Kamis, 05 Juni 2014

pendidikan dan pembelajaran

(1)

Ketidaktahuan dekat dengan kebodohan. Kebodohan sama dengan pembodohan. Pembodohan dekat dengan kesulitan. (M. Irfan Kurniawan)

(2)

Menurut Michael R Legault, “... Dan juga, faktanya, lebih banyak pengetahuan dan pembelajaran yang didapat anak di luar sekolah, melalui pengalaman dan belajar sendiri....” (Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara: Jakarta, Trans Media, 2006. Hal 241.)

(3)

Pada awal Islam, belajar disejajarkan dengan kemerdekaan. Manusia terpelajar tidak akan pernah bisa dimiliki. Belajar adalah prasyarat kebebasan. (Hasan Hanafi, Cakrawala baru peradaban islam, revolusi islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhrudin, Yogyakarta, IRCiSoD, September 2003 hal 109)

(4)

Karya Bordieu di dalam sosiologi pendidikan membuktikan kalau sekolah berfungsi untuk memperkuat dan bukannya menghancurkan perbedaan-perbedaan sosial. Kebudayaan sosial yang disebarkan sekolah sebagian besar adalah milik kelas-kelas dominan. Sekolah cenderung memahami dan mengklasifikasi level-level pengetahuan murid yang sesungguhnya adalah hasil dari proses pembelajaran informal di keluarga masing-masing sebagai bakat “alamiah”, dan oleh karena itu superioritas “alamiah”. Sistem pendidikan mengubah hierarki-hierarki sosial menjadi hierarki-hierarki akademis, lebih jauh lagi, menjadi hierarki-hierarki nilai (Merits).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar