pernyataan bahwa Allah ada dimana-mana dan Allah seolah-olah banyak dan punya tempat. 

Pandangan dan pendapat bahwa Allah bersama segala sesuatu yang kemudian oleh sebagian orang dipahami bahwa Allah ada dimana-mana, ditegaskan oleh al-Ghazali bahwa Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dan terlepas dari tempat. Sederhananya, Allah terbebas dari "tempat" atau "penempatan" seperti yang dipahami penglihatan lahiriah. 

Ya, tak dibisa dipungkiri, seakan ada kontradiksi antara Allah bersama segala sesuatu dan Allah tidak terkait tempat. Ya, seolah-olah, di satu sisi Allah bertempat karena "bersama" segala sesuatu, di sisi lain Allah tidak terkait dengan tempat. 

Nah, Imam Al-Ghazali menjelaskan lebih lanjut, bahwa makna " Allah bersama" tersebut adalah: Allah Ada "sebelum' segala sesuatu ada, dan Allah Ada "di atas" segala sesuatu ada. Dan Allah Yang Membuat segala sesuatu menjadi ada dan tampak. (قبل، فوق، المظهر). Dan inilah makna hakiki dari ungkapan: "Allah bersama segala sesuatu".

Penjelasan sederhananya; jika diurutkan, Sesuatu Yang Membuat segala sesuatu ada dan tampak (المظهر), Ada "sebelum" sesuatu yang ditampakkan, ada. Dan Yang membuat segala sesuatu menjadi ada, pastinya berada di tingkatan atas, ada di atasnya secara urutan. 

Sekali lagi, Allah dikatakan bersama (مع) segala sesuatu, memang seolah-olah bareng; adanya bareng-bareng, bersamaan dengan segala sesuatu tersebut. Padahal tidak. Di satu sisi dikatakan bareng, padahal hakikatnya di sisi yang lain, Adanya Allah, lebih dulu (sebelum) dan posisi atau secara tingkat, Adanya Allah di atas.

Hal tersebut terlihat paradoks dan kontradiktif, padahal tidak. Al-Ghozali memberikan contoh yang sangat sederhana dalam kitab Misykatul Anwar, yaitu dengan mengajak kita melihat gerakan tangan dan bayangannya. 

Ketika melihat gerakan tangan dan bayangan, akan terlihat gerakan keduanya berbarengan. Seolah-olah keduanya bergerak secara bersamaan. Tapi, hakikatnya tidak. 

Gerak bayangan hadir (adanya) setelah gerak tangan. Sederhananya, bayangan ada, karena ada tangan. Dan geraknya bayangan yang seolah-olah bersamaan itu, hakikatnya, gerakannya ada setelah adanya gerakan tangan. Jadi, gerakan tangan ada sebelum gerakan bayangan. Pun derajatnya, ada di atas gerakan bayangan. 

Al-Ghazali memberi contoh dengan tangan dan bayangan yang identik dengan alam lahirian dan indera penglihatan, bukan berarti "menyamakan" Allah dengan itu. Bukan. Sekali lagi bukan. Itu hanya analogi, misal, perlambang, metafora. 

Kebanyakan manusia memang maqomnya berada di Maqom inderawi (المحسوسات) dalam pengetahuannya (العرفان) dalam memahami sesuatu. Seperti paham materialisme. Jadi, Al-Ghazali memberi misal dan gambaran dari sesuatu yàng mudah dipahami oleh kebanyakan manusia.

Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa segala sesuatu ada maqomnya masing-masing. Termasuk manusia; punya maqomnya masing-masing. Dan Al-Ghazali menekankan agar setiap orang menyadari maqomnya di mana, lalu menyadari bahwa ada maqom-maqom lain yang lebih tinggi derajatnya di atasnya. 

Ya, itulah penjelasan Imam Al-Ghazali tentang "Allah (Ada) bersama segala sesuatu".

Ah, saya jadi ingat dengan ucapan orang-orang: "Allah bersama kita", "Tanang aja, Ada Allah bersama kita", dan kata-kata lain yang intinya ingin menegaskan bahwa Allah ada bersama setiap orang.

Jika menggunakan "pendekatan" penjelasan Al-Ghazali bahwa Allah "bersama" (itu ada "Sebelum", "di atas", dan "Yang Membuat segala sesuatu menjadi ada"), sepertinya setiap orang tidak akan merasa gundah, galau, gelisah, dan akan semakin cerah dan terang hidupnya. Kenapa? 

Karena Ada keyakinan bahwa Ada Allah sebelum dan bersama dirinya dan bersama segala sesuatu yang ada, terjadi, dan tersaji dalam hidupnya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 10022022


Selasa, 08 Februari 2022

Penyebab Seseorang Tidak Sadar Bahwa Cahaya (Allah) Ada dan Selalu Bersama Setiap Makhluk. (Misykatul Anwar)

Pada catatan sebelumnya, Al-Ghozali menerangkan bahwa ada dua jenis orang yang bisa sampai (wushul) kepada Allah. Yakni As-Shiddiqun dan Ulama al-Rosyikhun. 

Dan saya meyakini, Imam Al-Ghazali, pun wushul dengan keduanya. Kenapa? Karena Al-Ghazali menyatakan bahwa As-Shiddiqun alias orang-orang yang sampai ke Maqom paling tinggi dengan rasa (dzauq) dan mengalaminya langsung, lebih Koko dibanding mereka yang sampai dengan kekuatan an-nafsu an-natiqohnya.

Di catatan kali ini, Al-Ghazali menegaskan dengan lebih sederhana tentang segala sesuatu yang ada dan disebut cahaya itu ada yang cahaya (wujud) lahir dan cahaya batin.

Nah, Cahaya (Allah) hakikatnya akan selalu nempel (bersama) pada segala sesuatu tersebut, lahir ataupun batin. 

Segala sesuatu menjadi ada (tampak dan bercahaya) di alam lahir itu karena adanya Cahaya (Allah). Pun segala yang ada (tampak) di alam batin pun karena Allah. 

Sederhananya, segala sesuatu, semuanya tak terpisah dari Cahaya (Allah). Sebab, Cahaya (Allah) lah yang menyebabkan semuanya menjadi ada, menjadi tampak, menjadi terlihat.

Segala yang ada di alam batin, wujudnya ya semua hal yang terlihat dan nampak bagi mata (indera mata). Sementara segala sesuatu yang ada di alam batin, wujudnya seperti pengetahuan, ilmu, konsep, dan ide. Sederhananya, kemampuan seseorang untuk memahami dan mengerti sesuatu itu sebenarnya, ranahnya, berada di alam batin. 

Sayangnya, seringkali keberadaan (Adanya) Cahaya (Allah) pada segala sesuatu malah tidak disadari, bahkan dianggap tidak ada. Kenapa?

Seperti di catatan sebelumnya, Al-Ghozali menggambarkan seperti seseorang yang tengah menikmati pemandangan. Semua yang tampak di mata lahirnya hanyalah apa-apa yang bisa dilihatnya saja. Nah, dia sadar bahwa ada cahaya yang membuat semua terlihat, ketika sesuatu yang dilihatnya tidak bisa dilihat lagi.

Gambaran sederhananya, saya bisa melihat gunung, pepohonan, sawah, air terjun, rerumputan, bebungaan, dan hal-hal indah lainnya, pada siang hari. Nah, saya akan sadar bahwa ada cahaya yang membuat semuanya itu terlihat ketika matahari terbenam. 

Misal yang lebih sederhana, seperti kata Bung Roma Irama: "Kalau sudah tiada, baru terasa, Kehadirannya." Ya, begitu juga dengan cahaya saat saya melihat segala pemandangan. Seringkali saya tidak sadar dan tidak merasakan hadirnya cahaya. Saya baru sadar dan merasa adanya cahaya, ketika pemandangan tersebut tidak ada lagi tidak bisa dilihat lagi karena matahari terbenam.

Nah, gambaran seperti ini pula yang diungkapkan Al-Ghazali untuk menjelaskan orang-orang yang tidak percaya, tidak sadar, bahkan tidak tahu adanya Cahaya (Allah) pada segala sesuatu di alam lahir dan di alam batin.

Untuk membuat seseorang sadar dan tahu akan adanya sesuatu, metode dengan menyodorkan perbedaan bisa menjadi alternatif. Tapi, perlu dipahami dan dipertegas,  bahwa ada perbedaan antara cahaya lahir dan cahaya Ilahi. 

Cahaya lahiriah digambarkan bisa hilang dengan terbenamnya matahari. Sementara Cahaya Ilahi (Allah) yang membuat segala sesuatu menjadi tampak, tidak bisa digambarkan dan tidak bisa dibayangkan bisa hilang dan mustahil berubah. 

Sederhananya, cahaya lahir bisa hilang dan berubah. Seperti terbit dan tenggelamnya matahari. Sementara Cahaya (Allah) tidak akan bisa berubah dan tidak akan pernah hilang. Cahaya Allah akan terus menetap dan bersama segala sesuatu. Sebab, kalau Cahaya (Allah) digambarkan bisa berubah atau hilang, maka segala sesuatu akan tidak ada.

Metode seperti ini, yang membedakan Cahaya (Allah) antara ada dan tiada, yang disebut Al-Ghazali dengan "At-Tafriqoh" menjadi runtuh dan tidak bisa diterima. Sebab, pembuktian atau metode ini hanya bisa dipakai untuk segala sesuatu selain Allah. Ya, metode pembuktian ini tidak bisa dipakai untuk Allah. Kenapa? Sebab, Allah tidak bisa dibandingkan atau disandingkan dengan apapun. 

Kemudian ada lagi metode atau cara untuk membuat sesuatu menjadi lebih tampak dan ada. Atau untuk membuat sesuatu lebih terasa dan terlihat wujudnya. Yaitu dengan menghadapkan pada kebalikannya. 

Misalnya, siang dihadapkan dengan malam. Panas dihadapkan dengan dingin. Gelap dihadapkan dengan terang. Keras dihadapkan dengan lembut. Dan sebagainya.

Ya, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa segala sesuatu akan menjadi jelas (kehadiran, keberadaan, dan wujudnya) ketika dihadapkan dengan lawannya. 

Sayangnya, metode ini pun lagi-lagi hanya bisa digunakan untuk segala sesuatu selain Allah. Kenapa? Ya karena tidak ada yang bisa menandingi, menyamai, dan menyerupai Allah. 

Kemungkinan ketiga, kata Imam Al-Ghazali, Sesuatu yang tidak punya tandingan, yang tidak berubah, dan terus ada, seringkali menyebabkan orang-orang tidak menyadari bahwa sesuatu itu ada. 

Misal sederhananya, orang yang terus menerus sehat, seringkali tidak sadar dan tidak tau bagaiman rasanya sehat. Orang yang selalu miskin, seringkali malah merasa tidak miskin, karwna saking terbiasanya miskin. Orang yang selalu kaya, seringkali malah merasa dan tidak sadar bahwa ia kaya. Dan contoh lainnya.

Begitu pun dengan  Cahaya (Allah) yang ada dan terus bersama segala sesuatu di alam lahir dan alam batin, malah menjadi tidak disadari Ada-Nya.

Perlu dicatat, cahaya itu punya dua kemungkinan: menyinari dan menyilaukan. Nah, orang-orang yang tidak bisa melihat cahaya Allah, kemungkinan besar adalah mereka silau karena saking terangnya Cahaya (Allahh). Pun bisa jadi, karena manusia lebih memilih melihat yang ada secara lahir saja, entahlah.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 09022022


Arbabu Al-Bashoir: As-Shiddiqun dan Ulama Al-Rosikhun. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghazali memberikan gambaran lebih sederhana tentang segala sesuatu yang ada (bercahaya) di langit dan bumi (secara lahir) hakikatnya adalah Cahaya (Allah). 

Misalnya ketika seseorang jalan-jalan ke suatu tempat yang terdapat pemandangan alam yang indah. Ada pegunungan, air terjun, pepohonan, dan lain sebagainya. 

Semua pemandangan itu, bagi mata lahiriah, adalah hal yang ada. Karena tampak. Terlebih jika melihatnya di siang hari. Siapapun bisa melihat warna-warna hijau pepohonan. 

Saat seseorang melihat semua penampakan, ketertampakan, dan pemandangan tersebut, yang dilihat hanya yang tampak saja. Seperti hijaunya pepohonan, birunya langit, dan lain sebagainya. 

Nah, mereka yang melihat pemandangan tersebut akan mengira bahwa yang dilihat hanyalah apa yang dilihat tadi: hijaunya pepohonan, dll. 

Tapi, hakikatnya, semua yang tampak dan bisa dilihat itu (hijaunya pepohonan, dll) itu karena adanya cahaya. Hijaunya pepohonan bisa ada dan terlihat bukan karena dirinya sendiri, tapi karena ada cahaya yang membuatnya terlihat, tampak, dan bisa dilihat. 

Orang-orang yang hanya melihat secara materialistis seperti ini, akan tidak sadar adanya cahaya. Bahkan, mungkin akan mengingkari adanya "makna" cahaya bagi yang ada dan tampak tersebut. 

Ya makna. Makna itu sesuatu yang tak terlihat, tak tampak, tapi ada di sesuatu yang tampak. 

Misalnya angka 1. Ini adalah makna atau tidak terlihat. Sementara "1" adalah simbol atau representasi yang menunjukkan angka satu. 

Begitu juga dengan kata-kata, hingga kalimat. Semuanya hanyalah simbol dari "sesuatu" atau "pesan" atau "pengertian" dari yang ingin disampaikan atau dikatakan.

Malah, lebih jauh, huruf ABCDEFG dan seterusnya adalah simbol dari sesuatu yang disebut dengan "makna". 

Makna ini tidak terlihat. Tapi ada. Bahkan membuat segala sesuatu jadi ada dan bisa terlihat. Karenanya, perlu dibedakan antara simbol dan makna.

Termasuk hijaunya pepohonan, pemandangan yang dilihat mata lahir seseorang, semuanya hanyalah simbol dan representasi dari Cahaya. Cahaya yang menampakkan dan membuat segala sesuatu menjadi ada dan tampak. 

Ada kaidah dan hukum yang menarik yang disampaikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar.

Pertama, kenapa saat melihat pemandangan, yang terlihat oleh mata lahir, adalah hijaunya pepohonan, birunya langit, rerumputan, bebatuan, dan sungai, tapi justeru Cahaya yang membuat semua itu tampak malah seakan-akan tidak terlihat.

Ini seperti peribahasa: gajah di pelupuk mata, tak tampak. Semut di seberang, malah terlihat. 

Ini seperti tipuan mental atau tipuan akal. Seringkali orang tidak sadar ada sesuatu yang sangat besar di hadapannya. Kadang yang tampak malah tidak tampak. Dan yang tidak tampak tampak. 

Ya, kira-kira seperti itu kaidahnya. Terkadang, sesuatu yang sangat besar dan ada di dekat mata, malah menjadi tidak terlihat. 

Begitu juga dengan Cahaya yang membuat segala sesuatu menjadi tampak dan terlihat. Terkadang, Cahaya yang terlalu terang malah membuat silau dan membuatnya malah tak tampak.  

Al-Ghazali menyatakan sesuatu yang terlalu tampak, justeru seringkali menyebabkannya jadi tersembunyi dan tak terlihat. Kemudian, segala sesuatu yang melewati batas justeru terbalik dan malah menjadi kebalikannya.

Sederhananya: pertama, sesuatu yang sangat dan terlalu terang, justeru seringkali menyilaukan. Kedua, sesuatu yang terlalu tampak (terlalu menonjol) justeru seringkali malah jadi tidak tampak. Ketiga, sesuatu yang melewati batas justeru akan menjadi kebalikannya sesuatu tersebut. 

Begitu kira-kira gambaran yang lebih sederhana dari Al-Ghozali tentang Cahaya (Allah) yang Ada di setiap yang ada di bumi dan langit lahiriah ini.

Ah, keisengan saya kambuh. Membaca kita Misykatul Anwar di bagian ini, seakan menyentil kesadaran saya yang tertidur. Seringkali, segala sesuatu yang besar pengaruhnya, besar perannya, besar fungsinya justeru berada sangat dekat dengan diri ini. Sayangnya, seringkali pula saya tidak sadar akan hal tersebut. Terlebih ada bekal luar biasa istimewa yang diberikan Allah yaitu berupa an-nafsu an-natiqoh dalm diri ini. 

Pun seperti menyadarkan saya, bahwa segala sesuatu yang menyilaukan seringkali malah membuat saya tak bisa melihatnya dengan jelas. Apapun halnyang menyilaukan, terlebih hal yang terkait materialis dunia lahir, sepertinya malah akan membuat cahaya yang hakiki makin tak terlihat dan makin tak tampak. 

Kemudian Al-Ghazali menyatakan bahwa ada orang-orang yang disebut Arbabu Al-Bashoir. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketajaman mata batin. 

Orang-orang yang masuk Arbabu Al-Bashoir, ada yang melihat segala sesuatu dan langsung melihat Allah bersama sesuatu tersebut. Ada pula yang tidak melihat apapun (di dunia lahir ini) kecuali melihat Allah sebelum melihat segala sesuatu.

Saya jadi teringat perempuan bernama Annamarie Schimmel yang di batu nisannya tertulis sebuah hadits: "an-naasu niyaamun, faidzaa maata, intabahuu". Ia pernah menyatakan bahwa ada citra Tuhan di dalam sesuatu, di segala sesuatu ada citraan Tuhan.

Al-Ghazali mempertegas kembali tentang Arbabu Al-Bashoir. Ada yang melihat Allah setelah melihat sesuatu. Dan ada yang tidak bisa melihat sesuatu kalau tidak melihat Allah lebih dulu.

Arbabu Al-Bashoir yang pertama yang melihat Allah setelah melihat sesuatu ini seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah: 

أولم يكف بربك أنه على كل شيء شهيد

Sementara Arbabu Al-Bashoir yang kedua, diisyaratkan dalam firman Allah:

سنريهم آياتنا فى الافاق

Pandangan Al-Ghazali ini seperti makna Ihsan yang populer dalam sebuah hadits. Kira-kira makna Ihsan itu: beribadahlah seakan-akan kita melihat Allah. Kalaupun tidak bisa (melihat Allah), Allah yang melihat kita. 

Lalu Al-Ghazali menegaskan bahwa Arbabu Al-Bashoir yang pertama adalah mereka yang melakukan musyahadah. Yang melihat Allah dengan dzauq mereka. Yang langsung merasakan dan mengalami. 

Sementara yang kedua adalah mereka yang menggunakan istidlal. Menggunakan penalaran mereka yang kuat. 

Arbabu Al-Bashoir yang musyahadah, melihat Allah lalu melihat sesuatu (up down), sementara Arbabu Al-Bashoir yang istidlal, melihat sesuatu baru kemudian melihat Allah (buttom up). 

Arbabu Al-Bashoir yang musyahadah adalah derajat dan maqomnya para As-Shiddiqun. Sementara yang istidlal adalah derajat dan maqomnya para ulama  al-Rosyikhun.

As-Shiddiqun dan Ulama  al-Rosyikhun, keduanya, Kata Imam Al-Ghazali adalah orang-orang yang sampai ke Maqom Al-fardaniyah lalu Al-wahdaniyah.



Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 08022022

Senin, 07 Februari 2022

Insan Kamil, Manusia Paripurna: Tubuh dan Badannya di Bumi, tapi Ruhnya di "Langit" (Misykatul Anwar).

Al-muwahhid adalah sebutan Imam Al-Ghazali untuk mereka yang tauhidnya sudah sampai di tingkat "laa Huwa Illa Huwa". Bukan, kalimat Tauhid ini bukan diucapkan, tapi dirasakan dan langsung dialami oleh mereka yang sudah sampai pada Maqom al-fardaniyah. 

Perlu dicatat juga, dalam dunia metafisika (tasawuf) ada istilah Maqom dan ahwal. Maqom adalah tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas. Sementara ahwal adalah pengalaman-pengalaman atau rasa ketika ada di satu Maqom. 

Nah, sebagai manusia, tugasnya hanya ikhtiyar dan terus berusaha naik (mi'roj), tentu saja dengan berbagai riyadhoh, mujahadah. Adapun perihal hasilnya seseorang sampai pada Maqom apa, itu sepenuhnya adalah urusan Allah 'Azza Wajalla.

Gerakan, perilaku orang-orang muwahid alias orang yang maqomnya sudah di tingkat paling tinggi, yang sudah sampai pada Maqom al-fardaniyah, ketika turun ke bumi, kata Imam Al-Ghazali, adalah perilaku dan tingkah laku langit. 

Indera-inderanya, seperti indera penglihatan, pendengaran berasal dari langit di atasnya. Akalnya, mata batinnya, jiwanya, ruhnya, berada di langit. 

Para Al-Muwahhid ini naik dari langit akal (mata batin, jiwa, ruh, an-nafsu an-natiqoh) ke ujung mi'roj para makhluk. 

Ketika sudah sampai di sana, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kerajaan (kekuasaan) al-fardaniyah mereka yang tujuh lapis telah sempurna. 

Perlu dicatat, Al-Ghazali menyatakan bahwa ada tujuh lapis langit di atas dan tujuh lapis langit di dalam diri manusia. 

Sekali lagi, perlu ditegaskan. Langit, kerajaan, naik, dan kata-kata lain yang banyak tertulis dalam kitab Misykatul Anwar adalah kata-kata metafora atau perlambang. Jangan sekali-kali melihat dan memahaminya dengan pengertian lahir. 

Memahami Metafora atau perlambang (misal, amsal) caranya adalah mi'roj. Dengan mata batin, akal, jiwa, ruh, atau an-nafsu an-natiqoh yang "naik" ke alam metafisik. 

Metafora atau perlambang ini seringkali diambil dari objek-objek yang ada di bumi. Dalam Filsafat ada teknik heuristik, yakni teknik untuk memudahkan seseorang memahami konsep yang abstrak. 

Sederhananya, perlambang atau metaforanya (ada) di bumi, makna hakikinya ada di langit (sekali lagi, bukan langit yang lahir atau tampak oleh indera mata, tapi Langit di alam malakut). 

Kenapa mesti melihat dengan ta'wil? Karwna di dalam Al-Quran, begitu banyak perlambang dan metafora. Nah untuk memahaminya, diperlukan mata batin, akal, an-nafsu an-natiqoh, ruh, atau jiwa. 

Ta'wil ini berasal dari kata aala-yauulu-aulan yang artinya kembali. Maksudnya, kembali ke hakikatnya, kembali pada makna yang tak tampak atau tersembunyi. 

Kembali ke al-muwahhid tadi. Setelah mereka mi'roj, naik ke tingkat paling tinggi dan sampai pada maqom al-fardaniyah, setelah melewati 7 lapis "langit", Imam Al-Ghazali mengatakan mereka akan duduk di Maqom al-wahdaniyah. 

Dari maqom tersebut, mereka bisa mengatur tingkatan-tingkatan atau lapisan-lapisan langit dalam dirinya. 

Ketika mereka turun ke bumi, ia akan mengatakan sesungguhnya manusia diciptakan dari dari gambaran (cetakan) Allah yang Maha Rohman. Dan itulah hakikat atau ta'wil dari ucapan Al-Hallaj yang terkenal: "Ana Al-Haq" dan ucapan Abu Yazid Al-Bushtomi: "maa filjubbati Illallah".

Ini pun makna dari Firman Allah kepada Nabi Musa dalam hadits Qudsi: "Aku sakit, dan kau tak menjenguk-Ku" dan seperti hadits Qudsi pada catatan sebelumnya: "Aku (Allah) yang jadi pendengarannya, penglihatannya, dan lisannya."

Sederhananya, orang-orang al-muwahhid ketika telah sampai di Maqom al-fardaniyah dan duduk di singgasana al-wahdaniyah, kemudian mereka turun ke bumi, maka hanya jasadnya saja yang di bumi, tapi ruh, akal, dan mata batinnya di langit. Badannya di bumi, ruhnya di langit.

Secara fisik, mereka ada di bumi. Mata lahirnya, telinganya, lisannya, badannya, fisiknya ada di bumi. Tapi, akal, ruh, jiwa, pendengarannya, penglihatannya, dan ucapannya ada dan dan bersumber dari dan di "langit".

Inilah orang yang sempurna. Orang yang telah sampai pada Maqom al-fardaniyah dan al-wahdaniyah. Meskipun jasadnya di bumi, tapi ruhnya di "langit". 

Inilah insan kaamil, manusia paripurna. Seperti yang dikatakan Al-Jiili; manusia yang tubuhnya di bumi, tapi ruhnya di langit. Pun seperti yang dikatakan As-Suhrawardi: jasad-jasas bumi dengan hati langit.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 08022022




Minggu, 06 Februari 2022

Penglihatan, Pendengaran, Gerakan, hingga Ucapan Malaikat bahkan Penglihatan, Pendengaran, Gerak, dan Ucapan Tuhan Dalam Diri Seseorang. (Misykatul Anwar)

Puncak mi'roj bagi makhluk (manusia) adalah kekuasaan (kerajaan) ketunggalan atau kesendirian (الفردانية). Ia lebur dan tenggelam ke dalam Maha SendiriNya Allah. Dan itulah "naik" paling tinggi. Tidak ada lagi tempat naik yang lain. 

Kenapa istilah yang dipakai adalah mi'roj atau naik? Setidaknya ada tiga hal yang diungkap Imam al-Ghazali. Pertama, sesuatu disebut naik, itu karena memang ada (bahkan banyak) sesuatu di atasnya (المرقى لا يتصور إلا بكثرة).  

Analogi sederhananya kira-kira seperti seseorang lagi berdiri di lantai pertama pada rumah tiga lantai. Nah, kenapa naik? Karena ada lantai lebih tinggi dibatasnya. Begitupun dengan derajat dan Maqom manusia yang mesti naik. Karena di atasnya masih ada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Dan fitrah manusia mestinya naik ke tingkatan-tingkatan lebih tinggi tersebut, karena Allah sudah memberikan modal berupa an-nafsu an-natiqoh, mata batin, atau akal. 

Kedua, kenapa naik? Karena setiap makhluk atau manusia memang perlu relasi dan keterhubungan dengan yang lain. Keterhubungan ini menuntut setiap orang untuk naik ke Maqom lebih tinggi (إنه نوع إضافة يستدعي ما منه الإرتقاء)

Ketiga, adanya tujuan di "atas" sana yang membuat seseorang mesti naik (إليه الإرتقاء).

Ketika seseorang telah naik dan sampai pada "puncak" maka yang ada hanya Satu. Yang terjadi adalah dirinya melebur ke dalam Yang Maha Satu. 

Ketika dirinya melebur dan larut, seperti gula atau garam yang larut ke air hangat, maka tidak ada lagi hal lain (yang banyak tadi). Karena yang ada hanya Yang Satu. Ia tidak lagi mau yang lain, yang ia mau hanya Yang Satu. Yang ia lakukan adalah terus terlebur dengan Yang Maha Satu. 

Kalaupun ada perubahan lain dari keadaan tersebut, yang ada adalah ia turun ke bumi. Turun ke langit dunia. Al-Ghazali menerangkan, turun tersebut yaitu dengan melihat apapun (seperti) dari atas ke bawah. Karena paling atas pasti punya (dan ada) yang paling bawah. Tapi tidak ada lagi atasnya. Namanya juga paling atas dan paling tinggi, bukan? 

Keadaan seperti ini (naik dan mi'roj hingga mencapai Maqom al-fardaniyah) lah yang menjadi tujuan utama dari banyak tujuan dan (sejatinya) menjadi puncak permintaan seorang manusia. Kemudian akan percaya, tahu, dan mengerti orang-orang yang tahu. Tapi, orang-orang bodoh (tidak tahu) akan mengingkarinya.

Sebab, keadaan seperti itu, seperti hadits nabi yang menyatakan bahwa ada ilmu-ilmu yang tersembunyi (أن من العلم كهيئة المكنون). Karenanya akan wajar ketika ada orang yang percaya dan mengingkarinya. 

Al-Ghazali menegaskan, bahwa mereka yang tahu dan percaya adalah para Ulama Billah (العلماء بالله). Sementara yang mengingkarinya adalah mereka yang tertipu dengan Allah (أهل الغرة بالله). 

Di awal-awal kitab Misykatul Anwar ini, Al-Ghazali telah mengingatkan perihal orang-orang yang tertipu ini. Mereka seperti paham agama, tapi sebenarnya tidak. Mereka yang sering mengatasnamakan agama untuk menghina dan melabeli orang lain dengan sebutan yang buruk. Pun mereka yang selalu bilang bahwa merekalah yang paling benar untuk urusan agama. 

Kembali kepada orang-orang yang sudah sampai pada puncak "naik" dan mi'rojnya lalu turun ke alam dunia. Diterangkan bahwa turunnya mereka adalah turunnya malaikat. Bahkan, lebih jauh turunnya Allah. 

Ya, seseorang yang telah mencapai Maqom "fardaniyah mahdoh" atau lebur ke dalam Yang Maha Sendiru dan Maha Satu, kemudian turun ke bumi diibaratkan seperti turunnya para malaikat, bahkan seperti turunnya Allah ke Bumi. 

Sebab, keadaan mereka telah berbeda. Telah berubah. Mereka telah memiliki ma'rifat. Seperti yang tertulis dalam hadits Qudsi:

صرت سمعه الذى يسمع به و بصره و لسانه الذى ينطق به

Ya, orang-orang yang sudah mencapai ma'rifat, memiliki tubuh manusia, tapi kesadarannya adalah kesadaran malaikat, bahkan lebih jauh, kesadaran Tuhan. 

Ketika mereka melihat, mereka menggunakan penglihatan malaikat, bahkan Pendengaran Tuhan. Pun ketika mendengar, berbicara, hingga bertindak, yang melakukan semua itu adalah pendengaran, lisan, hingga gerakan Malaikat bahkan Tuhan. 

Karenanya, dalam sejarah di kenal ada ulama yang bernama Abu Mansur Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Bushtomi. Al-Ghazali menyebut bahwa Al-Hallaj dan Al-Bushtomi adalah orang yang sudah sampai pada Maqom "al-fardaniyah mahdoh". Sudah sampai pada Maqom lebur ke dalam yang Maha Satu. Sayangnya, ketika mereka turun ke bumi, keadaan mereka, dibilang Al-Ghazali, masih mabuk. Hingga mengatakan: "ana Al-Haq", Akulah Allah. 

Nah, berbeda dengan orang-orang yang telah sampai pada Maqom tertinggi lalu turun ke bumi, lalu sadar. Maka, yang terjadi adalah; pandangan, pendengaran, ucapan, dan gerak gerik mereka akan berubah yaitu memandang dengan pandangan Malaikat bahkan pandangan Allah. Pendengaran mereka pun pendengaran malaikat, bahkan Pendengaran Allah. Ucapan mereka pun ucapan malaikat, bahkan ucapan Allah. 

Analogi sederhananya kira-kira seperti ini: seseorang yang awalnya tidak mengerti dan tidak tahu dunia digital marketing, misalnya. Ketika ia belajar, lalu tahu, kemudian menguasai dunia digital marketing, maka yang ia lihat, dengar, dan lakukan akan berbeda dari sebelum ia tahu. Padahal matanya tetap sama, kupingnya tetap sama.

Contoh yang lain, ketika seseorang belajar sampai S3 bahkan mungkin sampai jadi profesor di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia, ia akan melihat Indonesia dengan pandangan yang berbeda. Iabakan melihat Indonesia dengan perspektif yang berbeda. Pun akan meliha Indonesia dengan penglihatan yang berbeda. Padahal, matanya, telinganya, lisannya dan Indonesianya masih sama seperti yang dulu. Yang membuat beda adalah perspektif, penglihatan, pandangan, dan pengetahuannya.

Begitu pula dengan orang-orang yang telah sampai ke Maqom tertinggi Dan paling tinggi, yang kemudian turun ke bumi. 

Keisengan saya kambuh. "Pandangan malaikat, bahkan Pandangan Tuhan" ini pun sepertinya bisa diterapkan untuk orang-orang yang masih berada di tingkat dan alam bawah. 

Misalnya, ketika melihat orang lain, melihat apapun yang ada di bumi, ketika kita menyadari bahwa ada pandangan Malaikat dan Pandangan Tuhan saat melihat semuanya, maka sepertinya tidak akan ada pandangan negatif, jelek, dan jahat kepada apapun dan kepada siapapun. 

Misalnya ketika kita melihat seorang maling dan tertangkap, ketika melihatnya dengan pandangan Malaikat, bahkan pandangan Tuhan, sepertinya aksi main hakim sendiri tidak akan terjadi. 

Semua dan apapun yang kita lihat, dengar, ucap, dan lakukan, ketika menggunakan kesadaran pandangan, pendengaran, lisan, dan gerak malaikat, bahkan Tuhan, sepertinya semuanya akan indah. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 06022022