Kamis, 05 Juni 2014

kesenian, kebudayaan, dan kesusasteraan

(1)

Mengukur seni (menilai) tidak bisa dengan angka rigid, itu menggunakan rasa dan patokan-patokan estetik. (rasa dan patokan-patokan estetik perlu dan bisa dikritisi).

(2)

Seni adalah jiwa ketok (masa revolusi) (S Sudjojono)

(3)

Seni adalah kerja yang menyenangkan; seni adalah main-main, asyik-asyik saja (seniman muda masa kini)

(4)

Seni adalah gerakan sukma (pujangga baru dalam manifesto pada 1935)

(5)

Seni untuk seni dan seni sebagai alat (pujangga baru)

(6)

Seni; otentisitas, orisinalitas dan otonomi (fenomena modern)

(7)

Mulai sekarang pertanyaan idealis ‘apa itu keindahan atau mengapa karya itu indah’ harus diganti dengan pertanyaan materialis, ‘oleh siapa, kapan, dan dalam kepentingan apa sebuah karya itu disebut indah’. Karena itu, mereka yang bekerja di koridor ini lazim disebut “pekerja seni” (art workers) ketimbang “seniman” (artist). (sejarawan; Marxis Nicos Hadjinicolaou)

(8)

Pembentukan identitas seorang seniman terbentuk dari: pertama, terjadi dari performanya sendiri. kedua, “dibentuk” dan membentuk (bersama-sama) nilai instrumental apakah itu moral, spiritual, atau kondisi sosial sekitarnya.

(9)

Objektifitas subjektif (the objektivity of the subjective). Subjektifitas gagal memahami landasan sosial yang membentuk kesadaran, sedangkan objektivisme melakukan yang sebaliknya, gagal mengenali realitas sosial di tataran tertentu yang dibentuk oleh konsepsi dan representasi yang dilakukan individu-individu terhadap dunia sosial. (Pierre Bourdieu)

(10)

Arena sastra adalah tempat dimana:
  1. -          Sebuah usaha tidak serta merta langsung berbuah kesuksesan,
  2. -         Nilai yang diperuntukkan buat posisi atau kehormatan tertentu bisa beragam menurut agen yang diteliti
  3. -         Suplai atau persediaan justru yang menciptakan permintaan, bukan sebaliknya
  4. -         Senioritas memiliki pengaruh sedikit saja terhadap karir agen tertentu, dan
  5. -       Para penulis dengan latar belakang sosial dan geografis berbeda bisa hadir bersama-sama, meski seringkali tidak memiliki hubungan dekat antar pribadi selain kepentingan bersama di arena sastra (lihat Christophe Charle, situation du champ litteraire” di dalam litteraire 44 *december 1981) hal 8-20)


(11)

Menurut teori refleksi penulis adalah juru bicara ketidaksadaran. (lukacs dan Goldman)

(12)

Metode Pierre Bourdieau berusaha memadukan tiga tingkatan realitas sosial berikut:
  1. -          Posisi sastra atau arena seni di dalam apa yang disebutnya arena kekuasaan.
  2. -    Struktur arena sastra (yaitu struktur posisi-posisi objektif yang ditempati oleh agen-agen yang saling bersaing untuk mendapatkan legitimasi di dalam arena selain juga karakteristik objektif agen-agen itu sendiri).
  3. -   Asal muasal habitus produsen (yaitu karakter yang terstruktur dan menstrukturkan yang melahirkan praktik-praktik)


(13)

Seni demi seni dan pertentangannya dengan seni sosial (ini bisa dikritisi)

(14)

Karya-karya seni hadir hanya bagi mereka yang memiliki cara-cara memahaminya. Pemahaman melibatkan sebuah operasi pendekodean, dan kemampuan untuk mendekodekan karya seni yang memang dimaksudkan untuk didekodekan dengan cara tertentu (yaitu, menurut nilai-nilai yang ditetapkan di dalam arena seni) bukanlah bakat alamiah yang dimiliki semua orang, karena ia melibatkan lebih banyak hal ketimbang sekedar pemahaman langsung dan serta merta terhadap karya.

(15)

Kompetensi seni adalah suatu bentuk pengetahuan yang mengizinkan penikmat mensituasikan karya seni dalam kaitannya dengan dunia kemungkinan-kemungkinan seni tempat karya itu berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar