Ketidaktahuan dekat dengan kebodohan. Kebodohan sama dengan
pembodohan. Pembodohan dekat dengan kesulitan. (M. Irfan Kurniawan)
(2)
Menurut Michael R Legault, “... Dan juga, faktanya, lebih
banyak pengetahuan dan pembelajaran yang didapat anak di luar sekolah, melalui
pengalaman dan belajar sendiri....” (Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara: Jakarta, Trans Media,
2006. Hal 241.)
(3)
Pada awal Islam, belajar disejajarkan dengan kemerdekaan.
Manusia terpelajar tidak akan pernah bisa dimiliki. Belajar adalah prasyarat
kebebasan. (Hasan Hanafi, Cakrawala baru
peradaban islam, revolusi islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme
Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif
Fakhrudin, Yogyakarta, IRCiSoD, September 2003 hal 109)
(4)
(4)
Karya Bordieu di dalam sosiologi
pendidikan membuktikan kalau sekolah berfungsi untuk memperkuat dan bukannya
menghancurkan perbedaan-perbedaan sosial. Kebudayaan sosial yang disebarkan
sekolah sebagian besar adalah milik kelas-kelas dominan. Sekolah cenderung
memahami dan mengklasifikasi level-level pengetahuan murid yang sesungguhnya
adalah hasil dari proses pembelajaran informal di keluarga masing-masing
sebagai bakat “alamiah”, dan oleh karena itu superioritas “alamiah”. Sistem
pendidikan mengubah hierarki-hierarki sosial menjadi hierarki-hierarki akademis,
lebih jauh lagi, menjadi hierarki-hierarki nilai (Merits).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar