Nah, di alam malakut ada sesuatu yang bisa mencetak (menuliskan) pengetahuan-pengetahuan dengan detak dan rinci. Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa perlambang atau "Mitsal" dari hal tersebut adalah "pena".
Ya, pena. Sederhananya, pena adalah simbol atau metafora dari kekuatan batin dalam diri manusia yang mampu memahami pengetahuan-pengetahuan secara rinci.
Kemampuan yang dimetaforakan dengan pena tersebut, bisa pindah atau terukir pada sesuatu di alam malakut yang perlambangnya adalah "Al-Lauh, al-kitab, dan Ar-roqqul Mansyur". Al-Lauh adalah tablet atau papan yang digunakan untuk terukirnya tulisan-tulisan. Al-kitab adalah kitab. Ar-roqqul adalah kertas dari kulit binatang, Al-mansyur adalah yang terbuka, terhampar.
Nah, sesuatu yang bisa menggerakkan atau menundukkan "pena" serta "kertas" tersebut, perlambangnya adalah "tangan" (اليد).
Ketika "pena" ditambah "kertas" lalu ditambah "tangan", maka jadilah ini metafora atau perlambang yang disebut Al-Ghazali dengan "gambar" atau "bentuk" (الصورة).
Bisa dibilang inilah rumus "sederhana" dari pengetahuan. Awalnya, segala pengetahuan seperti kabut, seperti gumpalan awan. Belum jelas dan samar. Kemudian ada sesuatu yang disebut "pena" yang mendetailkan serta merincinya hingga bentuknya mulai terlihat. Hingga bentuknya mulai jelas.
Sederhananya, pena itu untuk menuliskan huruf-huruf, jadilah kata. Kemudian kata-kata disusun, jadilah kalimat. Kalimat-kalimat disusun, jadilah paragraf. Dan seterusnya, hingga jadi satu gambaran jelas dan detail tentang sesuatu (pengetahuan).
Nah, penjabaran, pendetailan, serta perincian tersebut, membutuhkan media untuk memindahkan pengetahuan yang abstrak tadi. Maka hadirlah "Mitsal" yang disebut "kertas" atau "kitab".
"Pena" dan "kertas" saja tidak cukup. Perlu ada sesuatu yang menggerakkan pena tersebut untuk mengukir kertas, dan "Mitsal" hal tersebut adalah "tangan". Gabungan semua itu, jadilah gambar, bentuk atau "as-ahuroh".
Bisa dibilang, segala sesuatu, semuanya, apapun itu yang ada di alam malakut adalah informasi. Layaknya ilmu dan pengetahuan, semuanya adalah informasi. Nah, informasi itu (pengetahuan) awalnya abstrak. Agar jelas dan berbentuk, maka perlu diurutkan dan didetailkan. Dan inilah struktur.
Termasuk gambar dan bentuk yang bersifat manusia (bentuk manusia) kata Al-Ghazali, adalah bagian yang terhubung dan bagian dari struktur yang berasal atau bersumber dari "gambaran atau bentuk Ar-Rohman" (صورة الرحمن). Ya, sederhananya, manusia adalah gambaran "Ar-Rohman.
Ar-Rohman adalah salah satu sifat dari sekian banyak sifat Allah. Bisa dibilang, manusia diciptakan dari sifat Allah yang Maha Kasih Sayang. Karenanya, perlu dibedakan antara bentuk kasih sayang Allah (صورة الرحمن) dengan "bentuk" Allah (صورة الله).
Imam Al-Ghozali menegaskan bahwa Rahmat Ketuhanan alias Rahmat Allah lah yang membentuk kehadiran Ketuhanan itu sendiri. Dan Rahmat Ketuhanan inilah yang kemudian diberikan kepada Adam (manusia), alias menjadikan Adam (manusia) sebagai "gambaran ringkas" (صورة مختصرة) segala hal yang ada di alam. Al-Ghozali menerangkan bahwa manusia adalah naskah (نسخة) dari alam versi ringkas.
Ya, sekali lagi, bentuk atau gambar manusia (صورة آدم) adalah bentuk Rahmat Allah (صورة الرحمن). Dan Al-Ghozali menegaskan, bahwa bentuk tersebut ditulis atau diukir dengan "khot Allah" (مكتوبة بخط الله).
Sungguh, manusia itu luar biasa. Karena ditulis oleh "khot" Allah. Khot Ketuhanan yang tidak punya bentuk aksara atau huruf. Alias tidak berupa aksara dan tidak berbentuk huruf.
Khot Allah terbebas (terlepas) dari aksara dan huruf, kata Al-Ghozali, sebagaimana terlepas dan terbebasnya Kalam Allah dari suara dan huruf, sebagaimana terbebasnya "Pena" Allah dari kayu dan gagang (bentuk), dan sebagaimana terbebasnya "tangan" Allah dari daging dan tulang (bentuk).
Allah a'lam bisshowab
Sawangan Baru, 21022022