Senin, 28 Februari 2022

Bagaimana Para Nabi Melihat "Shuroh" dan Makna di Balik "Shuroh". (Misyaktul Anwar)

Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa Nabi Pernah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak. 

رايت عبدالرحمن بن عوف يدخل الجنة حبوا

Mengenai hal ini, Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykatul Anwar menegaskan agar jangan pernah ada perkiraan dan sangkaan bahwa nabi Muhammad melihat hal tersebut hanya dengan mata batin. Tapi, Nabi Muhammad melihat hal tersebut saat sadar alias melek seperti melihatnya orang-orang yang tidur. Dan saat melihat hal tersebut, Abdurrahman bin Auf sendiri tengah tidur di rumahnya. 

Al-Ghozali kemudian menerangkan bahwa ketika seseorang tidur, penglihatan batinnya terlepas dari kekuasaan fisiknya. Artinya, ketika seseorang tidur, mata batinnya justeru menguat karena terlepas dari kekuasaan inderawinya (سلطان الحواس). 

Indera atau fisik seseorang, kata Imam al-Ghazali, adalah hal yang menyibukkan dan menarik seseorang pada alam inderawi semata. Kemudian indera atau fisik manusia justeru yang memalingkan perhatian, arah (wajah) seseorang dari alam gaib dan alam malakut. 

Sementara cahaya-cahaya (penglihatan) para nabi lebih berkuasa, lebih kuat dibanding kuasa alam fisik, alam lahiriah, dan alam inderawi. Karenanya penglihatan (batin) para nabi saat melek (terjaga) sama seperti penglihatan (batin) manusia saat tidur. 

Ketika penglihatan (batin) para nabi mencapai kesempurnaan, maka penglihatannya tersebut tidak terbatas saat mengetahui dan melihat pada esensi dan substansi gambar (Shuroh) yang dilihat. 

Penglihatan para nabi melampaui dari bentuk atau gambar secara fisik dan lahiriah, hingga tembus dan sampai pada rahasia (السر) dan makna batin. Lalu tersingkaplah bahwa iman (keimanan) akan menarik (seseorang) kepada alam yang diungkapkan dengan surga tadi. Dan itu adalah alam yang lebih tinggi dari alam lahirah. Sederhananya, keimanan yang ada pada diri seseorang, hakikatnya akan menarik dirinya untuk menuju dan naik pada alam yang lebih tinggi, yaitu alam gaib atau alam malakut.

Sementara, Al-Ghozali menegaskan bahwa kekayaan dan kepemilikan (harta dan duniawi) justeru menarik seseorang pada kehidupan yang ada alias alam yang rendah atau alam lahiriah ini. Dan ketika kekuatan duniawi lebih kuat dibanding kekuatan alam malakut, maka hal tersebutlah yang menghalangi seseorang berjalan menuju surga.

Sederhananya, dalam diri manusia seperti ada dua kutub yang saling tarik menarik. Kutub pertama adalah kutub dunia dan alam lahir ini. Kutub kedua, adalah keimanan atau alam malakut. Ketika kutub dunia lebih kuat, maka seseorang akan lebih tertarik pada kehidupan dunia lahir. Sementara ketika kutub alam malakut (alam gaib) lebih kuat, maka seseorang bisa naik ke alam malakut dan penglihatan mata batinnya akan semakin jelas, terang, dan kuat. 

Jadi, ketika seseorang beriman atau imannya kuat tapi ia masih kesulitan dan lambat dalam perjalanannya (menuju dan naik ke alam malakut karena sebab tarikan duniawi dan alam lahir) maka, Al-Ghozali menyebut perlambang dari hal tersebut dengan "merangkak" (الحبو). 

Dari penjelasan tersebut, Al-Ghozali kemudian menegaskan, bahwa semakin terang dan jelas pula bahwa cahaya-cahaya rahasia (alam malakut, alam gaib) di balik kaca al-khoyal (زجاجة الخيال) pada diri seseorang. 

Karena itu pula, hadits yang menerangkan bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak, bisa dibilang adalah perlambang atau metafora bagi orang-orang yang keimanannya kuat tapi pandangan duniawinya (alam lahirnya) pun kuat. Karena saling tarik menarik itu, maka seseorang yang hendak masuk surga (naik ke alam malakut) jadi merangkak. 

Dan karena penjelasan itu pula, Àl-Ghozali menegaskan bahwa penglihatan para nabi tidak terbatas ketika melihat sesuatu. Penglihatan mata batin nabi melampaui sesuatu yang dilihatnya. Dan penglihatan tersebut dilakukan saat nabi dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidak tidur. Beda dengan manusia, yang penglihatan mata batinnya akan kuat ketika tidur. Sebab ketika tidur, seseo ang terlepas dan terbebas dari penglihatan inderawi dan terbebas dari kuasa alam fisik ini.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 01032022


Rabu, 23 Februari 2022

Maqom Kaca bagi Manusia. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa makna dari "mencopot sandal" (خلع النعلين) yang diperintahkan kepada Nabi Musa, secara batin adalah melepas dua alam (dunia dan akhirat), pun secara lahir, nabi Musa memang benar-benar melepas kedua sandalnya. Sekali lagi, Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa manusia Sempurna adalah manusia yang memahami sesuatu dari makna lahir dan batinnya. 

Dan hal yang demikian itu disebut dengan "i'tibar" (الإعتبار). kata ini, terdapat beberapa kali dalam Al-Quran. Misalnya: "fa'tabiruu ya uulil abshoor". Nah, I'tibar secara bahasa berasal dari kata 'abaro-ya'buru-'ubuuron yang berarti melampaui atau melewati. Maksudnya, ketika memahami sesuatu tidak pemahaman secara lahir saja, tidak secara makna lahir saja, tapi melampaui dan melewatinya hingga sampai ke makna batin. 

I'tibar, lebih sederhananya bisa diartikan dengan mengambil "'ibroh" atau pelajaran dari sesuatu. Nah, pelajaran tersebut tidak sekadar pelajaran lahiriah tapi juga pelajaran batiniah. Tidak sekadar melihat dengan mata lahir saja, tapi juga melihat dengan mata batin. I'tibar dalam bahasa Inggris itu seperti "go beyond", melampaui makna lahir.

Perbedaan makna lahir dan batin tersebut, kemudian dicontohkan oleh Imam Al-Ghozali tentang pandangan orang-orang akan hadits nabi yang berbunyi: 

لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب أو صورة

Sebagian orang memaknai hadits tersebut dengan pandangan bahwa yang dimaksud bukanlah memlihara anjing secara lahir atau fisik. Tapi, mengosongkan rumah hati dari marah yang diperlambangkan dengan anjing. Ya, sebagian orang memaknai hadits tersebut dengan menghilangkan sifat marah dalam hati. Marah yang diperlambangkan dengan anjing. Karena sifat marah mencegah pengetahuan (ma'rifat) yang merupakan bagian dari cahaya-cahaya malaikat. 

Ya, bagi mereka, marah adalah "ghoulul 'aqli". Ghoulun secara harfiah berarti genderuwo-nya akal sehat. Tapi yang dimaksud adalah sesuatu yang menutupi kemampuan akal. Seperti orang-orang yang ketakutan saat melihat sesuatu yang seram, kemampuan akalnya saat ketakutan tersebut menjadi terhalang. Begitupun dengan marah dalam hati, yang menutup dan menghalangi pengetahuan masuk kebdalam diri seseorang.

Selain itu, anjing di hadits tersebut dimaknai bukan anjing secara lahir tapi dimaknai sebagai: keliaran, kebuasan, dan sikap agresif.  Karenanya, bagi mereka, menjaga rumah (secara lahir) tempat tinggal manusia dan badan dari anjing saja kewajiban, lebih-lebih menjaga rumah hati yang merupakan tempat "Jauhar", substansi yang bersifat hakikat dan khusus, menjadi sesuatu yang lebih utama.

Imam, Al-Ghozali mengajarkan agar melihat sesuatu, memaknai sesuatu, mengambil "i'tibar" dari sesuatu, itu dengan keduanya, yakni dengan makna lahir dan makna batin. Dan itulah "penglihatan" dan "pemahaman" yang sempurna. Seperti ungkapan para ahli hakikat dan ma'rifat: 

"الكامل من لا يطفئ نور معرفته نور ورعه"

Manusia yang sempurna adalah manusia yang cahaya pengetahuannya (ma'rifatnya) tidak memadamkan cahaya waro'-nya. Waro', secara sederhana bisa diartikan dengan menjauhi segala hal yang haram dan subhat. Ini berarti, manusia yang sempurna adalah manusia yang cahaya ma'rifatnya tidak membuat cahaya aksinya, cahaya Amaliah syariahnya hilang. Sederhananya, meski telah sampai di Maqom hakikat, ia tidak meninggalkan syari'at.

Karenanya, Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar menegaskan; orang-orang yang sempurna (al-kamil) tidak membiarkan dirinya meninggalkan aturan-aturan syariat dengan kesempurnaan mata batinnya (bashiroh-nya).

Sebab, kata Imam Al-Ghozali, ada sebagian orang yang salik (menuju hakikat dan ma'rifat) tergelincir dengan sikap permisif. Yakni, dengan menghilangkan hukum-hukum lahir dan zhohir. Misalnya dengan meninggalkan sholat. Ya, ada sebagian dari para salik yang tergelincir dengan meninggalkan sholat secara lahirz zhohir, dan syaria'at. Karena bagi mereka, mereka tetap sholat dengan batinnya. Bagi imam Al-Ghozali ini adalah kekeliruan.

Malah, Imam Al-Ghozali menyebut mereka yang seperti i itu dengan "al-hamqo" (الحمقى) alias orang-orang yang bebal (bodoh). Sebab, mereka berpendapat bahwa: 

إن الله غني عن عملنا

Ya, mereka bilang bahwa Allah tidak butuh Amaliah dan peke jaan syari'at kita. Hingga mereka lebih mengutamakan ibadah secara batin. Sekali lagi, bagi Al-Ghozali hal ini adalah bullshit "turhaatuun" alias omongan yang tak berguna. 

Sebaliknya, ada lagi orang-orang yang mengatakan bahwa batin manusia dipenuhi dengan hal-hal Bu UK dan sifat-sifat jelek. Karenanya tidak mungkin membersihkannya, tidak mungkin menyucikannya, tidak mungkin ada harapan untuk menghilangkan semua hal buruk tersebut dari batin manusia. Seperti tidak mungkinnya menghilangkan marah dan syahwat dalam diri seseorang. Al-Ghozali menegaskan bahwa hal tersebut adalah kebodohan dan kekeliruan.

Imam Al-Ghozali pun akhirnya mengingatkan bahwa marah dan syahwat manusia itu seperti mengendalikan kuda. Dan setan menggodanya hingga kuda tersebut tidak bisa dikendalikan hingga orang tersebut tertipu.

Perlu dicatat, di kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghozali menyebut bahwa marah dan syahwat bisa menjadi energi bagi kehidupan seseorang. Tapi, marah dan syahwat yang bisa dikendalikan. Hal ini pulalah yang membuat Allah memerintahkan kepada para malaikat agar "sujud" dan menghormati manusia. Sebab, manusia selain punya ruh, juga punya fisik, dan di dalam diri manusia ada marah dan syahwat yang jika bisa dikendalikan oleh manusia yang bersangkutan, justeru akan menjadi energi dahsyat. Energi yang bisa membangun dan menjadikan peradaban tak biasa. Di titik inilah setan iri pada manusia. Setan ingin manusia tidak bisa mengendalikan marah dan syahwatnya. Ya, sekali lagi, marah dan syahwat yang dikendalikan bisa menjadi kekuatan manusia yang tak terkira. 

Kembali pada pembahasan "mencopot sandal". Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa memaknai mencopot sandal secara lahir adalah benar (haq) dan memaknainya hingga sampai pada makna batin adalah hakikat. 

لكل حق حقيقة "Di setiap hak ada hakikat," tegas Al-Ghozali. Di setiap kebenaran terdapat hakikat.

Orang-orang yang sampai pada pengetahuan seperti itu, dikatakan Al-Ghozali adalah orang-orang yang sampai pada derajat "al-zujajah" (الزجاجة) alias derajatnya kaca (untuk lampu templok).

Al-Ghozali kembali mengingatkan tentang "al-khoyal" pada diri manusia. Kemampuan yang bisa menyimpan segala hal yang telah diindera manusia. Sederhananya, kemampuan memori manusia. 

Al-khoyal kata imam Al-Ghozali itu seperti sesuatu yang berasal dari tanah lempung. Sifatnya padat/pejal dan tebal (tidak transfaran). Karenanya, sifatnya itu membuat rahasia-rahasia batin terhalang dan tertutup antara manusia dan cahaya-cahaya. Ya, bisa dibilang, salah satu yang menghalangi seseorang mengoptimalkan kemampuan mata batinnya adalah karena sikap keras dan tebalnya "al-khoyal" pada dirinya.

Ketika "khoyal" tersebut bersih seperti kaca yang transfaran maka cahaya-cahaya malaikat, pengetahuan yang merupakan cahaya-cahaya malaikat, bisa terlihat. Tapi, ada pula yang malah seseorang tidak memiliki kaca tersebut. Yaitu, orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari sisi batinnya saja.

Sederhananya, kira-kira seperti ini: orang-orang yang telah sampai ke Maqom hakikat, perlambangnya seperti kaca (untuk lampu templok). Orang-orang mesti membersihkan segala sesuatu di "khoyal"nya agar cahaya itu bisa terlihat.  Pun orang-orang yang telah sampai, mesti punya kaca tersebut agar api di lampu templok tersebut tidak mudah padam.

Penjelasan lainnya: orang-orang yang hanya melihat syariat, itu seperti lampu templok. Ada apinya, tapi kaca yang menutupi api tersebut kotor, hingga cahayanya malah jadi tak terlihat. Sementara orang-orang hanya melihat hakikat, sisi batin (kebatinan) saja, seperti api pada lampu templok yang tidak ada kacanya. 

Imam Al-Ghozali mengingatkan dan menerangkan, bahwa alam khoyal yang tebal (tidak transfaran) tersebut, dalam konteks para nabi adalah "kaca" (الزجاجة), dan ceruk tempat menaruh cahaya lampu templok (مشكاة الأنوار) dan tempat membersihkan (menyuling, memfilter) rahasia-rahasia batin (مصفاة الاسرار), dan tangga menuju alam malakut (مؤقتة إلى العالم الاعلى). Sederhanya, alam khoyal itu adalah kaca yang jika dibersihkan bisa membuat seseorang naik (mi'roj) ke alam malakut dan alam hakikat. Pun kaca yang bisa melindungi api "hakikat dan ma'rifat" seseorang tidak mudah padam.

Karena penjelasan itu semua, maka Mitsal, metafora dan Perlambang secara lahir adalah benar (haq) dan di baliknya ada rahasia batin yang merupakan hakikat. Dan perlambang dalam Al-Quran untuk hal tersebut adalah gunung "at-Thur" (الطور), api (النار), dan sebagainya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 24022022



Selasa, 22 Februari 2022

Manusia Sempurna (Insan Kamil) menurut Imam Al-Ghozali. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghozali menegaskan dalam kitab Misykatul Anwar, kalau bukan karena Rahmat Allah maka manusia tidak akan bisa mengetahui siapa yang menjaga dan mengatur diri dan kehidupannya. Yakni, Manusia tidak akan tahu Tuhannya. Dan manusia tidak akan tahu Tuhannya kecuali manusia mengenal dirinya. 

Seperti catatan ngaji sebelumnya, bahwa manusia dan alam semesta diciptakan dari sifat Rohmannya Allah. Lebih jauh, segala yang ada di bumi dan langit ini, termasuk semua makhluk, hakikatnya karena sifat Rohman Allah. 

Imam Al-Ghozali menegaskan sekali lagi bahwa semuanya berasal dari gambaran sifat Rohman Allah, bukan gambaran Allah itu sendiri.

Perlu dicatat, Kehadirat Allah setidaknya ada kehadirat ketuhanan (حضرة الالهية), yakni Allah yang menjadi sesembahan segala makhluk. Ada kehadirat kekuasaan dan Kerajaan ketuhanan (حضرة الملك) yakni Allah yang menjadi Penguasa (Raja) segala hal. Ada pula kehadirat ketuhanan yang bersifat rububiyah (حضرة الربوبية), yakni Allah yang menjaga dan mengatur segala hal. Pun ada kehadiran kasih sayang Allah (حضرة الرحمة), yakni Sifat Allah yang menjadikan dan menciptakan segala hal.

Karenanya di dalam surat An-Nas, manusia diperintah untuk berlindung kepada semua kehadirat Ketuhanan tersebut. Yakni berlindung kepada Tuhan sebagai "rob", kepada Tuhan sebagai "Sesembahan", dan kepada Tuhan sebagai "penguasa" manusia.

Dan itulah makna dari hadits nabi yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari gambaran sifat kasih sayang (Rohman) Allah خلق آدم على صورة الرحمن.

Kitab Misykatul Anwar bisa dibilang kitab tasawuf falsafi. Yang bagivsebagian orang mungkin memusingkan. Kitab ini beda dengan kitab Ihya Ulumuddin yang bisa dibilang kitab tasawuf akhlaqi, yang lebih mudah dipahami dan diaplikasikan. 

Karenanya, di penghujung bagian kedua kitab Misykatul Anwar ini, Al-Ghozali menegaskan ketika orang-orang yang membaca kitab Misykatul Anwar ini pusing atau tidak mengerti, Al-Ghozali mengingatkan agar menghibur diri dengan ingat ayat Al-Qur'an yang berbunyi: 

انزل من السماء ماء فسالت أودية بقدرها

Tafsiran lahirnya: Allah menurunkan air (dari langit) kemudian air itu mengalir kepada sungai-sungai (wadah) yang sesuai dengan kadarnya masing-masing. 

Imam Al-Ghozali menegaskan, makna lain (batin) dari air tersebut adalah pengetahuan dan Al-Quran. Sementara sungai (اودية) dimaknai sebagai hati (قلب).

Ya, kemampuan untuk menerima dan memahami pengetahuan dalam diri manusia, kata Imam al-Ghazali bukanlah otak (brain) tapi hati. Mungkin, seperti mind (pikiran) dalam bahasa Inggris. 

Nah, kemampuan manusia dalam menerima dan memahami pengetahuan dari Allah, kata Al-Ghozali, berbeda-beda kadarnya. Ada yang sangat bagus, ada yang bagus, ada yang biasa, hingga ada yang sangat biasa, dan seterusnya. 

Selain itu, setiap orang pun dalam menerima dan memahami pengetahuan, ada yang menangkap dan bisa memahami pengetahuan-pengetahuan tertentu saja. Ada orang yang sangat bagus menerima pengetahuan terkait hadits. Ada yang bagus di tafsir. Ada yang bagus tentang pengetahuan ekonomi. Ada yang bagus di fisika. Ada yang sangat bagus di matematika. Dan seterusnya. 

Sederhananya, bisa dibilang, setiap orang punya kemampuan menerima dan memahami pengetahuan masing-masing sesuai dengan kadarnya. Tapi, yang pasti dan bisa dipastikan, setiap orang akan menerima "air" pengetahuan dari Allah. Soal banyak atau sedikitnya, lagi-lagi sesuai kadar masing-masing. 

Di penutup bagian kedua kitab Misykatul Anwar, Imam Al-Ghozali sekali lagi menegaskan, meski kitab Misykatul Anwar ini lebih condong membahas tentang makna batin, tapi Imam Al-Ghazali tidak menampik bahkan tidak serta Merta menghilangkan dan mengenyampingkan makna lahir. 

Seperti ketika saya membahas tentang perintah Allah kepada nabi Musa agar mencopot dua sandalnya. Imam Al-Ghozali tidak serta Merta bilang bahwa nabi Musa tidak memakai sandal karena melihat makna batinnya saja.

Tidak. Al-Ghozali menegaskan bahwa nabi Musa, secara lahir memang memakai sandal dan Allah memerintahkan agar melepas kedua sandal tersebut. Lalu lebih jauh, Al-Ghozali melihat makna batin dari hal tersebut.

Al-Ghozali malah dengan tegas berlindung kepada Allah, agar terhindar dari "penampikan" makna-makna lahir tersebut seperti pandangan kaum "kebatinan" yang hanya melihat makna batin. Al-Ghozali malah menyebut mereka dengan orang-orang yang melihat sesuatu hanya dengan satu mata. Hanya dengan mata sebelah. نظروا بالعين العوراء.

Ya, Kaum "kebatinan" adalah mereka yang menampik pandangan kaum "hasyawiyah", yakni orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari makna lahirnya saja. 

Al-Ghozali menegaskan bahwa orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari segi lahirnya saja, makna lahirnya saja, disebut dengan kaum "hasyawiyun". Sementara orang-orang yang melihat sesuatu hanya dari segi batin dan makna batinnya saja disebut dengan kaum "bathiniyyun". 

Nah, orang yang sempurna, manusia yang sempurna, kata Al-Ghozali adalah orang-orang yang melihat sesuatu, menerima dan memahami suatu pengetahuan dengan menggunakan dan melihat keduanya. Yaitu melihat makna lahir dan makna batinnya. 

Dan ini seperti hadits nabi, walau ada beberapa yang bilang bahwa ini adalah "atsar" sahabat karena berhenti di Ali Bin Abi Thalib: 

القرآن ظاهر و باطن و حد و مطلع

Al-Quran itu memiliki unsur lahir, batin, batas (batasan antara lahir dan batin), dan Al-Quran punya "mathla'un", yakni sesuatu yang muncul dari batas tersebut. 

Ini seperti syariat. Ya, sesuatu yang lahir seperti syariat. Sementara yang batin, seperti hakikat. Beragama, kalau hanya unsur syariatnya saja, maka akan terasa kering. Pun kalau hanya unsur hakikatnya saja, akan timpang. Seperti ilmu fikih, Ushul fiqh, dan lain-lain, itu adalah ilmu lahir. Dan ilmu tasawuf adalah ilmu batin. 

Nah, Al-Ghozali menegaskan bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang melihat sesuatu secara lahir dan batin. Tentu saja didasari dengan tauhid yang mumpuni. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 23022022



Minggu, 20 Februari 2022

Bentuk Manusia (Shurotu Adam) Adalah Bentuk Kasih Sayang Allah (Shurotu Ar-Rohman). (Misykatul Anwar).

Pada catatan ngaji sebelumnya, telah diterangkan bahwa segala sesuatu di alam syahadah, sudah ada purwarupa atau prototipenya di alam malakut. 

Nah, di alam malakut ada sesuatu yang bisa mencetak (menuliskan) pengetahuan-pengetahuan dengan detak dan rinci. Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa perlambang atau "Mitsal" dari hal tersebut adalah "pena". 

Ya, pena. Sederhananya, pena adalah simbol atau metafora dari kekuatan batin dalam diri manusia yang mampu memahami pengetahuan-pengetahuan secara rinci. 

Kemampuan yang dimetaforakan dengan pena tersebut, bisa pindah atau terukir pada sesuatu di alam malakut yang perlambangnya adalah "Al-Lauh, al-kitab, dan Ar-roqqul Mansyur". Al-Lauh adalah tablet atau papan yang digunakan untuk terukirnya tulisan-tulisan. Al-kitab adalah kitab. Ar-roqqul adalah kertas dari kulit binatang, Al-mansyur adalah yang terbuka, terhampar.

Nah, sesuatu yang bisa menggerakkan atau menundukkan "pena" serta "kertas" tersebut, perlambangnya adalah "tangan" (اليد).

Ketika "pena" ditambah "kertas" lalu ditambah "tangan", maka jadilah ini metafora atau perlambang yang disebut Al-Ghazali dengan "gambar" atau "bentuk" (الصورة).

Bisa dibilang inilah rumus "sederhana" dari pengetahuan. Awalnya, segala pengetahuan seperti kabut, seperti gumpalan awan. Belum jelas dan samar. Kemudian ada sesuatu yang disebut "pena" yang mendetailkan serta merincinya hingga bentuknya mulai terlihat. Hingga bentuknya mulai jelas.

Sederhananya, pena itu untuk menuliskan huruf-huruf, jadilah kata. Kemudian kata-kata disusun, jadilah kalimat. Kalimat-kalimat disusun, jadilah paragraf. Dan seterusnya, hingga jadi satu gambaran jelas dan detail tentang sesuatu (pengetahuan).

Nah, penjabaran, pendetailan, serta perincian tersebut, membutuhkan media untuk memindahkan pengetahuan yang abstrak tadi. Maka hadirlah "Mitsal" yang disebut "kertas" atau "kitab". 

"Pena" dan "kertas" saja tidak cukup. Perlu ada sesuatu yang menggerakkan pena tersebut untuk mengukir kertas, dan "Mitsal" hal tersebut adalah "tangan". Gabungan semua itu, jadilah gambar, bentuk atau "as-ahuroh".

Bisa dibilang, segala sesuatu, semuanya, apapun itu yang ada di alam malakut adalah informasi. Layaknya ilmu dan pengetahuan, semuanya adalah informasi. Nah, informasi itu (pengetahuan) awalnya abstrak. Agar jelas dan berbentuk, maka perlu diurutkan dan didetailkan. Dan inilah struktur.

Termasuk gambar dan bentuk yang bersifat manusia (bentuk manusia) kata Al-Ghazali, adalah bagian yang terhubung dan bagian dari struktur yang berasal atau bersumber dari "gambaran atau bentuk Ar-Rohman" (صورة الرحمن). Ya, sederhananya, manusia adalah gambaran "Ar-Rohman. 

Ar-Rohman adalah salah satu sifat dari sekian banyak sifat Allah. Bisa dibilang, manusia diciptakan dari sifat Allah yang Maha Kasih Sayang. Karenanya, perlu dibedakan antara bentuk kasih sayang Allah (صورة الرحمن) dengan "bentuk" Allah (صورة الله). 

Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa Rahmat Ketuhanan alias Rahmat Allah lah yang membentuk kehadiran Ketuhanan itu sendiri. Dan Rahmat Ketuhanan inilah yang kemudian diberikan kepada Adam (manusia), alias menjadikan Adam (manusia) sebagai "gambaran ringkas" (صورة مختصرة) segala hal yang ada di alam. Al-Ghozali menerangkan bahwa manusia adalah naskah (نسخة) dari alam versi ringkas.

Ya, sekali lagi, bentuk atau gambar manusia (صورة آدم) adalah bentuk Rahmat Allah (صورة الرحمن). Dan Al-Ghozali menegaskan, bahwa bentuk tersebut ditulis atau diukir dengan "khot Allah" (مكتوبة بخط الله). 

Sungguh, manusia itu luar biasa. Karena ditulis oleh "khot" Allah. Khot Ketuhanan yang tidak punya bentuk aksara atau huruf. Alias tidak berupa aksara dan tidak berbentuk huruf. 

Khot Allah terbebas (terlepas) dari aksara dan huruf, kata Al-Ghozali, sebagaimana terlepas dan terbebasnya Kalam Allah dari suara dan huruf, sebagaimana terbebasnya "Pena" Allah dari kayu dan gagang (bentuk), dan sebagaimana terbebasnya "tangan" Allah dari daging dan tulang (bentuk).

Allah a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 21022022



 

Sabtu, 19 Februari 2022

Pena dan Kertas. (Misykatul Anwar)

Apapun yang ada di dunia dan langit syahadah (tampak ini), hakekatnya sudah ada prototipe atau purwarupanya di alam malakut. Semua itu bisa dibilang pengetahuan-pengetahuan. Air-air pengetahuan. 

Nah, Al-Ghozali menerangkan, ketika manusia "naik" (mi'roj) ke hadirat Allah, menuju pada Allah, ada sesuatu di alam malakut (alam gaib) yang mengukir atau mencetak segala ilmu dan pengetahuan dengan detail pada sesuatu yang ada yang disebut dengan substansi yang menerimanya (الجواهر القابلة). 

Perlu diterangkan kembali. Dalam filsafat Islam, ada istilah Jauhar dan 'arodh. Jauhar itu substansi. 'Arodh, itu aksidental, seperti sifat, warna, bentuk, dan rupa yang melekat. Contohnya, misalnya rumah. Rumah itu kita sebut saja sebagai substansi, nah, 'arodhnya adalah, warnanya, bentuk rumahnya, temboknya, dan seterusnya. 

Nah, di alam malakut, ada Jauhar yang bisa "mewujudkan" ilmu-ilmu dan pengetahuan secara detail. Dan Al-Ghozali menyebut perlambang atau metafora hal tersebut di dalam Al-Quran adalah "pena" (القلم). Ya, pulpen. 

Pena ini perlambang atau metafora yanh digunakan untuk menunjuk pada hal dan sesuatu yang membuat sesuatu menjadi detail dan jelas. 

Sederhananya, pena membuat suatu pengetahuan yang awalnya abstrak, masih berbentuk ide, kemudian diubah menjadi pengetahuan yang jelas bentuknya.  Analogi sederhananya. Misalnya saya punya ide ingin menulis tentang rindu pada seorang perempuan yang senyumnya sangat manis dan indah. 

Ide menulis ini, masih abstrak. Belum jelas. Nah, untuk membuatnya menjadi jelas, saya wujudkan keinginan menulis itu, misalnya ke dalam sebuah puisi atau cerita atau pantun. Nah, yang awalnya ide, kemudian didetailkan sedemikian rupa hingga menjadi sebuah tulisan tentang rindu tersebut, dimetaforakan, digambarkan dengan pena.

Kemudian, ilmu-ilmu yang detail tersebut dipindahkan ke sesuatu yang lain. Nah, "media" memindahkan sesuatu yang didetailkan oleh pena tadi, perlambang atau metafora yang digunakan dalam Al-Quran adalah "al-lauh, kitab, dan al-Roqqul Mansyur" (اللوح والكتاب والرق المنشور).

Kalau diartikan dengan sederhana, Al-Lauh adalah tablet atau papan yang digunakan untuk menulis. Kitab adalah buku. Dan Ar-roqqul Mansyur adalah kertas yang terhampar atau kertas yang terbuka. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 20022022

Jumat, 18 Februari 2022

Khobar, jadzwah: Ilmu Yang "Menyatu" dengan Diri. (Misykatul Anwar)

Di catatan ngaji sebelumnya, diterangkan bahwa manusia menerima air-air pengetahuan melalui perantara ruh para nabi dan ulama. 

Nah, Imam Al-Ghazali kemudian menyebut ruh para nabi itu sebagai "sirojan muniron" alias lampu yang bercahaya dengan terang benderang. 

Lebih jauh lagi, Ruh para nabi tersebut diambil melalui Wahyu Allah. Sederhananya, ruh nabi adalah Wahyu. Seperti firman Allah: (اوحينا اليك روحا من امرنا). Dan al-Ghazali, menerangkan bahwa perlambang atau metafora dari "diambilnya" ruh nabi yang berasal dari Wahyu tersebut dengan api (النار). 

Kalau digambarkan dengan lebih sederhana lagi, api itu cahaya. Nah, Wahyu adalah cahaya. Begitu juga dengan ilmu. Nah, cahaya inilah yang kemudian diambil oleh para ulama. Hingga para ulama disebut sebagai "warotsatul anbiya", alias pewaris para nabi. Kemudian manusia mengambil cahaya dari para ulama sebagai cahaya untuk dirinya. Sebagai ilmunya. 

Karenanya, derajat para ulama mendekati dpara nabi. Malah, Ahmad Syauqi, seorang penyair yang mendapat julukan "amiirus syu'aro" pernah menulis: 
قم للمعلم زفه التبجيلا # كاد المعلم ان يكون رسولا

Kembali pada para nabi. Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa derajat dan tingkatan para nabi pun berbeda-beda dalam menangkap dan menerima Wahyu. Ada nabi yang mengikut dan menuruti saja Wahyu yang didengarnya, tapi ada nabi yang benar-benar memahami Wahyu yang diterima dengan mata batinnya (dengan bashirohnya).

Nah, perlambang atau metafora dari para nabi yang hanya manut, ikut, dan mendengar saja Wahyu yang diterima, kata Imam al-Ghazali adalah "al-khobar". Sekadar kabar. Sementara perlambang atau metafora tentang para nabi yang memahami betul Wahyu yang diterima, adalah "al-jadzwah, al-qobas, dan as-syihab". Jadzwah adalah arang yang menyala. Qobas itu obor. Sementara Syihab adalah lampu yang menyala. 

Nah, "Khobar" dan "jadzwah" ini pun seperti tingkat pengetahuan manusia. Seseorang yang baru membaca, menerima informasi, melihat berita, belajar sesuatu, bisa dibilang masih berada di tingkat Khobar. Di tingkat menerima kabar atau informasi saja. Di tingkat menerima ilmu saja. 

Informasi atau ilmu tersebut baru bisa naik menjadi jadzwah jika ilmu dan informasi tersebut benar-benar dipahami. Contoh sederhananya, seseorang yang belajar tentang ilmu komputer, misalnya. Ketika ia mempelajari semua ilmu terkait komputer, ini yang dikatakan dengan tingkat Khobar. Tapi, ketika ilmu tersebut benar-benar dipahami, dan ilmu itu menjadi bagian dari dirinya, sehingga ketika dia melakukan sesuatu terhadap komputer, seakan-akan komputer itu adalah dirinya, inilah tingkat jadzwah.

Termasuk disiplin ilmu yang lain. Atau bidang-bidang yang lain. Bisa di dunia kesenian, dunia olahraga, dunia bisnis, dan dunia apapun. Ketika ilmu atau keterampilan yang dipelajarinya dan dilatihnya sudah seperti menjadi bagian dari dirinya, maka itulah tingkat jadzwah. Misalnya pembalap. Ketika ia balap, sepeda motornya sudah seperti bagian dari dirinya, dan menjadi atau menyatu ke dalam dirinya, itulah jadzwah. 

Dan orang-orang yang "jadzwah" tersebut, kata Al-Ghazali, adalah orang-orang yang disebut dengan "shohibu al-dzauq" alias orang-orang yang merasakan langsung tentang sesuatu yang diterimanya. Nah, "shohibu al-dzauq" ini bisa mengikuti para nabi untuk beberapa keadaan kebatinan. Suasana batin para nabi, bisa dirasakan oleh para "shohibu al-dzauq" ini. Dan perlambang atau metafora untuk ini adalah "al-ishthilaa" (الاصطلاء). 

Al-ishthilaa secara sederhana bisa diartikan dengan proses arang menjadi api. Dan hakikatnya, proses menjadi api ini mesti merasakan apinya langsung, tidak sekadar mendengar kabarnya saja. 

Analogi sederhananya adalah ada dua orang dan sate. Yang satu mendengar kabar bahwa sate "anu" itu enak. Sementara yang satu lagi langsung merasakan sate "anu" tersebut. Yang satu, hanya dengar, yang satu langsung merasakan. Kira-kira, yang mana yang lebih memahami enaknya sate tersebut?

Al-Ghozali kemudian lebih dalam dan naik lagi membahas tentang perlambang dan metafora yang ada dalam Al-Quran. 

Beliau menegaskan bahwa langkah (Maqom) pertama para nabi menjadi nabi adalah dengan "naik" (الترفى) ke alam yang suci dengan melepaskan "kotoran-kotoran" (yang bersifat) jasmani alias inderawi dan (yang bersifat) "khoyali".

Di catatan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa di dalam diri setiap manusia ada sesuatu yang bisa menyimpan segala hal yang terdeteksi oleh inderanya. Apapun yang dilihat, didengar, diraba, dicecap, dan dialami, semua itu terekam dan tersimpan di dalam sesuatu yang bernama "al-khoyal" dalam diri manusia. Al-khoyal ini sudah masuk alam batin tapi masih dekat dengan alam nyata dan alam fisik. 

Nah, para nabi, langkah pertama mereka ketika menjadi nabi adalah melepaskan sua hal yang terkait alam jasmani atau alam fisik dan segala hal yang ada di dalam al-khoyal tersebut. Proses melepaskan diri dari kedua hal tersebut, dan tempat langkah pertama tersebut, metaforanya menurut Imam Al-Ghazali adalah lembah yang suci (الوادى المقدس). 

Dan Imam Al-Ghozali menegaskan, tidak mungkin menginjakkan dan menapakkan kaki di lembah yang suci (الوادى المقدس) tersebut kecuali dengan membuang dua alam, yakni dunia dan akhirat. Ya, bagi para nabi, tidak ada lagi dunia dan akhirat. Sebab, ketika para nabi "naik" yang ada dalam ruh mereka hanyalah menuju Allah. Hanyalah menghadap kepada "Al-wahidil Haq" (الواحد الحق).

Karena dunia dan akhirat, kata al-Ghazali, adalah dua hal yang saling berhadapan dan salinh tarik menarik. Dan keduanya, adalah hal yang aksidental untuk substansi cahaya batin (nurani) manusia.

Nah, membuang dunia dan akhirat itu, seperti ihrom persiapan untuk menghadap kepada Ka'bah yang suci, dan metaforanya menurut Imam Al-Ghazali adalah "melepas dua sandal" (خلع النعلين). 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 19022022



Kamis, 17 Februari 2022

Hati Manusia adalah Kolam yang Menampung Air-Air Pengetahuan. (Misykatul Anwar)

Pola Atau paradigma (anmuzaj) selanjutnya yang diterangkan Imam Al-Ghazali untuk memahami dan melihat metafora atau perlambang dalam Al-Quran, adalah tabir mimpi Alia takwil mimpi alias menafsir mimpi (التعبير). Ya, ilmu ta'bir atau takwil mimpi bisa kasih tahu kita cara dan memahami perlambang atau metafora. Karena, kata al-Ghazali, mimpi itu bagian dari kenabian.

Abu Hamid Al-Ghozali kemudian memberikan contoh. Ketika kita melihat matahari dalam mimpi, ta'birnya atau takwilnya adalah seorang raja atau sultan. Ya matahari adalah perlambang dari seorang raja. Karena antara raja dan matahari memiliki kesamaan dan kesetaraan pada makna ruhaninya, yaitu kesamaan pada posisi tingginya terhadap semua orang dan mengalirnya pengaruh atau cahayanya pada semua.

Kemudian ketika kita mimpi melihat rembulan, maka takwil mimpinya adalah seorang menteri. Karena kaitan cahayanya dengan matahari ketika matahari terbenam. Hal tersebut sebagaimana cahaya seorang raja bisa diwakilkan kepada menteri ketika sang raja tidak ada di tempat, misalnya.

Sementara siapapun yang mimpi melihat di tangannya ada cincin. Kemudian dengan cincin tersebut ia menutup mulutnya para laki-laki dan menutup alat vitalnya perempuan, maka takwil mimpi tersebut ia adalah seorang muadzin yang adzan sebelum subuh ketika romadhon.

Perlu di catat, saat itu, profesi muadzin adalah salah satu profesi yang prestisius, terlebih ketika menjadi muadzin di masjid yang para raja dan sultan solat di di situ. 

Dan mengunci mulut laki-laki serta menutup alat vital perempuan adalah metafora dari puasa. Yakni, tidak boleh makan dan minum dan tidak boleh berhubungan badan dengan pasangan.

Kemudian al-Ghazali menyebut siapapun yang mimpi menuang minyak biasa ke dalam minyak zaitun, maka takwil mimpi tersebut ada budak perempuan yang dimilikinya yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri sementara ia tidak tahu. Perlu di catat, di zaman itu, memang masih terjadi jual beli budak. 

Imam Al-Ghozali menegaskan dalam kitab Misykatul Anwar bahwa ilmu tabir mimpi atau takwil mimpi ini begitu banyak jumlahnya. Tapi, karena fokus al-Ghazali tidak untuk menerangkan ilmu tersebut, tapi hanya untuk menjadikannya sebagai pola, cetakan, atau paradigma untuk memahami metafora atau perlambang dalam Al-Quran, Al-Ghozali mencukupkan pemberian contoh sampai di situ. 

Al-Ghazali kembali pada penjelasan tentang bagaimana melihat dan memahami metafora atau perlambang dalam Al-Quran.

Imam Al-Ghozali menegaskan tentang sesuatu maujud (ada) yang tetap, tidak berubah, agung, tidak kecil yang mengalir darinya air-air pengetahuan (مياه المعارف) dan ketersingkapan yang berharga (نفائش المكاشفات) kepada hati manusia (jiwa manusia), yang perlambangnya atau metaforanya adalah "at-thur" (الطور) alias gunung. Seperti dalam surat at-thin.

Ya, gunung adalah metafora untuk menggambarkan sesuatu yang besar dan darinya mengalir air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga kepada hati, jiwa, atau mata batin manusia. Bisa dibilang, hati manusia, jiwa manusia, ruh manusia, mata batin manusia adalah kolam yang menampung limpahan dan aliran air-air pengetahuan yang tak terkira banyaknya itu. 

Tapi, lagi-lagi perlu dicatat, bahwa setiap manusia memiliki kapasitas kolam yang berbeda-beda. Ada yang sangat luas, ada yang tak terlalu luas, bahkan ada yang kecil. Tapi, setidaknya, setiap orang bisa dipastikan menerima limpahan dan aliran air-air pengetahuan tersebut. 

Nah perantara atau wasilah (jalan) mengalirnya air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga tersebut, Al-Ghozali menerangkan bahwa simbolnya, metaforanya, perlambangnya adalah "الوادى" atau sungai-sungai. 

Hubungan antara air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga tersebut dengan hati, jiwa, ruh, mata batin manusia pun mengalir dari hati ke hati. Antar hati. 

Dan hati hati ini pun, kata imam Al-Ghozali memiliki sungai (alirannya sendiri). Pembuka sungai tersebut adalah hatinya para nabi. Kemudian hatinya para ulama. 

Makanya, bisa dibilang, manusia menerima air-air pengetahuan dan ketersingkapan yang berharga dihantarkam atau dialirkan dari hatinya para nabi dan hatinya para ulama. 

Imam Al-Ghozali menyebut Sungai pertama atau hati para nabi itu dengan "al-wadi al-ayman" (الوادى الايمن) karena banyak berkahnya dan tinggi derajatnya. 

Perlu di catat, asal kata "aiman" adalah "yumnun" yang artinya berkah, membuncah, dan meluap-luap.

Sementara untuk "al-wadi" yang di bawahnya, yaitu hati para ulama, Al-Ghozali menyebutnya dengan "syathi al-wadi al-aiman" (شاطئ الوادى الايمن) alias pinggirnya sungai. Bukan tengahnya dan bukan sumbernya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 18022022


Metafora Allah dan Makna Surat Al-Ikhlas. (Misykatul Anwar)

Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa orang-orang yang berjalan menuju Allah (salik) di antaranya ada yang berada di tahapan atau di derajatnya bintang gemintang. Seperti kisah Nabi Ibrahim dalam pencarian Rob-nya.

Ya, hakikatnya dalam segala hal yang terkait perkembangan pengetahuan dan "naiknya" mata batin manusia meniru atau setidaknya berkaca pada Abul Ambiya, yaitu Nabi Ibrohim. 

Saat melihat bintang gemintang, Nabi Ibrahim seperti mendapat "eureka". Karena melihat pendaran cahayanya pada bumi, lalu mengatakan: "haadza robbii".

Sayangnya, ketika bintang gemintang tersebut diketahui kekurangannya yaitu bisa terbenam dan hilang ketika matahari datang, "eureka" yang tadi sempat dirasakan, pun hilang seiring memudarnya cahaya bintang gemintang. 

Pun begitu juga dengan para salik Yan mengalami pengalaman batin, pengalaman spiritualitas, atau pengalaman rohani. Ketika berada di derajat bintang (sebagi Mitsal) awalnya, ia akan bilang: "eureka", "hadza Robbi".

Di catatan sebelumnya, telah ditegaskan bahwa Imam Al-Ghozali menerangkan bahwa di alam malakut, terdapat substansi bersifat cahaya nan mulia nan tinggi yang disebut dengan malaikat. Dan cahaya malaikat tersebut luber dan mengalir kepada jiwa-jiwa (ruh-ruh) manusia. Dan karena itulah Malaikat-malaikat tersebut disebut dengan Arbab. Jamak dari rob. Yang secara harafiah bisa diartikan dengan tuhan-tuhan (t kecil). 

Nah, ketika melihat kisah nabi Ibrohim, saat Abul anbiya ini mengatakan "hadza Robbi" kitab Misykatul Anwar ini membantu kita melihat ucapan nabi Ibrohim tersebut dengan perspektif yang lain. Yaitu persepektif metafora atau perlambang yang didasari pengalaman batin atau rohani.

Nabi Ibrohim melihat bintang gemintang, lalu mengatakan "hadzaa Robbi", namun ketika datang matahari. Nabi Ibrohim bilang "hadza Robbi, hadza Akbar". Tapi, lagi-lagi nabi Ibrohim mendapati bahwa matahari pun bisa tenggelam dan terbenam. 

Pada akhirnya nabi Ibrohim pun mengatakan "wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal Ardhi haniifan". 

Yang perlu digaris bawahi dari ungkapan nabi Ibrohim tersebut adalah kata "alladzi" yang sederhananya berarti "yang". 

"Al-ladzi" bisa dibilang salah satu misteri dalam bahasa Arab. Di titik ini, Nabi Ibrohim tidak bisa membuat mitsal atau metafora dari "Allah". 

Ini seperti martabat pertama dalam ajaran martabat tujuh. Ajaran yang dibawa oleh Sufi Aceh, Syeikh Abdul Rouf Singkil yang berbaiat dalan thoriqoh Syattariyah yang kemudian sampai ke Jawa, kepada Syeikh Abdul Muhyi Tasikmalaya. Syeikh Abdul Rouf Singkil belajar dari seorang guru di Madinah bernama Imam Ibrohim Al-Qurroni sekitar abad 17.

Pada ajaran martabat tujuh, martabat pertama itu disebut al-ahadiyah. Jika menggunakan istilah imam Muhyiddin Ibnu 'Arobi, laa ta'yiin atau al-ghoibul muthlaq alias sesuatu yang tidak bisa digambarkan, tidak bisa didefinisikan, tidak bisa diidentifikasi, tidak bisa dimetaforakan. 

Di saat nabi Ibrohim mengatakan 'wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal Ardhi haniifan," hakikatnya nabi Ibrohim telah sampai pada Maqom "sesuatu yang tidak bisa dimetaforakan dan diperlambangkan". 

Lalu Imam Al-Ghozali menjelaskan dan menerangkan bahwa "al-ladzi" adalah sesuatu untuk menunjukkan rahasia atau misteri yang tidak ada sepadanannya, tidak ada yang menyamainya, tidak ada yang sepertinya. 

ومعنى "الذى" إشارة مبهمة لا مناسبة لها , tulis imam Al-Ghozali dalam Misykatul Anwar.

Lalu ketika ada yang bertanya apa "Mitsal" atau metafora dari "al-ladzi", maka tidak ada gambaran untuk menjawabnya karena "al-ladzi" bebas dan terlepas dari segala keterkaitan dan itulah yang disebut الاول الحق Kebenaran Paling Pertama.

Seperti kata Imam Ibnu'Arobi yang menerangkan bahwa puncak Nama Tuhan adalah هو (Huwa).

Imam Al-Ghozali kemudian bercerita tentang seorang Arab kepada Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wasallam tentang apa metafora Tuhan? (ما نسبة الاله؟) hingga turunlah surat Al-Ikhlas. 

Dan makna hakikat dari surat Al-Ikhlas tersebut menurut Al-Ghozali adalah bahwa "Yang" itu suci dari perlambang, bahwa "Yang" itu bebas dan terlepas dari metafora. Bebas dan sucinya "Yang" tersebut itulah metaforanya dan perlambangnya "Yang". Sederhananya, Makna surat Al-Ikhlas adalah Allah tidak bisa dimetaforakan, dan itulah metaforanya.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 17022022

Minggu, 13 Februari 2022

Allah Adalah Robbul Arbab. (Misykatul Anwar).

Pada catatan ngaji sebelumnya, diterangkan bahwa semua yang ada di alam sayahadah (dunia lahir, dunia fisik, bumi) ini adalah perlambang, metafora, dan simbol-simbol dari sesuatu, yang disebut oleh Imam Al-Ghozali dengan "makna", yang ada di alam malakut.

Contoh sederhananya di bumi ini, seperti rambu-rambu lalu lintas. Ada petunjuk ke kanan, ada petuntuj ke kiri, ada petunjuk jalan menurun, jalan menyempit dan lain-lain yang berupa plang-plang lalu lintas. Rambu atau plang lalu lintas tersebut untuk menunjukkan "makna" di baliknya. Seperti tanda lampu merah yang menyala untuk menunjukkan bahwa para pengendara mesti berhenti. Nah, pengendara mesti berhenti itulah makna. Bisa jadi, salah satu makna dari sekian makna yang ada di balik lampu merah yang nyala. 

Sederhananya, segala sesuatu yang ada dan bisa diindera di alam semesta (jasmani, fisik) ini adalah "Mitsal" (metafora, perlambang, simbol, perwujudan) yang menunjukkan "makna" di alam gaib (alam malakut).

Karenanya, bisa dibilang orang-orang yang beriman, mesti mempercayai dan melihat segala sesuatu di alam material ini memiliki dua alam, punya dua tingkat: alas jasmani dan rohani. Alam yang tampak dan alam gaib. Ini berarti, orang-orang yang menampik dan menafikan adanya alam gaib, adanya alam yang tidak tampak, alam malakut, bisa dibilang bukan orang yang beriman.

Imam Al-Ghazali di bagian pasal pertama Kitab Misykatul Anwar telah menyontohkan saat seseorang tiba di musim semi. Saat siang hari di musim semi, orang-orang melihat betapa banyak keindahan yang ada dan bisa dilihat. Sayangnya, kadang orang-orang tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat semua yang terlihat oleh mata mereka itu bisa terlihat, yaitu adanya cahaya. 

Nah, orang-orang yang tidak beriman akan menafikan dan menampik adanya cahaya yang membuat semua itu bisa terlihat. Sebaliknya, orang yang beriman akan melihat dan menyadari adanya cahaya yang membuat semua itu terlihat.

Cahaya itu bisa dibilang dengan makna
 Makna yang adanya di alam malakut. Tidak tampak oleh indera mata. Hanya bisa dilihat dengan mata batin atau akal atau jiwa atau ruh yang ada di "dalam" diri manusia. 

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makna di alam syahadah itu bertingkat-tingkat. Contoh sederhananya adalah seperti ilmu fisika. Ada ilmu fisika murni ada ilmu fisika terapan. Dan contoh-contoh lainnya. Begitu juga makna di alam malakut, pun bertingkat-tingkat dan banyak. Pun dengan perlambang, simbol, metafora (Mitsal) yang ada di alam syahadah yang jumlahnya begitu banyak, tak terkira. Karenanya, Al-Ghazali menegaskan, kekuatan manusia, pemahaman manusia tidak akan sanggup untuk memahami semuanya. Terlebih umur manusia yang pendek. Tidak akan cukup untuk memahami semua "mitsal" tersebut.

Alhamdulillahnya, Al-Ghazali memberitahukan tentang "pegangan" berupa anmudzaj, alias paradigma yang bisa memudahkan orang-orang untuk memahami "Mitsal" yang banyak tak terhingga itu. 

Paradigma (anmudzaj) itu sederhananya adalah cetakan. Gambarannya kira-kira seperti cetakan batu bata. Dari satu cetakan bisa menghasilkan banyak batu bata. Cetakan itulah paradigma. Ya, Al-Ghazali lewat Misykatul Anwar seakan ingin memberi pemahaman tentang paradigma atau "cetakan Mitsal" tersebut.

Al-Ghozali memberi pemahaman paradigma tersebut dengan mengungkapkan tentang pola-pola "cetakan" atau paradigma tersebut. 

Pertama, Di alam malakut terdapat "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah". Secara harafiah bisa diartikan dengan mutiara yang bersifat cahaya, yang mulia, dan tinggi.

Tapi, perlu dicatat, kata "Jawahir" yang merupakan kata jamak dari "jauharun" adalah istilah yang sangat kental dalam Ilmu Kalam, teologi, dan filsafat Islam. Artinya adalah substansi. Sesuatu yang ada. Bahasa Inggrisnya substance. Setiap Jauhar (substansi) punya sifat ('arodh). Sederhananya substansi itu isi, 'arodh itu bungkus. Nah, "jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" bisa diartikan substansi yang bersifat cahaya (terang), bersifat mulia, dan bersifat tinggi. 

"Jawahir Nuriyah Syarifah 'Aliyah" itu adalah malaikat. Dari malaikat ini mengalir (membuncah/luber) cahaya-cahaya ke jiwa-jiwa manusia. Ya, cahaya-cahaya malaikat di alam malakut itu luber lalu mengalir ke jiwa-jiwa, ke ruh-ruh manusia (al-arwah al-basyariyah). Karena itulah jiwa-jiwa manusia yang menerima luberan cahaya-cahaya malaikat dinamakan arbaban. Arbaban itu jamak dari rob. Bisa diartikan dengan tuhan.

Ah, saya jadi ingat dengan Cak Nur yang bilang "tiada tuhan selain Tuhan" (t kecil dan T besar). Ya, arbaban bisa dibilang seperti itu. Arbaban adalah tuhan-tuhan, dewa-dewa. 

Al-Ghozali lalu menegaskan bahwa Allah adalah Tuhannya tuhan-tuhan itu karena melihat aliran dan limpahan cahaya yang mengalir ke jiwa-jiwa dan ruh-ruh manusia, tadi. 

Al-Ghazali lalu menegaskan bahwa arbaban tersebut bertingkat-tingkat. Dan "Mitsal" atas tingkatan-tingkatan itu di bumi ini adalah matahari, bulan, dan bintang.

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022






Apa itu Ghibah dan Apa Saja yang Berpotensi Terdapat Ghibah (Ihya Ulumuddin)

Dari kemarin saya lebih sering membuat catatan ngaji Kitab Misykatul Anwar. Entah kenapa, setelah magrib tadi, seperti ada "kilatan ide" (lawaih Khowathir) yang membisiki saya untuk membuat catatan juga untuk ngaji Ihya Ulumuddin. 

Endilalah, catatan pertama ini saya mulai dari bab Ghibah yang merupakan bagian dari penyakit mulut menurut Imam Al-Ghozali.

Sederhananya, Ghibah adalah menyebut siapapun (bisa saudara, temen, dll) dengan sesuatu yang tidak disukainya ketika kita menyampaikan hal tersebut. 

Misalnya tentang kekurangan fisiknya, nasab keluarganya, tingkah lakunya, pekerjaannya, perkataannya, agamanya, dunianya hingga tentang pakaian dan lingkungannya.

Dari segi fisik atau badan. Misalnya kita menyebut tentang matanya yang rabun, juling, buta, botak, pendek, tinggi, hitam, kuning, dan semua sifat yang tergambar pada fisik atau badan seseorang yang semua itu tidak disukai (atau malah ia benci) ada pada dirinya bagaimanapun rupa dan bentuknya.

Dari segi nasab keturunan. Misalnya bapaknya petani (profesi bapaknya), Hindi (agamanya), fasik (kelakuan), atau apapaun yang, sekali lagi, tidak ia sukai. 

Sementara dari segi akhlak. Kita mengatakan sesuatu terkait akhlak seseorang. Misalnya sombong, gampang marah, rendah hati, dan segaka sesuatu kekurangan dalam akhlaknya.

Kemudian dari segi pekerjaan alias apapun yang dikerjakan seseorang terkait dengan agama. Misalnya kita mengatakan atau menyebut (seseorang) dengan pencuri, pembohong, pemabuk, pengkhianat, zholim, lalai sholat dan zakatnya, tidak bagus ruku dan sujudnya, atau tidak sucinya ia dari hadata dan najis, tidak baik kepada orang tua, tidak melaksanakan zakat, atau tidak baik dalam membagikan zakat, tidak bagus puasanya, dan lain sebagainya.

Sementara terkait pekerjaannya yang terhubung dengan dunia. Misalnya kita bicara tentang dia yang gak ada adab, jahat kepada orang, meremehkan orang lain, merasa benar sendiri, banyak bicara, banyak makan, banyak tidur, dan lain sebagainya. 

Soal pakaian, Imam Al-Ghazali pun menjelaskan, seperti kita membicarakan panjangnya jubahnya, dan bahan pakaiannya.

Ya, pada dasarnya ghibah adalah kita menyebut, membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, sekiranya kita sebut atau bicarakan, dan orang itu tidak suka. Lebih sederhananya, apapun yang kita sendiri gak suka ketika itu dibicarakan.

Al-Ghazali ketika membahas sesuatu biasanya akan memulai dari hal paling dasar, mendalam, dan menyeluruh. Segala hal yang berkaitan dengan apa yang dibahas akan ditelusuri. Ibaratnya, akan mengupas begitu detail, sedetail-detailnya.

Seperti bab Ghibah ini. Al-Ghazali memulai dengan menjelaskan apa hakikatnya ghibah. Lalu menelusuri sesuatu yang disebut ghibah ada di mana dan ada di apa saja. 

Allahu a'lam bisshowab

Sawangan Baru, 13022022